Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 66


__ADS_3

"Sayang sekali kalian berpisah ya" kata Desi setelah mendengar cerita masa lalu Dhika dan Kiran.


"Tapi itu yang terbaik"


Desi pernah mengutuk hidupnya yang menjadi sangat buruk setelah kejadian mengerikan itu. Tapi setidaknya dia masih memiliki orang tua lengkap dan juga Dhika mendukungnya. Dan Kiran ... hanya bisa mengandalkan Bibi dan dirinya sendiri untuk tumbuh di kota besar seperti itu. Desi perlahan merasa kagum pada semangat hidup yang ditunjukkan oleh anak baru di kantornya itu.


"Apa kamu pernah bertemu Dhika setelah itu?"


"Tidak. Sampai kami bertemu lagi waktu saya kerja di Malang ini"


"Jadi, bagaimana menurutmu penampilan Dhika setelah sepuluh tahun tak bertemu?"


Tiba-tiba saja Kiran menatapnya dengan mata terbuka lebar. Seperti ingin memastikan apa yang ditanyakan tadi. lalu


"Biasa saja"  jawab Kiran membuat Desi berpikir kalau anak baru ini berbohong. Wajah Kiran berbinar setiap kali nama Dhika disebutkan. Jangan-jangan anak ini menyukai kakaknya sendiri.


"Benarkah? Bagiku Dhika sangat tampan sekarang. Dulu memang tidak tapi sekarang Dhika berubah menjadi sosok pengusaha muda yang paling tampan"


"Hahahaha. Bu Desi emang bucin. Kalo menurut saya kak Dhika biasa aja. Banyak orang yang lebih cakep dari ... kaka Dhika"


Ingin sekali Desi tertawa melihat Kiran begitu menolak perasaannya sendiri. Padahal wajah dan gerak tubuh anak itu tidak bisa berbohong.


Ketika Dhika pulang bersama Ryan, tampak Kiran bingung sendiri. Anak itu melihat ke arah Dhika dan Desi lalu menunduk dalam-dalam. Seakan dia melakukan sesuatu yang salah pada Desi. Dan itu pasti berhubungan dengan laki-laki yang memusatkan perhatian pada adik tirinya itu. Berdalih ingin mandi Kiran meninggalkan mereka bertiga. Tapi tak lama karena Dhika kemudian menyusul langkah adiknya. Meninggalkan Desi yang ikut bahagia dan Ryan yang tidak tahu apa-apa.


"Selesai sudah urusan persaudaraan yang seperti lintah darat itu" kata Ryan tidak peka pada apa yang baru saja terjadi.


"Apa mereka semua bisa dikendalikan dengan mudah?"


"Tentu saja. Semua karena teman-teman gym-ku yang sangat besar dan tinggi"


Desi tertawa membayangkan orang-orang tua itu tidak dapat berkutik lagi.


"Untunglah. Sekarang Dhika bisa membangun kehidupan dengan keluarga barunya" kata Desi lalu meminum teh yang disediakan pembantu rumah Dhika.


"Keluarga baru? Dimana dia menemukannya?" tanya Ryan benar-benar tidak tahu sama sekali.


"Belum lama sepertinya. Tapi sudah beranjak ke tahap yang lebih serius"


"Siapa wanita yang ditemui Dhika? Kenapa aku tidak tahu? Dia tadi juga bilang begitu tapi aku tidak pernah tahu Dhika menemui wanita manapun"

__ADS_1


Perempuan memang lebih peka daripada laki-laki. Dan itu terbukti sekarang. Desi melihat ke lantai atas dan mulai membayangkan apa yang dua kakak beradik itu lakukan saat ini. Sayang sekali dia tidak bisa menyaksikannya. Tapi dia akan menunggu kabar baik yang sepertinya tidak lama lagi muncul.


Kiran kehabisan napas. Dia merasa paru-parunya mengempis dengan cepat seakan semua oksigen di tubuhnya dikendalikan oleh kak Dhika. Tak tahan lagi Kiran mendorong tubuh kakaknya dengan sekuat tenaga. Akhirnya tubuh mereka terpisah, meski tak lama dia kembali ditarik oleh kak Dhika.


"Kak, ada Bu Desi di bawah" katanya berusaha menghindar dari seri ciuman yang tak pernah berakhir itu.


"Bukankah itu lebih menyenangkan?"


Hampir dua jam Kiran menjamu Bu Desi dengan terus merasa bersalah. tapi orang ini senang melakukan sesuatu seperti ini dibelakang kekasihnya. Tentu saja hal itu menyiksa Kiran. Dia bukanlah perempuan yang bisa dengan mudah diajak berselingkuh seperti ini.


