
"Assalamualaikum..."
Tok
Tok...
"Assalamualaikum..." ucap Fandi,tak ada sahutan dari dalam.
"Aisyah kemana sih?" dia terus menunggu pintu rumah gadis pujaannya terbuka.
Hampir lima belas menit di tunggu tapi tak ada yang keluar.
Hingga gagang pintu terlihat di putar.
CEKLEK
Dari dalam muncul sosok gadis cantik yang sangat dirindukannya,dia berdiri di depan Fandi,menyunggingkan senyum manisnya.
"Aisyah,ini ada titipan dari umi buat kamu!" ucap Fandi,dia menyodorkan rantang susun yang diberikan umi Maira untuk Aisyah.
"Aku jadi enggak enak sama umi,jadi ngerepotin."
"Enggak kok,kebetulan hari ini umi masak lebih." Jawab Fandi.
"Makasih ya,"
"Sama-sama Syah,kalau begitu aku balik dulu,ya?" pamit Fandi.
"Iya,hati-hati Fan." Fandi langsung berbalik meninggalkan Aisyah yang masih berdiri mematung memperhatikan kepergiannya.
Percakapan yang sangat singkat,kalau di lihat dari luar mereka berdua bukan orang yang saling mencintai,tapi dalam hati cinta itu sudah ada semenjak pertama kali mereka bertemu.
"Aisyah,rantang dari siapa itu?" tanya Dara.
"Dari Fandi Dar," tatapan Aisyah begitu sayu,dia tampaknya sedang tidak bersemangat.
"Hei ada apa? Seharusnya kamu semangat dong!" ucap Dara.
__ADS_1
"Dia datang kesini Dar,hanya sebentar dan tidak menanyakan bagaimana kabar aku," Aisyah menutup pintu lagi,dan kemudian Dara mengikutinya dari belakang.
Sambil meletakkan rantang susun itu di atas meja,Aisyah mengambil sebuah apel yang ada di kulkas dan memakannya,baru gigitan pertama dia sudah melihat keanehan di buah apel itu.
"Dara... Kenapa ada darah?" dia sangat syok,spontan saja apel itu langsung di buangnya.
"Darah? Dimana?" Dara bingung karena tidak menemukan darah yang di katakan Aisyah.
"Ini di sini!" Aisyah menunjukkan darah di dalam apel yang tadi di gigitnya.
"Mana?"
Dara tidak melihat apa-apa,kening Aisyah mulai berkeringat. Panas dingin kini dirasakannya.
Dia masih di rumah,belum berangkat menuju air terjun tujuh kembang,tapi teror yang di dapatkannya begitu mengerikan.
"Dara,aku yakin seratus persen. Aku tidak salah lihat. Tadi itu beneran darah,aku benar-benar melihatnya."
Dara mencoba menenangkan sahabatnya, "Aku rasa kamu terlalu kecapekan Syah,makanya kamu jadi berhalusinasi kayak gini" ucap Dara.
Dia berkata seperti itu bukan karena tidak percaya dengan omongan Aisyah,tapi karena tidak ingin Aisyah jadi semakin resah gelisah.
"Hampir jam sepuluh Syah,kamu harus segera siap-siap untuk pergi ke air terjun tujuh kembang,aku yakin kamu pasti bisa melewati semuanya,kamu pasti bisa!" Dara memberi semangat.
"Nenek dimana?"
"Nek Lastri sudah pergi untuk mencari keberadaan guru ustadz Reza." Jawab Dara.
"Guru?"
"Iya,dan kamu tahu tidak,ternyata gurunya itu adalah ayah dari istrinya yang bernama Loli.
"Jadi gurunya ustadz...
"Duh Aisyah enggak usah panggil ustadz deh, panggil Reza aja. Dia itu enggak pantas di panggil ustadz,kalau dulu iya sih dia seorang ustadz,tapi kan sekarang beda,dia sudah masuk dalam kelompok pemuja setan,bahkan menjadi ketua kelompok iblis itu,kalau terus di panggil ustadz yang ada malah gelar ustadz lain ikut tercemar gara-gara tu orang." Dara terus nyerocos. Aisyah semakin pusing memikirkan masalahnya,tak ada yang bisa di ajak untuk menemaninya,dia harus pergi sendiri.
