Kampung Sihir

Kampung Sihir
Bayi Hilang


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan tenang,tidak ada lagi gangguan dari makhluk halus semenjak kedatangan Ustadz Yusuf.


Dan sekarang Aisyah kembali tinggal berdua dengan neneknya,sebab bunda dan ayahnya sudah kembali ke kota,mereka hanya bisa pulang sekali-kali saja ke sana,sebab Pak Aryo juga harus mengurus bisnisnya di kota.


Hari ini Aisyah di suruh pergi belanja ke warung kelontong milik Bu Marni,hanya warung Bu Marni yang paling lengkap di kampung mereka.


Rumah nenek Aisyah kebetulan juga agak sedikit jauh dari rumah warga lainnya,di depan rumah neneknya itu terbentang sawah yang cukup luas,milik para warga di sana.


Aisyah berjalan kaki menuju warung Bu Marni,di tengah perjalanan dia mendengar desas-desus tentang penculikan bayi,ada beberapa ibu-ibu yang sedang duduk di tepi jalan sembari melepas lelah setelah seharian menggarap sawah.


"Duh,saya jadi takut kalau anak saya mengandung lho Net,kamu kan tahu kalau dia baru habis bulan madu di luar kota,gimana kalau dia pulang ke sini lalu hamil dan lahiran di sini? Terus bayinya juga ikutan hilang kayak cucunya Bu Mei." Celetuk salah satu ibu-ibu.


Karena penasaran dengan cerita mereka,akhirnya Aisyah menghentikan langkahnya dan bertanya kepada mereka,apa yang sebenarnya tengah terjadi.


"Assalamualaikum ibu-ibu!" ucap Aisyah dengan sopan.


"Wa'alaikumsalam neng!" jawab mereka.


Mereka menatap Aisyah dari atas sampai bawah,merasa asing dengan kehadiran Aisyah. Ya wajar saja,Aisyah kan jarang keluar dari rumahnya,dia keluar jika ada perlu saja.


"Neng ini siapa ya,?" tanya salah satu orang dari tiga ibu tersebut.


"Oh,kenalin saya Aisyah." Jawab Aisyah memperkenalkan diri.


"Oh,cucunya Nek Ijah ya?" tanya Bu Anet memastikan.


"Iya,bu"


"Lah,emangnya kamu kenal sama dia Net?" tanya temannya.


"Ya kenal lah,dia kan anaknya si Indri,teman kita yang satu SMP dulu itu." Jelas Anet.


"Oalah anaknya Indri toh,sudah besar rupanya ya,kenalin saya Fitri." Wanita itu memperkenalkan dirinya.


"Kamu mau kemana Aisyah?" tanya Bu Anet,ketika melihat Aisyah membawa lembaran kertas putih di tangannya.


"Mau beli keperluan dapur di warungnya Bu Marni,oh ya bu tadi Aisyah enggak sengaja dengar omongan ibu-ibu yang lagi ngomongin masalah bayi yang hilang,apa itu benar?" tanya Aisyah.

__ADS_1


Bu Anet segera menjawabnya "Ya benar dong Aisyah,semalam setelah melahirkan bayinya Wiwin anaknya Bu Mei pingsan tak sadarkan diri karena tenaganya terkuras habis saat melahirkan,terus bu bidannya keluar kamar ingin memanggil suaminya Wiwin,tapi tiba-tiba dari luar terdengar suara orang ketok pintu,bidan itu mengira kalau Bu Mei sudah pulang dari warung,pas di buka ternyata enggak ada orang di luar,lalu bidan itu pun kembali ke kamar untuk melihat keadaan Wiwin,dan betapa kagetnya bidan itu begitu melihat bayinya Wiwin sudah hilang."


"Ah cerita kamu buat aku merinding Net," ujar Lastri sambil mengusap tengkuknya.


"Rumah nenek kamu kan agak sedikit jauh ni sama rumah warga lainnya,kalau malam-malam ada yang ketok-ketok pintu jangan di buka ya!" Bu Fitri mengingatkan.


"Kenapa memangnya bu?"


"Kamu kayak enggak tahu kampung ini aja Aisyah,di sini kan banyak orang-orang yang memiliki ilmu hitam." Ungkap Anet.


"Apa cucunya Bu Mei itu di jadiin tumbal?" tanya Aisyah,gadis itu semakin penasaran dengan cerita mereka.


"Mungkin." Jawab mereka.


Otak Aisyah berputar begitu cepat,dan dia seolah melihat sosok lelaki berbaju hitam berdiri di atas tangga. Dan setelah itu sebuah pertanyaan muncul di otaknya, "Suaminya Mbak Wiwin itu kemana?"