"Lepas!" Kiran mendorong tubuh kak Dhika lagi. kali ini orang itu mempertahankan posisinya tidak mendekat lagi ke arah Kiran.


"Kenapa? Kakak pikir kamu menyukainya"


"Kakak salah. Aku tidak menyukai sesuatu yang seperti ... perselingkuhan ini. Memang benar aku memulainya tapi aku pikir kak Dhika tidak. Jadi ... "


"Kamu kaget karena kakak menyukainya?"


"Kenapa kakak menyukainya? Bagaimana bisa? Bukannya kakak mencintai Bu Desi? kalau begitu berarti aku mengganggu hubungan kalian. Aduuuhhhh ... bagaimana ini?"


Kiran pernah melihat drakor tentang perselingkuhan. Dan dia mengutuknya dengan keras. Tidak pernah membayangkan kalau dia menjadi karakter yang dia benci sekarang.


Apa kak Dhika berniat meninggalkan Bu Desi? Setelah tujuh tahun hubungan mereka tanpa halangan dan kini ... semua itu akan berakhir gara-gara Kiran?


"Jangan! jangan bicara lagi. Bu Desi memang sering mengacau di kantor. Sering marah-marah tapi kalian sudah berhubungan lebih dari tujuh tahun. bu Desi juga cinta pertama kak DHika, jadi jangan katakan apa-apa dan tolong tinggalkan aku sendiri"


"Tapi Zanna, kakak ... "


"Tidak! Tidak. Aku yang harus pergi. Aku tidak boleh merusak hubungan kakak dan Bu Desi. Tidak boleh"


Kiran masuk ke dalam kamar lalu mengemasi barang-barangnya. Kak Dhika berusaha masuk tapi dia tidak membiarkannya. Sudah cukup dia merusak hubungan kak Dhika dan keluarganya. Jangan sampai dia membuat kakaknya kehilangan Bu Desi juga. Malam ini dia harus pergi dari rumah ini. Kembali ke rumahnya dan menjalani kehidupan yang terpisah dengan kak Dhika.


Untung saja kakaknya sedang sibuk berbicara dengan kekasih dan juga temannya di dekat kolam renang. Tidak menyadari kepergiannya. Setelah berhasil kembali ke rumah, Kiran merasa sangat lega. Paling tidak dia sudah pernah merasakan bibir kak Dhika sebelum menjauhinya. Kenangan itu cukup untuknya melanjutkan hidup. Bahkan kalau akhirnya kak Dhika dan Bu Desi menikah nanti. Dia akan mengangkat wajah dengan tenang dan tidak menangis.


Lalu dering telpon mengganggu lamunannya.


"halo" sapanya pada siapapun yang menghubunginya.


"KIRAAAANNNN"

__ADS_1


Kiran menjauhkan ponsel dari telinganya dan hampir mengumpat.


"Kenapa mesti harus teriak kayak gitu?" protesnya pada Cia.


"Maaf. Habis lama banget telponnya gak diangkat-angkat"


"Iya. Ada apa Ci?"


"Aku, Putri dan Bibi Tia bakal pergi ke Malang"


Kiran masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bibi dan dua sahabatnya akan datang ke malang.


"Kapan?"


"Sabtu ini. Sebenernya kita mau kasih kejutan buat kamu tapi aku gak tahan nyimpen rahasia"


Kiran geleng-geleng membayangkan apa yang diperbuat Putri kalau tahu Cia membocorkan rahasia ini.


"Kalo gitu aku harus beres-beres" katanya senang.


"Gak perlu. Kita mau ajak kamu nginep di Batu. Sekalian biar kamu healing juga"


"Bener nih?"


"Iya. Putri udah merancang semuanya. Kamu tinggal tunggu di Malang dan saat kita datang kamu pura-pura kaget ya"


"Oke. Duhh gak sabar ketemu kalian. Juga Bi Tia. Tapi paman?"


"Paman kamu harus pergi ke Makasar sejak Jumat, makanya kami pilih minggu ini"


Seperti menerima keberuntungan setelah membuang kesialan. Kiran merasa sangat bersemangat sekarang.


"Iya. Aku tunggu"


"Pokoknya jangan bilang Putri ya?" tanya Cia berusaha membenarkan perbuatannya.


"Jangan khawatir"


Malam itu Kiran sudah lupa dengan masalah kak Dhika. Dia tidak ingin lagi mengingat sesuatu yang buruk dan menyambut hal-hal baik saja. Agar kehidupan barunya tanpa kak Dhika tetap menyenangkan seperti dulu.

__ADS_1


__ADS_2