Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 58


__ADS_3

"Jadi Dhika dan kau sudah ... "


Desi melihat jauh ke depan. Menembus semua pepohonan yang ada di kafe tempatnya bertemu dengan Ryan. Sebenarnya dia mencai Dhika, tapi laki-laki itu tidak ada. Mengurus masalah keluarga ayahnya yang tiba-tiba saja datang. Terpaksa dia duduk di kafe ditemani oleh teman Dhika yang serba ingin tahu ini.


"Iya. Aku sudah meninggalkannya. Kau puas?"


Ryan tersenyum senang. Terlihat sekali kalau Ryan memang menanti saat-saat seperti ini.


"Sangat puas dan aku yakin ini adalah pilihan yang terbaik untuk kalian berdua"


Desi kesal dengan ucapan Ryan tapi juga membenarkannya. Ini memang pilihan yang terbaik baginya dan Dhika.


"Kapan kau akan mengenalkan perempuan untuk Dhika?" kata Desi lalu merasa getir di lidahnya.


"Secepatnya. Tapi aku harus menunggu dia siap juga mengetahui bagaimana selera perempuannya setelah bersamamu"


"Apa kau sedang menghinaku?" sindir Desi


"Iya"


"Dasar"


"Tapi apa kau sudah baik-baik saja?"


Desi cukup terkejut mengetahui Ryan khawatir dengan keadaannya. Selama ini dia pikir Ryan hanya memperhatikan temannya saja


"Aku akan terus berobat sesuai janjiku pada Dhika"


"Syukurlah. Aku ikut senang mendengarnya"


"Tapi Dhika tidak memberiku kesempatan untuk mengembalikan semuanya"


"Dhika memang orang seperti itu. Terlalu baik sampai bisa dimanfaatkan oleh orang lain"


"Apa kau membicarakan tentangku?" tanya Desi merasa disinggung.


"Bukan hanya kau, tapi ada juga yang lain"


"Maksudmu saudara ayahnya itu? Apa lagi yang mereka minta pada Dhika?"


Desi memang mengetahui tentang semua perangai saudara ayah Dhika. Mereka semua tidak pernah memandang Dhika sebagai keponakan. Hanya sebagai sumber uang saja.


"Tidak tahu sekarang apa yang mereka minta"


"Kuharap Dhika bisa bersikap tegas pada mereka. Kalau tidak ... "


"Aku harus mengawasi apa yang terjadi kali ini. Makanlah sebelum pergi. Apa kau mau sesuatu yang spesial?"


Desi akhirnya bisa tersenyum sekarang. Meski kehilangan laki-laki baik yang akan menjadi suaminya. Desi mendapatkan teman yang bisa menemani hari-harinya. Sepertinya pilihannya untuk melepaskan Dhika memang tepat.

__ADS_1


"Iya Bi. Kiran gak apa-apa"


Seperti memiliki indera keenam, Bi Tia menelponnya malam itu. Bertanya tentang keadaan rumah. Ingin sekali Kiran menceritakan apa yang baru saja terjadi tadi sore, tapi tidak ingin membuat Bibinya semakin khawatir lagi.


"Apa Dhika pernah kesitu?"


Untuk yang ini, Kiran sering bercerita sekarang. Tentu saja karena dia telah berusaha menyelesaikan perasaannya pada kak Dhika. Kalau tidak mungkin lidahnya tidak akan bisa lancar menceritakan semua tentang orang itu.


"Pernah. paling cuma dateng tanya kabar doang"


"Ya sudah kalo gitu. Apa kamu mau dikirim makanan dari Jakarta?"


"Emang apa makanan yang bisa dikirim dari Jakarta Bi?"


"Asinan betawi, kue artis"


"Kalo asinan betawi busuk dikirim ke malang Bi. Kalo kue artis udah bosen"


"Ya udah kalo gitu. Tapi kalo butuh apa-apa jangan lupa kasih tau Bibi ya"


"Iya"


Setelah menutup telepon Kiran meregangkan kaki dan tangannya dan mulai menutup mata. Besoknya dia bekerja seperti biasa dan saat pulang kembali sore harinya, Kiran terkejut sekali melihat beberapa orang laki-laki berdiri di depan rumahnya. Dan semua orang itu memegang sesuatu yang seperti peralatan untuk pengukuran tanah


"Ada apa Pak disini?" tanyanya pada satu orang paling kelihatan tidak menakutkan dari pada yang lain.


