Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 62


__ADS_3

"Aughh. Akhirnyaaaa"


Kiran merasa tenang setelah berbaring di kasur. Akhirnya dia bisa lepas dari tatapan kakaknya yang sedikit aneh malam ini. Sebenarnya bukan hanya tatapan. Tapi juga perbuatan kakaknya yang ... agak ... mengganggu Kiran. Mulai dari dekapan saat keluar kamar, sentuhan tak sengaja disaat mengambil makanan, tatapan tak teralih dari awal makan sampai selesai dan ... bisikan selamat tidur yang masih membuat bulu kuduknya berdiri sampai sekarang.


"Dasar orang aneh" katanya lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. Meski merasa senang bisa berada lebih dekat dengan laki-laki yang disukainya, Kiran mulai berpikir kalau semua ini salah. Apalagi saat mengingat Bu Desi yang mengamuk saat itu. Kiran merasa bersalah pada mantan atasannya itu.


"Pagi" sapa kak Dhika dengan wajah tampannya yang tersenyum di depan pintu.


"Pagi" jawab Kiran lalu menerobos tubuh tinggi itu.


"Mau kakak antar hari ini?"


"Gak usah. Emangnya kak Dhika gak ada kerjaan hari ini?"


"Ada. Kenapa kamu ingin tau?"


Sekali lagi Kiran begidik mendengar nada suara kak Dhika yang terdengar aneh di telinganya.


"Cuma tanya. Gak dijawab juga gak apa-apa"


" Awas!"


Mendadak tubuh Kiran tertarik ke belakang. Membuat tubuhnya menempel di badan kakaknya. Dia bisa merasakan panas tubuh kakaknya meski dari balik semua pakaian dan seragamnya.


"Ngapain sih?" protesnya lalu melepaskan diri.


"Kakak pikir tadi ubinnya basah"


Kiran melihat ke bawah dan tidak menemukan satu ubin-pun yang basah. Lagipula pegawai kak Dhika kelihatan sangat profesional. Tidak mungkin meninggalkan ubin dalam keadaan basah.


"Ngarang deh" ujar Kiran lalu turun tangga dengan cepat.


"Kakak pergi pagi hari ini. Gak bisa sarapan sama kamu"


"Emang mau kemana?"


"Surabaya"


Kiran perlahan bersorak dalam hati. Bu Desi tidak ikut dinas luar hari ini. Dan pemilik perkebunan juga memutuskan untuk tidak ada di tempat. Itu berarti dia bisa bebas saat dinas hari ini.


"Oh"


"Hanya oh?"


"Selamat pergi"


"Jangan makan sedikit. Makan yang banyak. Kakak tidak mau lambungmu kumat lagi" kata kak Dhika lalu pergi keluar rumah. Orang itu pergi dengan membawa koper besar. Apa kak Dhika akan berada di Surabaya untuk beberapa hari?

__ADS_1


"Tunggu" Tiba-tiba saja Kiran berpikir sesuatu yang kemungkinan besar terjadi sekarang.


Bu Desi tidak ikut dinas luar, pasti karena tahu jadwal kak Dhika. Atau keduanya pergi ke Surabaya bersama untuk mengurus kepindahan Bu Desi yang hanya tinggal dua bulan lagi. Kiran tersenyum kecut. Hilang sudah kesenangan yang baru saja dirasakannya. Berganti dengan kekecewaan yang getir di hati.


Dengan sedikit sedih, kiran berangkat ke perkebunan. Dia melewati rumahnya yang masih tetap seperti dua hari yang lalu. Sepertinya orang-orang suruhan kakak ayah Burhan tidak datang kesana lagi. Apa sudah waktunya bagi dia untuk kembali pulang? Tapi kak Dhika belum berkata sudah selesai mengurus persoalan ini. Apa dia harus tetap di rumah kakaknya sampai masalah itu benar-benar selesai? Sampai kapan? Sibuk berpikir tentang apa yang dilakukannya, Kiran tidak sadar telah sampai di perkebunan.


"Makasih Pak" katanya pada ojek yang mengantarnya. Dia melihat plang nama perkebunan, mendesah berat lalu melangkah masuk. Karena pemilik perkebunan tidak ada, berarti Kiran boleh langsung pergi ke green house. Dia terus berjalan dan bertemu dengan salah satu mahasiswa yang menjadi tugasnya.


"Apa kabar Bu"


"Baik. Kamu semua datang kan hari ini?"


"Iya. Kan kemarin kita sudah janjian"


"Bagus"


Kiran melaksanakan pekerjaannya dengan sepenuh hati. Dia mengikuti kegiatan mahasiswa itu sambil sesekali mengambil gambar untuk dokumentasi pekerjaan. Ketika matahari telah berada  tepat di atas kepala, para mahasiswa dan pekerja green house mengajaknya makan siang. Kiran mengeluarkan kue yang memang sengaja dibelinya sebelum datang tadi pagi dan membagi ke semua orang.


"Wah, lengkap banget makan siang hari ini. Ada dessertnya" komentar salah satu mahasiswi yang kelihatan girang sekali.


