Kampung Sihir

Kampung Sihir
Tipuan.


__ADS_3

Maya mengambil kembang kantil yang di lempar pak imam ke arahnya,membuat kembang kantil itu berserakan di lantai. Maya mengambilnya dan langsung memakannya.


Pak imam dan Aisyah menggunakan kesempatan ini untuk meruqyah Maya,pak imam dengan gerakan cepat memegang kepalanya Maya,dan Aisyah memegang tangannya.


"Tino cepat ambil segelas air putih!" perintah pak imam.


Tino segera mengambil segelas air yang sudah diletakkan di atas meja di samping tempat tidur Maya,dan memberikannya kepada pak imam.


"Pak imam membacakan beberapa Ayat Alquran dan meniupkannya ke dalam air tersebut "Usapkan air ini ke wajahnya!" suruh pak imam.


Tino segera melakukan seperti apa yang di perintahkan pak imam.


Hanya berselang beberapa menit saja,Maya kembali sadar. Sekarang tubuhnya sudah seutuhnya milik Maya,makhluk halus itu tidak lagi menguasai tubuhnya.


"Mas Tino!" Maya memanggil suaminya dan dia menangis. Tino dengan penuh kasih memeluk sang istri,tubuh Maya terlihat lebih kurus dari pada sebelumnya,wajahnya juga terlihat sangat pucat,wajar saja kalau Aisyah berpikir bahwa yang di lihatnya beberapa hari yang lalu adalah sosok makhluk halus yang menyerupai Maya.


Mereka semua sangat bersyukur Maya sudah kembali ke dirinya sendiri. Tapi sihir dari Bu Tantri tidak mungkin hilang sepenuhnya,Aisyah berencana untuk mengajak pak imam dan yang lainnya ke rumah Bu Tantri nanti malam.


"Meski Mbak Maya sudah sembuh,tapi kita tidak bisa memastikan kalau sihir kiriman ibunya Mas Tino sudah hilang sepenuhnya,bisa jadi iblis yang menguasai tubuhnya Mbak Maya hanya keluar sebentar dan pergi mengadu kepada tuannya." Ucap Aisyah.


"Kalau memang seperti itu,lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Fandi.


"Kita harus pergi ke rumahnya Bu Tantri," yang di jawab pak imam.


"Kalau pak imam dan yang lainnya ingin pergi ke sana silahkan saja! Tapi saya tidak ikut." Tino menegaskan.


"Tapi kamu tidak mungkin tidak datang Tino,ini kan juga urusan keluarga kamu,kalau cuma saya dan yang lainnya datang nanti kami di kira memfitnah Bu Tantri,dan dia bisa melaporkan kami atas pencemaran nama baik," pak imam mencoba menerangkan,berharap Tino mau ikut dengan mereka untuk bertemu dengan ibunya. Sekalian untuk meminta sang ibu menghentikan perbuatan musyriknya itu.


"Pak imam benar Mas Tino,kalau Mas Tino tidak ikut,nanti Bu Tantri bisa mengelak dari kesalahannya." Tutur Dara berusaha membujuk.


"Mereka benar mas,kamu harus ikut!" Maya menegaskan.


"Kalau aku ikut,kamu tinggal sama siapa di sini?" tanya Tino,dia tidak tega meninggalkan Maya sendirian. Takutnya nanti dia kerasukan lagi.


"Biar aku sama Asep yang ngejagain Mbak Maya,dan Aisyah sama pak imam pergi ke rumahnya Bu Tantri bersama Mas Tino." Sahut Dara,dia dengan senang hati mau menemani Maya di rumahnya malam ini.


"Kamu yakin Dar?" tanya Aisyah memastikan.

__ADS_1


"Yakin,memangnya kenapa?"


"Ya enggak kenapa-kenapa sih,tapi aku pengen ikut sama Aisyah aja,kamu ngajak Fandi sana jangan aku!" tolak Asep.


"Kecentilan bangat jadi cowok,Fandi itu biar ikut sama Aisyah,lagian kamu bisa apa di sana?" sindir Dara.


Asep hanya diam saja sambil menunduk,malu dengan omongan Dara,memang apa yang di katakan Dara ada benarnya juga. Asep tidak tahu cara mengusir makhluk halus seperti yang di lakukan Aisyah dan pak imam.


"Jadi bagaimana ni,kamu atau Fandi yang tetap tinggal di sini?" tanya Tino.


Tino juga tidak bisa mempercayai begitu saja keselamatan istrinya kepada sembarang orang.


"Aku di sini saja mas,nemenin Dara ngejagain Mbak Maya." Asep mengambil keputusan.


Keputusan yang tepat atau bukan,dia juga tidak yakin. Yang pasti hatinya saat ini merasa bimbang.


Ingin sekali Asep mengatakan sama mereka semua kalau dia tidak berani di tinggalkan berdua saja sama Dara untuk menemani Mbak Maya.


*****


Aisyah,pak imam dan Tino sudah tiba di rumahnya Bu Tantri,mereka hanya bertiga saja di sana,tidak ada Fandi. Begitu pulang dari rumah Tino Fandi jatuh sakit,badannya tiba-tiba saja tidak sehat,itu sebabnya cowok itu tidak bisa datang untuk menemani mereka.


