
"Hahaha..." Aisyah tertawa melihat wajah tegang neneknya dan pak imam,dia cuma bergurau saja mengatakan tentang tujuan iblis itu,namun tak di sangka ternyata neneknya dan pak imam menganggapnya serius.
"Kamu kalau ngomong yang benar dong Aisyah." Ucap sang nenek di saat Aisyah masih tertawa.
"Aisyah cuma bercanda aja nek." Jawabnya,tanpa rasa bersalah karena sudah membuat jantung mereka berhenti berdetak sesaat.
"Bapak kira nak Aisyah bicara serius,enggak tahunya cuma isengin kita saja," ujar pak imam.
\*\*\*\*
Setelah permasalah pak imam di tangani oleh Ustadz Yusuf,kini keadaan kembali normal, Agus juga sudah tidak melakukan pesugihan itu lagi,lelaki itu juga sudah pindah ke kota,dia memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya,dia ingin membuka lembaran baru di kota.
Aisyah dan nenek juga menjalani hari-hari mereka dengan damai,keadaan menjadi lebih tenang,dan itu berlangsung selama dua bulan.
Nek Ijah juga tidak pernah lagi mengeluh sakit di bagian kakinya,sepertinya Wisnu sudah tidak lagi mengirim sihir kepada keluarga Nek Ijah. Mungkin dia sudah kapok,atau hanya berhenti sebentar untuk menunggu waktu yang tepat.
Hari ini tepatnya bulan mei tanggal 25,Aisyah tiba-tiba saja teringat akan Dara,sahabat satu-satunya yang selamat dari kecelakaan bus beberapa tahun lalu.
Hari ini Dara berulang tahun,Aisyah sangat merindukan sahabatnya,beberapa waktu terakhir ini mereka hanya saling berbagi kabar melalui media sosial.
Ingin sekali Aisyah bertemu dengan sahabatnya.
"Aisyah,di luar ada orang yang nyariin kamu," ujar nenek. "Katanya sih teman kamu dari kota." Sambungnya lagi.
Mendadak mata Aisyah berbinar,dia tersenyum senang. Teman dari kota? Apakah itu Dara?
Aisyah yang lagi rebahan langsung saja bangun,dengan terburu-buru dia pergi ke depan tanpa memakai jilbabnya,saking senangnya Aisyah sampai lupa kalau dia tidak memakai jilbab,tidak penting juga,kalau beneran Dara yang datang kan enggak apa-apa,Dara kan cewek.
"Surprise!!!"
"Dara!!!" Aisyah langsung memeluk sahabat tercintanya itu,sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Bahagianya Aisyah karena Dara mau menjenguknya di kampung yang jauh dari perkotaan.
Dara melepaskan pelukan Aisyah,dan mulai menatap wajah sahabatnya secara seksama.
"Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?" tanya Aisyah.
"Ya,cuma penasaran aja sama kamu Syah,gimana seru enggak tinggal di sini?" tanya Dara.
"Ayo masuk dulu! Entar di dalam aku ceritain."
Aisyah membantu Dara menarik kopernya,begitu Dara masuk gadis itu langsung menutup kembali pintunya.
"Duduk Dar,tunggu disini ya,aku buatin minum dulu"
"Temanin aja teman mu dulu Syah,biar nenek yang buatin minumnya." Ujar sang nenek.
"Baiklah kalau begitu nek." Sahut Aisyah,dia kemudian duduk di depan Dara dan melanjutkan obrolan mereka.
__ADS_1
"Gimana,enak nggak tinggal di sini?" Dara kembali bertanya.
"Enak dong," jawab Aisyah di iringi senyum di wajahnya.
"Kampung ini enggak seperti kampung yang pernah kita singgahi saat kita berada di alam bawah sadar dulu kan?" Dara mulai menyelidik.
"Hampir sama Dar,tapi Alhamdulillah enggak terlalu parah sih," Aisyah menjawab terus terang.
"Apa?" membelalak kedua bola mata Dara saat mendengar omongan Aisyah.
"Kamu enggak sedang bercanda kan?" tanya Dara,masih tidak percaya dengan ucapan temannya.
"Aku serius,"
"Sepertinya aku salah sudah datang kesini." Dara mulai terlihat takut.
"Santai aja lagi Dar,kita kan sudah terbiasa."
"Kamu sih biasa kalau aku...
"Kamu takut?" Nenek yang baru keluar dari dapur langsung menimpali pembicaran mereka.
"Nenek sama Aisyah tidak sedang menakut-nakuti aku kan?"
"Tidak!!!" Nek ijah dan Aisyah menjawab serempak.
