Kampung Sihir

Kampung Sihir
Kuntilanak


__ADS_3

Teriakan Dara membuat Aisyah kaget setengah mati. "Duh Dara itu bukan hantu,tapi buah nangka!" Ujar Aisyah tepat di samping telinga gadis itu.



"Apa? Buah nangka?" Dara melihat lagi ke atas pohon,dan ternyata benar itu hanya selembar kain putih yang di gunakan untuk membalut buah nangka agar cepat matang.



"Kurang kerjaan bangat warga di sini." Sungut Dara,kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanannya.



Bau melati tadi masih terus tercium,sepertinya ada yang mengikuti mereka dari belakang.



Entah tidak menyadari atau memang sengaja tidak memperdulikannya.



Begitu sampai di depan rumahnya tiba-tiba



Wushhh...



Sekelebat bayangan putih lewat di depan mereka,meski hanya sekilas tapi Aisyah dan Dara tahu apa yang barusan saja lewat di depan mereka.



Sosok kuntilanak dengan rambut panjangnya,Dara berlari kencang masuk ke dalam rumah,berbeda dengan Aisyah dia masih berjalan santai tidak terlalu peduli dengan apa yang di lihatnya tadi.



"Ngapain kamu lari-lari gitu dara,kayak di kejar hantu aja." Ucap Nek Ijah yang melihat Dara berdiri di depan pintu dengan nafas ngos-ngosan.



"Ada kuntilanak di luar nek!" adu Dara menunjuk ke arah luar.



"Assalamualaikum!" ucap Aisyah.



"Wa'alaikumsalam!!" jawab mereka, "Baru ngelihat gitu aja kamu sudah lari sekencang itu Dar,bikin setannya tambah senang ngusilin kamu." Aisyah menakut-nakuti.



"Aku tadi kaget lho,Syah." Dara beralasan.



"Tadi sore waktu nenek keluar untuk belanja,nenek dengar dari para warga kalau semalam kuburan anaknya Bu Risma hampir aja berhasil di bongkar sama orang tak di kenal,beruntung ada Fandi dan Asep yang melihatnya,jadi orang itu segera pergi.



Anak Bu Risma yang baru berusia dua bulan itu?" tanya Aisyah memastikan.



"Iya,dan sekarang warga masih terus berjaga di dekat kuburannya anak Bu Risma.



"Aneh,jaman sekarang masih aja ada maling kuburan," gumam dara,seraya meletakkan mukenanya di atas meja,di lanjutkan dengan merebahkan tubuhnya ke atas sofa. Tanpa peduli dengan pandangan Aisyah yang sedari tadi menatapnya.



"Aku ingin tidur sebentar,nanti jam sepuluh tolong bangunin aku ya!" lanjut Dara mengingatkan,sebelum menutup matanya dan beralih ke alam mimpi.



\*\*\*\*\*



"Aku enggak selingkuh sama dia mas,kita cuma temenan aja,enggak lebih dari itu!" Suara wanita cantik yang berdiri di dekat cermin terdengar sedikit lantang.



"Kamu sudah ketahuan selingkuh,tapi masih aja ngelak,kamu benar-benar istri enggak tahu diri!!!"



PLAK...



"Kamu nampar aku mas?" Matanya berkaca-kaca,tidak menyangka kalau suaminya tega bermain tangan dengannya.



"Iya,kenapa memangnya? Kalau saja aku percaya sama kata-kata ibu yang menyuruh aku untuk menceraikan kamu dari dulu,pasti aku tidak akan merasa sakit hati seperti ini." Tutur suaminya dengan nada tinggi.



"Aku benar-benar enggak selingkuh mas,ini semua fitnah! Pasti ini semua karena ibu,ibu sengaja memfitnah aku supaya rumah tangga kita hancur!"



"Kamu menuduh ibu ku yang bukan-bukan,kamu itu menantu tidak tahu diri! Dasar istri kurang ajar!"



Lelaki itu sudah di kuasai amarah,dia gelap mata hingga dengan mudahnya dia meraih vas bunga dan memukul kepala sang istri, "Pergi mati saja kamu,dasar istri kurang ajar!" Bentaknya lagi.



"Aagh...



Wanita itu mengerang kesakitan,dia memegang kepalanya yang sudah berdarah.

__ADS_1



"Mas,apa yang sudah kamu lakukan padaku?" dia menatap darah segar yang mengalir dari kepalanya dan menetes di lantai.



PYAARRR



Lelaki itu menjatuhkan vas ke lantai,tangannya dengan cepat mengambil pecahan vas bunga dan menancapkannya di perut sang istri.



"M-mas ka-kamu..."



"Dara..."



"Dara,bangun Dar!" Aisyah menggoyang-goyangkan tubuhnya Dara,menyuruh dia untuk bangun dan pergi tidur di kamar.



"Akh..."



Dara terkejut,dia mengusap keningnya yang penuh keringat.



"Kenapa? Mimpi buruk ya?"



"Enggak!" Dia menggeleng,lalu bangkit berdiri dan langsung masuk kamar,Aisyah merasa ada yang aneh dengan sikap sohibnya,lalu dia mengikuti langkah Dara dari belakang,dan begitu sampai di kamar,Aisyah bertanya "Kamu beneran enggak kenapa-napa?"



Masih mencoba menggali informasi dari Dara.