Mendengar pertanyaan Aisyah mereka saling pandang,seolah tersadar.


"Iya juga ya,suaminya kok bisa hilang dari cerita sih?" ucap Fitri.


"Kamu sih Net,denger ceritanya setengah-setengah,kan jadi enggak jelas gini" timpal Lastri.


****


Aisyah meletakkan semua kantong plastik belanjaan di atas meja yang ada di dapur,nenek merasa heran melihat raut wajah khawatir Aisyah.


Wanita tua itu bertanya dengan penuh perhatian "Wajah kamu kenapa,kayak lagi mengkhawatirkan sesuatu,emang ada apa Syah?"Tanya Nek Ijah.


Sambil menarik salah satu kursi yang ada di sana,untuk duduk dan melepas lelahnya Aisyah menjawab.


"Ada masalah baru lagi nek."


"Masalah baru apa?" Nek Ijah ikut duduk ingin mendengar info dari sang cucu.


"Tadi pas di jalan mau ke warungnya Bu Marni, Aisyah dengar dari pembicaraan ibu-ibu kalau semalam ada bayi yang hilang,cucunya Bu Mei. Terus pas Aisyah tiba di warungnya Bu Marni,pembahasannya juga masih sama,kayaknya bayi hilang itu sudah menghebohkan seluruh warga kampung deh nek." Tutur Aisyah bercerita.


Nek Ijah kemudian menarik nafasnya yang terasa berat,beliau kembali teringat akan masa lalunya.

__ADS_1


"Kejadian itu memang pernah terjadi dulu Syah,saat kakek mu masih hidup,kakek kamu lah yang berhasil menemukan orang yang menjadi dalang atas hilangnya bayi para warga di sini,dan ternyata dia menjadikan semua bayi-bayi itu sebagai tumbal." Nek Ijah menceritakan masa lalunya yang menyeramkan itu.


"Saat kejadian itu,apa Pak Jaki sudah menjadi musuhnya kakek?"


"Tentu saja belum,saat itu mereka masih sama-sama membuka balai pengobatan,ya meski caranya berbeda-beda,kakek mu itu melakukan pengobatan secara islami,dengan cara-cara ruqyah,sedangkan Pak Jaki melakukan pengobatan dengan cara yang aneh,seperti ritual-ritual begitu. Makanya banyak orang datang ke tempat kakek,apalagi di balai pengobatannya kakek bisa bayar seikhlasnya aja," Nek Ijah menceritakan semuanya secara detail. Aisyah semakin mengerti sekarang alasan di balik dendamnya keluarga Pak Jaki.


"Kata ibu-ibu di sana,kalau malem-malem kita dengar suara pintu di ketok,mending enggak usah di buka."


"Kenapa?"


"Soalnya sebelum cucunya Bu Mei hilang,bidan itu juga mendengar suara pintu di ketok,eh pas di buka enggak ada siapa-siapa di luar,trus pas bidan itu masuk lagi ke kamar,bayinya sudah hilang entah kemana."


Untuk kesekian kalinya Nek Ijah menarik nafasnya yang terasa berat lalu membuangnya secara kasar. "Hal begituan jangan terlalu di pikirin Aisyah,palingan sebentar lagi dalangnya juga ketemu." Pungkas Nek Ijah mengakhiri topik pembicaraan mereka.


Wanita itu kembali pergi ke halaman belakang untuk melanjutkan pekerjaannya memetik tomat yang sudah siap panen.


Dan Aisyah seperti biasa,dia bertugas untuk membuat masakan untuk makan malam.


****


Duaaarrr


Di luar suara petir terdengar menggelegar dan bersahut-sahutan. Angin berhembus kencang,hujan turun begitu lebat malam ini.


Sudah semenjak tadi sore sampai sekarang juga masih belum berhenti juga,padahal sudah jam 09:00 malam.


Aisyah merasa agak bosan,dia ingin menonton Tv,tapi takut karena hujannya terlalu deras.


Saat itu Aisyah juga lagi sendirian di rumah,karena neneknya sedang pergi ke rumah bibinya.


JLEB!


Listrik tiba-tiba mati,Aisyah buru-buru menghidupkan lampu senter di ponselnya.


Gelap.


Perasaan Aisyah mulai tidak enak.

__ADS_1


Pintu tiba-tiba di ketok dari luar,begitu Aisyah bangun untuk membukanya sekelebat bayangan putih melintas di depannya,dan...


Huaaaa...


__ADS_2