Kampung Sihir

Kampung Sihir
Serbuk Pemikat


__ADS_3

"Aisyah,waktu ku enggak lama lagi disini. Dua minggu lagi aku akan kembali ke rumah di Jakarta." Ungkap Dara.


"Kamu mau ninggalin aku sendiri disini?" tanya Aisyah dengan wajah murung.


"Awalnya tujuan aku datang ke sini adalah untuk menjenguk kamu sekaligus liburan,tapi kamu lihat sendiri kan,apa yang aku dapat?"


"Aku mengerti maksud kamu Dar,aku paham kamu pasti lelah tinggal di kampung ini,banyak sekali masalah yang terjadi." Ujar Aisyah parau.


Dara tidak bermaksud membuat Aisyah sedih,apa yang bisa dia lakukan? Dia juga sudah lelah dengan sikap warga kampung itu.


"Syah,nenek bahkan tidak menelpon kita,padahal nenek sudah dua minggu lebih disana,dan aku rasa nenek memang tidak berniat untuk kembali kesini."


"Maksud kamu sebenarnya nenek sudah tidak sanggup lagi tinggal disini?" tanya Aisyah.


"Ya!"


Dalam hati Aisyah membenarkan perkataan Dara,nenek mungkin sudah lelah dengan keadaan di kampungnya.


"Bagaimana kalau kamu ikut aku kembali ke kota?" Dara membujuk.


"Tidak bisa Dar,aku harus menyelesaikan dulu masalah ini,"


"Ayolah Syah,ini juga bukan urusan kita,memangnya kamu mau menua disini?"


"Kenapa tidak,kalau memang jodohku ada disini,ya apa salahnya." Jawab Aisyah santai.


"Kenapa jadi ngomongin jodoh? Jangan bilang kalau kamu mulai suka sama anaknya pak imam," tebak Dara.


Aisyah tersenyum,dan senyuman itu menjadi jawaban dari pertanyaan Dara tadi.


****


Di rumah ustadz Reza terlihat sepi malam ini,tapi di dalam tak ada yang tahu kalau mereka sedang melakukan pemujaan bersama beberapa orang kampung,mereka semua adalah anak gadis yang masih berusia rata-rata di atas 19 tahun.


Sudah ada lima orang yang mau bergabung bersama ustadz Reza,dan lelaki itu menjanjikan mereka banyak hal,mulai dari harta berlimpah,cinta di sambut dan masih banyak hal lainnya.


Setelah melakukan pemujaan,dan ustadz Reza meminta setetes darah mereka sebagai bukti bahwa mereka sudah menjadi muridnya. Mereka pun pulang.


Sekarang hanya tinggal Dewi seorang,dia ingin berbicara empat mata dengan lelaki itu, "Saya ingin Fandi menyukai saya,apakah bapak bisa mengabulkan permintaan saya?" tanya Dewi.


"Apa kamu sudah mengerjakan apa yang saya suruh?"


"Saya sudah melempar batu yang bapak suruh,tapi Fandi belum juga datang untuk menemui saya," jawab Dewi.


"Kamu sudah memastikan kalau batu yang kamu lempar itu di pegang sama Fandi?"


Menjawab pertanyaan ustadz gadungan itu,Dewi menggeleng pelan. "Tidak pak!" jawabnya lemah, "Batu itu di pegang sama Aisyah."


"Dasar gadis bodoh!" teriak ustadz Reza,suaranya begitu lantang.


"Me-memangnya kenapa kalau Aisyah yang memegang batu itu?"


"Sudah pasti sihir yang saya gunakan di batu itu tidak akan berguna,karena bukan orang yang dimaksud yang memegangnya." Jelas ustadz Reza.


"Lalu sekarang saya harus bagaimana?"


"Ambil ini!" Ustadz Reza memberikan sebuah botol kaca kecil yang entah apa isi di dalamnya. "Taburkan ini di atas bedak yang biasa kamu pakai! Sebut nama orang yang kamu suka sebanyak tiga kali,dan besok temui dia!"

__ADS_1


Dewi tersenyum puas,dia menggenggam erat botol yang di berikan ustadz Reza,dan kemudian memasukkan ke dalam saku bajunya.


"Terimakasih banyak pak,kalau begitu saya langsung pulang." pamit Dewi.


"Tunggu sebentar Dewi!"


