Kampung Sihir

Kampung Sihir
Penampakan Di Siang Hari


__ADS_3

Setelah sarapan Kakek Joko mengajak keempat remaja itu untuk melihat keadaan kampungnya,agar mereka percaya bahwa yang di katakan beliau itu benar.



"Itu rumah yang dijadikan sebagai tempat pengobatan oleh Ki Dani.!" Tunjuk lelaki tua itu,setengah berbisik. Mereka berempat langsung memperhatikannya.



"Terlihat seram memang." Bisik Andi pada temannya Rudi.



Mereka terus melihat rumah yang bercat abu-abu itu,yang di depannya ada sebuah pohon beringin tua yang masih berdiri kokoh,membuat rumah itu terlihat semakin angker.



Dara menggenggam erat tangan Aisyah,dia sedikit takut saat itu,mereka terus berjalan beriringan mengikuti langkah sang kakek,Kakek Joko berjalan di depan sedangkan Aisyah dan ketiga temannya mengikuti dari belakang.



Tempat yang mereka lewati itu tidak terlalu banyak perumahan,makanya suasana terasa sedikit menyeramkan.



"Kek,disana ada mesjid kita berhenti disana aja yuk.!" Ajak Aisyah.



"Jangan.!" Kakek Joko menjawab cepat.



"Lho kenapa?" Tanya Dara.


"Nanti dirumah kakek ceritakan!"


"Kek,disana ada warung kita singgah dulu yok.!!" Ajak Andi.



"Jangan disana,diwarung yang satunya lagi aja." Giliran Aisyah yang menjawab.



Mereka akhirnya singgah di warungnya Bi Sumi,di sana tidak terlalu banyak orang,bisa di bilang warung itu sepi dari pelanggan.



"Sepi Ais,kenapa nggak di warung yang tadi aja rame orang nya pasti makanannya juga enak." Ujar Rudi setengah berbisik.



"Jangan banyak bicara Rud,mending kamu diam aja deh." Ucap Aisyah wajahnya terlihat serius. Aisyah seperti melihat sesuatu di warung itu.



"Kakek Joko pagi-pagi sudah ke warung saya,nggak biasanya." Ujar sang pemilik warung.

__ADS_1



"Ini,cucu saya sama dua temannya minta di ajak keliling kampung,ya saya bawa,sekalian singgah di warung Bi Sumi."Jawab kakek itu disertai dengan kekehannya biasalah tawa kakek-kakek.



"Emang cucu kakek yang mana ini?" Tanya Bi Sumi menatap mereka berempat secara bergantian.



"Ini yang perempuan berdua ini,dua-duanya cucu saya,kalau yang cowok ini teman-temannya."Jawab Kakek menunjuk kearah Aisyah dan Dara.



Bi Sumi memperhatikan wajah Aisyah dan Dara dengan seksama,kemudian wanita itu mengangguk sambil berkata. "Mirip juga ya." Ya,syukurlah wanita itu percaya,memang Aisyah sama Dara sedikit ada kemiripan coba aja kalau Dara juga memakai jilbab seperti Aisyah,pasti mereka tambah mirip.



"Bi,pesan teh manisnya satu,dingin ya.!" Ucap Andi.


"Kalian pesan apa?" Tanya Andi pada teman-teman nya.


"Iya pesan aja apa yang kalian mau nanti biar kakek yang bayar." Ucap Kakek Joko.


"Jangan kek,kita masih punya uang kok." TolakDara,saat itu Aisyah tidak bicara sama sekali dia sedang membaca shalawat dalam hatinya.


"Nggak usah di bayar hari ini Bi Sumi gratiskan buat kalian,hitung-hitung sedekah." Ucap Bi Sumi tersenyum,namun kemudian senyumnya tiba-tiba hilang begitu saja,saat melihat raut wajah Aisyah.



