Kampung Sihir

Kampung Sihir
Lelaki Dalam Mimpi Dara


__ADS_3

"Aku tidak kenal sama Mas Tino Sep." Jawab Aisyah jujur.



"Masa sih sama orang paling kaya di kampung ini kamu enggak kenal," ucap Asep menatap Aisyah dengan heran.



"Jangan-jangan Mas Tino itu pemilik rumah yang besar itu ya,yang di depannya ada pagar besi," Tebak Dara.



"Betul sekali." Ucap Asep mengacungkan jempolnya.



"Eh,aku ingat sesuatu!" suara keras Asep membuat Dara dan Aisyah kaget,dia ingat sesuatu tapi kayak dapat durian jatuh,dasar asep tingkahnya bikin geleng-geleng kepala.



"Biasa aja kali Sep,enggak usah segitu senangnya,sampe bikin kita kaget." Omel Dara.



"Orang yang aku pergoki sama Fandi pas mau maling kuburan sebenarnya juga mirip sama Mas Tino,mungkinkah Mas Tino melakukan pesugi...



"Cukup! Enggak baik berprasangka buruk sama orang,kita kan enggak punya bukti apa-apa,jadi enggak bisa menuduh sembarangan entar dosa lho," Aisyah mengingatkan.



"Aisyah kita langsung pulang aja yuk!" ajak Dara. Dia mulai bosan dengan topik pembicaraan yang tidak jelas itu.


"Jangan dulu!" cegah Asep,saat itu dia melihat sosok Tino dari kejauhan.


Lelaki itu tampak menenteng satu kantong plastik hitam entah apa isi di dalamnya.


"Ada apa lagi Sep?" Aisyah juga sudah mulai gusar,dia pengen pulang tapi di tahan sama Asep.


"Tunggu sampa Mas Tino lewat dulu!" suruh cowok itu.


Tak lama kemudian Tino lewat di depan mereka dengan berjalan kaki. Tino tersenyum ramah melihat tiga remaja yang tengah duduk nongkrong dan kebetulan juga melihat ke arahnya.



Mereka membalas senyumannya,Asep menggunakan kesempatan itu untuk bertanya benda apa yang di bawa Tino.



"Mas Tino tumben jalan kaki." Tegur Asep.



"Saya baru pulang dari kebun Sep." jawab lelaki itu.


"Mas Tino bawa apaan tuh,?" tanya Asep matanya menatap tajam ke arah kantong plastik berwarna hitam yang di bawa Tino.


Tino berhenti sejenak,sambil mengambil sesuatu dalam kantong plastiknya,dan memperlihatkan kepada mereka bertiga.


__ADS_1


"Ini!" Tino menunjukkan bunga mawar merah kepada mereka,mawar-mawar itu sudah tidak memiliki tangkai lagi.



Aisyah menyipitkan matanya,dia tahu yang ada dalam kantong plastik Tino bukanlah mawar merah tapi kembang kantil.



"Owh bunga mawar ya." Asep hanya tersenyum.



"Kalau begitu,saya permisi dulu ya Sep,istri saya sudah nungguin di rumah," Tino segera berlalu dari sana.



"Aku mencium bau kembang kantil Sep,tapi yang keluar kok mawar merah sih?" Aisyah kebingungan.



"Sepertinya kembang kantilnya dia sembunyikan di bawah bunga mawar itu," duga Asep.



Menurut Asep,Tino sengaja memperlihatkan mawar merah untuk mengelabui mereka.



Dara masih bengong,dia seperti orang yang tidak sadarkan diri. "Kamu kenapa bengong dari tadi Dar?"


"Aisyah,aku kenal lelaki itu,dia adalah lelaki yang ada dalam mimpi aku,dan yang sudah membunuh istrinya." Ungkap Dara,sepasang mata Asep langsung membulat seperti biji jengkol begitu mendengar ucapan Dara.



"Makan siangnya sudah siap!" seru Aisyah dari dapur,saat itu Dara sedang membantu nenek menyiram sayur-sayuran di belakang rumah.



"Sudah siap ya?" Dara yang mendengar teriakannya Aisyah langsung saja berlari masuk ke dalam,dan meninggalkan Nek Ijah begitu saja,perutnya memang sudah keroncongan dari tadi.



"Giliran makan aja kamu paling di depan Dar,sampe ninggalin nenek sendirian." Ucap wanita paruh baya itu sembari meletakkan sayur bayam yang baru di petiknya di atas meja.


"Laper nek," jawab dara singkat,dia tersenyum simpul.


