
"Aisyah buruan nak!" Seru Nek Ijah dari dalam kamarnya,sudah dari kemarin beliau mengeluh sakit di kakinya. Sudah minum obat,tapi belum sembuh juga,jangan kan sembuh berkurang saja tidak. Sakitnya malah semakin menjadi-jadi.
Aisyah akhirnya memutuskan untuk memberikan neneknya air obat yang berasal dari rebusan daun bidara. Syukur di rumah tetangganya ada pohon bidara jadi dia tidak kesulitan untuk mencarinya.
Aisyah mengambil tujuh lembar daun bidara untuk kemudian di jadikan sebagai obat.
Sebelum memberikan air itu kepada neneknya Aisyah sudah lebih dulu membaca beberapa surat dan meniupkan ke dalam air tersebut.
"Kalau ini sihir kiriman dari keluarga almarhum Pak Jaki,sudah pasti air ini akan sangat berfungsi saat di minum nenek." Ucap Aisyah,dia berjalan menuju kamar neneknya.
"Ya Allah Aisyah,lama sekali kamu nak, Nenek sudah tidak tahan lagi Syah,rasanya kaki nenek seperti di gigit sakit sekali. Kadang terasa seperti di gergaji,rasanya benar-benar sakit." Adu Nek Ijah. Wanita tua itu meneteskan air matanya.
Aisyah sangat sedih melihat keadaan neneknya,dia terus berdoa kiranya air itu bisa mengurangi rasa sakit neneknya.
"Di minum dulu,nek! Jangan lupa baca Ayat Kursi,Al-falaq,dan An-nas!" ujar Aisyah mengingatkan.
Nek Ijah membaca semua surat yang di suruh Aisyah,beliau kemudian meminum air tersebut.
Dan benar saja,kaki neneknya terasa agak sedikit berbeda dari tadi,sekarang lebih mendingan. Nek Ijah tersenyum dan berkata "Subhanallah Aisyah,air ini benar-benar berfungsi dengan baik. Kaki nenek terasa lebih enakan.
"Alhamdulillah kalau begitu nek."Ucap Aisyah,dia turut senang mendengarnya.
"Kamu sudah menelpon bibi mu Syah?"
"Sudah nek,tapi yang ngangkat bukan Bi Hanum melainkan suaminya."
"Paman Rio maksud kamu?"
"Iya,paman bilang Bi Hanum sakit lagi,sudah dari semalam nek." Jawab Aisyah.
"Sepertinya Wisnu sudah mengirimkan sihir lagi ke keluarga kita Syah." Wajah Nek Ijah terlihat sangat khawatir.
"Kalau kamu mau,kamu boleh kok jenguk Bi Hanum di rumahnya." Ujar sang nenek,seolah mengetahui apa yang ada di hati Aisyah saat ini.
"Memangnya boleh nek?"
"Boleh,tapi ingat! Kamu harus langsung ke tempat tujuan!" pesan Nek Ijah.
Aisyah kemudian segera beranjak dari kamar neneknya,dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Hanum.
Trrrtt!
Trrrtt!
Ponsel Aisyah bergetar,dia buru-buru mengangkatnya.
__ADS_1
Ternyata yang menelpon adalah ibundanya. "Assalamualaikum bunda!"
"Wa'alaikumsalam! Aisyah,bunda sudah hampir sampai di sana." Ucap Bu Indri memberi kabar.
"Lho,bunda bilang sampainya nanti malam."
"Enggak jadi,oh ya Ustadz Yusuf juga ada di sini."
"Ya sudah kalau begitu,Aisyah buatkan makan siang dulu ya bun,nanti kita ngobrol-ngobrol lagi," ucap Aisyah sebelum mengakhiri panggilannya.
\*\*\*
Aisyah pergi menuju dapur,dia ingin menyiapkan makan siang untuk menyambut kedatangan bunda dan ayahnya,dan kebetulan Ustadz Yusuf juga datang.
Pintu kamar Nek Ijah terbuka lebar,dan beliau dapat melihat Aisyah yang berjalan menuju dapur. Wanita tua itu tampak heran,karena tadi cucu kesayangannya itu bilang bahwa dia ingin pergi ke rumah bibinya,tapi sekarang kenapa malah ke dapur?
"Syah... Aisyah!!!"
Panggil Nek Ijah,Aisyah saat itu sedang fokus dengan kegiatannya,jadi dia tidak sadar saat neneknya memanggil.
"Aisyah!!!" panggil neneknya lagi.
"Iya nek,ada apa?" sahut Aisyah setengah berseru.
"Nenek kenapa manggil aku,ya? Apakah kakinya kembali sakit?" Gumam Aisyah bertanya pada diri sendiri saat berjalan menuju kamar sang nenek.
"Ada apa nek?" tanya gadis itu,kepalanya nongol tiba-tiba di depan pintu,hampir saja membuat neneknya terkejut,Aisyah menatap sang nenek dengan berdiri di depan pintu,tanpa ikut masuk ke dalam.
"Enggak jadi ke rumah Bi Hanum,ya?"
