
Telpon berdering, membangunkan Kiran dari tidurnya.
"Halo Kiran"
Dia melihat sebuah nama di layar ponselnya.
"Pak eh kak Ryan"
Kiran berusaha bangun dari kasur dan melihat jam di dinding kamarnya.Dia terkejut melihat jarum pendek jam berada di angka delapan.
"Aku pikir kamu udah berangkat pagi tadi"
"Belum. Aduhhh ... terlambat" pikirnya lalu cepat-cepat pergi ke kamar mandi.
"Aku antar ya. Tadi aku sudah di depan rumah kamu tapi ke cafe soalnya kupikir kamu sudah berangkat"
"Boleh deh"
Kiran tahu tidak boleh merepotkan orang lain. Tapi ini situasi darurat. Dia sudah terlambat satu jam dan sepertinya akan semakin bertambah kalau tidak meminta tolong p[ada orang lain untuk mengantarnya.
"Oke. Aku kesana sekarang"
Kiran cepat-cepat mandi, memakai baju kerja dan make up tipis. Tanpa makan dan minum sama sekali, dia membawa sepatu dan lari keluar rumah.
"Zanna"
Kepala Kiran tertabrak sesuatu yang keras tapi bukan pintu. Dia mengangkat kepala dan melihat badan kak Dhika ada di depannya.
"Ngapain kok?"
Kiran penasaran kenapa orang ini ada di depan rumahnya tapi tidak memiliki waktu untuk berpikir lagi.
"Kamu belum berangkat dari tadi?"
"Telat bangun"
"Kakak antar"
__ADS_1
Setelah apa yang terjadi semalam, Kiran berharap memiliki pilihan untuk menolak pertolongan orang ini. Tapi ... daripada dia harus merasa malu karena terlambat kerja ... .
"Boleh"
"Ayo cepat!!" ajak kak Dhika lalu membuka pintu mobilnya. Kiran segera masuk ke dalam mobil putih itu dan melihat jam tangannya.
Sudah hampir setengah sembilan. Ya ampun ... . Ini pertama kalinya dia terlambat masuk kerja. Hukuman apa yang akan diterimanya karena hal ini? Kiran bingung tentang apa yang akan terjadi selanjutnya dan sama sekali tidak menoleh ke orang yang sedang menyetir di sebelahnya.
Sepertinya Kiran sudah berangkat. Dhika menatap pintu kayu yang ada di depannya dan mendadak merasa menyesal. Sejak semalam pulang dari rumah Zanna, Dhika tidak bisa tidur nyenyak. Dia terus saja berpikir pilihannya untuk bicara dengan Zanna merupakan keputusan yang salah. Kalau saja perasaan Zanna padanya dalam, mungkin adiknya itu lebih memilih untuk tidak bertemu dengannya lagi. Kalau begitu, keinginannya untuk terus bersaudara dengan Zanna seperti dulu hanyalah tinggal mimpi saja.
"Harusnya aku tidak memakai masalah Desi sebagai alasan"
Bagi Dhika, mengakui cintanya pada wanita lain, merupakan cara tercepat untuk membuat perempuan lain yang menyukainya menyerah. Dia melakukan hal itu pada empat atau lima perempuan sebelum Zanna. Lalu dia menyesal lagi.
Bagaimanapun, Zanna dan Desi adalah rekan kerja. Bagaimana kalau hubungan kerja mereka akan dipengaruhi oleh hal ini? Bagaimana kalau Zanna tidak bisa melupakan perasaannya dan menganggap Desi merupakan saingan dalam menyukainya. Lalu Zanna berupaya untuk membuat Desi tampak buruk di matanya? Bagaimana kalau Zanna tetap mendekatinya meski dia sudah berterus terang kemarin malam? Semua kekhawatiran itu memaksanya untuk berdiri di depan pintu rumah Zanna. Berharap untuk bisa bicara lagi dengan adiknya itu. Tapi sejak pagi, adiknya itu belum keluar rumah. Dia ingin memakai kunci cadangan yang masih disimpannya tapi menahan diri. Lalu keluarlah Zanna dengan terburu-buru, sampai menabraknya.
Dhika merasakan sesuatu yang ganjil dalam dirinya. Seakan dia bersyukur hal itu terjadi padanya. Dia melihat wajah Zanna dan merasa lega, tidak tahu kenapa. Dan saat Zanna tidak menolak bantuannya, Dhika merasa bangga telah melakukan hal yang benar. Mungkin dengan begini, hubungan mereka sebagai saudara akan benar-benar terjadi, pikirnya.
"Apa kamu sudah makan?" tanyanya.
"Gak ada waktu. Bisa gak nyetirnya lebih kenceng?"
