Kampung Sihir

Kampung Sihir
Bukan Maya


__ADS_3

Asep dan abang penjual bakso menjerit keras mereka berlari sekencang-kencangnya dari sana,sungguh malam yang sangat menyeramkan.



"Sep,sebaiknya kita ke masjid aja. Siapa tahu di sana masih ada pak imam." Usul lelaki itu.



Asep mulai memelankan langkah kakinya,sekarang dia merasa sedikit lebih aman karena sudah jauh dari pocong tadi.



"Wah Bang Oki benar juga." Asep setuju dengan idenya Oki.


Mereka pun berjalan beriringan menuju masjid. Sampai di sana hujan tiba-tiba turun dengan derasnya,syukur mereka sudah sampai di masjid. Keduanya masih berdiri di luar,Asep celingak-celinguk mencari keberadaan Aisyah di sana,dan ternyata gadis pujaannya masih belum pulang.


"Ngapain kita berdiri di sini? Ayo masuk!" ajak Oki.



"Assalamualaikum..."


"Waalaikumussalam..." pak imam dan yang lainnya menjawab salam dengan ekspresi terkejut. Tentu saja terkejut Asep dan Oki datang dengan wajah menggambarkan rasa gelisah,mereka masih sama-sama takut dengan kejadian tadi.


"Pak imam,ta-tadi di sana ada pocong sama kuntilanak," Adu Asep. Dia mengambil posisi duduk di sebelah Fandi.


"Pocong?"


Mereka saling pandang,kenapa ada pocong juga?


"Kalian berdua sama-sama di teror?" tanya Fandi.


"Awalnya ada seorang wanita datang membeli bakso sama saya,saya pikir dia manusia,eh enggak tahunya setan. Matanya sampai jatuh ke dalam mie bakso saya,melihat kejadian menyeramkan begitu ya saya lari." Ungkap Oki.


"Nah pas bang Oki lari,dia bertemu sama saya di pos ronda,saat kami sedang bicara tiba-tiba ada pocong jatuh tepat di depan mata kami,makanya kami kesini!" tambah Asep bercerita.


"Abi,kayaknya kuntilanak itu mulai meneror penduduk di kampung ini deh." Ucap Fandi.


"Dia memiliki dendam yang belum terbalaskan," lanjut Aisyah.


"Apakah benar kalau itu Mbak Maya?" tanya Dara.


Oki menjadi bingung,dia tidak tahu keseluruhan cerita tentang kuntilanak itu,di tambah lagi dengan nama Maya yang di bawa-bawa sama Dara,apa hubungannya antara kuntilanak sama Maya.


"Kenapa nama Mbak Maya di bawa-bawa dalam masalah ini?" tanya Oki.


Pak imam melihat kondisi yang kurang memungkinkan untuk membahas masalah itu,jadi beliau mengalihkan topik dengan cara menyuruh mereka untuk mengambil wudhu dan shalat isya berjamaah.


\*\*\*\*\*



"Sudah beberapa kali ibu nelfon kamu,tapi kenapa enggak diangkat-angkat Tino?" Bu Tantri datang kerumah anaknya sambil ngomel-ngomel.



"Huh! Semenjak menikah dengan perempuan miskin itu kamu jadi suka ngebantah sama ibu,semua yang ibu katakan tidak ada satu pun yang kamu dengar."



Tino hanya diam saja mendengar omelan wanita di hadapannya,seorang ibu yang seharusnya mendukung rumah tangga anaknya untuk menjadi lebih baik,ini malah membuat rumah tangga sang anak menjadi hancur berantakan.



"Kenapa tidak jawab? Kenapa kamu diam saja?" Bu Tantri kembali bertanya.



Tino sudah muak dengan sikap ibunya sendiri "Saat aku menjawab untuk memberi penjelasan agar ibu tidak salah paham,ibu malah marah-marah,dan sekarang aku diam tidak menjawab,itu juga salah,sebenarnya mau ibu apa?" Tino berdiri dari duduknya dan berkata dengan nada tinggi.

__ADS_1



PLAK...



Bu Tantri menampar wajah Tino.



"Kamu berani meninggikan suaramu di depan ibu?" ucap Bu Tantri dengan suara yang lebih tinggi.



"Mau ibu sebenarnya apa?" suara Tino sudah sedikit melunak.



"Ibu mau kamu cerai sama Maya!" tegas bu Tantri.



"Cerai? Apa ibu sudah gila,dia itu istri aku dan aku sangat mencintai dia bu,tidak mungkin aku menceraikan Maya." Tegas Tino.