"Enggak jadi nek,soalnya tadi bunda nelpon dan ngabarin Aisyah,kalau siang ini bunda sama ayah bakal tiba di sini,sekalian Ustadz Yusuf juga ikut datang. Jadi Aisyah harus nyiapin makan siang buat mereka." Jawab Aisyah menjelaskan.
"Ya sudah lanjutkan sana! Maaf nenek enggak bisa bantu."
"Ya,enggak apa-apa." Jawab Aisyah tulus. Aisyah langsung membalikkan badannya dan kembali ke dapur.
"Tapi Aisyah masih bingung nek mau buat menu makan siang yang seperti apa?" ucap Aisyah,dia balik lagi ke kamar neneknya.
Nek Ijah tersenyum mendengar perkataan cucunya. "Kita kan tinggal di kampung Syah,ya buat apa adanya dong. Kalau tinggal di kampung ya buat masakan kampung." Tutur neneknya.
"Ah pusing,Aisyah buat apa yang bisa Aisyah buat aja ya!"
"Terserah kamu aja!" pungkas Nek Ijah.
__ADS_1
\*\*\*\*
Setelah bunda dan ayahnya sampai,dan mereka makan siang bersama. Kini mulailah Aisyah dan keluarga neneknya duduk berkumpul di ruang tamu.
Di sana sudah ada Bi Hanum dan suaminya. Mereka duduk lesehan beralaskan tikar seadanya.
"Tentang penyakit nenek saya ini,apa masih bisa di sembuhkan ustadz?" tanya Aisyah.
"Insya Allah bisa Aisyah,tapi prosesnya tentu tidak cepat,sebab sihir kiriman ini sudah lama sekali berada di tubuh nenek kamu,apalagi Pak Jaki itu sudah mewasiatkan kepada anak-anaknya untuk meneruskan apa yang sudah di mulainya." Jawab Ustadz Yusuf.
"Ustadz,ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan kepada ustadz." Ucap Nek Ijah,wanita itu memberi isyarat kepada Aisyah untuk mengambil botol kaca yang di simpannya di atas meja di dalam kamar.
Aisyah langsung bangkit dan mengambilnya.
"Ini ustadz!" Aisyah memberikan botol kaca berisi belatung yang sengaja di simpan oleh neneknya.
Ustadz Yusuf tercengang melihat belatung yang ada di dalam botol kaca itu.
Dalam penglihatan beliau binatang itu bukanlah belatung biasa. Ustadz Yusuf bahkan menutup hidungnya karena mencium aroma busuk yang keluar dari belatung tersebut.
"Aisyah tolong tutup kembali botol kaca itu!" Perintah beliau.
Aisyah langsung menutupnya kembali,meski dia tidak mengerti kenapa Ustadz Yusuf tampak sangat panik saat itu. Mereka semua bingung melihat Ustadz Yusuf yang menutup hidungnya,padahal mereka sama sekali tidak mencium bau apa-apa.
"Kenapa ustadz,apa ustadz mencium bau busuk?" tanya ayahnya Aisyah.
"Ini bukan belatung biasa,kita harus segera membakarnya,baunya sangat busuk,belatung ini di ambil dari tubuh mayat yang sudah meninggal selama 44 hari." Ujar beliau.
"Saya tahu itu memang bukan belatung biasa,itu sebabnya saya memasukkannya ke dalam botol ini." Ucap Nek Ijah.
"Lalu sakit yang di derita istri saya bagaimana ustadz,dia sudah dari semalam tidak bisa tidur,katanya punggungnya sangat sakit." Giliran Paman Rio yang bicara.
Ustadz Yusuf tidak langsung menjawabnya,beliau malah bertanya kepada Aisyah. "Bagaimana Aisyah,apa kamu bisa melihat apa yang ada di belakang punggung bibi mu itu?" tanya Ustadz Yusuf.
"Tidak ada ustadz,Aisyah tidak bisa melihat apa-apa," jawab Aisyah seraya menggelengkan kepalanya.
"Kamu beneran enggak bisa lihat,Syah? Bukankah dua hari yang lalu kamu bahkan bisa mengetahui apa yang di katakan Pak Jaki di masa lalunya,tapi sekarang kenapa kamu tidak bisa melihat ada apa di belakang punggung bibi?" Hanum merasa heran sendiri,dia pikir Aisyah memiliki mata batin yang dapat melihat sesuatu yang tak kasat mata. Tapi sekarang kenapa dia tidak bisa melihatnya.
"Kamu masih memiliki kemampuan semacam itu sayang? Bukankah Ustadz Yusuf sudah membuangnya dua tahun yang lalu?" Bu Indri tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya begitu mendengar cerita Hanum.
"Aisyah hanya bisa melihatnya sekali-kali saja bunda." jawab Aisyah jujur.
Dia sendiri juga heran kenapa kemampuan itu bisa kembali,seolah mata batinnya terbuka lagi,padahal dia sudah berobat pada Ustadz Yusuf.
__ADS_1
Ada apa sebenarnya ini?.