Kampung Sihir

Kampung Sihir
Warga Kampung Di Teror


__ADS_3

Aisyah langsung berlari masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi.



"Kenapa piringnya bisa pecah?" tanya Nek Ijah.



Dara mengernyit heran, "Dimana piring pecah? Enggak ada piring pecah nek." Ucap Dara,sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mencari di mana asal suara piring pecah tadi.



"Tidak ada apa-apa,tidak ada yang pecah,kalau begitu suara apa dong tadi?" Aisyah semakin yakin mereka mulai di teror sama arwah Maya.



"Kamu lihat kan Dar,pasti ini ada hubungannya sama kuntilanak yang kita lihat di malam saat kita pulang dari masjid." Ujar Aisyah.



***PRANG***.


Lagi-lagi suara piring pecah yang entah dimana asalnya membuat mereka terkejut.


Kali ini Dara benar-benar merinding,padahal hari masih siang,tapi kenapa mereka di teror?



Nek Ijah terdiam,beliau sepertinya sedang memikirkan sesuatu. "Kamu bisa melihat apa ada makhluk lain di sini Syah?" tanya Nek Ijah.



"Tidak nek,Aisyah hanya bisa merasakan auranya sangat dingin dan kuat. Jika benar dia sudah meninggal aku rasa seseorang telah membangkitkan dia lagi,tapi yang datang bukan Mbak Maya ini kekuatan lain,sosok yang ingin membalas dendam." Tutur Aisyah.



\*\*\*\*\*



Malam dengan angin berhembus kencang dan suara petir menggelegar,Aisyah dan Dara masih di masjid bersama pak imam dan juga anaknya,yang tak lain adalah Fandi.



"Di luar hujan sudah mulai turun Syah,apa enggak sebaiknya kalian langsung pulang aja?" ujar Fandi.



"Kita tunggu sampe isya deh" yang di jawab Dara,padahal dia sudah tidak berani pulang lagi,perasaannya mendadak diselimuti rasa takut.



"Benar juga seperti apa yang di katakan Fandi Dar,sebaiknya kita langsung pulang aja," ucap Aisyah.



Namun Dara tetap bersikeras untuk menunggu hingga shalat isya.



"Apa kamu takut nak Dara?" tanya pak imam yang juga duduk di tengah-tengah mereka.



"Bukan soal itu pak imam,tapi Dara masih ingin belajar lebih banyak lagi tentang agama sama bapak." Dara berasalan.



Pak imam tertawa kecil mendengar alasan Dara,lelaki itu tahu kalau Dara hanya beralasan saja,pada kenyataannya dia sekarang sedang di landa rasa takut yang luar biasa.



"jangan takut kepada jin ataupun syaitan,mereka itu juga makhluk ciptaan Allah,semakin kamu merasa takut maka semakin mudah bagi mereka untuk mengambil alih jiwa kamu,jangan sampai kamu lebih takut kepada mereka dari pada Allah yang maha kuasa. Tentang kuntilanak yang kalian ceritakan tadi untuk malam ini sebaiknya lupakan saja dulu,besok kita akan mencaritahu sama-sama apa benar Mbak Maya masih berada di rumahnya atau tidak." Tutur pak imam.



"Berarti kalau Mbak Maya tidak ada di rumahnya,itu tandanya dia benar-benar di bunuh sama Mas Tino?" ucap Fandi.



"Jangan sembarangan mengambil kesimpulan seperti itu Fandi,kita belum tahu dengan jelas bisa jadi ini semua hanya sebatas mimpi saja,dan tidak terjadi di kehidupan nyata," pak imam tidak mau anaknya berspekulasi macam-macam.



Mereka terus membahas tentang kuntilanak yang di duga adalah Maya,tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana.

__ADS_1



"Pesan mie baksonya bang,satu mangkuk aja ya!" seorang wanita berambut panjang duduk di atas bangku plastik yang di sediakan untuk pelanggan.



"Iya neng,abang buatin dulu ya!" si abang tukang bakso dengan cepat membuat pesanan wanita cantik itu.



