
"Bi,apa ada sesuatu yang tidak Aisyah ketahui,yang sengaja nenek rahasiakan dari,aku?" tanya Aisyah.
Ingin sekali Hanum menceritakan semuanya kepada Aisyah,tapi ibu melarangnya.
"Katakan saja bi,Aisyah akan tutup mulut! Aisyah janji kalau nenek tidak akan tahu soal ini." Bujuk Aisyah.
Hanum masih tampak ragu-ragu,memang sudah saatnya Aisyah mengetahui rahasia keluarganya itu,tapi bagaimana dengan ibu? Apa jadinya kalau sampai ibu tahu bahwa dia sudah mengatakan semuanya pada Aisyah.
"Syah,bibi harap kamu tidak bertanya apa-apa sama nenek nanti setelah pulang dari rumah bibi. Sebenarnya nenek mau masalah ini di rahasiakan dari kamu,tapi menurut bibi kamu juga sudah sepatutnya mengetahui hal ini,kamu juga sudah dewasa."
"Memang masalahnya apa sih bi? sehingga harus main rahasia-rahasiaan segala?"
"Kamu kenal sama Pak Jaki kan?"
Aisyah berpikir sejenak,nama itu tidak asing di telinganya.
"Kamu sudah lupa,ya?" tanya Hanum,saat melihat Aisyah yang diam sambil menopang dagu menggunakan tangannya.
"Ah ya... Aisyah ingat sekarang!" seru Aisyah. "Pak Jaki itu kan sudah lama meninggal,bi" lanjutnya kemudian.
"Dia yang sudah membuat keluarga kita seperti ini,Syah. Paman mu sakit-sakitan juga di karenakan dia,begitu juga dengan nenek." Ungkap Hanum.
Aisyah tidak perlu bertanya lebih lanjut,karena dia sudah tahu kemana arah pembicaraan Hanum,berarti semua keluarganya terkena sihir. Dan itu semua adalah perbuatannya Pak Jaki.
"Sudah ada yang meneruskannya Aisyah,anak dan cucu-cucunya Pak Jaki termasuk menantunya,mereka semua mau melanjutkan apa yang sudah di lakukan Pak Jaki semasa hidupnya.
"Dia membuat perjanjian dengan iblis." Ucap Aisyah.
"Kamu tahu?"
"Aku mendengarnya." Jawab Aisyah datar
"Aku bersumpah,akan membasmi seluruh keluarga mu Ijah hingga tujuh turunan." Ucap Aisyah,menirukan gaya bicaranya Pak Jaki.
Hampir saja jantung Hanum melompat keluar. Perasaannya di selimuti rasa takut dan khawatir,bagaimana bisa Aisyah mengetahui kata-kata seperti itu?
__ADS_1
Hanum mengusap dadanya,mencoba mengatur nafasnya yang memburu,detak jantungnya juga tidak normal.
"Kamu mendengar kata-kata itu dari siapa,Syah?" tanya Hanum.
"Saat Bi Hanum menceritakan tentang Pak Jaki tadi,sebuah bayangan terlintas di mataku seperti memori jaman dulu,aku juga mendengar suara Pak Jaki yang mengatakan hal seperti itu."
Ungkap Aisyah.
"Apa kamu mewarisi ilmu seperti kakek mu?" tanya Hanum.
"Entahlah bi." Aisyah menggeleng,dia sendiri juga tidak yakin.
"Aisyah,selama di sini kamu harus hati-hati dengan warga di sekitar sini,meski mereka terlihat baik tapi sebenarnya mereka juga memiliki ilmu sihir,jangan bicara dengan sembarang orang!" Hanum mengingatkan.
"Aisyah tahu,hanya saja Aisyah heran kenapa Pak Jaki bisa segitu dendamnya sama keluarga kita?"
"Dulu,kakek kamu dan Pak Jaki berteman akrab,tapi semenjak kakek di kenal banyak orang di kampung ini karena pengobatannya yang hebat,dari situlah Pak Jaki mulai tidak suka,dia tidak suka ada yang menjadi saingannya. Pak Jaki kemudian menemui kakek dan menyuruh kakek untuk menutup balai pengobatan,tapi kakek tidak mau. Kakek bilang dia ingin membantu orang-orang miskin,karena saat itu banyak orang yang tidak punya uang datang berobat sama kakek. Pak Jaki semakin marah karena balai pengobatannya sepi,sedangkan di tempat kakek sangat ramai,karena hal itu lah,akhirnya Pak Jaki mengirim santet."
"Lalu apa cara itu berhasil?"
