Kampung Sihir

Kampung Sihir
Dendam


__ADS_3

Sangat sulit di taklukkan,Aisyah kewalahan. Yang sekarang di hadapi bukanlah lawannya. Siapa yang bisa membantunya di saat seperti ini?



Aisyah berharap semoga pak imam cepat datang.


Dara terus menendang-nendang kakinya,dia dapat merasakan cengkeraman kuat di betisnya.


"Kali ini kalian tidak akan selamat Hahaha..." suara makhluk itu menggema memenuhi kamarnya Aisyah.


"Tunjukkan wujud kamu kalau memang kamu berani!" tantang Aisyah dengan suara lantang.


Tiba-tiba dari dalam tembok muncul bentuk wajah manusia,membuat Aisyah ketakutan.


"Ya,teruslah seperti itu,semakin kamu takut maka semakin lemah keimanan kamu Aisyah hahaha..." suara tak berwujud itu terdengar lagi,dia menyebut nama Aisyah.


"Jangan ganggu aku! Aku tidak punya urusan sama kamu,pergi dari sini! Dan katakan kepada tuan mu,untuk berhenti meneror kami,sebelum dia kena imbasnya!"


BRAK!


Pintu kamar Aisyah terbuka lebar dan ternyata pak imam dan Fandi yang membuka pintu kamarnya.


"Minggir Aisyah! Biar saya yang hadapi iblis ini!" pak imam berdiri tegak dengan tasbih di tangannya.


Aisyah tersenyum senang melihat kedatangan pak imam,Dara merasakan cengkeraman di kakinya sedikit demi sedikit mulai mengendur,dan hilang tanpa bekas.


Aisyah membantu Dara untuk keluar dari kolong tempat tidur,mereka merasa heran karena begitu pak imam datang semuanya kembali normal,seolah tidak terjadi apa-apa.


"Dimana makhluk itu?" tanya pak imam.



"Dia menghilang begitu saja pak,kami juga heran kenapa begitu pak imam datang makhluk itu langsung pergi." Yang di jawab Dara.



"Mungkin karena dia takut sama abi" timpal Fandi.


"Tidak mungkin!" Aisyah menggelengkan kepalanya, "Aku rasa bukan karena takut,tapi dia memang menargetkan aku." Sambung Aisyah.


"Tidak cuma kamu Aisyah,warga kampung juga di teror," ucap pak imam.


"Lalu,apa pak imam juga di teror sama hantu itu?" tanya Aisyah menaikkan sebelah alisnya.



"Alhamdulillah beberapa hari ini hidup saya aman-aman saja." Jawab pak imam.


"Ini aneh,apa maksudnya coba? Kita dan warga yang lain terus di ganggu,tapi pak imam tidak" Dara mulai curiga.


"Kalau memang kalian sudah aman bapak sama Fandi pulang dulu,ya!" pamit pak imam,beliau menyadari kecurigaan Dara terhadap dirinya.



"Iya,terimakasih sebelumnya pak,karena sudah mau datang kesini malam-malam,padahal sudah jam sebelas," ucap Aisyah.



"Tapi apa tidak bermasalah kalau pak imam pulang larut malam begini?" tanya Dara menyelidik.

__ADS_1



Fandi mulai risih dengan cara pandang Dara,Fandi tidak bodoh,dia juga tahu kalau Dara mulai curiga kepada abinya.



"Tidak apa-apa nak Dara,kalian tidak usah khawatir malam ini kalian bisa tidur dengan nyaman,dia tidak akan mengganggu lagi,besok kalian berdua datanglah ke masjid dan kita akan mencari jalan keluar untuk masalah ini."



\*\*\*\*



Paginya seperti biasa setelah selesai sarapan,Aisyah dan Dara duduk santai di depan teras depan sambil menikmati secangkir teh hangat,dan pisang goreng. "Semalam rasanya seperti mimpi Syah," ucap Dara parau.



"Kamu curiga sama pak imam?" tanya Aisyah.



"Aneh saja Syah,kenapa kita sama warga yang lain di ganggu,tapi pak imam tidak,dan begitu beliau datang makhluk itu langsung hilang." Dara mulai berpikir.



"Jangan suudzan dulu Dar,kita belum tahu penyebab teror ini"



"Kalau menurut aku pak imam menyembunyikan sesuatu dari kita," tambah Dara.




"Kamu tidak lupa kan,kalau hari ini pak imam menyuruh kita untuk datang ke masjid?"



"Aku ingat kok,tapi ngapain sih? Kita juga tidak akan mendapat apa-apa selain lelah."


"Jawaban kamu gitu banget Dar," ucap Aisyah seraya mengambil cangkir yang sudah kosong dan membawanya ke dapur.


Aisyah merasa ada yang aneh dengan keadaan di dapur,tadi sebelum keluar semua piring kotor sudah di cuci sama Dara,tapi kok sekarang malah kotor lagi.


"Dara!"



Aisyah memanggil Dara yang masih berada di luar.



"Dara! Buruan ke sini!" panggil Aisyah lagi.



"Sebentar!" sahut Dara.

__ADS_1



"Ada apa sih Syah?" tanya Dara begitu dia sampai di dapur.



"Coba lihat semua piring ini! Bukankah tadi kamu sudah mencuci semuanya?"



Dara terpaku menatap semua piring yang sudah di cucinya tadi,dia juga tak kalah terkejutnya sama seperti Aisyah,seharusnya tidak ada lagi di tempat cuci piring,tapi kenyataan yang sekarang mereka lihat piring itu sudah kembali ke tempat pencucian.



Ini tidak bisa di pungkiri lagi,pasti ulah makhluk semalam.



"Jangan terlalu di pikirkan Syah,mending kita tinggalin aja piring-piring ini,kita keluar yuk cari udara segar,keliling kampung gitu." Ajak Dara.



Dia tidak ingin ambil pusing dengan teror-teror seperti itu. Menurut Dara semakin mereka peduli dengan teror tersebut,maka semakin sering pula mereka di teror. Jadi Dara menyuruh Aisyah untuk berhenti memperdulikannya,apa yang terjadi,terjadilah.



"Kamu ada benarnya juga Dar,mending kita keluar dari pada di sini terus di ganggu sama makhluk tak kasat mata." Aisyah setuju dengan rencana Dara.



Sebelum pergi Aisyah mengganti jelbabnya dulu,dan dia juga tidak lupa membawa ponselnya.



"Ayo kita pergi!" ajak Dara.



"Ayo!" Aisyah menutup pintu dan tidak lupa menguncinya.


"Kita mau kemana?" di tengah perjalan Aisyah bertanya.


Dara menghentikan langkahnya,membuat Aisyah juga ikut berhenti. "Aku ingin ke sana!" Dara menunjuk ke sebuah jalan berbelok yang berada tidak jauh dari depan mereka.



"Ngapain ke sana?" Aisyah menautkan alisnya.



"Penasaran aja Syah,bagaimana suasana di kampung sebelah,apa sama seperti kita atau enggak!"



"Jangan kesana Dar,ke tempat lain aja ya!" tolak Dara.



Aisyah merasakan aura yang berbeda dari biasanya begitu melihat pamplet yang di pasang di depan lorong yang bertuliskan 'Kampung Melati'.

__ADS_1



\*\*\*\*\*\*


__ADS_2