Tino tidak langsung mengetuknya,perasaannya masih bimbang,dia sebenarnya tidak mau bertemu dengan ibunya saat ini. Dia sudah kecewa dengan perbuatan ibunya. Seorang ibu yang seharusnya mendoakan kebahagiaan untuk anaknya,ini malah melakukan hal yang sebaliknya.


"Saya sangat kecewa sama ibu pak,sebenarnya saya juga tidak ingin bertemu dengan beliau untuk saat ini." Ungkap Tino.


"Kenapa kamu bisa kalah? Apa susahnya tinggal membunuh wanita sialan itu? Sia-sia saja aku memberi kamu makan selama ini,tapi tugas sekecil itu aja kamu tidak bisa menyelesaikannya!" Dari dalam terdengar suara Bu Tantri sedang memarahi seseorang,entah siapa.


Mereka bisa mendengarkannya dengan jelas,dan hal itu membuat mereka semakin penasaran.


"Ayo kita lihat,dengan siapa ibu Tantri bicara!" ajak Aisyah. Mereka akhirnya masuk tanpa mengucap salam,masuk begitu saja dan membuat ibunya Tino terkejut dengan kedatangan mereka yang tidak di sangka-sangka.


Bu Tantri sedang berdiri di depan cermin besar yang terpajang di dalam rumahnya,cermin itu di letakkan tepat di samping jendela. Mereka heran melihat wanita itu bicara sendiri.


"Kalian sangat tidak sopan,main masuk aja ke rumah saya. Ngapain kalian ke sini?" tanya Bu Tantri dengan nada tak bersahabat.


"Untuk menghentikan ibu melakukan hal yang di larang dalam agama." Tino menjawab cepat.

__ADS_1


"Apa maksud kamu Tino,kamu mau menuduh ibu yang membuat istri kamu jadi seperti orang gila?" tanya Bu Tantri berlagak bodoh.


"Maaf bu,kami tidak mengatakan tentang sakit yang di alami Mbak Maya,tapi kenapa ibu tahu ya?" Aisyah tersenyum sinis,Bu Tantri kemakan omongannya sendiri.


Tino belum mengatakan apa-apa tentang masalah yang di alaminya kepada sang ibu,tapi Bu Tantri langsung mengambil kesimpulannya sendiri.


"Sekarang terbukti kan kalau memang ibu yang sudah membuat rumah tangga aku sama Maya jadi kacau." Ucap Tino.


"Jangan sembarangan ngomong kamu Tino,kamu sudah semakin berani sama ibu,dasar anak durhaka!" kecam Bu Tantri,dengan mata melotot penuh emosi.


"Sudah lah Bu Tantri,sebaiknya ibu mengaku saja,kami ke sini hanya ingin meminta supaya ibu menghentikan semua ini,sebelum hal yang buruk menimpa Bu Tantri." Ucap pak imam.


Mereka terus menyuruh Bu Tantri untuk mengakui perbuatannya,tidak sadar bahwa Bu Tantri sedang membaca mantra untuk mengirim kembali makhluk yang selama ini terus mengganggu Maya. "Mereka ini memang orang-orang bodoh,lebih memilih datang kesini hanya untuk menghentikan aku,dan meninggalkan Maya sendirian di rumah,hahaha... kalian akan lihat apa yang akan aku lakukan sama Maya." Bu Tantri membatin.


Di rumah Tino yang luas dan mewah itu Dara dan Asep sedang duduk sambil menonton TV,mereka terlihat begitu santai. Sepertinya lupa sama Maya yang di tinggalkan sendirian di kamarnya.


"Sep,kamu ngerasa ada sesuatu yang aneh enggak di sini?" tanya Dara dengan ekspresi ketakutan.


"Enggak! Jangan coba-coba untuk membuat suasana jadi horor ya Dar,ingat! Kita cuma berdua di sini." Ujar Asep sembari mencomot kue bolu yang ada di tangan Dara.


"Aaaa..." Maya menjerit.


Kedua remaja itu saling pandang,wajah mereka sama-sama panik. "Kayaknya kita bakal jadi mangsanya iblis itu malam ini"


"Jangan bicara seperti itu,ayo kita lihat apa yang terjadi!"


Tanpa menunggu respon dari Asep,Dara pergi begitu saja,dia menaiki tangga dengan cepat. Asep mengikutinya dari belakang.


Mereka membuka pintu kamarnya Maya bersama-sama.


Maya tampak duduk tenang di sisi ranjangnya,tapi terlihat aneh dan mencurigakan karena pandangannya menunduk.


"Sep,kamu aja yang panggil!" suruh Dara.


Asep mendekati Maya,Maya mendongakkan kepalanya menatap ke langit-langit kamarnya,di detik berikutnya Maya mulai mengalihkan pandangannya ke arah Asep dan Dara.


Pandangannya terlihat sangat menyeramkan,dia membuka lebar-lebar mulutnya,lalu memasukkan jarinya ke dalam mulut.

__ADS_1


"Apa yang akan di lakukan Mbak Maya?" tanya Dara setengah berbisik di telinga Asep,saking takutnya dia memegang kuat ujung lengan bajunya Asep.


__ADS_2