"Tentu saja tidak,tapi Pak Jaki tidak menyerah,dia kemudian datang ke rumah dengan berpura-pura minta maaf dan membawa makanan dari rumahnya,dia mengajak nenek dan kakek untuk makan bersama,alhasil dua hari kemudian kakek muntah darah dan tak lama setelah itu beliau meninggal dunia." Pungkas Hanum.
"Apa sekarang nenek masih sering sakit-sakitan?" tanya Aisyah.
Yang di katakan Hanum memang benar,Nek Ijah tidak lagi mengeluh sakit setelah Aisyah tinggal di rumahnya.
"Memangnya nenek sudah berobat di mana aja,bi?" tanya Aisyah,semakin penasarannya aja dia dengan cerita keluarga neneknya.
"Semua jenis pengobatan sudah kita coba,Syah. Tapi ya gitu,enggak ada perubahan sama sekali. Kalau di bawa ke rumah sakit,dokternya bilang ibu menderita rematik,pas di bawa ke orang pintar ya katanya kena sihir,dan itu adalah kiriman dari pihaknya Pak Jaki."
"Bi,kenapa kalian tidak mencoba pengobatan secara islami aja,ya seperti ruqyah,kalau memang nenek sama bibi berkenan nanti Aisyah akan menelpon Ustadz Yusuf dan mengajak beliau untuk datang ke sini!" ujar Aisyah meminta persetujuan dari bibinya.
"Kalau menyangkut hal itu,nanti kamu tanya sendiri ya sama nenek,soalnya bibi tidak berani."
\*\*\*\*
Pulang dari rumah Hanum,Aisyah langsung menemui neneknya di belakang yang saat itu sedang menyiram sayur-sayuran yang tumbuh subur di belakang rumah.
Nek Ijah memang memiliki lahan yang cukup luas di belakang rumahnya,jadi sebagiannya beliau gunakan untuk bercocok tanam,ada beberapa jenis sayuran yang di tanamnya. Mulai dari singkong,kangkung,bayam dan tomat.
__ADS_1
"Em,kayaknya kalau siang ini bikin tumis kangkung,enak juga ya,nek?" ujar Aisyah sekedar basa basi.
"Wah bikin nenek kaget aja kamu nak,kalau kamu suka ya petik aja!" suruh Nek Ijah.
"Nek,kalau Aisyah tanya sesuatu nenek janji jangan marah,ya." Aisyah menatap neneknya dengan cukup serius.
"Kenapa nenek harus marah? Emangnya apa yang ingin kamu tanyakan?" Nek Ijah menyudahi kegiatannya,beliau melangkah menuju gazebo yang sengaja di buat untuk melepas lelah jika sudah selesai bercocok tanam.
Aisyah mengikuti langkah neneknya. "Ayo bicara! Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Tentang penyakit nenek dan...
"Sudah aku duga,Hanum pasti sudah menceritakan semuanya sama kamu,kan?" Nek Ijah menatap tajam cucunya.
Melihat tatapan neneknya yang setajam silet itu,membuat Aisyah sedikit takut. "Nek,Aisyah juga harus tahu masalah ini,tidak perlu menutup-nutupinya dari Aisyah,nek. Nenek bilang nenek ingin Aisyah tinggal bersama nenek kan? Berarti nenek juga harus mendengarkan apa kata Aisyah." Tutur Aisyah.
"Memangnya apa yang bisa nenek dengarkan dari anak kecil seperti kamu?" tanya Nek Ijah,nada bicaranya seperti meremehkan Aisyah.
"Nenek mau tidak berobat sama Ustadz Yusuf?"
"Siapa itu Ustadz Yusuf?"
"Ustadz itu lah yang sudah membantu mengobati penyakit bunda." Jawab Aisyah.
"Nenek juga sudah berobat kesana kemari,tapi hasilnya nihil enggak ada perubahan. Tapi,semenjak kamu di sini nenek sudah tidak merasakan sakit itu lagi,ini yang membuat nenek bingung."
Aisyah sebenarnya juga penasaran,kenapa bisa jadi seperti itu. Apa mungkin hantu-hantu itu takut sama dia? Ah,masa iya sih?
"Dari pada menebak-nebak enggak jelas gini,mending kita undang saja Ustadz Yusuf datang ke sini. Kebetulan juga dua hari lagi bunda sama ayah pulang dari Singapore. Jadi mereka bisa mengajak Ustadz Yusuf sekalian kesini." Akhirnya Aisyah mendapat ide yang bagus juga.
Nek Ijah langsung setuju sama usulan cucunya.
__ADS_1
........