Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 53


__ADS_3

"Eughhh" erang Kiran terbangun dari tidurnya.


Matanya masih tertutup dan dia mencoba untuk meregangkan tangan dan kakinya. Tapi tidak bisa. Sesuatu mencegahnya bergerak bebas. Perlahan hidungnya mulai mencium bau parfum yang dikenalnya. Kiran membuka mata dan melihat otot menonjol di sebuah leher kekar. Bau parfum segar ini dan leher seperti itu. hanya satu orang yang memilikinya. Dia menarik kepalanya ke belakang sedikit dan membenarkan tebakannya.


"Begini lagi" keluhnya saat melihat wajah tampan itu.


Semalam, Kiran diperlihatkan perlakuan-perlakuan manis kak Dhika pada pacarnya. Mulai dari takut ketahuan bicara dengannya, menganggap Kiran orang asing, membukakan pintu mobil, menggeser kursi untuk Bu Desi duduk, dan bahkan mengganti sendok yang jatuh. Sungguh perlakuan yang manis namun sangat menyakitkan baginya. Dan sekarang orang itu berbaring di sebelahnya tanpa ijin, membuatnya bingung. Kiran menatap wajah Kak Dhika dan mulai memiliki pemikiran gila.


'Sekali saja. Hanya sekali saja kecupan sebelum dia melupakan semua perasaannya' pikir Kiran fokus pada bibir kak Dhika yang berjarak dekat darinya.


Memastikan kak Dhika masih terlelap, dia bergerak perlahan dan berhenti disaat yang tepat saat bibirnya hampir menyentuh bibir kak Dhika.


'Tidak. Ini akan membuatku semakin menginginkannya nanti' pikirnya.


Kiran membatalkan niatnya lalu turun dari kasur dan meninggalkan orang itu disana. Dia membuat kopi dan sarapan di dapur saat kak Dhika keluar dari kamar. Sedang meregangkan diri sambil berjalan.


"Kamu bangun pagi juga di hari libur?" tanya kak Dhika seperti tidak ada yang terjadi.


Kiran mendekat ke arah orang itu dan menjulurkan tangannya seperti meminta sesuatu.


"Kembalikan!"


Kak Dhika melihat ke arah telapak tangannya yang terbuka ke atas.


"Apa?"


"Kunci rumah ini. Harusnya kak Dhika tidak memilikinya lagi"


Kak Dhika menatapnya lalu berjalan melewati Kiran begitu saja.


"Aku mau minum kopi dulu"


Tanpa berbalik Kiran bicara lagi.


"Jangan bikin aku bingung. Kak Dhika sudah bersama Bu Desi, jalanilah cerita cinta kalian dan menjauhlah dariku!"

__ADS_1


Tangannya mengulur lagi ke arah kak Dhika dan kali ini orang itu mengambil sesuatu dari dalam saku celanannya. Melepas satu kunci dari banyak diantaranya dan meletakkan di telapak tangan Kiran.


"Bagaimana kalau kakak ingin datang?"


Kiran menggenggam kunci itu di tangannya, dan bisa bernapas lega sekarang.


"Kakak bisa telpon atau kirim pesan dulu. Silahkan minum kopi dan makan rotinya. Aku mau balik tidur"


Kiran melakukan apa yang dikatakannya. Kembali ke kasur dan berbaring. Kali ini menyelimuti tubuhnya karena merasa sedikit kedinginan.


"Kakak minta maaf membuatmu bingung. Jangan lupa makan tepat waktu" kata kak Dhika lalu terdengar suara langkah menjauh dari kamar. Suara pintu depan terbuka dan tertutup kembali. Orang itu sudah pergi. Kali ini mungkin tidak akan kembali ke rumah ini dalam waktu yang sangat lama. Tiba-tiba Kiran terisak. Perasaan itu ternyata tidak bisa dia hilangkan dengan mudah. Mungkin malah bertambah besar sekarang. Tapi apa yang dilakukannya sudah benar. Dia akan melupakan semua perasaan itu ketika tidak pernah bertemu dengan kak Dhika. Semua akan berlalu dan Kiran hanya perlu fokus pada dirinya sendiri.


Berdiri di depan pintu rumah Zanna, Dhika hanya bisa diam saja. Tadi ... seandainya Zanna menciumnya, dia akan melupakan semua hal termasuk Desi. Tapi ... ternyata Zanna berhasil menahan diri, membuatnya tidak memiliki jalan lain selain pergi menjauh. Dia berpikir pasti mudah karena perasaannya itu baru saja muncul dan akan mudah dikalahkan oleh cintanya pada Desi yang sudah berjalan selama lebih dari delapan tahun. Tapi ternyata dia salah.


Hari ini, setelah hampir dua bulan tidak melihat Zanna, ujung bibirnya terangkat hanya karena melihat adiknya berjalan melewatinya. Hidungnya menangkap aroma manis tubuh Zanna dan hatinya sakit seakan rasa rindu yang menumpuk itu tidak dapat ditolelir lagi. Tapi Zanna benar-benar tampak seperti tak mengenalnya lagi, meskipun kadang mereka bertukar kabar lewat ponsel. Apa sekarang Zanna tidak memiliki perasaan itu lagi padanya? Apa hanya dia saja yang menyukai adiknya itu?


