Kampung Sihir

Kampung Sihir
Mayat Di Sungai


__ADS_3

"Aaaaa..."



Aisyah menjerit. Dia sangat ketakutan.



"Oi... Bangun!!" Seru seorang laki-laki tepat di samping telinganya.



"Akh..." Aisyah langsung bangun dan mengucek-ngucek matanya,ternyata dia hanya bermimpi. Dan lelaki yang sekarang berdiri di depannya adalah Reza,pamannya Aisyah. Reza adalah anak bungsu neneknya.



Laki-laki itu sudah menikah dan dia tinggal bersama istrinya di kampung sebelah,tidak jauh juga dari tempat Aisyah dan neneknya tinggal.



"Lah,kok paman sendiri? Nenek di mana?"



Nenek lagi ambil wudhu,mau shalat isya. Dan kamu sendiri ngapain tidur di sini.?" tanya Reza.



Ya,nungguin nenek pulang lah!" jawab gadis itu.



"Syah,coba kamu lihat sudah jam berapa?" suruh Reza.



Aisyah langsung melihat jam di ponselnya. "Masih jam 21:45,memangnya kenapa?" tanya Aisyah bingung.



"Pernah dengar enggak tentang hantu penghuni sungai?" tanya Reza



"Emang ada?" Aisyah balik nanya.



"Ada,paman bahkan sudah pernah bertemu sama mereka!" Reza menjawab santai.



Aisyah tertawa tidak percaya dengan omongannya Reza.



"Kenapa ketawa,kamu enggak percaya?"



Aisyah menggeleng, "Ya enggak lah,masa ada hantu di sungai."



"Za,kalian berdua ngomongin apa sih? Enggak baik tahu ngomongin soal hantu malam-malam begini." Tegur nenek yang baru keluar dari kamarnya.



"Hehe... Maaf bu,Reza cuma bercanda aja tadi sama Aisyah." Ucap Reza.



"Ya sudah,kamu pulang aja sana! Keburu kemaleman di jalan nanti,kan kamu tahu sendiri keadaan kampung kita sedang tidak baik." Ucap Nek Ijah tampak khawatir.



Reza akhirnya langsung pamit pulang,dia juga tidak mau ketemu setan di jalanan,apalagi kampung mereka kalau sudah jam 11:00 pasti sudah sepi,tidak ada lagi orang-orang yang berkeliaran di jalanan.



\*\*\*\*



Pagi ini matahari bersinar cerah,Aisyah hendak pergi ke rumah bibinya,dia sudah bersiap-siap dan nenek juga mengizinkannya untuk pergi.



Aisyah berjalan santai sambil sesekali bersenandung kecil,dia merasa damai berada di kampung itu,saat tiba di sebuah jalan berbelok tiba-tiba ada suara bapak-bapak menjerit minta tolong.



"Tolong...



"Tolong!!!

__ADS_1



Aisyah berlari menuju tempat si bapak itu berada,lelaki tua itu tampak berdiri di depan sungai dengan tubuh yang menggigil ketakutan.



"Ada apa pak? Bapak kenapa?" tanya Aisyah.



"A-ada m-mayat di sana!" jawab lelaki itu gugup.



Aisyah ikutan takut mendengar perkataan bapak tua itu.



"Mayatnya di mana?" tanya Aisyah.



"D-disana!" lelaki itu menunjuk ke tepi sungai yang berada di sebelah kiri mereka



"Ayo kita panggil warga yang lain!" ajak bapak itu,kemudian mereka sama-sama memanggil warga yang lain. Aisyah pun mengikuti bapak itu untuk memanggil warga kampung



\*\*\*\*



Aisyah menutup mulutnya dengan kedua tangannya,andaikan bisa berteriak disana,dia ingin berteriak sekeras-kerasnya.



Mayat yang dia lihat itu adalah Wiwin,anaknya Bu Mei. Ini sungguh hal yang aneh,mengapa Wiwin bisa meninggal di sana? Tidak ada bukti-bukti kekerasan,itu berarti dia tidak di bunuh.



Tidak ingin berlama-lama disana Aisyah langsung pergi,dia kembali melanjutkan perjalanannya ke rumah Bi Hanum.



Setibanya di sana Aisyah langsung menceritakan kejadian yang barusan di lihatnya.



"Anaknya Bu Mei sudah meninggal Bi." Ujar Aisyah memberitahu.




"Kalau bibi enggak percaya,sana pergi ke rumah Bu Mei!" suruh Aisyah kesal.



"Bibi baru semalem ke tempat Wiwin,tapi kenapa hari ini dia meninggal?" gumam Hanum,dia tidak ingin mempercayai apa yang di dengarnya dari Aisyah,tapi kenyataan memang begitu. Wiwin sudah meninggal dunia.



"Bibi semalam ke tempat Mbak Wiwin?" Aisyah mulai merasa ada yang tidak beres. Ini aneh,kalau tadi malam Hanum ke rumah Wiwin dan dia masih berada di rumahnya,lalu kenapa dia bisa tergeletak tak bernyawa di pinggir sungai hari ini?



kapan Wiwin pergi ke sungai itu,mungkinkah semalam setelah bertemu dengan Hanum? Atau tadi subuh?



