
"Ya,memang paman kamu sendiri yang sudah melakukannya,"
"Tapi,kenapa paman saya melakukan semua ini ustadz?" Aisyah masih bersikap seolah tidak mengetahui apa-apa.
"Karena harta,nenek kamu ini memberikan tanah seluas dua hektar kepada ibu dan bibi mu,sedangkan paman kamu hanya mendapatkan satu hektar saja,meski ini semua tidak termasuk dalam harta warisan tapi paman kamu tetap marah dan dendam,dia marah sebab tanah yang di bagikan sebagai hadiah itu sangat sedikit untuknya." Papar ustadz Reza menjelaskan punca dari dendam pamannya.
\*\*\*\*
"Pengobatan apaan tu? Berkedok ustadz sok beragama lagi,enggak tahunya dukun juga," ucap Dara begitu mereka tiba di rumah.
Aisyah langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur, "Kita harus menghentikan pengobatan ustadz Reza Dar,jangan sampai warga yang lain tambah banyak yang datang ke tempatnya" Aisyah mulai menyusun rencana.
"Kayaknya kita harus kasih tahu masalah ini sama pak imam deh Syah,"
"Besok aja Dar,"
Aisyah terus menatap ke langit-langit kamarnya,dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa,kamu masih kepikiran soal tadi?"
"Iya,apa yang di katakan oleh ustadz Reza memang benar,paman aku memang mendapatkan satu hektar tanah sebagai hadiah dari nenek,tapi setahu aku itu kemauan paman sendiri." Ucap Aisyah.
"Dia itu sedang mengadu domba keluarga kalian Syah,dan tadi kamu dengar enggak apa yang di katakan Bu Anet.?" tanya Dara,dia mulai duduk sambil memeluk guling.
"Bu Anet harus membawa satu ekor ayam jantan berbulu hitam sebagai syaratnya." Jawab Aisyah mengingat kembali ucapan Bu Anet.
"Dan yang anehnya lagi pas kita kasih uang seratus ribu,katanya kurang lima puluh ribu lagi," tambah Dara.
"Ada baiknya juga kita langsung kesana malam ini Dar,kalau enggak kita enggak akan pernah tahu itu ustadz palsu atau bukan."
"Tadi pas disana,kamu ngelihat sesuatu enggak?"
"Sesuatu apa?" tanya Aisyah.
Dara menoleh kiri kanan,seolah memastikan kalau di kamar itu hanya ada mereka berdua. "Darah."
__ADS_1
"Maksud kamu,?" Aisyah setengah terkejut mendengarnya.
"Sssttt!" Dara menempelkan telunjuk di bibirnya. "Jangan keras-keras nanti didengar oleh mereka yang tak kasat mata." Ucap Dara berbisik.
"Aku juga disana,tapi tidak melihatnya."
"Tentu saja,karena kamu lebih fokus sama pembicaraan kamu dan ustadz Reza yang enggak penting itu."
"Aku tahu Dar bagaimana cara supaya kita bisa mengetahui semua yang dilakukan ustadz palsu itu,"
"Memang caranya gimana?"
"Di ruangan itu ada sebuah jendela,dan jendela itu mengarah keluar,kita bisa memantau apa pun yang di lakukan ustadz Reza di sana."
Begitu tahu cara berbahaya Aisyah,Dara langsung menolak untuk ikut serta. "Mending gue di rumah aja Syah,ketimbang nemenin elo ngintipin tu ustadz." Cicit Dara. Ide Aisyah tidak seperti yang di pikirkannya,cara Aisyah juga cukup berbahaya menurut Dara,bagaimana kalau mereka ketahuan? Siapa yang akan menolong? Apalagi kalau sampai mereka di jadikan sebagai tumbal.
"Ihhhh..." Dara menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat saat membayangkan hal mengerikan itu,baru ngebayangin aja sudah segitu ngerinya,apalagi kalau beneran terjadi.
"Bagaimana Mas,coba kamu hitung berapa uang yang kita dapat malam ini?"
Loli,istri ustadz Reza mulai membuka amplop yang berisi uang tersebut.
Mereka tersenyum puas melihat hasil kerja kerasnya.
"Ah,panas sekali tubuh ku harus memakai baju beginian." Lelaki itu langsung melepas baju koko putih yang di pakainya,dan melemparkannya ke sembarang arah,begitu juga dengan peci yang di pakainya,dia membuangnya begitu saja.
Sekarang baru terlihat sosok asli mereka. "Jangan lupa Reza,kamu masih punya hutang dengan ku,janji mu harus di bayar!" jin yang tadi berada di dekatnya datang kembali untuk mengingatkan lelaki itu supaya tidak lupa dengan janjinya.
"Janji apa mas?" Loli memutar pandangannya keseluruh sudut ruangan,mencoba mencari dari mana asalnya suara itu.
"Janji untuk mencari tujuh wanita muda yang mau menjadi murid ku." Jawab suaminya.
__ADS_1
"Kalau enggak ada yang mau gimana?"
"Kamu tahu kenapa aku memilih pindah ke kampung ini?"
"Karena di kampung ini masih banyak orang yang percaya ilmu hitam?" tebak Loli.
"Nah itu tahu,kamu memang istri yang pintar," puji Reza sambil mencubit gemas pipi istrinya.
"Orang-orang di sini masih malas untuk mendalami ilmu agama,jadi aku bisa dengan mudah mencari remaja-remaja disini dan mengajak mereka untuk bergabung dengan kita."
"Kalau begitu biar aku saja yang mengajak mereka untuk bergabung dengan kita mas,kalau sesama wanita kan enak ngomongnya."
\*\*\*\*
"Jadi ustadz Reza bukan ustadz beneran?" pak imam cukup emosi saat mendengar informasi dari Aisyah,beliau merasa kalau dirinya sudah di tipu mentah-mentah sama Reza.
"Abi kenapa gampang banget percaya sama orang yang baru di kenal?" ustadzah Maira juga ikut bergabung bersama mereka.
"Kalian sudah punya buktinya belum,biar kita bisa secepatnya mengusir dukun itu dari sini." Fandi kesal. Dia ingin hidup tenang sehari aja di kampungnya,tapi enggak bisa. Tiap hari ada aja masalah yang muncul,kuntilanak lah,arwah gentayangan,bayi yang hilang hingga dendam yang berujung petaka. Semua sudah terjadi.
"Fandi mulai capek abi,umi. Fandi pikir setelah masalah Aisyah kemaren selesai,kita bisa duduk dengan tenang selama berbulan-bulan,eh enggak tahunya belum sampai seminggu masalah baru datang lagi." Keluh David.
"Sabar nak,abi sama umi juga sedang mencari cara supaya di kampung kita ini enggak ada lagi orang-orang yang percaya sama ilmu-ilmu seperti itu,bikin sesat saja." Yang di jawab umi Maira.
Prang!!!
"Suara apa itu?" tanya pak imam.
"Sepertinya kaca jendela rumah kita di lempar orang deh bi," umi Maira segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.
Benar saja,jendela rumah mereka di lempari batu sama orang tak dikenal.
Melihat uminya bangun Fandi juga melakukan hal yang sama, begitu juga dengan Dara dan Aisyah,tapi pak imam masih duduk di tempatnya semula.
__ADS_1
Kali ini pasti giliran mereka yang bakal di teror,siapa yang melakukannya,apa pak imam punya musuh?