"Selamat pagi Pak. Saya datang kemari untuk mengantar para mahasiswa ini. Mohon bantuan bimbingannya selama dua bulan ke depan" kata Zanna begitu lancar dan menatapnya tepat di mata.


"Iya" jawabnya lalu menoleh pada Desi yang ada di sisinya. Ikut mengantar kedatangan mahasiswa bersama Zanna.


"Kamu sakit ya? Kok akhir-akhir ini kayak gak semangat gitu"


"Aku cuma capek"


"Apa karena perkebunan baru di Lembang itu? Ryan juga belum pulang dari sana ya? Sudah sebulan kan?"


"Iya. Dia pergi untuk memilih orang yang bisa memimpin perkebunan dengan baik"


Dhika masuk ke dalam ruangannya di perkebunan dengan Desi mengikutinya. Keadaan Desi sekarang semakin baik, wajahnya tampak lebih bersinjar. Mungkin karena konseling dan pengobatan yang tepat dari dokter yang mereka kunjungi sekali seminggu itu.


"Jadwal ke dokter besok Jumat, kamu gak usah antar aku ya" kata Desi mengejutkan Dhika.


Akhir-akhir ini perempuan ini seperti ingin mengurangi intensitas pertemuan mereka dengan sengaja.


"Apa ada yang mengantarmu? Apa kamu memiliki pacar baru?" tanya Dhika menganggap Desi memiliki pacar baru yang tidak diketahuinya.

__ADS_1


"Kamu ... gak cemburu ya kalo aku punya pacar baru?"


Pertanyaan Desi memaksa Dhika melihat perempuan itu. Cemburu? Apa Dhika pernah merasa cemburu pada Desi karena memiliki pacar? Dulu ... dulu sekali pernah tapi sekarang dia tidak pernah ingat merasa cemburu pada semua laki-laki itu.


"Kenapa bertanya seperti itu? Yang penting kamu bahagia dan itu membuatku tenang"


"Tenang? Cuma itu yang kamu ingin rasakan saat sama aku?"


Dhika ingin kembali ke pekerjaannya memeriksa hasil panen perkebunan namun tangannya berhenti bergerak.


"Melihatmu senang dan tersenyum, itu saja yang aku minta. Asalkan kamu baik-baik saja maka aku ... bahagia" katanya lalu kembali bekerja lagi. Lalu suara ketukan di pintu kaca mengganggunya.


"Maaf mengganggu Bu. Apa sekarang kita bisa kembali ke kantor?"


Dhika mendengar setiap kata yang diucapkan Zanna seperti untaian lagu di telinganya. Dia ingin pergi menarik perempuan ini ke dalam pelukannya. Tapi dia tidak akan bisa melakukannya.


"Oh iya. Aku balik dulu ya. Malam ini kita bisa makan sama-sama?"


Dhika masih melihat Zanna di matanya dan tidak mendengar pertanyaan Desi. Butuh beberapa detik untuknya mengalihkan pandangan dari perempuan yang bahkan tidak melihatnya itu.


"Iya. Bisa" jawabnya lalu berdiri, bermaksud mengantar Desi ke mobilnya.


Saat berjalan bertiga, Zanna sengaja berada tiga langkah di belakangnya dan Desi. Padahal Dhika ingin mencium manis tubuh adiknya itu sebelum menghilang lagi. Mereka sudah berada dekat mobil saat salah satu pegawai perkebunan lewat membawa  beberapa tumpuk sekam untuk green house. Tumpukan yang sangat banyak dan besar sampai memaksa mereka menghindar ke tepi jalan. Desi dengan sigap menghindari motor itu tapi Zanna seperti tidak menyadari ada motor mendekat. Dhika berlari, menarik tubuh Zanna ke pelukannya. Menghindarkan Zanna dari sekam-sekam yang sekarang menghantam tubuhnya.


"Apa gunanya punya mata kalo tidak dipakai?!" teriaknya mengejutkan Zanna. Mata adiknya terbuka lebar menatapnya, mungkin terkejut karena perkataannya.


Ditatap seperti itu melembutkan hati Dhika. Dia kini merasa bersyukur dapat menghirup aroma manis tubuh Zanna di dekatnya.


"Apa kamu gak apa-apa Dhika?" tanya Desi memaksanya untuk melepaskan lengan Zanna, juga kedekatan mereka.


"Gak apa-apa" jawabnya menjauh dari Zanna.


"Bahaya banget lho tadi. badan Dhika sampe ketabrak sekam gitu. Kamu gimana sih?"


Desi memarahi Zanna dan membuat Dhika tidak rela. Harusnya hanya dia yang boleh memarahi adiknya. Bukan orang lain. Tapi ... bukankah mereka lebih seperti orang lain sekarang? Dhika menggenggan tamgannya, berusaha menyimpan rasa kulit halus Zanna. Untuk dikenangnya.

__ADS_1


__ADS_2