Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?

Kakak, Boleh Aku Mencintaimu?
Bab 44


__ADS_3

"Kenapa wajahmu tersenyum terus?" tanya Desi ke Ryan.


"Mau apa lagi kesini?"


"Cari pemilik cafe-lah."


Desi sudah mencari sejak masuk ke dalam cafe tapi tidak menemukan sosok Dhika dimanapun juga.


"Dia ada di dalam kantor"


"Apa? Jadi Dhika disini?"


"Kenapa kaget? Bukannya kau tadi mencarinya ... ohh, ternyata kau tidak sendiri kesini"


"Emangnya kenapa?"


"Dasar gila. Sejauh mana lagi kau mau memanfaatkan Dhika? Memesan barang saat kami harus ke Bandung juga"


"Apa? Bandung?"


"Kau tidak memesan?"


Desi tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Ryan sekarang. Tapi dia tidak mau memuskan Ryan dengan ketidak tahuannya. Jadi Desi pura-pura mengetahui apa saja yang dilakukan oleh Dhika.


"Pesan. Tapi ... "


"Oh bukan Bandung. Kau memesan sesuatu dari Jakarta. Benar kan?"


Jakarta? Dhika dari Bandung ke Jakarta? Untuk apa? Membelikannya sesuatu? Apa ya kira-kira?


"Iya. Bukan dari Bandung. Emang kenapa kalo aku pesan sesuatu dari Dhika? Masalah buat lo?"


"Dasar! Cepat pesan dan pergi dari sini. Aku tidak mau Dhika melihat pacarmu"


Desi memang datang ke cafe dengan pacar barunya. Dia hanya ingin pamer kepada Ryan tapi tidak menyangka Dhika ada di sini. Tapi ... semua kelakuannya tidak pernah menjadi masalah untuk Dhika. Jadi Desi dengan santai memesan dan makan malam dengan pacarnya.


Sampai selesai makan, Desi tidak melihat Dhika keluar dari kantornya. Apa memang laki-laki itu ada di cafe ini atau Ryan berbohong padanya. Tapi ... bayangan menerima sesuatu dari laki-laki itu memberinya kesenangan tersendiri. Desi pulang bersama pacarnya dan tidak mengganggu Dhika. Hari demi hari berlalu sejak malam itu, dan Desi masih belum menerima kabar apapun dari laki-laki itu.


"Silahkan Bu Desi, ini makanan yang dibawa Kiran dari kampung halamannya. Eh, masa' Jakarta dibilang kampung halaman ya"


Desi melirik makanan berupa kue milik artis terkenal di meja. Anak baru itu dari Jakarta? kapan? Kenapa sama dengan Dhika? Desi segera menyingkirkan pikiran itu. Tidak mungkin anak baru itu ada hubungan dengan Dhika. Bagaimana mungkin ada?


Dua hari kemudian Desi masih belum menerima kabar dari Dhika. Laki-laki itu sama sekali tidak membalas pesan dan menghubunginya.


"Bu Desi, kita mau ada tugas lapangan ke perkebunan Pranaja. Apa Bu Desi ada waktu?"


Desi melirik anak baru yang datang ke ruangannya dan membaca surat dinas yang diserahkan padanya.


"Untuk menilai hasil kerja mahasiswa? Apa-apaan itu? Bukannya kamu cuma pengen lihat pemilik perkebunan aja?" tanyanya sinis.


"Pak Wahyu berpikir kami harus meminta ijin pada Bu Desi dulu sebelum kesana"


Apa? Pak Wahyu berkata seperti itu? Berarti mereka semua di kantor ini sudah mengakui hubungan spesialnya dengan Dhika.

__ADS_1


"Cuma kita berdua aja?" tanyanya lalu melempar surat dinas itu ke atas meja.


"Tidak Bu. Berempat"


"Ya udah. kapan berangkat?"


"Besok Bu jam delapan pagi"


"Oke"


Esok paginya Desi bertemu dengan laki-laki yang tidak menemuinya lebih dari seminggu itu. Sebenarnya dia ingin marah pada Dhika tapi menahannya. Setelah mengusir semua rekan kerjanya ke green house, Akhirnya Desi bertanya tentang hadiah yang akan diterimanya. Sesuai dengan permintaannya, ternyata Dhika membelikan sebuah jam tangan mahal. Desi merasa senang sekali dan memeluk tubuh laki-laki itu. Tapi ... Dhika tidak bergeming. Dia melihat wajah laki-laki itu dan merasa terganggu. Dhika seperti sedang memikirkan hal lain. Bagaimana bisa laki-laki ini memikirkan hal lain saat bersamanya? Desi kesal dan ingin marah lalu terdengar suara yang mengganggu.


"Permisi Pak Radhika, Bu Desi"


Anak baru ini sungguh tidak sopan. Mengganggu kebersamaannya dengan Dhika.


"Apaan? Kenapa kamu gak sopan mengganggu"


"Saya ... minta maaf sudah mengganggu. Tapi ... saya butuh sesuatu dari Pak Radhika"


Berani sekali anak baru ini meminta sesuatu dari Dhika.


