Kampung Sihir

Kampung Sihir
Kejadian Tragis


__ADS_3

Mereka sekarang sudah kembali berada dirumah Kakek Joko,tidak berani juga terlalu berlama-lama di warungnya Bi Sumi karena disana ada anak buahnya Ki Dani.


"Akhirnya tiba juga dirumah." Ucap Andi sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Bagaimana pemandangan diluar cukup membuat kalian takjub kan?" Ucap Mbak Ningsih bertanya,wanita itu sudah tahu apa yang akan dilihat oleh mereka di pagi hari ini.


"Kalau saat ini kita berada dirumah,pasti kita mengawali pagi dengan penuh semangat,dan yang pertama dilihat juga pemandangan yang indah,semua yang serba hijau,bukannya tuyul yang bergelayut manja nggak jelas." Ungkap Rudi kesal.


"Dan pocong yang jelek nya minta ampun." Tambah Aisyah.


"Kalian melihat itu semua?" Andi takjub mendengarnya,menurut dia itu adalah hal yang sangat hebat. Karena dia tidak pernah melihat penampakan sehoror itu.


"Tentu,apa kamu sendiri tidak melihatnya.?" Tanya Aisyah pada Andi.


"Apa yang bisa dilihat? Selain wajah kalian bertiga yang berubah-ubah,kadang terlihat seperti orang ketakutan,kadang terlihat seperti orang yang sedang heran pokoknya aneh bangat lah." Ungkap cowok itu.


"Tadi Dara terus memperhatikan orang-orang yang melintasi jalan perkampungan ini,mengapa kebanyakan dari mereka hanya ada anak-anak dan orang tua,remajanya pada kemana?" Mendengar pertanyaan Dara,wajah kakek mulai terlihat sedih.


"Ada apa Kek?" Tanya Rudi saat melihat ekspresi di wajah lelaki tua itu.


"Kalian pasti penasaran kan? Memang tidak banyak remaja disini,beberapa dari mereka ada yang dibunuh untuk di jadikan tumbal saat berumur 17 tahun,dan ada juga yang berhasil kabur dari kampung ini dan pindah ke kota." Jawab Mbak Ningsih menceritakan. Mereka semakin tidak paham,ini benar-benar aneh.


"Syukurlah An,di antara kita tidak ada lagi yang berumur 17 tahun." Ucap Rudi lega.


"Kalian tidak bermasalah walaupun berumur 17 tahun sebab kalian bukan penduduk asli disini." Jawab si kakek.

__ADS_1


"Kenapa mereka dijadikan tumbal?" Tanya Aisyah penasaran.


"Setiap ada orang yang berobat pada Ki Dani,maka mereka harus mau memberikan tumbal yang tak lain adalah anaknya sendiri,kalau sanggup membayar dengan uang ya berarti tidak perlu memberi anak mereka sebagai tumbal." Jelas Mbak Ningsih.


"Lalu tuyul yang dirumah nenek itu.?" Tanya Rudi kemudian.


"Itu tidak perlu kakek jelaskan, kalian juga sudah tahu untuk apa Nenek Tini memelihara tuyul." Jawab Kakek,memperhatikan satu persatu wajah remaja didepannya.


"Apa nggak ada cara lain kek,untuk membuat kampung ini kembali seperti dulu.?" Tanya Aisyah,dia memang sangat berharap mereka yang telah sesat dapat kembali ke jalan yang benar.


"Kamu tahu Aisyah kedatangan kalian kesini sepertinya adalah jawaban dari pertanyaan kamu tadi." Ungkap kakek,yang membuat mereka langsung paham akan maksudnya.


"Maksud kakek kami bisa membuat kampung ini kembali seperti dulu begitu?" Rudi memastikan,tak bisa dielakkan lagi ternyata mereka benar-benar terjepit sekarang.


"Iya, itu benar.!"


"Kok berhenti sih mbak?" Tanya Dara.


"Iya... kenapa berhenti?" Tambah Rudi.


"Tapi apa mbak?" Aisyah rupanya juga ikut penasaran dengan kelanjutannya, sedangkan Andi hanya diam saja seperti kakek.


Mbak Ningsih menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan ceritanya.