Sebelum makan,Dara pergi ke kamar mandi terlebih dulu,untuk membersihkan kaki dan tangannya yang kotor terkena debu.



Acara makan siang mereka berlangsung selama dua puluh menit. Setelah makan siang Aisyah,Dara dan juga Nek Ijah duduk di gazebo belakang.



Banyak hal yang ingin Aisyah tanyakan kepada neneknya tentang Tino.



"Nek,nenek kenal enggak sama Mas Tino?"


"Oh,Tino anaknya Bu Tantri ya,yang rumahnya searah sama jalan menuju warung Bu Marni kan?" Nek Ijah memastikan.

__ADS_1


"Iya nek,Mas Tino itu masih punya istri enggak?" Tanya Aisyah lebih lanjut.



"Masih lah,mereka itu di kenal sebagai keluarga yang paling harmonis di kampung ini." Ungkap neneknya.



"Berarti wanita yang aku lihat itu adalah istrinya." Gumam Aisyah. Gadis itu berpikir sejenak,ada sesuatu yang janggal di sana.



Wanita yang di lihat Aisyah tadi memang cantik,tapi wajahnya pucat,sangat pucat bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan dari sorot matanya,aneh sekali bukan? Inilah penyebab Aisyah berpikir bahwa kemungkinan besar istri Mas Tino sudah meninggal.



"Aku pernah melihat Mas Tino dalam mimpiku nek,dia dan istrinya bertengkar lalu Mas Tino membunuh istrinya sendiri."



Giliran Dara yang bercerita,hampir saja Nek Ijah keselek dengan makanan yang di makannya saat mendengar mimpi buruknya Dara.



"Mimpi kamu buruk sekali Dara,enggak ada bagus-bagusnya," ucap nenek.


"Dalam mimpi itu kamu tahu enggak penyebab Tino membunuh istrinya.?" Sepertinya Nek Ijah mulai tertarik dengan mimpi Dara.


"Karena orang ketiga,Mas Tino menuduh istrinya selingkuh,lalu istrinya membantah tuduhan itu,dan dia dengan penuh amarah membunuh istrinya,sebelum membunuh istrinya mereka berdua sempat cekcok mulut,dan yang lebih mengerikan lagi ternyata semua ini ada kaitannya sama ibunya Mas Tino sendiri,ibunya itu yang mengatakan kalau istrinya Mas Tino selingkuh." Ucap Dara mengakhiri ceritanya.


Mulut Nek Ijah ternganga begitu mendengar keseluruhan mimpi Dara,kalau di kaitkan dengan dunia nyata,memang selama ini hubungan Tantri dengan menantunya tidak pernah akur.


Nek Ijah menarik nafas panjang sebelum akhirnya bercerita sedikit tentang hubungan Bu Tantri dengan menantunya.


"Bu Tantri itu tidak pernah menyetujui anaknya menikah dengan Maya,karena Maya hanya berasal dari keluarga biasa,sedangkan mereka merupakan orang yang cukup terpandang di kampung ini,segala macam cara di lakukan oleh Tantri untuk menghancurkan rumah tangga anak dan menantunya,warga disini juga tahu kalau Tantri tidak pernah menyukai menantunya."


"Kalau benar seperti itu ceritanya,bisa jadi mimpi Dara adalah tragedi berdarah yang sudah terjadi dalam rumah tangganya Mas Tino." Aisyah mulai menduga-duga.



"Kenapa jadi kita yang kepikiran sih? Ini kan bukan masalah kita,ini soal rumah tangga mereka,kita juga tidak mungkin ikut campur dalam urusan rumah tangga orang!" Dara sudah lelah memikirkan masalah yang tidak menjadi urusannya.



"Tapi aku rasa kita harus mengusut tuntas masalah ini Dar,!" Aisyah mengusulkan.



"Kamu saja Syah,aku enggak mau ikut-ikutan ah,takutnya nanti di gangguin sama arwahnya Mbak Maya" kali ini Dara tidak sependapat dengan Aisyah.


..."Jangan ngomong gitu Dar,aku aja berharap semoga Mbak Maya masih hidup." Ucap Aisyah....


"Kalau memang benar Mbak Maya sudah di bunuh sama Mas Tino,bisa aja dia menjadi arwah pendendam lho!" ucap Dara dengan ekspresi di buat seseram mungkin.


PRANG



Dari dalam rumah tiba-tiba terdengar suara piring pecah,dan suara itu sepertinya berasal dari dapur.


"Suara apa itu?" Nek Ijah mulai merinding ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2