Kampung Sihir

Kampung Sihir
Kembang Kantil


__ADS_3

Malam terasa begitu dingin,di pos ronda Asep dan Fandi duduk nongkrong sambil menikmati kopi hangat dan pisang goreng.



"Eh Fan,gue lihat-lihat ni ya,cucu Nek Ijah si Aisyah cantik juga tu anak." Ujar Asep sambil menyesap kopi hangatnya.



Fandi pun dengan agak malas meladeni omongannya Asep.



"Lo naksir sama Aisyah ya?" tebak Fandi.



"Dikit aja sih," jawab cowok itu malu-malu.



"Huh,nyadar diri lo Sep! Lo itu bukan tipenya Aisyah." Ucap Fandi meledek.



"Ya elah Fan,jadi teman enggak ada setia-setianya lo,mestinya lo itu ngedukung gue,ini malah ngejatuhin gimana sih?"



"Kan gue bicara kenyataan Sep."



"Ngomong-ngomong malam ini suasananya agak sedikit berbeda dengan semalam ya." Asep mulai menunjukkan wajah seramnya.



"Dingin," Fandi semakin mengeratkan kain sarung yang di pakai di badannya.



"Fan,coba lo lihat bukannya itu Mas Tino ya," Asep menunjuk ke arah Tino yang sedang mengendarai sepeda motornya dan melaju ke arah mereka.



"Iya,itu Mas Tino,tapi siapa wanita di belakangnya?" Fandi penasaran.



Dan begitu Tino lewat di depan pos ronda mereka barulah kedua cowok itu tahu siapa perempuan di belakang Tino.



"Duluan ya Sep,Fandi!" Ucap Tino saat lewat di depan mereka,lelaki itu menyunggingkan senyumnya.



Asep dan Fandi tidak menjawab,mereka juga tidak membalas senyumannya. Mereka kaku di tempat,nafas juga ikut tertahan,begitu sepeda motor yang di kendarai Tino tak terlihat lagi kedua cowok itu baru bisa bernafas lega.



"Fandi,ternyata yang di belakang Mas Tino tadi bukan wanita sembarangan." Ucap Asep dengan suara bergetar,dia masih merinding ketakutan.



"Iya,memang bukan wanita sembarangan," jawab Fandi lemah.



"Ngomong-ngomong kok gue nyium bau bunga kembang kantil ya." Asep mulai mencari-cari asal bau bunga tersebut.



"Iya,gue juga mencium baunya."



"Mungkinkah..." Fandi mulai menunjukkan wajah ketakutan.



"Jangan mikir yang bukan-bukan ah,ngeri tahu!"


Suasana mencekam,angin yang berhembus pelan seharusnya menjadikan malam terasa lebih sejuk,tapi ini malah membuat suasana terasa lebih menyeramkan.


"Hihihi..."



Suara tawa cekikikan terdengar jelas di telinga mereka.


"Setannnn...!!!


Tanpa pikir dua kali dan dengan gerakan cepat,Asep dan Fandi lari kocar kacir dari pos ronda,mereka berdua tidak sempat memakai sandalnya,saking takutnya.



\*\*\*\*



Hari ini matahari tampak di tutup awan hitam,langit terlihat mendung.



Aisyah dan Dara pergi dengan berjalan kaki menuju warungnya Bu Marni,mereka berjalan santai sambil sesekali bercanda di tengah jalan.



"Asik juga tinggal di sini Syah,udaranya masih bersih,dan kalau bangun tidur kita bisa melihat pemandangan yang begitu indah,semuanya serba hijau aku suka!" cicit Dara penuh kagum.



"Aku juga suka tinggal di sini Dar,meski suasana malam di sini agak sedikit angker gitu." ucap Aisyah.


__ADS_1


Saat sampai di depan rumah besar yang memiliki dua lantai,Dara merasa takjub melihatnya.



"Kenapa Dar?" tanya Aisyah begitu melihat tatapan kagum dari mata Dara.



"Kagum aja Syah ngelihat ada rumah bagus di sini."



Aisyah melihat rumah itu dengan tatapan aneh.



Ada perempuan berambut panjang yang terus memperhatikan mereka berdua,wanita itu berdiri di depan pintu rumahnya.



Sorot mata wanita itu sangat tajam.



"Kamu lagi mandangin apa,Syah?" Dara ikut heran melihat Aisyah yang terus memperhatikan rumah besar itu.



"Kira-kira itu rumah siapa ya?"



"Mana aku tahu,kan yang tinggal di sini kamu,masa sih kamu enggak tahu siapa pemilik rumah itu" ujar Dara.



"Kamu lihat enggak wanita yang berdiri di depan pintu tadi?" tanya Aisyah.



"Memangnya ada orang di rumah itu?" Dara bingung dengan pertanyaan Aisyah.



Wanita dari mananya coba? Dia aja enggak ngelihat siapa-siapa.



"Lupakan aja!" Pungkas Aisyah karena sekarang mereka sudah sampai di depan warungnya Bu Marni.



Begitu Aisyah dan Dara datang mulut ibu-ibu yang tadinya sibuk bergosip langsung diam.



Kedatangan Aisyah seperti menjadi obat pengusir setan buat mereka yang suka ngegosip.




"Seperti biasa Bu Marni." Jawabnya,sembari melirik ke arah Asep yang ternyata juga ada di sana.



