Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 56


__ADS_3

Dia hanya memanfaatkanmu


Desi tidak akan menjawab lamaranmu karena dia hanya membutuhkan uangmu


Nanti kalau dia tidak butuh uang lagi, dan menemukan orang yang lebih kaya. Dia akan membuangmu


Lebih baik kau cari perempuan lain yang lebih sempurna dari Desi


Selama ini Dhika bertahan dengan mendengar semua cercaan dari Ryan tentang Desi. Dia tidak pernah mempercayai semuanya karena yakin pada perempuan yang membutuhkannya itu. tapi apa yang dia dapat sekarang? Desi melepasnya pergi begitu saja? Dhika merasa semua yang dia alami tidak adil. Apalagi saat dia memutuskan memilih Desi daripada Zanna hanya karena rasa tanggung jawab yang besar terhadap kehidupan perempuan itu.


Dhika menyalakan mobil menembus hujan dan pergi ke rumah perempuan yang baru saja membuangnya. Dia mengetuk pintu dan terdengar langkah kaki mendekat. Desi yang kelihatannya baru saja mandi terkejut melihatnya.


"Dhika kamu ... "


Perempuan ini memakai baju yang terbuka. Memperlihatkan semua bekas luka yang ada di tangannya. Dhika yang ingin melampiaskan amarahnya menjadi tidak tega.


"Aku ... "


"Inilah aku Dhika. Perempuan yang memiliki bekas luka. Luka ini akan selalu mengingatkan aku dan kamu atas kejadian itu. Makanya aku melepasmu sekarang. Sebelum aku membuatmu membuang kesempatan untuk memiliki perempuan lain yang lebih layak" jelas Desi membuat hati Dhika sedih.


"Tapi aku tidak menginginkan apa-apa darimu. Aku hanya ... "


"Aku tahu. Kamu sangat baik dan tidak pernah memaksaku untuk menerimamu. Tapi ... aku juga berpikir kalau itu sangat membebaniku. Seperti aku hanya membawa diriku yang sudah tidak lengkap ini untuk bersanding denganmu yang sangat sempurna"


Dhika tidak pernah mendengar ini semua sebelumnya. Ternyata ... semua yang dilakukannya selama tujuh tahun ini membebani Desi.


"Apa aku harus melakukan sesuatu agar kamu tidak merasa seperti itu?" tanyanya masih ingin memperbaiki semua.


'Tidak. Tidak. Kamu ... adalah laki-laki yang paling baik bagiku. kamu mau menerimaku yang seperti ini dan malah mengusahakan kesembuhan jiwaku. Tanpa meminta apapun dariku. Itu sangat cukup. Tapi jangan dilanjutkan lagi. Aku akan menjadi orang yang tidak tahu terima kasih kalau menerima lebih dari ini"


"Tapi cintaku ... "


"Kita sama-sama tahu kalau rasa cinta itu sudah pudar sekarang"


Terkejut. Dhika mendongakkkan kepala menatap mata Desi yang seperti menyelami otaknya.


"Bagaimana bisa?"


"Aku tahu. Mungkin sebenarnya aku tahu sejak lama sekali kalau kau sudah tidak mencintaiku. Tapi ... aku yang egois, tidak bisa melepasmu ke tangan perempuan lain"


"Desi aku min ... "


Sebelum Dhika menyelesaikan perkataannnya Desi meletakkan telunjuknya di depan bibir. Seakan menyuruh Dhika tidak melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Jangan pernah minta maaf lagi padaku. Aku yang harusnya minta maaf telah menyita waktumu selama tujuh tahun ini."


Hujan akhirnya reda saat mereka berdua duduk tenang dan membicarakan semua.


"Aku akan mengembalikan rumah dan juga mobil yang kau berikan" kata Desi menyulut emosi Dhika lagi.


"Simpan saja. Aku tidak membutuhkannya"


"Tapi Dhika ini terlalu besar dan banyak untukku. Tas, bahkan semua motor yang kau berikan juga sudah kujual. Semua uang itu akan kukembalikan padamu"


"Aku tidak menginginkannya. Pakailah untuk bekal hidup di Surabaya nanti"


Sekarang sudah hampir tengah malam dan Dhika merasa ini waktunya untuk pulang. Dia memegang tangan Desi dan membelai semua luka yang ada disana. Kemudian Dhika mengecup punggung tangan Desi dengan lumbut dan menatap mata perempuan itu.


"Aku akan tetap mengawasi pengobatanmu"


"Aku akan benar-benar berobat sekarang. Aku tidak akan lagi membuatmu khawatir"


Dhika menghembuskan napas panjang dan melepaskan cinta pertamanya. Cinta yang selama tujuh tahun dijaga tapi tidak berakhir dengan kebahagiaan.