"Jangan terlalu dibawa dalam pikiran Nak, mereka hanya menampakkan diri untuk menggoyahkan iman,di bawa santai aja jangan terlalu dipikirkan,yang penting pikiran jangan kosong." Ucap Bi Sumi pada Aisyah,kemudian wanita itu langsung pergi membuatkan air untuk mereka.




"Aisyah kenapa kek?" Tanya Andi



"Kamu tanyakan saja nanti sama orangnya sendiri." Jawab si kakek.



Dara saat itu tidak bicara,karena dia fokus melihat orang yang berlalu lalang di depan warung, ternyata di kampung itu lebih banyak anak-anak dari pada orang dewasa.



Rudi sendiri fokus menatap sebuah rumah yang berada didepan mereka,seorang nenek-nenek dengan anak kecil yang bergelayut dibelakang nya,apa-apaan itu?



Andi tidak melihat apapun selain memperhatikan ekspresi wajah ketiga temannya yang berubah-ubah,melihat mereka bertiga saja sudah membuat dia penasaran setengah mati.



"Ini diminum dulu.!" Ucap Bi Sumi,yang membuat Rudi kaget,hingga tanpa sadar keluarlah kata-kata yang tidak diinginkan dari mulutnya.

__ADS_1



"Tuyul.!!" Ucap cowok itu sedikit kaget,syukur tidak ada orang lain lagi saat itu di warung Bi Sumi selain mereka.



"Huss... jangan mengucapkan kata itu keras-keras." Bi Sumi mengingatkan. Rudi menutup mulut nya,dengan perasaan masih deg-degan.



"Kalian sebenarnya dari tadi kenapa sih? Aku perhatiin raut wajah kalian berubah-ubah,ada apa?" Tanya Andi.



Rudi pun menceritakan apa yang tadi dilihatnya.



"Itu memang tuyul." Ucap Bi Sumi membenarkan.



"Sudahlah Rudi jangan melihat lagi kesana." Ucap Dara,dia menutup mata temannya itu dengan tangannya.



"Kampung disini memang aneh,banyak yang menggunakan ilmu sihir,mereka tidak percaya lagi akan adanya Allah,meminta kesembuhan penyakit pun pada syaitan." Ungkap Bi Sumi.



"Lalu mesjid itu,apa tidak ada orang yang menggunakan lagi?" Tanya Aisyah semakin penasaran aja dengan kampung itu.


"Tidak ada,sudah sepuluh tahun lebih ya kek?" Tanya Bi Sumi pada Kakek Joko,karena dirinya sendiri tidak terlalu ingat.


"Bukan lagi sepuluh tahun,tapi sudah dua belas tahun lebih nggak ada yang ke masjid itu." Jawab Si Kakek.



"Apa disini juga tidak ada pendatang baru sama sekali.? Tanya Dara.


"Kalau soal ini kamu tanyakan sendiri nanti sama kakek waktu kalian kembali kerumah, bibi tidak berani menceritakan hal seperti ini." Ucap Bi Sumi,saat mengatakan hal itu terpancar rasa takut dari wajahnya,mereka dapat merasakan hal itu,mungkin ada kisah yang sangat mengerikan hingga Bi Sumi sendiri tidak berani mengatakannya.


"Wah,Bi Sumi kedatangan tamu rupanya." Ucap seorang lelaki sambil tersenyum kearah mereka.



"Iya Den,tamu dari kota cucunya kakek.



"Em..." Hanya itu yang keluar dari mulut lelaki itu,dia memandang Aisyah dengan tatapan yang sulit diartikan,Aisyah sendiri masih ingat siapa lelaki yang sekarang ada di depannya, dia adalah orang yang semalam bicara dengan Kakek Joko



Aisyah merasa ada yang aneh dengan lelaki itu setiap kali memandang dirinya,kenapa ya? Aisyah langsung saja menghindari tatapan lelaki itu yang menatapnya begitu dalam.


__ADS_1


Membuat Aisyah mulai berpikir yang bukan-bukan.


__ADS_2