Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 20


__ADS_3

"Kemana Dhika?"


Desi yang merasa bosan menghabiskan hari liburnya hanya dengan berada di rumah, memutuskan untuk pergi mengunjungi cafe Dhika. Setidaknya dia bisa berbincang dan mungkin laki-laki yang selalu ada untuknya itu akan mengajak Desi pergi. Tapi semua hanya harapan karena yang dijumpainya di cafe itu hanyalah Ryan. anak buah Dhika.


"Tidak ada"


Tidak ada? Dhika tidak datang ke cafenya di hari Sabtu? Sungguh aneh. Padahal laki-laki itu selalu ada setiap dia berkencan dengan pacarnya di cafe ini.


"Apa ada yang terjadi dengan Dhika?" tanya Desi lagi pura-pura peduli. Padahal dia hanya peduli dengan biaya makan yang akan dibayarnya karena tidak ada Dhika disana.


"Tidak ada"


Desi perlahan kesal karena orang yang diajaknya bicara hanya menjawab dengan kata yang sama.


"Apa kamu bisa ngomong selain tidak ada?"


"Tidak"


Desi tidak ambil pusing dengan nada sinis Ryan tiap kali mereka bertemu. Dia tahu teman Dhika itu tidak menyukainya. Tapi bagaimana ya? Yang terpenting Dhika menyukainya sampai detik ini. Atau ... jangan-jangan ... . Muncul pemikiran menakutkan dari dalam diri Desi.


"Apa Dhika keluar dengan perempuan lain?"


Tidak mengherankan jika seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun berkencan. Atau bahkan menikah. Tapi tidak untuk Dhika. Laki-laki itu telah berjanji untuk selalu menjaganya.


"Dhika sedang berisitirahat. Jangan ganggu dia dan pergilah!"


Tentu saja Desi tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Ryan. Dia bermaksud bertanya lagi tapi teman Dhika itu berjalan dengan sangat cepat ke area dapur. Membuatnya tidak bisa masuk dan terpaksa pergi. Istirahat? Sejak kapan Dhika membutuhkan istirahat di hari Sabtu? Desi sangat mengenal laki-laki pekerja keras itu. Dia pergi dari cafe dan mencoba untuk mencari tahu kebenaran yang terjadi pada Dhika.


Sampai di rumah Dhika, Desi membunyikan kl;akson. Berharap pagar akan terbuka seperti biasanya saat dia pergi ke rumah itu. Tapi sekarang berbeda dari biasanya. Pagar itu tidak terbuka dan penjaga rumah berlari keluar untuk menyapanya.


"Oh, Bu Desi. Selamat siang"


"Pagi!" koreksinya.


"Kenapa pagar tidak dibuka?" lanjutnya mempertanyakan alasan pagar tidak terbuka untuknya. Penjaga rumah tampak kebingungan lalu menyatakan sesuatu yang diluar ekspektasi Desi.


"Hari ini pak Dhika tidak ingin diganggu siapapun. Karena itu saya tidak membuka pagar untuk siapa-siapa"


"Apa? Ini saya, Desi. Apa Dhika tahu kalau Bapak tidak membukakan pagar untuk saya?"

__ADS_1


"Tapi Bu. Pak Dhika benar-benar ingin istirahat hari ini. Seminggu kemarin pak Dhika sangat sibuk sampai tidak bisa tidur"


"Apa Dhika sakit?"


"Tidak Bu"


Sungguh mencurigakan. Dhika tidak pernah sekalipun menolak kedatangannya dalam keadaan apapun.. Tapi sekarang Desi bahkan tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam halaman rumah laki-laki itu hanya karena alasan istirahat? Sungguh lucu. Tidak terima dengan alasan penjaga rumah, Desi mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Dhika. Hanya ada nada tunggu yang menyambutnya dan lama-kelamaan Desi menjadi semakin kesal. Dia hampir saja membanting ponsel saat seseorang keluar dari pagar tinggi itu.


Laki-laki dengan tinggi 180 cm, rambut acak-acakan dan pakaian rumah mendekati mobilnya setelah memberi isyarat penjaga rumah untuk kembali masuk ke dalam rumah.


"Dhikaaa" Desi segera mengubah nada suaranya menjadi manja dan genit saat melihat wajah Dhika mendekat di jendela mobilnya.


"Desi, maafkan aku, tapi aku membutuhkan istirahat hari ini"


"Aku mencarimu di cafe tadi. Kamu tidak ada. Sekarang aku juga gak boleh masuk rumah kamu, kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?"


Desi memuji dirinya sendiri karena bisa berlaku sangat polos dan manja di hadapan laki-laki ini.