"Tapi hal ini ternyata membuat Ki Dani sangat marah,hingga dia mengirimkan santet,ilmu-ilmu sihirnya yang tidak jelas itu kepada kedua ustadz ini,namun sia-sia,sihirnya Ki Dani tidak berpengaruh sama sekali dengan mereka. Karena Ki Dani tahu kalau ilmu santet seperti itu tidak berpengaruh sama sekali pada mereka maka di suruhlah anak buahnya untuk membunuh dua ustadz itu saat sedang shalat di masjid. Dan setelah hari itu Ki Dani menyuruh anak-anak buahnya untuk menjaga kampung ini,agar tidak ada orang yang bisa masuk kesini,yang menurutnya hanya akan membuat warga kampung kembali kejalan yang benar."

__ADS_1


"Lalu,kenapa saat kami kesini tidak ada seorangpun yang berjaga di jalan itu.?" Tanya Rudi.


"Karena saat kalian kesini mereka sedang melakukan ritual memuja setan." Jawab Kakek Joko,mendengar jawaban Si Kakek spontan saja membuat keempat remaja itu membelalakkan matanya,takut sekaligus tidak menyangka bahwa kampung yang sedang mereka tinggali itu benar-benar sudah di luar batas,hanya tinggal menunggu azab dari Allah.


"Apa disini memang sudah tidak ada lagi yang percaya pada Allah kek.?" Tanya Aisyah,suara nya terdengar lemah dia tidak menyangka di zaman yang sudah secanggih ini masih ada kampung yang seperti itu,ngapain coba meminta kepada Syaitan,nggak ada manfaat sama sekali yang ada dosa besar,dan pada akhirnya mereka yang melakukan perbuatan syirik dan mati dalam keadaan belum bertaubat maka akan kekal di neraka.


"Ada,tapi sangat sedikit." Jawab kakek.


"Dan lelaki yang tadi di warung Bi Sumi,apa dia juga anak buahnya Ki Dani.?" Tanya Aisyah.


"Ya,dia anak buahnya Ki Dani,tapi sebelumnya dia adalah pemuda yang baik,dan entah bagaimana ceritanya hingga dia juga tiba-tiba ikut dalam kelompoknya Ki Dani,ini yang masih menjadi pertanyaan." Ucap Kakek Joko.


Mereka tidak tahu sekarang apa yang harus dilakukan untuk bisa membuat warga-warga dikampung itu kembali ke jalan kebenaran,karena apa yang dilihat oleh Aisyah dan kawan-kawannya tadi itu,sudah cukup membuktikan bahwa orang-orang di kampungnya kakek memang sudah terlena dengan tipu daya syaitan.


"Untuk bisa keluar dari kampung ini juga tidak mudah,berarti sambil menunggu pemujaan selanjutnya kita harus membuat rencana untuk mematahkan segala mantra." Ucap Aisyah pada teman-temannya.


"Maksud kamu?" Dara bertanya.


"Ya,kita harus bisa membuat pemujaan mereka itu kacau,bukankah masjid itu tidak pernah di pakai lagi?" Ucap Aisyah kemudian,yang membuat mereka semakin bingung.


"Apa yang ingin kamu lakukan disana?" Tanya si kakek.


"Sebenarnya hal seperti ini ayah aisyah pernah mengalaminya juga,cerita nya panjang jadi aisyah nggak mau ceritain capek." Jawaban Aisyah membuat Rudi dan yang lainnya kesal.


"Kalau nggak mau cerita ya nggak usah aja,jangan buat kita penasaran dengan omongan kamu yang udah setengah jalan itu." Tutur Andi.

__ADS_1


"Oke aku akan bilang,malam di saat mereka melakukan pemujaan kita akan melakukan pengajian di masjid itu,mulai besok kita akan pergi bertamu ke beberapa rumah dengan alasan untuk saling mengenal satu sama lain. Nah,dari situ kita akan mulai bicara tentang adanya Allah,kita harus bisa mengajak mereka kembali ke jalan yang benar,ya kalau nggak ada satupun yang bertindak maka sampai kapanpun kampung ini nggak bakalan berubah." Ucap Aisyah,dia sendiri sudah memiliki banyak rencana,dan hanya perlu di lakukan saja besok,tapi mereka juga harus berhati-hati.


*********


__ADS_2