
Aisyah berlari masuk ke dalam rumah,jangan sampai di ketahuan sudah mendengar pembicaraan Bu Mei dengan iblis itu,bisa-bisa dia menjadi tumbal selanjutnya.
Keringat dingin mulai membasahi keningnya,Aisyah kembali duduk di tempatnya semula,dia mencoba untuk tetap tenang.
Dari arah luar Bu Mei masuk,wanita paruh baya itu melihat secara bergantian ke semua tamu yang hadir,sepertinya sedang mencari seseorang yang bertingkah mencurigakan,Aisyah tahu Bu Mei masih belum mengalihkan pandangannya dari mereka.
Untung saja saat itu Bi Hanum datang dan memanggilnya untuk menyuruhnya membantu menghidangkan makanan kepada warga yang datang melayat.
"Bagaimana,kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan enggak dari suaminya?" tanya Hanum setengah berbisik.
"Enggak ada bi,Mas Agus terlihat sedih dengan kematian istrinya,yang mencurigakan itu malah...
"Kalian kenapa masih di sini?"
DEG!
Hampir aja Aisyah dan Hanum ketahuan sedang ngomongin keluarga Bu Mei.
"Eh,Bu Mei,kita lagi berbincang sedikit tadi mengenai soal nasinya yang tidak cukup," ujar Hanum berasalan.
"Masa tidak cukup!" Wanita itu tampak heran,padahal dia sudah memeriksanya tadi,tidak mungkin mereka kekurangan nasi.
"Tenang aja Hanum,saya sudah menyuruh Wendi untuk memasak nasi lagi." Sahut laksmi ikut nimbrung,padahal dia tidak di ada di sana tadi.
"Syukurlah!" ucap Aisyah.
"Pembunuh...
"Pembunuh!!!
"Gus,istirghfar Gus... Mengucap! Kamu tidak boleh seperti ini." Terdengar suara ribut-ribut di ruang tengah.
"Pembunuh! Dia sudah membunuh istri ku,dia pantas di hukum... Dia pembunuh!
Mendengar suara ribut-ribut itu Aisyah mulai deg-degan,dia menatap tajam ke arah Bu Mei,kali ini perbuatan wanita itu akan terungkap.
"Kenapa kamu melihat saya seperti itu?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan ibu kan?" Aisyah bertanya menyelidik.
"Kenapa menuduh saya?" Bu Mei tampak gusar.
__ADS_1
"Jangan berdebat di sini,ayo kita lihat apa yang terjadi!" ajak Hanum,mereka bertiga langsung pergi dan melihat apa yang terjadi kepada Agus.
Dan begitu mereka sampai.
"Dia... Perempuan tua itu,ya aku tidak salah. Aku tidak salah,memang dia yang sudah membunuh istri dan anak ku!" tunjuk Agus,dia menatap mertuanya dengan tajam.
"Apa maksud kamu Gus? Ibu mana mungkin membunuh anak ibu sendiri? kamu sudah gila?" Bu Mei tidak terima dirinya di salahkan.
"Aku tidak gila,aku waras,yang gila itu kamu! Kamu gila karena sudah membunuh anak dan cucu kamu sendiri,kamu GILA!!!" teriak Agus,terus melawan,dia berusaha lepas dari cengkeraman warga,orang-orang di sana memegang tangannya kuat-kuat supaya dia tidak melukai dirinya sendiri atau pun orang lain.
Sorot matanya tajam dan berapi-api. "Agus,tenangkan diri kamu dulu nak,kamu sedang di kuasai amarah,kamu jangan seperti ini" Pak imam menasehati.
"Saya di kuasai amarah? Hahaha..." Agus tertawa.
Orang-orang mengira dia sedang kerasukan,makanya tidak ada seorang pun yang percaya pada ucapannya.
Aisyah akhirnya memilih untuk angkat bicara.
Keadaan memang sedang tidak stabil,tapi dia akan mencoba untuk mengatasi ketegangan itu.
"Coba ceritakan Kenapa Mas Agus menuduh Bu Mei sebagai pelakunya!" Aisyah memberi Agus kesempatan,memang itu tujuannya. Dan karena itu juga Bu Mei mulai naik pitam.
"Kita harus mendengar alasan yang jelas dari Mas Agus,bu." Aisyah mencoba memberi pemahaman.