Dewi menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ustadz Reza. "Ingat Dewi,semua ini ada bayarannya," ustadz Reza mengingatnya.


Dewi mengangguk paham.


*****


Fandi bersama Asep sedang berdiri di dekat sawah sambil memantau para pekerja yang sedang menggarap sawah miliknya (Fandi).


Dewi yang sudah berdandan dengan cantiknya,langsung saja menghampiri Fandi. Dan apa yang di rencanakan Dewi berjalan sesuai rencana.



Fandi terlihat takjub dengan kecantikan Dewi,kalau orang lain yang melihatnya pasti mereka akan mengatakan bahwa Dewi masih kalau jauh di banding Aisyah.



"Dewi..." Ucap Fandi dan Asep bersamaan.


"Kamu dewi kan?" tanya Fandi memastikan.


"Iya,aku Dewi." Dia tersenyum menggoda.


"Sepertinya efek dari serbuk itu mulai bekerja." Ucap Dewi dalam hati.


Fandi tak pernah seperti itu,menurut saja saat di ajak perempuan. "Ada yang tidak beres," Asep bergumam.


Dari kejauhan dia melihat Dewi dan Fandi duduk berdua di saung,Asep langsung pergi dari sana,tujuannya adalah bertemu dengan Aisyah.



\*\*\*



Aisyah bersama Dara sedang mengobrol di teras depan rumah,saat Asep tiba-tiba datang dengan wajah panik.



"Aisyah,Dara!" panggilnya,dia berlari menghampiri mereka.



"Ada apa Sep? Apa ada hal buruk yang terjadi?" Dara bertanya.



"Buruk banget Dar,ini sangat aneh." Asep berbicara dengan nafas memburu.



"Mending duduk dulu deh!" Aisyah menyuruh Asep untuk duduk.

__ADS_1


Dara masuk ke dalam rumah untuk mengambil segelas air.


Setelah menghabiskan segelas air yang di berikan Dara,Asep baru menceritakan tentang kejadian aneh yang di lihatnya.


"Tadi aku ngelihat Fandi pasrah begitu aja saat di ajak pergi sama Dewi." Ungkapnya.



"Dewi yang kamu ceritain itu? Yang katanya dia pernah menyukai Fandi,tapi Fandi enggak mau sama dia?" tanya Aisyah.



Dia masih ingat betul dengan perempuan bernama Dewi yang pernah di ceritakan Asep padanya.



"Iya,Kamu masih ingat rupanya. Aku enggak habis pikir Syah,kenapa Fandi jadi nurut gitu pas di ajak sama Dewi." Ujar Asep.



"Kena pelet kali," ucap Dara asal,dia tidak terlalu peduli dengan pembicaraan mereka,soalnya Dara sudah capek berurusan sama hal-hal mistis begitu. Sambil terus mengupas jeruk satu persatu,dan kemudian memberikannya untuk Asep dan Aisyah. "Nih,dimakan dulu! Jangan terlalu sibuk sama yang namanya Dewi." Tutur Dara.



"Kamu sih enak ngomongnya Dar,kita kan harus menjaga Fandi dari pengaruh buruk Dewi,"



"Ya Dar,apa yang di katakan Asep benar,sebagai teman yang baik kita harus saling menjaga,bagiamana kalau apa yang tadi kamu bilang beneran terjadi?" ucap Aisyah.



"Ya,bagaimana jadinya kalau Fandi benar-benar di pelet sama dia?" Asep tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada sahabatnya itu.



Dara yang tadinya santai,kini mulai panik.


"Kalau begitu kita samperin aja mereka berdua,jangan sampai Dewi berbuat yang macam-macam ke Fandi." Usul Dara.


Usulan Dara langsung di setujui sama Asep dan Aisyah.


Sebelum pergi Aisyah masuk dulu ke dalam untuk mengganti sarung yang dipakainya dengan rok,enggak mungkin dong dia pergi menggunakan sarung.


Lima menit kemudian dia kembali lagi,dan langsung mengunci pintu rumahnya.



Mereka pergi berjalan kaki menuju sawah Fandi.


Begitu sampai,tangan Aisyah mendadak dingin,keningnya penuh keringat. Matanya melotot melihat ke arah Fandi dan Dewi.


Melihat perubahan wajah Aisyah yang menjadi pucat pasi Asep penasaran,apa mungkin Aisyah melihat sesuatu?



....

__ADS_1


__ADS_2