"Kamu itu anak ibu,sudah sepantasnya kamu mendengarkan perkataan ibu,kamu lupa ya,kalau surga itu di telapak kaki ibu?" masih dengan nada tinggi.



"Lalu sekarang apa masih ada surga itu di telapak kaki ibu? Itu yang selalu ingin aku tanyakan sama ibu." Bu Tantri terdiam mendengar pertanyaan Tino.



"Surga ku memang tidak akan berpindah,aku akan selalu menuruti semua apa kata ibu,selama itu tidak di larang dalam agama,tapi sekarang aku tidak bisa lagi mendengar kata-kata ibu,terserah ibu mau bilang aku anak durhaka,terserah ibu,aku tidak peduli!" Amarahnya yang sudah memuncak,di tumpahkan semuanya di depan ibunya.




"Bu,Maya itu wanita baik-baik jangan hanya karena dia bukan calon menantu pilihan ibu,ibu sesuka hati menghina dia" ucap Tino,dia terus membela istrinya.



"Ingat ya Tino,sampai kapan pun ibu tidak akan merestui hubungan kalian,ibu tidak akan berhenti di sini,ibu pastikan kalian tidak akan bahagia!" pungkas Bu Tantri,setelah itu beliau langsung keluar dari rumah besar anaknya,saat keluar Bu Tantri sengaja membanting pintu supaya menimbulkan suara yang menggema,wanita itu pergi dengan perasaan kecewa.



"Ibu sudah menghancurkan semuanya,mengambil kebahagiaan dalam rumah tangga ku,membuat istriku seperti mayat." Lirih Tino begitu ibunya pergi." Entah apa maksud dari kata-kata terakhirnya.



\*\*\*\*



"Aisyah,bangun!"



"Bangun Aisyah!" suruh Dara,dia sudah tidak tahan lagi ingin cepat-cepat ke kamar mandi.



"Hoamm..." Aisyah menguap,dia menutup mulutnya dengan punggung tangannya,matanya masih sangat ngantuk.



"Kamu mau kemana malam-malam?" tanya Aisyah dengan suara terdengar parau.

__ADS_1



"Ke kamar mandi,ayo temenin aku!" Dara buru-buru turun dari tempat tidur,membuka pintu kamar dan berlari menuju kamar mandi,tanpa menunggu Aisyah. Aisyah mengikutinya dari belakang.



Aisyah dengan setia menunggu Dara di depan pintu kamar mandi,dengan kesadaran yang hanya 60% dia menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi,kamar mandinya berada di belakang,hampir dekat dengan pintu belakang,itu sebabnya Dara tidak berani pergi sendirian.



Sudah dua puluh menit berlalu tapi Dara belum keluar juga. "Dara kenapa lama banget ya? Jangan-jangan dia ketiduran lagi." Batin Aisyah.



Dia kembali memejamkan matanya dan masih dengan posisi yang sama,yaitu menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi.



"Ngapain di sini Syah?"



"Sudah selesai Dar?" tanya Aisyah,tapi dia masih dengan mata terpejam.



"Baru aja mau masuk." Jawab Dara,dia kemudian masuk ke kamar mandi.



Aisyah sepertinya tidak sadar akan keanehan yang sedang terjadi saat ini.



"Dar,buruan Dar!" Suruh Aisyah.



"Baru aja masuk Aisyah!" sahut Dara dari dalam.



Saat itulah Aisyah tersadar,tadi dia baru bicara dengan Dara,Dara baru masuk ke kamar mandi,jadi yang sejak tadi di tunggu sama dia siapa? Aisyah merinding,haruskah menjerit? Tapi tidak mungkin.



Aisyah tidak lagi menunggu dara dia berbalik dan kembali ke kamarnya,ingin memastikan apakah Dara ada di kamar atau tidak.



CEKLEK



Pintu di buka,dan betapa terkejutnya Aisyah begitu mendapati Dara masih tertidur dengan nyenyak di kasurnya.



"Apa aku sedang mimpi,?" Dia bertanya pada dirinya sendiri.



Buru-buru Aisyah membalikkan badan untuk menutup kembali pintu kamarnya,tapi tiba-tiba di belakangnya sudah berdiri sesosok wanita yang berambut panjang,dan dia tidak memiliki mata,mulutnya juga sangat lebar sampai ketelinga,dia menjerit tepat di depan Aisyah,suaranya keras melengking,Aisyah terkejut melihat makhluk itu.



"Aaaa..."


__ADS_1


Pandangannya gelap,dia jatuh pingsan.


Satu hal yang Aisyah ingat sebelum pingsan,hantu di depannya bukan lah istri Tino.


__ADS_2