"Apa? Gak usah. Pokoknya cepet aja nyetirnya, biar cepet sampe"
"Tapi kakak khawatir sama penyakit lambung kamu. Apa kamu inget ... "
"Duhhh bisa diem sama fokus nyetir gak sih? Aku udah telat hampir satu setengah jam ini. Gimana kalo nanti aku dikasih SP?'
Baru kali ini, setelah sekian lama. Dhika dimarahi lagi oleh adiknya. Padahal dia pikir hubungan mereka sudah berubah setelah semalam. Ternyata ... tidak. Dan lagi, Zanna kelihjatan tidak canggung berdekatan dengannya. Zanna terus saja mendekat bahkan memegang lengannya beberapa kali hanya untuk mengingatkannya menyetir lebih cepat. Apa perasaan Zanna padanya telah hilang dalam semalam saja? Bagaimana bisa? Lalu ... kenapa dia merasa kecewa? Padahal itu tujuan dia datang ke rumah Zanna semalam.
"Tidak akan ada yang memberimu surat peringatan. Terlambat adalah hal yang biasa dalam bekerja"
"Enak aja. Aku gak pernah telat dalam bekerja"
"Sama sekali?"
"Ya iyalah. Aku tuh pegawai teladan tau gak. Merasa bertanggung jawab karena udah digaji"
__ADS_1
Dhika menoleh sebentar dan melihat kekhawatiran di wajah adiknya. Dia merasa bangga karena Zanna ternyata memiliki pemikiran yang seperti itu.
"Hanya satu hari. Asal kamu ngomong dengan sopan dan mengatakan alasan sebenarnya pasti tidak akan ada masalah" katanya berusaha membuat adiknya tenang. Tapi yang didapatkannya adalah tuduhan yang menyesakkan dada.
"Enak aja situ pengusaha besar. Gak pernah tau rasanya butuh duit dari gaji. Jangan ngomong macem-macem deh kalo gak pernah tau susahnya hidup"
Dituduh seperti itu oleh orang lain, mungkin Dhika bisa membalasnya dengan langsung. Tapi yang menuduhnya adalah Zanna yang menjalani hidup keras selama di Jakarta, membuat lidahnya kelu. Dia tidak bisa membalas atau menolak tuduhan itu. Tidak tahu kenapa sekarang dia merasa kecil dihadapan adiknya ini.
"Sudah dekat, tinggal belok saja"
"Disini aja!" teriak Zanna mengejutkan Dhika.
"Tapi masih seratus meter lagi ... "
"Kalo Bu Desi liat gimana? Udah disini aja, makasih" Setelah berterima kasih secara singkat, Zanna melompat keluar dari mobilnya. Lalu lari sekencang-kencangnya ke kantor Dinas yang masih tampak jauh itu. Dalam hati Dhika merasa menyesal membuat Desi sebagai alasannya menolak perasaan Zanna. Tapi dia tidak ingin hubungan mereka berubah menjadi tidak nyaman. Jadi ... hanya ini satu-satunya cara.
"Kamu telat??? Anak baru telah hampir dua jam. KETERLALUAN"
Kiran sudah tahu akan menerima omelan karena keterlambatannya. Tapi kenapa dari orang yang bahkan bukan atasannya.
"Maaf Bu"
"Untung saja Pak Wahyu itu penyabar. Coba kalo masih aku yang jadi atasan kamu. Kamu udah aku minta dimutasi ke daerah yang lebih terpencil. Ngerti gak?"
"Iya"
"Kenapa kamu gak ngelawan seperti biasanya?"
"Apa?"
"Biasanya kamu ngelawan setiap kali aku bicara. Sekarang kenapa tidak seperti itu?"
Kiran menggigit bibirnya, berusaha untuk tidak menambah masalah. Dia memang tidak setuju dengan apa yang dilakukannya oleh orang ini. Tapi mengingat kalau Bu Desi adalah orang yang sangat dicintai kak Dhika, membuatnya agak segan.
Pasti ada sesuatu yang membuat kak Dhika menunggu sampai tujuh tahun untuk mendapatkan hati Bu Desi. Sesuatu yang tidak diketahui Kiran yang baru mengenal Bu Desi selama tiga bulan. Juga karena dia harus segera keluar dari jangkauan radar Bu Desi.Kalau bisa membuat Bu Desi melupakannya pernah ada di kantor ini.
"Saya memang salah kali ini Bu"
__ADS_1
"Bagus deh kalo kamu sadar. Sudah sana cepet kerja!!"
Benar perkiraan Kiran. Semakin dia diam maka Bu Desi tidak akan memperbesar masalah dengannya. Dan kedepannya, sesuai janji Kiran pada Kak Dhika, diia akan mengambil jarak terjauh dari kedua orang ini.