Kampung Sihir

Kampung Sihir
Masih Di Teror


__ADS_3

Maya menarik sesuatu dalam mulutnya,panjang berwarna hitam.


Rambut?


"Asep,ini tidak benar Sep,kita harus segera keluar dari sini!" Dara berbalik arah berniat keluar dari kamarnya Maya,tapi...


Telat... Pintu tertutup sendiri,menimbulkan bunyi yang cukup keras.


"Mau kemana kalian?" suara Maya berubah,dia bukan lagi Maya.


"Mbak Maya! Mbak sadar Mbak,jangan biarkan makhluk jahannam itu menguasai tubuh Mbak Maya!" seru Dara.


Maya mulai mendekat ke arah mereka. Asep dan Dara mundur beberapa langkah ke belakang.


JLEB


Listrik padam,suasana di kamar jadi gelap gulita.


Mereka tidak bisa melihat apapun,hanya bisa meraba-raba. "Sep kita harus keluar!"


"Aku enggak tahu pintunya di mana" Asep semakin panik dan ketakutan.


Dara merasakan pundaknya di sentuh seseorang dari belakang.


Lampu hidup kembali,mereka sudah berada di depan pintu. Langkah Dara terhenti,dia memegang lengan Asep begitu kuat,menyuruh cowok itu untuk melihat siapa yang sedang memegang pundaknya.


"Ayo Sep,buruan lihat!" suruh Dara.


"Aku enggak berani Dar."


Dara sedikit memalingkan wajahnya ke samping kanan,terlihat kuku yang begitu panjang menempel di pundaknya. Dara tambah takut dan gemetar.


"Jangan pergi,ayo temani aku di sini!"


"Kuat kan hati mu Dara,kamu enggak boleh takut,kamu harus berani." Dara memberi semangat untuk dirinya sendiri,dia menenangkan perasaannya yang semakin merasa ketakutan.


Asep menepiskan jauh-jauh rasa takut yang menyelimuti jiwa dan raganya. "Dasar iblis jahannam,keluar kamu dari tubuh Mbak Maya!" sentaknya.


Dia tidak ingin lari seperti pecundang,jadi Asep memutuskan untuk mengeluarkan makhluk itu dari tubuhnya Maya.


Tangan Asep menarik tangan Mbak Maya dan mencoba memegangnya dengan kuat,Maya meronta-ronta,Dara ikut membantu. "Lepaskan aku!" jeritnya.


"Cepat Dara,cepat ambil kembang kantilnya!" Suruh Asep,Dara mengambil bunga kembang kantil yang di simpan Tino dalam laci nakas,kuku Maya yang berubah panjang terus mencakar-cakar tangan Asep.

__ADS_1


"Yach,aku menemukannya!" seru Dara.


Dia langsung menaburinya di lantai,Asep kemudian segera melepaskan tangan Maya,begitu melihat bunga kantil di depannya Maya memakan bunga itu dengan cepat,dan mereka menggunakan kesempatan tersebut untuk lari keluar dan mengunci Maya di dalam kamarnya.


"Huh! Hampir aja kita di cekik sama setan yang ada di tubuhnya Mbak Maya." Ucap Asep dengan nafas memburu.


"Kita sebaiknya memberitahu masalah ini sama pak imam dan Aisyah,biar mereka cepat-cepat pulang." Dara langsung mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat untuk Aisyah.


"Tino sebaiknya kamu angkat kaki dari rumah ibu!" usir Bu Tantri.


Tino masih bersikap baik di depan ibunya,dia terus menasehati sang ibu untuk berhenti mengganggu kehidupan rumah tangganya bersama Maya. "Bu,aku akan pergi dari sini,asalkan ibu berjanji untuk menghentikan semua ini,sadar bu. Apa yang ibu lakukan ini semua tidak benar," ucap Tino.


Namun Bu Tantri tetap pada pendiriannya,wanita itu tidak mengakui sama sekali kesalahannya.


Tino sengaja bicara dengan ibunya agar perhatian Bu Tantri teralihkan,dengan begitu pak imam dan Aisyah bisa memecahkan cermin besar yang ada di kediaman Bu Tantri. Karena menurut mereka di dalam cermin itulah makhluk halus yang selalu mengganggu Maya bersembunyi.


"Cepat pak imam,!" desis Aisyah.


Pak imam mengambil vas bunga di dekatnya dan segera memecahkan cermin hantu tersebut.


PRANG...


"Aaa tidak...."


"Ibu takut kehilangan cermin sialan ini hah? Karena dalam cermin ini iblis itu bersembunyi." Ucap Tino.


"Kau..." Bu Tantri menunjuk Tino dengan mata melotot,sorotannya begitu tajam,kebencian jelas terpancar di sana.