Semakin membuat pusing saja. "Bi,Mbak Wiwin di temukan warga di tepi sungai dalam keadaan sudah tak bernyawa." Ungkap Aisyah.



Lagi-lagi Aisyah membuat Hanum hampir pingsan dengan kabar yang mengejutkan itu.



"Di pinggir sungai? Bagaimana bisa?"



"Apa kata-kata terakhir Mbak Wiwin yang sempat di sampaikan sama bibi?"



Hanum mencoba mengingat-ingat pembicaraan terakhirnya dengan Wiwin.



"Tidak ada,dia hanya bilang kalau dia merasa suaminya itu aneh akhir-akhir ini."



"Aneh bagaimana bi,?" tanya Aisyah.

__ADS_1



"Dia bilang suaminya itu sering bicara sendiri,dia pikir mungkin hal itu terjadi karena suaminya merasa tertekan setelah bayi mereka hilang begitu saja." Tutur Hanum.



Dari cerita yang di dengarnya dari Hanum,Aisyah langsung dapat mengambil kesimpulan. "Pasti suaminya yang sudah mengambil bayinya sendiri untuk di jadikan tumbal,dan kemudian dia membunuh istrinya." Ujar Aisyah.



"Hush... Sembarangan kalau ngomong,kamu enggak boleh berburuk sangka kek gitu sama orang," Tegur Hanum.



"Lalu menurut bibi bagaimana?"



"Mending nanti malam aja kita cari tahu sendiri kemana suaminya saat Wiwin tiba-tiba menghilang dari rumah." Usul Hanum.



"Iya bibi benar juga,kebetulan malam ini juga ada takziah di rumahnya Bu Mei." Aisyah setuju dengan idenya Hanum.



Kalau memang benar Wiwin meninggal karena di jadikan tumbal oleh suaminya sendiri,berarti mereka harus bisa membuat suaminya itu mengakui perbuatannya dan dia harus bertanggung jawab atas apa yang sudah di perbuatnya.



"Kita harus bisa menangkap orang itu Aisyah,bibi tidak mau Wiwin jadi arwah gentayangan hanya karena ingin membalaskan dendamnya." Ucap Hanum.



"Bi,enggak boleh ngomong kayak gitu,apalagi orang yang bibi omongin baru saja meninggal." Tegur Aisyah,menurut yang Aisyah dengar dari bundanya,mengatakan hal seperti itu sangat tidak baik,karena bisa jadi apa yang di katakan bibinya menjadi sebuah kenyataan.



"Ih,kamu jangan nakut-nakutin deh," ujar Hanum dia menggeser sedikit duduknya agar lebih dekat dengan Aisyah,matanya menyusuri seluruh sudut ruangan dengan tatapan mata penuh ketakutan,padahal masih siang bolong gini.



"Takut kan,makanya jangan ngomong sembarangan."



\*\*\*\*



Malam ini Aisyah dan Hanum pergi ke rumahnya Bu Mei,mereka datang setelah maghrib dan ternyata sudah banyak orang disana,saat mereka datang semua orang sedang membaca Yasin,dan sebagian yang lain bekerja di dapur untuk membuatkan minuman dan makanan bagi para tamu yang datang untuk melayat.



Aisyah memilih duduk di ruang tengah,dia ikut membaca Yasin bersama warga yang lain,sedangkan Hanum pergi ke dapur untuk bantu-bantu menyiapkan makanan.



Aisyah memulai aksinya,dia mencuri-curi pandang ke arah suaminya Wiwin yang duduk tepat di depannya,tapi dia tidak menemukan ada yang aneh pada lelaki itu,malah lelaki itu terlihat begitu sedih dengan kepergian istrinya.



Tapi Aisyah tidak menyerah begitu saja,dia harus tahu siapa dalang di balik peristiwa yang menghebohkan warga kampung.



Saat Aisyah tengah sibuk dengan pikirannya,Bu Mei muncul dengan gelagat yang mencurigakan. Wanita paruh baya itu keluar dari rumahnya,awalnya Aisyah pikir beliau akan ikut membaca Yasin bersama mereka,eh enggak tahunya malah keluar dan pergi ke belakang rumahnya. Aisyah yang merasa curiga dengan tingkahnya Bu Mei langsung saja mengikutinya dari belakang.



"Aku sudah mengikuti semua keinginanmu,sekarang kamu mau apa lagi.?" Tanya wanita itu.



Aisyah yang sedang menguping pembicaraan Bu Mei mulai merasa janggal,di sana tidak ada siapa-siapa,lalu Bu Mei bicara sama siapa?



"Jangan ganggu aku lagi! Aku tidak ingin berurusan lagi dengan kamu,aku sudah menuruti semua keinginan mu,bahkan anak ku juga ikut menjadi korbannya."



DEG!



Apa maksud kata-kata wanita itu? Aisyah merasa itu semua tidak benar,dia memutar balik badannya hendak kembali ke dalam,namun sialnya dia malah menginjak ranting kayu.



KREK



"Siapa di sana?"


__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2