"Kau pasti akan menemukan seseorang yang mencintaimu dengan tulus" katanya sebelum pergi.


"Kau juga pasti akan menemukan perempuan yang baik"


"Desi. Selamat tinggal" katanya lalu menutup foto Desi yang diambilnya secara diam-diam saat mereka masih menjadi mahasiswa baru.


lalu, apa yang akan dilakukannya sekarang? Mengejar Zanna? Bagaimana bisa saat dia sudah dengan terang-terangan menolak perasaan adiknya itu? Kelihatannya Zanna juga sudah berhasil melupakannya. Dhika pikir mungkin ini saatnya bagi dia fokus pada pekerjaan saja.


Kiran datang ke kantor dinas dan melihat Bu Desi juga baru saja sampai. Dia ingin menyapa tapi tidak berani. Takut kejadian di perkebunan kemarin membuat mantan atasannya itu salah paham. Lalu ...


"Selamat pagi Kiran" sapa Bu Desi terlebih dahulu.


Kiran tidak mengira menerima salam dari Bu Desi.


"Pagi Bu"


"Jangan bengong di tengah jalan"


"Oh, iya Bu"


Kiran menepi, membuat lorong menuju ruangan lebih besar. Tapi masih tetap melihat ke arah mantan atasannya yang tampak tidak terganggu dengan kejadian perkebunan kemarin. pastilah begitu, karena tidak mungkin Bu Desi terganggu. Karena cinta antara Bu Desi dan kak Dhika telah teruji selama bertahun-tahun.


Hari ini pekerjaan tidak begitu menyiksa Kiran. Mungkin karena Pak Wahyu berangkat rapat ke Surabaya siang tadi. hasilnya dia bisa pulang dengan semangat. Tapi yang menyambutnya di depan rumah membuat semangat Kiran tiba-tiba habis begitu saja.

__ADS_1


"Kamu ASN ternyata?"


Kiran memang tidak suka dengan orang yang ada di depannya. Tapi dia tidak ingin terlalu menunjukkannya di depan banyak orang.


"Ada apa Pakdhe kesini?" tanyanya berusaha sopan.


"Lebih baik kamu pergi dari rumah ini secepatnya"


"Apa? Kenapa?"


"Sudah jadi kesepakatan dengan Dhika. Kalau rumah ini akan dijual dan hasilnya dibagi untuk keluarga"


"Apa??"


"Iya. Rumah ini sudah jadi hak waris keluarga. Jadi kamu yang gak ada hubungan dengan keluarga Pranaja lebih baik segera angkat kaki dari sini"


Enak saja orang ini berpikir kalau rumah ini adalah milik keluarga Pranaja. Kiran tidak bisa lagi menahan sopan santunnya pada saudara ayah Burhan yang terus menerus menyakiti hatinya ini.


"Enak aja. Sejak kapan rumah ini jadi milik keluarga Pranaja? Rumah ini milik keluarga ibu saya"


"Kamu itu gak tau apa-apa. Burhan itu sudah menghabiskan banyak uang untuk rumah ini jadi rumah ini termasuk hak waris"


"Apa? Kok bisa mikir kayak gitu? Rumah ini jadi milik BIbi Tia dan saya setelah ibu meninggal. Gak ada hubungannya dengan ayah Burhan sama sekali"


"Kamu itu masih muda sudah ngelawan orang tua"


"Tapi emang saya bener kok"


"Dasar anak perempuan gak bener"


"Apa?? Situ yang gak bener"


Kiran sudah terlanjur emosi dan siap mempertahankan kehormatan keluarganya lalu tiba-tiba dihalangi oleh orang berbadan tinggi besar yang berdiri di depannya.


"Pakdhe, apa-apaan ini?"


"Oh, kamu datang akhirnya Dhika. Cepet suruh anak ini pergi. Masih kecil udah ngelawan orang tua"


"Orang tua salah kayak gitu harus dibenerin" teriak Kiran lalu mendapatkan tatapan tajam dari kak Dhika.


"Zanna. Diam!"


Apa? Dia disuruh diam? Mana bisa? Dulu mungkin dia hanya diam saja mendengar ibunya terus dihina oleh keluarga ayah Burhan. Tapi sekarang tidak lagi.

__ADS_1


"Kakak aja yang diem dan bawa orang ini pergi. Enak aja bikin keributan di depan rumah orang" ucapnya lalu masuk ke dalam rumah dengan membanting pintu keras-keras.


__ADS_2