"Apa itu?"


"Ini Bu. Kami butuh pernyataan Pak Radhika tentang pekerjaan mahasiswa yang Praktek Kerja Lapangan disini"


Desi berada di tingkat emosi paling tinggi dan berniat merobek kertas yang disodorkan Kiran. lalu tangan Dhika mendahuluinya.


"Biar aku yang membacanya Dhika kamu ... "


Belum selesai bicara, Dhika menyerahkan kertas itu lagi pada Kiran.


"Aku akan menjawab kalau dibacakan pertanyaannya! Tapi cepat, aku tidak punya waktu"


"Dhika ... aku bisa membacanya. Anak baru ini harusnya ... "


"Bukannya kamu harus menemui mahasiswa itu juga?" tanya Dhika pada Desi.


"Apa? Kenapa?"


"Di dokumentasi harus ada fotomu dengan mereka. Kalau tidak keberadaanmu akan dipertanyakan"


Desi berpikir sejenak dan mulai mempertimbangkan perkataan Dhika ada benarnya. Tapi kalau begitu dia harus meninggalkan anak baru itu berdua saja disini dengan Dhika. Desi melihat keduanya dan tertawa dalam hati. Bagaimana mungkin Dhika tertarik dengan perempuan seperti anak baru ini.


"Baiklah. Aku pergi dulu. Cepat selesaikan pekerjaanmu dan kembali ke green house!" katanya sebelum meninggalkan ruangan Dhika.


Kiran bertanya-tanya dalam hati


'Apa maksud orang ini sebenarnya?'


Kenapa Kiran mendapat kesan seperti kak Dhika mengusir Bu Desi keluar hanya untuk masalah pertanyaan yang ada di tangannya.


Kiran menghapus kecurigaannya dan mulai fokus pada pekerjaannya saja. Toh lebih dari sepuluh hari mereka tidak bertemu sama sekali.

__ADS_1


"Bagaimana menurut Anda pekerjaan yang dilakukan oleh para mahasiswa itu?" tanyanya memulai sesi wawancara dengan pemilik perkebunan.


"Apa kamu baik-baik saja sejak pulang dari Jakarta?"


Kiran melihat orang itu dan merasa heran. Pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan lain. Dia berusaha untuk tenang dan melanjutkan pekerjaannya.


"Baik. Bagaimana menurut Anda pekerjaan yang dilakukan para mahasiswa itu?"


"Mereka sangat membantu. Apa kau marah pada kakak?"


Kiran menghembuskan napas panjang.


"Enggak. Apa menurut Anda jumlah mahasiswa yang bekerja terlalu banyak atau sedikit?"


"Cukup. Kenapa tidak menghubungi kakak?"


Sekali lagi Kiran menghembuskan napas panjang. Berusaha menjaga ketenangannya. Seharusnya bukan dia tadi yang kemari. Kalau saja dua pegawai lain tidak memaksanya.


"Gak kenapa-kenapa. Apa Anda akan mengijinkan mahasiswa lain yang akan datang nantinya ke perkebunan ini?"


"Iya. Aku akan datang ke rumahmu nanti malam"


Kiran menatap wajah kakaknya.


"Buat apa?"


"Seorang kakak tidak boleh datang ke rumah adiknya?"


"Kalo gak ada perlu. Gak usah"


"Aku ingin datang. Itu keperluannya"


"Gak usah datang" katanya lalu kembali melihat daftar pertanyaan yang sekarang kata-katanya seperti berpindah-pindah. Mungkin karena dia tidak konsentrasi lagi.


"Berarti kamu marah sama kakak"


"Enggak"


"Berarti kakak boleh datang ke rumah"


"Buat apa? Gak ada gunanya juga ... kan aku menjijikkan"


Kelepasan. Kiran segera menutup mulutnya  Dia tidak mengira akan mengeluarkan kata itu dari dalam kepalanya. Kiran mengangkat wajahnya dan mencoba untuk mengira apa yang dipikirkan oleh kak Dhika.


"Jadi ... kamu ingin itu disebut apa? Menyenangkan? Menggairahkan? Atau ... bisa tidak kamu ulangi lagi?"


Panas tubuh Kiran meningkat secara mendadak. Mungkin wajahnya kini memperlihatkan dengan jelas hal itu. Dia tidak bisa bicara dan hanya bisa menutup mulutnya.


Disaat seperti itu Kiran ingin segera lari dari tempat ini. Dan seperti mendapatkan keberuntungan dan kemalangan disaat yang bersamaan. Bu Desi datang dengan riangnya. Memanggil nama kak Dhika dengan manja. Membuat suhu tubuh Kiran kembali seperti semula. Dia berdiri dari kursinya dan berkata,


"Terima kasih atas tanggapannya Pak Radhika. Terima kasih juga sudah menerima para mahasiswa itu di perkebunan Anda"


Lalu berjalan pergi meninggalkan kak Dhika dan kekasihnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2