"Nanti saya bawain yang lain kalo ditugasin kesini lagi" janjinya lalu ikut gembira melihat semuanya senang.


Setelah makan, Kiran ditemani dua mahasiswi pergi ke dekat dungai untuk sekedar berjalan-jalan. Dia ingin melihat lagi sungai yang sering dibuatnya main waktu kecil dulu. Tapi terdengar keramaian di sungai, membuatnya penasaran.


"Ada apaan ya?" tanya mahasiswi yang mengantarnya.


"Ohhh, pasti benerin saluran air yang rusak tadi pagi"


"Iya Bu. Tadi mau diperbaiki tapi nunggu agak surut air di sungainya. Apa ibu mau liat? Disana juga ada saluran yang menyuplai kebutuhan air di green house"


"Boleh, yuk!"


Kiran diajak turun menuju sungai lalu terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Disana


Di sungai


Ada seseorang yang penampilannya lain dari para pekerja perkebunan. Orang itu sangat tinggi, memiliki tatanan rambut rapi, memakai kemeja putih yang lengannya digulung dan celana bahan.


"Lho, itu pak Radhika. Pak Radhika ada di perkebunan ternyata!!" seru dua mahasiswi yang ada di belakang Kiran. Iya, itu kak Dhika. Kenapa orang itu ada disini? Memperbaiki saluran air dengan pakaian seperti itu?


"Lihat otot perut pak Radhika. AAAHHHH!"


Berada di sungai tentu saja akan membuat baju kak Dhika basah. Dengan kemeja putih yang akan melekat ke tubuh saat basah. Itu jelas akan membuat semua otot perut dan dada kak Dhika terlihat. Bahkan dari jarak sepuluh meter.


Mata Kiran begitu terpaku pada penampilan kakaknya. Membuatnya teringat pada perbuatannya yang sangat salah di Jakarta waktu itu. Seandainya waktu dapat diputar kembali dia tidak ingin melakukan itu. Karena ... itu membuatnya ... ketagihan. Apalagi kala diperlihatkan pemandangan seperti ini. Badan Kiran memanas dan napasnya terasa pendek sekali. Kiran sadar akan keadaan tubuhnya dan segera berbalik. Memutuskan untuk tidak melihat badan kakaknya lagi.

__ADS_1


"Ayo balik!" katanya berusaha mengajak dua mahasiswi yang masih memandang ke arah sungai dengan air liur hampir menetes.


"Bentar Bu. jarang-jarang nih liat beginian di perkebunan"


"Orang yang kamu liat itu udah ada yang punya. Ayo balik!"


Akhirnya keduanya sadar diri dan mengikuti langkah Kiran kembali ke green house.


Dua jam kemudian, Kiran memutuskan untuk menyudahi dinas luarnya. Dia meminta seseorang untuk meminta tanda tangan pengurus perkebunan tapi ditolak dengan alasan pemilik perkebunan telah ada di ruangannya.


"Tapi saya sibuk. harus balik cepet ke kantor" alasannya.


"Pak Radhika yang pegang surat dinas Bu Kiran. Disuruh ambil sendiri di ruangannya"


Kiran tidak ingin bertemu dengan orang itu. Setidaknya tidak sekarang saat fungsi tubuhnya masih mengingat kejadian tadi. Apa sebaiknya dia meminta surat itu di rumah saja nanti? Toh mereka akan bertemu di rumah.


"O iya. Katanya disuruh cepet Bu Soalnya Pak Radhika mau ke Surabaya habis ini"


Akhirnya Kiran terpaksa pergi ke ruangan kakaknya. Dia masuk melalui sebuah lorong yang gelap dan menemukan lampu menyala di sebuah ruangan. Dia mengetuk pintu ruangan itu tapi tidak ada yang membukanya.


"Pak Radhika" panggilnya.


"Masuk!"


Kiran membuka pintu dan cepat-cepat menurunkan pandangan. karena di depannya kak Dhika sedang berdiri bertelanjang dada. Dia pernah melihat badan kakaknya tanpa baju tapi kali ini Kiran memilih untuk menutup mata saja.


"Mana surat dinasku?" tanyanya.


"Bisa kamu tolong kakak dulu"


"Apa?"


"Tolong beri plester di punggung kakak"


Plester? itu berarti orang itu terluka? Kiran membuka mata dan menaikkan dagunya.


Dia melihat kakaknya berusaha untuk menempelkan plester di punggung.


"Luka? Di bagian mana?" tanyanya lalu mengambil plester dari tangan kakaknya.


"Di dekat pinggang"


Kiran melihat luka terbuka kira-kira berukuran tiga centimeter di bagian punggung bawah kakaknya.


"Kena apa ini?"


"Bambu"

__ADS_1


"Lagian ngapain bantuin benerin saluran air pake baju gitu? Mau pamer otot?" tanyanya lalu menggigit bibir. Seharusnya dia tidak bicara seperti itu. karena itu berarti dia mengaku telah melihat kakaknya di sungai tadi.


'Kiran, harusnya kamu jaga mulut' pikirnya dalam hati.


__ADS_2