"Wah,Aisyah belanja di sini juga!" ucap Asep sekedar basa-basi dia mulai melancarkan aksinya.



"Kan cuma warung Bu Marni yang paling lengkap." Jawabnya cuek.



"Ini temannya ya Aisyah? Cantik juga!" puji Asep,saat melihat Dara yang berdiri di belakang Aisyah.



"Kamu ya Sep,mata mu itu kalau udah ngelihat yang bening pasti nggak berkedip." Ujar salah satu pembeli.



"Kan Asep cuma nanya doang bu,siapa tahu bisa di jadiin gebetan," jawab Asep seenaknya.



Dara yang enggak suka dengan tingkah Asep langsung aja mengomentari. "Idih di jadiin gebetan,temanan aja gue males."



Jawaban Dara mendadak membuat ibu-ibu di sana dan pembeli yang lain pada katawa,mendapat respon yang tidak baik dari Dara membuat Asep malu sendiri,dia hanya bisa cengar-cengir enggak jelas disana sambil menahan malu.



"Haha... Makanya Sep jangan sembarangan bicara kamu,jadiin gebetan? Temanan aja dia ogah," tambah Bu Marni,yang saat itu sedang memasukkan barang belanjaan Aisyah ke dalam plastik.



"Dara,enggak boleh ngomong begitu,kamu sudah buat Asep malu." Tegur Aisyah.



"Biarin!" jawab Dara santai.



"Aisyah,teman kamu itu sombong banget ya." Ucap Asep.



"Dara memang begitu sama orang baru" jelas Aisyah.



Dara hanya mendengarkan saja omongan mereka,dia bersikap seolah tidak perduli.

__ADS_1



Setelah Aisyah membayar semua belanjaannya dia langsung pulang dengan Dara.



Asep menatap kepergian Aisyah dengan perasaan senang,dia sangat senang setiap kali Aisyah belanja di warung bibinya yang tak lain adalah Bu Marni.



Meski dia sendiri masih kurang yakin apakah dia memang menyukai Aisyah atau tidak.



Tapi setiap kali melihat Aisyah hatinya merasa adem.



Saat Aisyah sudah berada jauh dari pandangannya,Asep baru teringat akan sesuatu hal yang ingin dia sampaikan pada gadis itu.



"Ya elah gue pakek acara lupa segala lagi." Ucap Asep sembari menepuk jidatnya karena lupa.



"Aisyah tunggu!" Seru Asep,dia berlari mengejar Aisyah.



"Lah,itu anak main kabur gitu aja,Sep kamu mau kemana?"



Panggil Bu Marni. "Sebentar bi,ada yang mau aku sampaikan sama Aisyah," sahut Asep sambil berlalu pergi.


"Syah,Aisyah tunggu!"


"Berhenti dulu Syah,kayaknya Asep manggil kamu deh." Ucap Dara,mereka pun berhenti dan berbalik arah menghadap Asep,tampak dari jarak yang sudah sedikit jauh cowok itu berlari menghampiri mereka.



"Huh!" Asep berhenti tepat di depan Aisyah,nafasnya memburu karena berlari-lari ketika mengejar mereka berdua.



"Ada apa?" tanya Aisyah.



"Ada sesuatu yang mau aku sampaikan sama kamu," jawab Asep.



"Penting banget ya?" tanya Dara ikut nimbrung.



"Sedikit sih!"



"Ya udah cepat katakan! Kita juga lagi buru-buru ni" suruh Aisyah.



"Jangan di sini,duduk di sana aja yuk!" Asep kemudian mengajak mereka ngobrol di tempat yang nyaman,kebetulan di sana ada warung kopi yang belum buka.



Aisyah duduk di samping Dara,sedangkan Asep duduk di depan mereka berdua.



"Ayo katakan!" Desak Dara,gadis itu tidak sabaran.



"Aku cuma mau ngasih tahu sama kalian berdua,kalau ke masjid pulangnya jangan berdua aja ya,sebab semalam aku sama Fandi ngelihat ada kuntilanak." Ungkap Asep,dia menceritakan kepada Aisyah apa yang di alaminya sama Fandi semalam supaya kedua gadis itu bisa berhati-hati.



"Kuntilanak???" Dara dan Aisyah mengulang kembali ucapan Asep.



Mata mereka membulat sempurna,terkejut mendengar pengakuan Asep,ternyata cowok itu juga melihat apa yang di lihatnya dengan Dara.



"Iya kuntilanak," Asep membenarkan. "Apa kalian juga melihatnya?"



"Semalam kami di ganggu sama hantu berambut panjang itu," jawab Dara.



DEG!



Bikin Asep tambah ketakutan,Dara dan Aisyah juga melihat kuntilanak itu,berarti kuntilanak itu hanya menampakkan diri kepada orang-orang tertentu saja.



"Apa kalian mencium bau bunga kembang kantil sebelum hantu itu muncul?" tanya Asep lebih lanjut.



"Iya,kami juga mencium bau bunga itu,dan anehnya hantu itu bahkan mengikuti kami sampai ke rumah,entah apa maksudnya." Ujar Aisyah. "Kalian berdua melihat kuntilanak itu di mana?"



"Kami melihatnya saat sedang berjaga di pos ronda,dan saat itu Mas Tino lewat dengan membawa kuntilanak di belakang motornya.

__ADS_1


__ADS_2