"Ini Mba, mau nyegel rumah ini"


"Rumah ini jadi sengketa warisan Mba"


"Apa??"


Ini pasti kerjaan orang tua itu. Kiran ingin sekali marah dan mengusir semua orang ini. Tapi melihat keadaannya yang sendiri, dia pasti tidak akan bisa menang melawan semuanya.


"Terus sekarang nunggu apa Pak?"


"Nunggu yang tinggal disini pulang Mba. Katanya masih kerja. Kita harus ngasih surat sengketanya"


Mendengar itu Kiran segera mundur beberapa langkah dan bersembunyi dari kemungkinan ada yang mengenalinya. Lalu dia berpikir mungkin ada satu orang yang bisa menangani ini lebih baik daripada dirinya. Jadi dia terpaksa berlari ke rumah orang yang katanya mau bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu lagi pada rumahnya.


"Kak Dhika ada?" tanya Kiran pada penjaga rumah.


"Mba. Pak Dhika ada di perkebunan hari ini"


"Apa?"


Kiran yang tidak sabar segera memesan ojek online yang akan mengantarnya ke perkebunan. Setelah memastikan semua orang yang ada di depan rumahnya masih menunggunya datang. Sekitar sepuluh menit perjalanan yang sangat cepat atas permintaannya, Kiran menginjakkan kaki di rumah kecil tempat kak Dhika selalu menghabiskan waktu dengan Bu Desi.


Dia terlalu buru-buru datang. harusnya dia menghubungi orang itu saja dan tidak datang kemari. Bagaimana kalau Bu Desi ada di dalam dan dia mengganggu keduanya? Tapi rumahnya berada dalam bahaya. Kiran menghentakkan kaki lalu berjalan dengan mantap ke dalam ruangan kak Dhika. Disana tampak orang itu sedang bersiap untuk pergi. Mungkin karena hari sudah cukup sore.

__ADS_1


"Kak Dhika" sapa Kiran membuat orang itu berbalik dengan cepat.


"Zanna. Kamu ... "


"Kak Dhika harus tanggung jawab"


"Tanggung jawab?"


"Iya"


"Tapi kita tidak melakukan apa-apa"


"Ha?"


"Bagaimana kamu bisa hamil?"


"Apa? Ngomongin apa sih?"


"Tanggung jawab"


"Bukan tanggung jawab untuk hamil. Siapa juga yang hamil terus minta tanggung jawab kesini?"


"Kamu?"


"Ngomong apa sih? Aku bukan kesini untuk itu"


"Lalu?"


Kiran tidak tahu apa yang dimaksud oleh kakaknya dengan bertanya apakah dia hamil atau tidak. Tapi dia tidak terlalu mempedulikan hal itu lagi. Dia harus segera pulang sebelum terjadi sesuatu dengan rumahnya.


"Banyak orang di depan rumah. Katanya mereka mau menyita rumah dan maksa Kiran keluar"


Kak Dhika tampak mengerti tentang kekhawatirannya lalu mengajaknya segera naik ke dalam mobil.


"Aku akan menangani ini. Kamu tenang saja"


"Gimana bisa tenang kalo semua orang di depan rumah laki-laki yang badannya kekar kayak gitu" keluh Kiran kesal.


"Memangnya badan mereka lebih besar dari kakak?"


"Iya. Pokoknya lebih kayak preman daripada petugas pertanahan"


"Apa leher mereka juga sekokoh kakak?"


Leher? Karena kata itu, Kiran ingat pernah menjilat leher kakaknya beberapa waktu dulu. Saat itu dia benar-benar sudah gila. Tiba-tiba matanya melihat sebutir air mengalir turun dari dagu kak Dhika lalu menyusuri leher yang memiliki otot menonjol itu. Ingin rasanya dia mengusap air itu dengan bibir ... . Kiran mengalihkan pandangan ke jalan dan berusaha menenangkan dirinya. Tidak, dia sudah melupakan perasaannya pada orang ini. Harusnya dia tidak merasakan apapun saat melihat leher itu. Katanya berusaha mengintimidasi tubuh dan perasaannya.


"Ngapain ngomong leher? Bahu mereka aja kayak palu Thor" jawab Kiran berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Tapi kakak juga punya perut kotak-kotak"

__ADS_1


"Emangnya siapa yang ngomongin kak Dhika? Aku ini lagi kesel sama saudaranya ayah Burhan. malah ngomongin badan sendiri. Aneh"


Suasana di dalam mobil perlahan muram. Kiran tidak tahu kenapa.


__ADS_2