Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 29


__ADS_3

"Aku akan memilih model ini" kata Dhika menunjuk sebuah rancangan bangunan cafe yang akan dibangun di Surabaya mulai bulan depan.


"Oke. Aku akan hubungi mandor kita dan bulan depan peletakkan batu pertamanya" jawab Ryan lalu membereskan dua rancangan bangunan yang dia tunjukkan sejak kemarin malam.


"Hanya itu saja untuk hari ini"


"Mau kemana?"


"Ke perkebunan"


"Sekarang kau sering pergi ke perkebunan ya? Apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu?"


"Tidak ada"


Bohong. Ada sesuatu yang terus mengganggu pikiran Dhika selama sebulan ini. Meski dia berusaha untuk menyingkirkannya dengan bekerja, hal itu terus mengganggunya.


"Apa kabar Zanna sekarang?" tanya Ryan tepat menuju pusat masalah yang sedang dipikirkannya.


"Baik. Aku baru saja melihatnya pergi bekerja pagi ini"


"Apa Zanna yang mengganggu pikiranmu?"


"Sial. Iya. Anak itu ... begitu ... "


Dhika tidak tahu kata yang tepat untuk menggambarkan adiknya itu.


"Apa? Mandiri dan dewasa?"


Akhirnya dia menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan Zanna.


"Iya. Terlalu mandiri dan dewasa. Kupikir Zanna akan memerlukan bantuanku setelah sampai di Malang, tapi  ternyata ... "


"Melihat betapa kerasnya dia bekerja, sepertinya dia bahkan tidak akan membutuhkanmu sampai kapanpun"


"Tapi ... dia perempuan. Tubuhnya ... kecil dan kurus. Seharusnya dia ... "


Ryan tertawa mendengar kekhawatiran Dhika. wajar saja, karena dia terdengar berlebihan sekarang.


"Kau terdengar seperti orang tuaku saat aku memutuskan untuk pergi membantumu dulu"

__ADS_1


"Apa? Kau menghinaku?"


Bagaimana bisa dia disamakan dengan orang tua? Dhika hampir saja tersinggung karena tuduhan Ryan.


"Tidak. Hanya saja orang tuaku pernah bilang kalau mereka dulu ragu aku mengambil langkah yang tepat. Mereka khawatir kalau pilihanku tidak benar. Dan sepertinya itu yang kau rasakan pada Zanna sekarang"


Dhika terdiam dan mulai berpikir kalau yang dikatakan oleh Ryan ada benarnya.


"Tapi itu wajar kan? Zanna anak perempuan yang masih berumur dua puluh tiga tahun. Zanna juga hidup sendiri di rumah besar yang hampir rusak itu. Aku ... seperti tersiksa melihatnya keluar dan masuk rumah dengan wajah yang  lelah. Tubuhnya juga kelihatannya semakin kurus. Pasti Zanna tidak makan dengan baik" katanya mengeluarkan semua kekhawatiran yang selama ini menyiksa di dadanya.


"Kau ... harus menikah"


"Apa?"


Dhika tidak mengerti dengan pemikiran temannya ini. Dia mengkhawatirkan adiknya tapi Ryan menyuruhnya menikah.


"Kau tidak boleh terlalu khawatir dengan adikmu yang sudah memilih kehidupannya sendiri. Menikahlah, pasti itu juga yang diinginkan oleh Zanna"


"Kau gila. Lalu siapa yang akan menjaga adikku?"


"Aku ... bisa"


Apa? Dhika menatap tajam temannya yang bicara ngawur itu. Bagaimana bisa Ryan menjaga Zanna? Mereka bukan saudara atau apapun. Atau ... tidak mungkin.


Dhika tahu otak Ryan dengan baik. Dia bisa tahu kalau Ryan tertarik pada Zanna sejak mereka bertemu di cafe saat itu.


"Kenapa? Zanna cantik sekali. Tubuhnya seksi dan rambutnya halus seperti sutera. Belum lagi suaranya yang mendayu seperti kicauan burung di pagi hari. Sungguh perempuan yang sempurna. Dan kau tahu semua tentangku. Bukankah aku menjadi kandidat yang paling baik untuk bersama Zanna? Aku berjanji akan membuatnya bahagia"


Dhika tidak suka dengan apa yang mereka bicarakan.


"Pergi sebelum aku membatalkan niatku membangun cafe di Surabaya itu" katanya tegas.