__ADS_1
Ingin sekali Aisyah mengatakan hal itu pada Fandi,meski nenek melarangnya.
Sekarang hanya bisa berharap dan berdoa kepada Allah semoga segala urusannya di permudahkan,sehingga dia bisa pulang dengan selamat dan berkumpul kembali bersama keluarganya lagi.
"Aku akan segera pergi Dar,perjalanan kesana membutuhkan waktu selama kurang lebih lima jam,kalau kesana nyampenya saat hari sudah sore,maka aku bisa istirahat sebentar sebelum pemujaan itu di lakukan,dan aku juga punya waktu untuk memikirkan banyak cara supaya bisa menggagalkan rencana mereka."
"Aku akan mengantar kamu sampai di depan pintu masuk hutan itu aja,ya. Selebihnya kamu harus berani melangkah sendiri,serahkan semuanya sama Allah,aku yakin kamu bisa." Dara terus memberi Aisyah semangat.
\*\*\*\*
"Lah,itu kan Aisyah sama Dara,mau kemana mereka?" ucap Asep,kebetulan saat itu dia baru pulang dari kebun,dan tanpa sengaja dia melihat Dara dan Aisyah pergi ke arah jalan yang menuju air terjun tujuh kembang,sebuah tempat dimana tidak ada seorang pun yang berani datang ke tempat itu.
Tempat yang memiliki sejarah kelam,sama seperti kampung melati. Air terjun tujuh kembang sangat terkenal dengan keangkerannya,konon katanya siapa saja yang datang ke tempat itu maka belum tentu dia bisa pulang lagi.
Sebagian orang menganggap itu cuma mitos,jadi mereka berani pergi ke tempat larangan tersebut. Namun siapa sangka,ternyata benar kalau air terjun tujuh kembang memang angker. Mereka yang sudah pergi tidak pernah kembali. Sebenarnya ada apa dengan hutan itu?
Hari ini Aisyah pergi kesana,dan dia berharap bisa mengungkap misteri tentang hilangnya orang-orang di kampung dukuh,tempatnya tinggal.
Setelah melihat Aisyah dan Dara berpisah di lorong menuju air terjun tujuh kembang,Asep langsung memutar langkahnya menuju tempat dimana dia dan Fandi biasa nongkrong.
Asep ingin memberitahukan apa yang barusan dilihatnya tadi.
Cowok itu sangat penasaran kenapa Aisyah pergi ke hutan yang menuju air terjun tujuh kembang,dan dia juga pergi sendiri tanpa di temani oleh Dara. Asep sudah bisa menebaknya,pasti Aisyah sedang memiliki masalah dan harus menyelesaikannya.
"Kamu beneran melihat Aisyah pergi kesana seorang diri?" Fandi masih tak percaya.
Asep biasanya sering ngegangguin dia,jadi omongan Asep enggak bisa di percaya gitu aja.
"Kamu mau nipu aku,ya? Aku enggak bakal ketipu sama omongan kamu,masa sih Aisyah pergi ke air terjun tujuh kembang,untuk apa dia kesana? Dia kan sudah tahu sejarah tentang air terjun tujuh kembang itu." Fandi masih tidak percaya.
"Aku serius Fan,aku enggak bohong. Kayaknya kita mesti ke rumah Aisyah deh ketemu sama Dara,tanyain sama dia biar semuanya jelas." Asep mengusulkan.
"Ya sudah,mending kita ke rumah dia sekarang,ayo!" Fandi meneguk minuman dinginnya yang tinggal setengah gelas lagi sampai habis,setelah membayar pesanannya dia langsung keluar dari warung itu dan pergi ke rumah Aisyah.
\*\*\*\*
__ADS_1
Aisyah mulai menyusuri hutan yang menuju air terjun tujuh kembang,jalannya sangat becek,banyak dedaunan kering yang jatuh. Dia terus melangkahkan kakinya,tiba di sebuah pohon besar yang berdiri kokoh dan tumbuh subur di depan jalan yang hendak di lewatinya,Aisyah melihat ular yang melingkari batang pohon besar itu,dia tidak jadi melewati jalan tersebut. Dengan cepat Aisyah memutar haluannya kekanan,mengambil jalan pintas.