
"Paman,Bi Hanum enggak ada di sini." Teriak Aisyah.
"Hanum dimana?" paman Rio juga panik.
"Cepat ke kamar Syah,sepertinya Bi Hanum ada di dalam kamar." Ucap Dara. Mereka segera meninggalkan ruang tengah dan pergi ke kamar mencari Hanum,berbekal dengan cahaya lampu senter yang sudah sedikit redup.
"Hanum!" panggil Rio.
"Bi Hanum,Bi...!"
"Aisyah tolong bibi!" pekik Hanum
Mereka bertiga masuk ke dalam kamar,dan beruntung sekali karena saat itu lampu kembali menyala.
"Bibi...!" Aisyah segera berlari menuju Hanum,keadaan bibinya itu sangat mengenaskan,banyak cairan merah yang keluar dari mulut dan hidungnya,Hanum tergeletak tak berdaya di lantai.
"Hanum,apa yang terjadi?" Rio segera segera memeluk istrinya.
Hanum tidak bisa berkata apa-apa,kondisinya sangat lemah,dia menatap Aisyah dengan pandangan sedih. "Aisyah,sebaiknya kamu dan Dara jangan datang ke kampung itu lagi,bibi tidak yakin kalian bisa mengalahkan iblis ini," bukan memberi semangat tapi Hanum malah membuat mereka semakin ragu.
"Tapi bi,kami harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kami lakukan,semua sudah terlanjur,kalau Aisyah dan Dara tidak kembali ke kampung itu maka keadaan akan menjadi semakin parah" ucap Aisyah.
Dara membuka laci nakas dan mengambil tissue untuk membersihkan darah di mulut dan hidungnya Hanum.
"Aku tahu mas,istrinya Mbah Yadi adalah hantu yang terus menakuti warga kampung," ungkap Hanum sembari menyeka darah di hidungnya.
"Bibi melihat dengan jelas wajahnya.?" Aisyah bertanya.
"Dia menampakkan wujudnya sama bibi,dia tidak akan pergi sebelum dendamnya terbalaskan."
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa sampai di sini?"
Rio mempertanyakan bagaimana caranya hingga Hanum bisa berada di kamar Aisyah.
"Dia menyeret aku ke dalam kamar Aisyah saat lampu padam,dan kemudian mendorong tubuhku hingga membentur dinding dengan cukup keras." Jawab Hanum,sambil memegangi dadanya yang terasa perih.
"Aku masih penasaran bi,kenapa pak imam tidak di ganggu oleh istrinya Mbah Yadi,padahal pak imam juga penduduk kampung ini."
Aisyah ingin mendengar jawaban seperti apa yang akan di berikan Hanum.
"Tentu saja pak imam tidak di ganggu,beliau itu tidak ada sangkut pautnya sama masalah Mbah Yadi,saat kejadian itu berlangsung pak imam baru pindah ke kampung ini."
Tutur Hanum menjelaskan,kini terjawab sudah pertanyaan yang sudah beberapa hari ini di simpan Aisyah,dia puas dengan jawaban Hanum, setidaknya dia tidak merasa curiga lagi.
****
"Kami tahu bi,iblis-iblis itu akan berkeliaran di jalanan." Jawab Aisyah,dia dan Dara sudah memantapkan hatinya untuk kembali ke kampung melati.
"Paman yakin kalian berdua pasti bisa melakukannya dengan baik,kami tidak bisa ikut,kami hanya bisa berdoa di sini." Rio menguatkan hati keponakannya.
Mereka berdua mengantar Aisyah dan Dara hanya sampai di depan jalan menuju kampung melati itu,tempat yang sudah menjadi larangan bagi warganya untuk pergi ke sana.
Aisyah dan Dara terus berjalan,mereka terus berdoa supaya selamat sampai tujuan,dan semoga segala urusannya hari itu di permudahkan oleh Allah.
Ada yang berubah,kampung itu tidak sama lagi seperti semula,Aisyah mulai bingung.
"Dar,jembatan ini kenapa jadi beda ya? Aku masih ingat betul kalau jembatan yang kita lewati dua hari yang lalu memiliki rantai di sekelilingnya,tapi ini kayu semua,kita enggak salah jalan kan." Aisyah ragu.
"Jalan saja Syah,jangan terlalu di bawa pikiran,kampung ini sudah di kuasai Mbah Yadi,aku yakin lelaki itu juga sudah membuat mata kita tidak bisa melihat mana yang asli dan mana yang bukan,kita bahkan tidak tahu bahwa orang-orang yang kita temui itu adalah orang-orang yang sudah mati." Jawab Dara.
__ADS_1
****
"Hahaha... Akhirnya anak-anak bodoh itu kembali ke sini lagi,aku akan membuat mereka terjebak di sini." Putri tersenyum puas.
Mbah Yadi juga ikut bahagia melihat istrinya senang.
"Malam ini kita akan membunuh dua anak itu,dan setelah itu aku akan menghabisi anak Ijah yang lainnya,penduduk kampung juga akan aku buat mati satu persatu. Hahaha..." semakin keras tawa wanita itu.
Sorot matanya begitu tajam,aura membunuh terpancar begitu jelas.
"Aku senang kamu bahagia,aku sudah lama menantikan saat-saat seperti ini istriku." Ucap Mbah Yadi.
Lelaki tua itu mencium kening istrinya,dia memang sangat mencintai istrinya,tapi yang sekarang berada di depannya bukanlah istrinya seutuhnya,dia hanya jelmaan iblis yang memiliki paras yang sama dengan istri tercintanya.
"Mereka kembali kesini lagi,itu sama saja dengan mengantarkan nyawanya kepada kita." Tambah Putri.
"Aku akan keluar dan mengikuti ke mana anak itu pergi.!" Mbah Yadi hendak bangun dari ranjangnya,tapi di cegah oleh istrinya. "Kamu tidak perlu melakukan apa-apa,cukup duduk diam,dan lihat saja apa yang akan terjadi ke depannya. Jangan takut mereka juga tidak akan bisa menemukan jalan keluar dari hutan ini,ini sudah menjadi tempat kita,dimana iblis-iblis bersarang,"
Mbah Yadi duduk kembali,dia tidak jadi pergi. Lelaki itu mematuhi semua kata-kata istrinya.
Di saat yang bersamaan di tempat yang berbeda,Aisyah dan Dara terus berjuang mencari pasar tempat mereka membeli boneka itu,tapi sungguh di luar dugaan pasar yang sebelumnya ada,kini menjadi kosong. Di jalanan itu tak ada satu pun orang yang berjualan. Hanya ada kursi, itu pun sudah rusak.
Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan,sekarang kampung itu benar-benar seperti kampung mati.
Meski hari masih siang,namun aura menyeramkan tetap menyelimuti keadaan sekeliling mereka.
"Ini pasar tempat kita membeli boneka panda Syah,aku yakin jadi sebaiknya kita kuburkan saja boneka itu disini." Ajak Dara. Dia mulai membuka tasnya dan mengambil sebuah sekop kecil,tanpa basa-basi Dara segera menggali tanah untuk menguburkan boneka yang sudah terbakar itu.
***
__ADS_1