"Malam-malam begini sendirian aja neng,enggak takut di ganggu orang jahat?" tanya lelaki itu,sambil terus fokus memasukkan mie dan bakso ke dalam mangkuk,setelah siap dia juga tidak lupa menaburi bawang goreng di atas baksonya.



Yang di tanya sama sekali tidak menjawab.



"Ini neng!" dia memberikan pesanan wanita itu,tanpa melihat wajahnya.



Wanita itu mengambilnya dan memakannya dengan lahap,melihat cara makannya,si penjual bakso mulai merasa aneh,kayak orang kelaparan aja,pikirnya.



Dia terus memperhatikan pelanggannya makan,hanya mereka berdua tidak ada yang lain.



"Malam ini kok dagangan gue sepi amat ya!" monolog lelaki itu.



PLUP...



Hah???



Si penjual bakso terperanjat melihat gigi pelanggannya jatuh ke dalam mangkuk bakso.




Wanita itu dengan santai mengambil kembali giginya yang sudah jatuh ke dalam mangkuk,dan kemudian memasangnya kembali.



"Mbak baksonya susah di kunyah ya,sampe gigi palsunya copot segala?" tanya abang tukang bakso,sengaja bergurau.



"Bukan gigi palsu bang,ini gigi asli." Jawab wanita itu,tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.



Cara bicara pelanggannya membuat abang itu ngeri. "Kenapa cara bicaranya seram gini ya,kayak di film horor aja." Batinnya,dia mulai merinding.



Dari tadi di makan tapi baksonya enggak habis-habis,penjual bakso mulai kebingungan dan ketakutan.



Suasana semakin mencekam.



Berselang beberapa menit kemudian benda bulat jatuh lagi ke dalam mangkuk bakso si pembeli,dia kaget dan kembali penasaran.



"Benda apa lagi yang jatuh itu?" dalam hati dia bertanya.



"Wanita itu menegakkan kepalanya dan menatap abang penjual bakso sambil berkata "Bang,lihat mata saya enggak?"



GLEK..

__ADS_1



Susah payah penjual bakso itu menelan salivanya,dia diam belum bergerak dan mengambil langkah seribu,tapi memastikan dulu benarkah yang di lihatnya itu nyata atau hanya halusinasi saja. "Mata?"


"Ha-han... Hantu!!!"


Tukang bakso itu lari dengan sekencang-kencangnya,di iringi dengan tawa cekikikan wanita itu.



"Hihihi..."



Tawanya menakutkan,dia menghilang begitu saja,dan sepertinya akan mencari mangsa lain untuk di teror.



\*\*\*\*



"Dari tadi gue nunggu Fandi di sini,tapi tu anak enggak muncul-muncul juga,dia kemana ya?" Asep mulai khawatir karena yang di tunggu tak kunjung datang.



Cuaca malam ini juga sedang tidak mendukung,apalagi hujan sudah mulai turun meski hanya gerimis aja,tapi bisa di tebak sebentar lagi hujan akan semakin lebat,karena angin juga sudah mulai bertiup kencang.



"Hantu..."



"Tolong,ada hantu!"



Itu suara tukang bakso tadi,dan pas banget Asep mendengarnya,dia turun dari pos ronda dan berdiri di samping jalan,tampak lelaki itu berlari kencang ke arahnya.



"Asep.. To-tolong" nafasnya ngos-ngosan,tenaganya terkuras habis karena berlari menjauh dari makhluk halus tadi.



"Tenang dulu bang! Coba tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan,baru ngomong!" ucap Asep mengajarkan.



Lelaki itu mencoba mengatur nafasnya yang memburu sebelum akhirnya bercerita.



"Saya melihat ada hantu,hantu wanita." Ungkap penjual bakso.



"Jangan nakut-nakutin dong bang." Asep masih menganggap abang penjual baksonya sedang bercanda.



"Saya enggak bercanda Asep,ini serius!" dia menegaskan.



"Benarkah?" sekujur tubuh Asep gemetar ketakutan,tangannya juga mulai dingin.



Sekarang mereka hanya berdua di sana,keduanya kalut dengan pikiran masing-masing,hingga kemudian...



BUK...



Sebuah bungkusan putih jatuh tepat di depan mereka berdua.



Apa itu?


"Aaaa..."

__ADS_1


__ADS_2