"Dia sedang di rasuki oleh makhluk halus,bagaimana mungkin omongannya itu benar." Ucap salah satu warga.
"Saya tidak kerasukan,saya sadar."
"Kamu memang tidak kerasukan,tapi kamu gila!" Bu Mei tampak semakin marah dengan ucapan menantunya itu.
"Kalau kalian tidak percaya,sana periksa kamarnya! Lihat,apa benar seperti yang saya katakan!" suruh Agus menantang.
Di sinilah wajah Bu Mei semakin tegang,dia tidak menyangka Agus mengetahui tentang rahasia besarnya itu.
"Ibu... ibu kenapa tega menjadikan aku dan cucu ibu sendiri sebagai tumbal?" pertanyaan itu keluar dari mulut Agus,itu bukan suaranya,tapi suara Wiwin. Melihat hal itu semua orang terkejut,mereka merinding.
Bu Mei kaku di tempat,diam seribu bahasa.
"itu kan Wiwin."
__ADS_1
"Apakah tubuh Agus di rasuki oleh hantunya Wiwin?"
Para warga mulai sibuk,Aisyah melihat jelas dengan mata kepalanya sendiri kalau yang saat ini bicara memang bukan Agus,tapi Wiwin.
"Ini di luar dugaan,Syah." Bisik Hanum.
"Agus,kamu jangan bermain-main dengan kami,enggak usah pura-pura kerasukan hanya untuk menuduh saya yang bukan-bukan." Ucap Bu Mei dengan lantang.
"Kenapa? Kenapa ibu melakukannya padaku? Ibu sudah tidak sayang sama Wiwin?"
"Diam!!! Berhenti berpura-pura."
Keadaan semakin tidak terkendali,semua orang jadi sibuk,pak imam menyuruh beberapa warga untuk menggeledah kamar Bu Mei tanpa di ketahui oleh wanita itu.
"Bu,jangan berkelit lagi,ibu bisa menipu semua orang di sini,tapi apa ibu bisa menipu dia?" tangan Agus menunjuk ke arah Aisyah.
Semua mata tertuju ke arah gadis cantik itu,semua orang mulai bertanya-tanya,kenapa dengan Aisyah? Apa dia bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata?
"Kamu,ini semua pasti karena kamu,kamu dukun kan? Kamu yang membuat ini semua kacau! Pasti kamu juga yang membuat Agus seperti ini!" ucap Bu Mei,tangannya menarik kasar baju Aisyah. Hampir saja kancing bajunya terlepas,kalau Hanum tidak cepat-cepat memisahkan Bu Mei dari sisi Aisyah.
"Pak imam! Kami menemukannya!" teriak Udin,lelaki yang suka duduk di pos ronda.
Angin bertiup kencang,seluruh isi rumah bergetar,seperti gempa. Tanah tempat mereka berpijak bergoyang,para warga berhamburan keluar rumah,tak lama setelah itu Bu Mei menjerit histeris.
Wanita itu tertinggal di dalam. Aisyah ingin kembali masuk dan menyelamatkan wanita paruh baya itu.
"Bi,Bu Mei masih di dalam,aku harus kesana untuk menolongnya." Ucap Aisyah.
"Tidak bisa Aisyah! Kamu tidak boleh pergi!" Hanum mencegahnya.
"Pergi! Pergi! Aku sudah melakukan tugas ku,aku sudah mengikuti semua perintah mu! Pergi,jangan ganggu aku!"
"Pak imam ayo kita selamatkan Bu Mei!" ajak Aisyah.
Pak imam pun menerima ajakannya,dan mereka sama-sama kembali masuk ke dalam. Tapi apa yang terjadi? Begitu sampai di pintu,angin kembali bertiup kencang dan pintu tertutup rapat.
"Bagaimana ini pak?" Aisyah panik.
Pak imam kemudian berdoa,tak butuh waktu lama pintu langsung terbuka. Tapi telat...
__ADS_1
Bu Mei sudah tergeletak tak berdaya di lantai,darah mengalir deras dari kepalanya,sepertinya wanita itu jatuh dan kepalanya mengenai sudut meja yang terbuat dari kaca,sebuah meja kecil yang di letakkan di samping sudut ruangan.