"Tidak..."


"Aaa... Kau sudah mengingkari janji mu Tantri,kau akan menerima akibatnya!" tampak makhluk berbadan hitam dan besar dalam cermin itu,wajahnya perlahan-lahan mulai muncul keluar,dia sepertinya hendak keluar dari cermin yang mereka pecahkan,pak imam kemudian mengambil air obat yang tadi di bawanya,dan menuangkannya di atas cermin itu.


Dan akhirnya makhluk dalam cermin itu pun terbakar,dia berteriak kepanasan hingga suaranya menghilang dan suasana kembali hening seperti semula.


****


Tiga hari telah berlalu,hubungan Maya dan Tino sudah kembali seperti dulu,mereka hidup dengan penuh kebahagian.


Bu Tantri tidak mengganggu mereka lagi,meski beliau masih belum bisa merestui hubungan mereka berdua,namun Bu Tantri tetap mencoba untuk menerima kenyataan,dengan bimbingan dari pak imam Bu Tantri juga sudah menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.


Karena ibunya Tino sudah tidak melakukan pesugihan lagi,maka seharusnya kuntilanak yang meneror warga juga sudah tidak ada lagi,namun kenyataannya mereka salah. Kuntilanak itu masih tetap berkeliaran untuk menakuti para warga.


Malam ini saat Aisyah dan Dara pulang dari masjid,di tengah perjalanan mereka bertemu dengan anak-anak yang baru pulang mengaji di rumahnya Ustadzah Maira istrinya pak imam,tapi entah iya mereka salah satu anak muridnya Ustadzah Maira.

__ADS_1


"Kak Aisyah" seorang anak perempuan kecil memanggil namanya dengan agak malu-malu. Aisyah menghentikan langkahnya dan menjawab sapaan anak perempuan tersebut.


"Iya,ada apa?" tanya Aisyah lembut.


Setelah kejadian di rumah Bu Tantri nama Aisyah jadi semakin di kenal oleh penduduk kampung,banyak anak-anak yang ingin belajar mengaji dengan dirinya.


"Kayaknya fans kamu tambah banyak deh Syah," bisik Dara.


"Kamu terlalu berlebihan," balas Aisyah.


"Kak,nanti kalau lewat jalan di depan sana hati-hati ya! Kalau ada suara-suara aneh jangan pernah tengok ke belakang,dan satu lagi jangan pernah melihat ke atas!"


"Lho kenapa emangnya?" tanya Dara.


"Tadi kami berdua di takuti sama penghuni jalan sepi di sana!" tunjuk anak perempuan itu,dia menunjuk ke ujung jalan yang tidak ada lampu sama sekali,semalam saat mereka pulang,di depan sana masih ada lampunya,tapi malam ini entah kenapa tidak ada lampu sama sekali.


"Makasih atas infonya ya!" Ucap Aisyah,dia langsung menarik Dara agar segera pergi dari hadapan dua anak kecil yang entah dari mana asalnya.


"Kenapa bersikap aneh seperti itu? Kamu kenapa?" tanya Dara. "Aku merasa dua anak tadi sedikit mencurigakan Dara," dia berbisik.


Dara menengok kebelakang,mencari keberadaan dua anak perempuan yang bicara dengan mereka tadi,namun ternyata mereka sudah tidak ada,kenapa menghilang begitu cepat?


"Aku rasa mereka bukan manusia Dara." Gumam Aisyah. Aisyah berjalan semakin cepat,Dara bahkan harus berlari untuk bisa mensejajarkan langkahnya dengan Aisyah.


"Tangan anak yang tadi aku pegang sangat dingin,dan lagi mereka menghilang begitu cepat. Lalu,anak di sampingnya juga hanya diam saja,dengan pandangan terus menatap ke depan,kosong,wajahnya juga tidak ada ekspresi." Aisyah menjelaskan.


Begitu tiba di tempat yang di katakan anak kecil tadi,mendadak suasana menjadi senyap,bau kemenyan dan melati begitu menyengat di hidung.


"Lala... Lala..."


terdengar suara seseorang sedang bersenandung.


Dara dan Aisyah semakin mempercepat langkahnya.


"Dar,aura di sini begitu kuat,aku bahkan juga merasa ketakutan." Ungkap Aisyah.


"Sepertinya kita harus berlari Syah!" Dara memberi ide.


1 2 3


Mereka benar-benar berlari,keringat dingin mulai mengucur deras,tiba-tiba dari depan mereka,muncul sosok putih yang menyeramkan dan sosok putih itu keluar dari balik pohon nangka.


Huaaaa

__ADS_1


"Aaaaaa..." mereka menjerit,membuat burung-burung malam yang hinggap di dahan pohon terbang semua.


__ADS_2