"Tidak. Maafkan aku."


"Kamu juga susah dihubungi, bikin aku kesel banget. Tau gak?"


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu"


"Kamu beneran capek ya? Apa aku perlu pijat kamu? Atau kita ke dokter?"


"Tidak perlu. Aku hanya ingin istirahat saja hari ini. Aku akan menghubungimu nanti malam"


"Janji?"


"Iya"


"Baiklah. Aku tidak akan memaksa masuk karena aku bukanlah perempuan yang sekasar itu. Aku pergi sekarang"


"Iya. Terima kasih atas pengertianmu"


Karena kelembutan Dhika, Desi mengerti dan memutar mobilnya untuk poergi. Di spion Desi tersenyum melihat Dhika masih ada disana, seperti tidak rela melepas kepergiannya.


Dhika menghela napas lega karena bisa menghalangi Desi masuk ke dalam rumah. Meskipun dia merasa bersalah pada perempuan itu, tapi ... dia tidak ingin ada masalah karena sekarang ada Zanna di dalam rumah. Melalui pengalaman, Desi tidak pernah suka kalau Dhika dekat dengan perempuan manapun. Walaupun itu hanya rekan kerja atau saudara jauhnya. Desi akan berlaku sangat keras dan tidak menahan diri untuk membuat semua perempuan di dekatnya menjauh secara teratur. Dhika membiarkan Desi melakukan apa yang disukainya karena semua perempuan itu juga mengganggu Dhika. Tapi beda dengan sekarang. Zanna adalah satu-satunya perempuan yang akan selalu disimpannya dekat meskipun Desi tidak menyetujuinya. Karena Zanna adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya.

__ADS_1


"Apa kau menyukai lukisan?" tanya Dhika saat melihat Zanna memperhatikan lukisan di ruang tamunya ketika kembali lagi ke dalam rumah.


"Gak. Emangnya gak boleh lihat-lihat ya?"


"Ohh.tentu saja boleh. Kamu boleh berkeliling rumah dan melihat-lihat sepuasmu. Ada kolam renang dan taman belakang yang luas di belakang kalau kamu ingin berenang" jelas Dhika berusaha membuat Zanna tertarik pada rumah ini. Berusaha untuk membuat adiknya nyaman untuk tinggal dengannya lebih lama lagi.


"Sombong banget"


"Apa?"


Dhika tidak menyangka akan mendengar tuduhan itu hanya karena ingin membuat Zanna merasa nyaman. Apakah nada bicaranya terkesan sombong sehingga Zanna menilai seperti itu? Dhika menutup mulutnya takut bicara salah.


Lalu dia melihat adiknya berjalan menuju pintu depan.


"Mau kemana?"


"Ke rumah lah"


Zanna tidak berhenti melangkah dan Dhika mengejar adiknya itu.


"Untuk apa?"


"Bantu-bantu. Biar kerjaannya cepet selesai"


Ternyata Zanna memang tidak nyaman tinggal di rumah yang sama dengannya. Tapi Dhika tidak akan diam saja dan membiarkan Zanna berusaha untuk pergi dari rumah ini dengan cepat. Sudah cukup sulit membuat adiknya itu pindah ke rumahnya dengan bantuan para tikus. Kini dia harus berusaha untuk membuat Zanna tetap tinggal di rumah ini dengan cara apapun.


"Kamu hanya akan merepotkan disana. Kamu berisik dan ketakutan kalau lihat tikus. Lebih baik biarkan mereka bekerja sendiri kalau kamu ingin semuanya cepat selesai" katanya membuat adiknya itu berhenti melangkah dan menatapnya.


"Iya ya?"


"Iya"


"Ya udah deh"


Sekarang Zanna berbalik dan berjalan kembali menuju ke kamarnya di lantai dua. Dhika mengikuti langkah adiknya di tangga.


"Ini hari Sabtu, apa kamu mau keluar ke mall? Kakak bisa mengantarmu kalau kamu pengen nonton atau makan" bujuk Dhika.


"Gak mau. Karena ini hari libur, jadi waktunya untuk .... tidur"

__ADS_1


"Apa?"


"Mumpung libur jadi harus istirahat banyak-banyak" jawab Zanna lalu menutup pintu kamar tepat di hadapan Dhika. Sungguh tidak seperti yang dibayangkan olehnya menerima jawaban seperti itu. Bukankah semua perempuan senang dengan jalan-jalan, nonton dan makan diluar? Apakah penilaiannya terhadap perempuan salah selama ini atau ... memang Zanna masih pemalas seperti adik yang dikenalnya dulu? Dhika menghela napas panjang dan pergi ke kamarnya sendiri.


__ADS_2