"Baik kakak ipar" jawab Ryan lalu berlari keluar dari rumah Dhika


"Sialan"


Berdiam diri di rumah setelah mendengar perkataan Ryan tadi, membuat Dhika sangat stress. Dia tidak siap menghadapi perkataan dewasa yang ditujukan untuk adiknya. Meskipun dia tahu kalau Zanna memang cantik seperti yang dijabarkan oleh Ryan tapi ... dia tidak bisa mengatakan semua itu benar begitu saja.  Merasa kepalanya akan meledak, Dhika memajukan rencananya pergi ke perkebunan. Sebelum jam delapan dia sudah ada di perkebunan dan berkeliling untuk memantau semuanya. Pak Agus sedang membeli pupuk dan peralatan green house jadi dia harus mendata semua kekurangan perkebunan sendiri. Saat sedang melihat laporan perkebunan di ruangannya, tiba-tiba Dhika mendengar suara yang dikenalnya.


"Kamu disini? Padahal aku sengaja ingin membuat kejutan tadi" tanya Desi yang tersenyum.

__ADS_1


"Untuk apa kamu kesini?" tanya Dhika heran. Sepertinya tidak ada agenda kedatangan pegawai Dinas Pertanian hari ini.


"Ada anak baru di kantor kami yang ditugaskan untuk memantau mahasiswa yang sedang praktek di green house"


Dhika baru ingat kalau memang ada anak kuliah yang berkeliaran di green house sejak dua minggu lalu.


"Mana dia?"


"Siapa?"


"Anak baru yang kamu maksud"


"Aku suruh dia keliling cari mahasiswa itu sendiri"


Seperti biasa. Desi selalu memperlakukan teman kerjanya seperti ini. Padahal dia selalu mengingatkan Desi seharusnya menjadi senior yang baik bagi bawahannya. Agar dia dihormati oleh semua orang.


"Tapi anak baru itu akan kesulitan berkeliling sendiri"


"Biar saja. Biar Kiran tau rasa udah ngomong kasar terus sama aku"


Dhika menghentikan pekerjaannya karena mendengar sebuah nama yang dikenalnya dari mulut Desi.


"Kiran?"


"Oh, kelepasan. Iya. Namanya Zanna Kirania tapi dipanggil Kiran. Aneh banget kan"


Zanna? Dhika berdiri dan segera berlari keluar dari rumah kecil yang difungsikannya sebagai kantor kecil itu. Dia melihat jejak kaki menuju green house dan merasakan hal yang menyesakkan dada.


Zanna tidak pernah bilang berada di bagian yang sama dengan Desi. Tidak. Dia tidak pernah tanya tentang pekerjaan atau apapun pada adiknya itu. Tapi ... kalau memang Zanna kemari, pasti adiknya itu akan datang ke tempat itu. Tempat yang selalu menjadi arena bermain bagi mereka saat diajak ayah ke perkebunan. Dhika berlari kencang sampai Desi tidak melihatnya lagi. Dia bergegas melewati empat green house dan melihat adiknya duduk disana. Di dalam pondok yang kini tampak kecil bagi Zanna.


Dia ingin mendekat tapi membatalkan niatnya karena melihat Zanna menghapus air mata. Zanna menangis? Pasti Zanna mengingat kenangan saat mereka kecil dulu. Ternyata ... semua kenangan itu masih membekas di ingatan adiknya. Dhika pikir Zanna akan membenci semua hal tentang masa lalu saat bersama ayah dan dirinya. Dia salah. Kembali ke Malang pasti menjadi keputusan besar yang dibuat Zanna.Tapi dia hanya berpikir tentang dirinya sendiri yang bersikeras membuat mereka kembali seperti dulu. Tidak menghormati keputusan adiknya.


Ryan benar. Zanna bukan anak-anak lagi seperti yang ada dalam ingatan Dhika. Adiknya itu sudah dewasa dan mandiri. Seharusnya dia bangga memiliki adik yang tumbuh dengan baik. bahkan tanpa bantuannya sama sekali.


"Ayah, ibu. Zanna sudah jadi perempuan cantik sekarang" katanya melepaskan semua beban di atas pundaknya.


Kini, yang bisa dilakukannya hanya memperhatikan masa depan Zanna. Memastikan Zanna bahagia dengan pilihan hidupnya. Dhika ingin sekali memeluk adiknya sekarang. Membungkus  Zanna dengan kehangatan tubuhnya. Baru saja dia ingin melangkah, lalu suara Desi menghentikannya.


"Kamu disana. Cepet banget sih kalo jalan?"

__ADS_1


Dhika berbalik dan tidak ingin momen yang dirasakan adiknya terganggu. Dia segera menghampiri Desi dan mengajaknya kembali ke ruangannya tadi.


"Aku lupa memeriksa sesuatu" alasannya agar Desi tidak marah dan mengikutinya.


__ADS_2