Aisyah dan Nek Ijah tersenyum melihat perubahan wajah gadis itu.
"Sudahin dulu ngomong yang serem-serem gitu,ini airnya di minum dulu nak!" Suruh Nek Ijah seraya meletakkan cangkir berisi teh hangat di depan Dara,beliau juga tidak lupa meletakkan dua toples cemilan untuk mereka berdua.
"Eh iya,makasih nek!" ucap Dara,seraya meneguk teh yang di suguhkan untuknya.
"Jadi kamu mau nginap berapa lama di sini?" tanya Aisyah,matanya melirik ke arah koper yang di bawa Dara,tampaknya Dara ingin menginap sebulan di rumahnya.
"Aku mau nginap selama aku mau disini,tidak apa-apa kan?" tanya Dara tersenyum malu-malu.
"Suka hati kamu aja Dar kalau kamu mau sebulan,setahun juga enggak apa-apa kok."
\*\*\*\*\*
Malam ini Dara dan Aisyah pergi ke masjid,mereka shalat Maghrib berjamaah di sana.
Setelah shalat maghrib mereka berdua tidak langsung pulang,seperti biasanya Aisyah mendengarkan ceramah dari Ustadz Hanif dulu.
Kedua gadis itu baru pulang setelah shalat isya. "Syah,kamu sering shalat maghrib di masjid?" tanya Dara.
"Enggak juga,aku hanya datang sekali-kali aja,kalau nenek juga datang,soalnya kalau pergi sendiri aku enggak berani pulang lagi." jawab Aisyah sambil nyengir kuda.
__ADS_1
"Ya elah,aku kirain kamu itu pemberani,rupanya penakut juga."
"Kamu juga lebih penakut dari aku!" Balas Aisyah.
"Wah ngeremehin aku kamu ya,gini-gini setan pada lari kalau ketemu aku!" Dara tidak sadar kalau ucapannya itu sudah melewati batas,dia tidak seharusnya bicara seperti itu di tengah perjalanan pulang.
"Hus..." Aisyah menepiskan tangannya. "Kalau bicara itu jangan kelewat batas dong Dar,di tempat seperti ini mana boleh bicara sembarangan begitu!" tegur Aisyah.
Dara langsung menutup mulutnya,dia juga tidak sadar saat mengatakannya tadi,dia memutar pandangannya ke kiri dan kanan,mecoba memperhatikan keadaan sekeliling.
Sepi...
Hanya ada mereka berdua,sekarang mereka sedang melewati jalan yang di penuhi dengan pepohonan yang tumbuh besar di pinggir jalan.
"Jalan di sini seram juga." Ucap Dara setengah berbisik.
"Jangan lupa untuk berdzikir Dar." Aisyah mengingatkan sahabatnya.
"Iya ustadzah."
Mereka berjalan beriringan,hanya berdua tidak ada yang lain.
Dara menundukkan kepalanya melihat ke bawah.
Suasana jadi seram,Aisyah hanya diam saja sambil terus melangkahkan kakinya,Dara tidak suka dengan suasana saat ini,seram semakin bertambah seram aja.
Angin mulai berhembus sedikit kencang,sepertinya akan turun hujan.
"Apa kita masih lama sampai di rumah,Syah?" gadis itu takut kehujanan di tengah jalan.
Sebentar lagi juga nyampe Dar." Jawab Aisyah.
"Bau apa ini?" Spontan saja Dara bertanya,begitu indra penciumannya mencium bau bunga melati.
"Melati." Satu kata yang keluar dari mulut Aisyah membuat Dara tidak bertanya lagi.
Gadis itu diam,tidak bertanya lebih lanjut.
Dara semakin mempercepat langkahnya,Aisyah kembali menegurnya "Jangan terlalu di percepat,hal seperti ini sudah biasa terjadi,salah kamu sendiri juga bicara sembarangan tadi di jalan," Aisyah seperti sengaja menakut-nakuti Aisyah.
"Jangan nakut-nakutin aku!" Dara jadi kesal.
Saat mereka tiba di depan sebuah pohon nangka,entah kenapa Dara mulai merasa janggal hingga dia mendongakkan kepalanya menatap ke atas pohon nangka yang ada di pinggir jalan.
Dara melihat ada yang bergerak-gerak di atas pohon itu,kain berwarna putih.
Dara hampir tidak bisa mengeluarkan suaranya,dia kembali melihatnya,langkahnya terhenti sebentar membuat Aisyah juga ikut menghentikan langkahnya. Kain putih yang melambai-lambai di tiup angin,Dara tidak salah lihat dia yakin kalau itu adalah...
__ADS_1
"Aaaa...."