Kampung Sihir

Kampung Sihir
Dia Yang Terus Mengikuti


__ADS_3

"Ini semua kebun milik Kakek?" Tanya Rudi,dia melihat dengan penuh takjub tanah yang luasnya hampir 12 hektar itu.


"Iya!" Jawab Si Kakek sambil mengangguk pelan.


"Kalau begitu berarti Kakek termasuk orang kaya dong disini?" Timpal Andi.


Dara tidak ikut nimbrung,soalnya dia tengah fokus dengan kegiatannya yang sibuk memetik kacang panjang yang sudah waktunya panen.


"Tidak juga,masih banyak orang yang memiliki tanah yang lebih luas dari Kakek,hanya saja mereka tak pernah merasa cukup." Jawab Kakek Joko seraya memunguti kacang panjang yang jatuh dari tangannya.


Aisyah memisahkan diri dari mereka,dia meninggalkan kakek yang terus mengobrol bersama Andi dan Rudi.


Aisyah lebih memilih pergi ketempat dimana banyak mentimun yang sudah waktunya panen,dia memetik satu persatu mentimun itu dan kemudian memasukkannya dalam keranjang,yang dipegangnya.


Dara melihat Aisyah dari kejauhan,dia menangkap satu bayangan di belakang Aisyah


Seperti bayangan hitam yang begitu besar,rambutnya berantakan. "Apaan itu? Mengapa aku tidak bisa melihatnya dengan jelas?" Gumam Dara.


Karena terlalu penasaran,dia akhirnya menaruh kacang panjang yang sudah dipetiknya kedalam keranjang,dia berjalan cepat menuju Tiara.


"Tiara,kemana makhluk tadi? Kenapa tiba-tiba menghilang?"


"Makhluk apa? jangan bilang kalau kamu ngelihat setan di pagi hari begini." Aisyah tertawa,dia menganggap Dara sedang berhalusinasi.


"Syah,aku yakin 100%,aku enggak salah lihat. Itu pasti genderuwo." Ucap Dara.


"Mana ada setan pagi-pagi gini."


"Ada,setan sesat!" Jawab Dara sembarangan.


"Hahaha!!!


Mereka tertawa lepas,tak menyadari bahwa sejak tadi ada mata yang terus memandangi mereka.


Tapi,siapa orang itu? Apakah mereka orang suruhan nya Ki Dani?


\_\_\_\_


 


"Akhh!!

__ADS_1


Terdengar erangan yang begitu besar dari ruang pemujaan Ki Dani,dan yah,sepertinya dia tengah marah karena rencananya untuk menyantet Keluarga Bi Sumi kembali gagal.


"Kenapa bisa seperti ini? Anak-anak itu tidak bisa dibiarkan terlalu lama disini,mereka akan membuat semua rencana ku gagal." Ki Dani melampiaskan kemarahannya pada benda-benda pemujaan yang berjejer rapi didepannya.


"Kau tidak akan mampu melawan dia Ki Dani!" Tukas salah satu jin yang tadi disuruh untuk mengikuti Aisyah.


"Hei gentong! dengar ya,tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkan aku,termasuk anak-anak muda itu." Tatapan Ki Dani terlihat berapi-api.


Genderuwo yang disebut gentong tadi marah,dan dia langsung menghilang begitu saja.


"Kau tidak akan bisa melawan mereka terima takdir lah takdirmu Dani,kalau kau tidak meninggalkan semua ini,maka siap-siaplah cucu mu menjadi tumbalnya." Suara tanpa wujud itu terdengar menggema,Ki Dani melihat keseluruh ruangannya,mencari-cari dimana asal suara itu.


Hanya suara,tapi tak ada wujud.


"Siapa kamu? Ayo keluar! Keluar kalau berani,jangan main-main denganku,kamu belum kenal dengan Ki Dani ya?" Lelaki itu membusungkan dadanya,seolah mengajak suara itu untuk mengadu kesaktian.


Tiba-tiba angin bertiup kencang,dan memporak-porandakan seluruh isi ruangan.


Ki Dani terdiam,kekuatan yang aneh,sudah beberapa kali dia mendengar suara itu tapi tak pernah sekalipun melihat wujudnya.


Ki Dani keluar dari ruangan pemujaannya,dia pergi ke dapur dan menemui cucunya yang tengah duduk melamun di depan jendela.


Lelaki itu mengusap penuh sayang rambut cucunya,bocah lelaki itu mendongakkan kepalanya. Sembari melihat ke arah kakeknya dia tersenyum dan berkata "Kenapa wajah kakek terlihat gusar? Kakek sedang marah?" Bocah itu bertanya.


"Kamu masih mendengar suara-suara aneh itu?"


"Sudah tidak lagi,aku rasa dia sudah menemui temannya yang baru." Ucap bocah itu.


"Apa kamu pernah melihat wujudnya?" Ki Dani bertanya lebih dalam,dia ingin mengetahui lebih detail tentang suara-suara yang didengar cucunya,apa sama dengan yang didengarnya selama ini.


"Dia seorang wanita,Kek." Jawab anak itu.


"Berarti kamu sudah melihat wujudnya?" Ki Dani membulatkan matanya.


"Tidak! Kan suaranya memang suara perempuan." Dia beranjak pergi dari sana,sepertinya risih dengan pertanyaan kakeknya itu.


"Suara perempuan. Kira-kira apa itu suara yang aku dengar tadi? Tapi tidak mungkin,suara yang aku dengar tadi tidak begitu jelas. Suaranya samar-samar antara perempuan dan laki-laki." Monolog Ki Dani.


"Lapor Ki,saya sudah memantau pergerakan cucunya Kakek Joko,tapi tidak ada sedikitpun yang aneh dari mereka." Ucap anak buahnya,dia datang tiba-tiba tanpa permisi,dan membuat Ki Dani terkejut.


"Ada dimana mereka sekarang?" Ki Dani mulai merencanakan sesuatu.

__ADS_1



"Mereka sedang di kebunnya Kakek Joko." Jawab anak buahnya.



"Malam ini akan aku buat mereka tidak bisa duduk dengan tenang." Ucap Ki Dani,dia menyeringai. Menakutkan sekali,apakah yang sedang direncanakannya?



"Bobi,temani aku pergi ke rawa pemujaan!" Pinta Ki Dani.



"Sekarang Ki?"



"Besok!!" Bentak Ki Dani.



Anak buahnya yang satu itu memang sangat takut setiap kali di ajak menemaninya pergi ke rawa pemujaan.



Sebab Bobi tahu,rawa itu tidak ada lain yang menghuni selain setan semua.



"Bagaimana kalau saya suruh sama Raka saja Ki?" Bobi ingin menghindar.



"Saya ngajak kamu,bukan dia!" Sentak Ki Dani.



Mau bagaimanapun ujung-ujungnya tetap Bobi yang harus pergi.


__ADS_1


dia tidak berani membantah,Ki Dani lebih mengerikan dari pada setan,itu sih menurut Bobi.


__ADS_2