Dara yang tidak suka memendam segala sesuatu sendiri,langsung menceritakan tentang mimpinya kepada Aisyah.



"Aku mimpi aneh Syah." Ujarnya



"Mimpi aneh gimana?" Aisyah tidur menyamping menghadap ke arah Dara.



Dara mulai menceritakan mimpi yang di alaminya,dan Aisyah menyimaknya dengan fokus.




"Ya enggak lah,aku malah ngerasa aneh kenapa aku mimpiin hal seperti itu" Dara sendiri juga heran.



"Alah,enggak usah di pikirin,mimpi itu kan bunga tidur." Ucap Aisyah,dia tidak mau Dara kepikiran yang bukan-bukan.


"Syah,soal kuntilanak tadi,aku jadi curiga jangan-jangan mimpi ini ada hubungannya lagi sama kuntilanak yang kita lihat tadi."


Aisyah berpikir sejenak,dia mencoba mencerna perkataan Dara,kalau di pikir-pikir masuk akal juga.



"Tapi... Masa iya sih,kamu pikir ini film horor apa?" Aisyah menepiskan pikirannya yang sama seperti Dara,dia lebih senang hidup seperti sekarang,tidak perlu berurusan sama makhluk halus.



"Jangan sok enggak peduli gitu deh Syah,aku tahu kamu pasti sepemikiran sama aku,iya kan?"



"Enggak!" Aisyah menggeleng kuat.



"Ngaku aja!" suruh Dara



"Ish... Kamu nyebelin banget sih!"



BUK!



Dara memukul Aisyah dengan bantal.



"Wah ngajak berantem ni!"



Aisyah tidak tinggal diam,dia balik memukul Dara menggunakan guling.



Mereka bercandanya sudah kayak anak kecil,suasana menjadi lebih hidup,tidak seperti tadi,suram dan menyeramkan.



"Aisyah,Dara... Malam-malam begini suara tawanya di kecilin dikit,enggak baik tahu!" Tegur Nek Ijah mengingatkan.

__ADS_1



"Iya nek!" sahut mereka bersamaan.



Namun keduanya mengabaikan perkataan sang nenek,mereka terus asyik main lempar-lemparan bantal di kamar,hingga suara ketokan di jendela menghentikan tawa mereka berdua.



Tok... Tok... Tok...



Tiga kali ketokan terdengar di jendela kamarnya Aisyah.



Hening...



Mereka sekarang terdiam seperti patung.



"Em,suara apa itu ya?" Aisyah masih bersikap santai,dia menyembunyikan rasa gelisahnya.


. "Suara jendela di ketok."


"Enggak mungkin,kita pasti salah dengar," Aisyah menyangkalnya.



"Jendelanya aku buka,ya?" Dara meminta persetujuan dari Aisyah,gadis itu sebenarnya penakut,tapi rasa penasarannya itu enggak bisa di tahan.



"Jangan!"



"Ya sudah kalau kamu enggak ngizinin," Dara kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.



Dia mulai memainkan ponselnya,tidak peduli dengan suara ketokan tadi,dan mereka juga memutuskan untuk tidak melihatnya,dari pada terjadi hal yang tidak diinginkan lebih baik menghindarinya.



Tok... Tok... Tok



"Nyebelin bangat sih Syah,kita tengok yuk siapa tahu kita di kerjain sama anak-anak tetangga," Ajak Dara,dia mulai menduga-duga.



"Kamu enggak lihat apa,rumah nenek aku sedikit jauh dari warga lain,mana mungkin anak-anak tetangga ngegangguin kita,kayak kurang kerjaan aja mereka." Aisyah masih tidak setuju dengan rencana Dara.



Karena tidak mendapat persetujuan dari Aisyah,Dara akhirnya memilih tidur dan menarik selimutnya sampai tubuhnya tertutup sepenuhnya.



Tok



Tok...



Lagi-lagi suara itu terdengar,benar-benar menguji kesabaran.



Aisyah dan Dara saling pandang.



"Ayo kita lihat sama-sama!"



Keduanya sepakat untuk melihat siapa yang ngusilin mereka malam-malam begini.



Aisyah menyingkap gorden jendelanya,dan melihat keluar.



Tidak ada apa-apa di sana,hanya terlihat pepohonan dan juga sawah di depan rumah. Jalanan juga sudah sepi.



"Siapa Syah?"



"Enggak ada siapa-siapa Dar." Jawab Aisyah,dia berniat untuk menutup kembali gordennya,namun Dara yang masih penasaran langsung mencegahnya,dia ingin memastikan sendiri.


"Bentar,biar aku lihat sendiri!"


Dara memutar pandangannya ke sekeliling jalanan,dan pepohonan,tapi tidak ada siapa-siapa disana. Hingga kedua matanya menangkap sosok wanita berambut panjang,wajahnya tidak terlihat jelas,dia memakai baju putih,makhluk itu sangat tinggi dia berdiri tidak jauh dari pohon kembang kantil.


Dengan wajah yang berubah pucat Dara menutup kembali gorden itu.



"Kenapa?" tanya Aisyah begitu melihat wajah Dara yang mendadak pucat.



"Aku rasa ini ulah kuntilanak itu Syah,jangan di lihat lagi! mungkin malam ini kita tidak akan bisa tidur dengan tenang." ujar Dara.

__ADS_1


__ADS_2