
"Aisyah...
"Aisyah...
Panggil Dara sambil menepuk-nepuk pelan pipinya. Aisyah membuka matanya perlahan,pandangannya masih belum terlalu jelas.
Aisyah mengerjabkan matanya beberapa kali,berharap yang tadi itu cuma mimpi "Apa aku masih bermimpi?" tanya Aisyah masih seperti orang linglung.
"Kamu ngapain tidur di sini?"
"Sudah jam berapa?" Aisyah mengabaikan pertanyaan Dara. "Nggak sopan! Jawab dulu pertanyaan aku!" suruh Dara kesal.
"Aku bukan sengaja tidur di sini,tadi aku pingsan." Jawab Aisyah.
"Pingsan?" Dara tidak mengerti.
Aisyah langsung menceritakan apa yang di alaminya tengah malam tadi.
"Owh jadi begitu ceritanya,beruntung bukan aku yang di gangguin," ucap Dara seraya mengelus dadanya dengan perasaan lega.
"Karena kamu sudah bangun,ayo kita ambil wudhu dulu,setelah itu kita shalat berjamaah sama nenek,Nanti kita lanjutin lagi ceritanya" ajak Dara,Aisyah langsung bangun dan bergegas ke kamar mandi.
\*\*\*\*
Siang harinya Aisyah,Dara,Asep,Fandi dan juga pak imam memutuskan untuk berkunjung ke rumah Tino,alasan mereka adalah untuk menyambung silaturahmi,Tino tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya begitu melihat kedatangan mereka.
Dia merasa aneh,kedatangan pak imam dan teman-temannya Aisyah terlalu aneh saat di pikir-pikir,karena Tino juga tidak terlalu akrab sama mereka. Tapi,boleh juga sih untuk di jadikan teman ngobrol,pikir Tino.
"Silahkan duduk dulu pak imam!" suruh Tino.
"Makasih Tino." Ucap pak imam.
"Kalian tunggu di sini dulu ya,saya buatin minum dulu!" ucap Tino,sebelum pergi ke dapur.
"Em,nggak perlu repot-repot Mas Tino!" ujar Aisyah.
"Enggak apa-apa,enggak ngerepotin kok," jawab Tino,dia bergegas ke dapur.
"Sepi ya bi,ngomong-ngomong istrinya kemana ya?" Fandi mulai curiga.
Begitu pula dengan Asep,cowok itu juga semakin yakin kalau Maya sudah di bunuh sama Tino. Apalagi mereka sempat melihat kalau Mas Tino membawa kembang kantil,bisa jadi bunga itu di gunakan untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.
"Sssttt..." Dara menempelkan telunjuk di bibirnya,memberi isyarat untuk Fandi supaya tidak bicara keras-keras.
"Dari pada penasaran mending kita tanya langsung sama Mas Tino." Usul Asep.
"Ya,aku setuju!" ucap Aisyah.
__ADS_1
"Kita tunggu waktu yang tepat dulu,kita enggak boleh bertindak gegabah,nanti semua rencana kita bakal kacau." Jelas pak imam.
Mereka kembali diam,karena saat itu Tino sudah kembali dengan membawa minuman untuk mereka.
"Di minum dulu!" ucap Tino,seraya meletakkan tiga toples kue di atas meja di tengah-tengah mereka.
"Wih,segar ni!" ujar Asep,tanpa malu-malu dia langsung meneguk sirup dingin yang di suguhkan Tino.
"Malu-maluin aja si Asep," bisik Dara di telinga Aisyah.
"Jujur saja pak,tadi saya sangat terkejut saat melihat pak imam dan yang lainnya tiba-tiba datang kesini,saya pikir saya melakukan kesalahan." Tutur Tino mengeluarkan sesuatu yang tadi sempat di pikirkannya.
"Ya,kita juga minta maaf sudah membuat nak Tino jadi berpikir yang bukan-bukan,kedatangan kita kesini cuma untuk menyambung silaturahmi saja,dan kebetulan juga nak Tino akhir-akhir ini saya lihat sudah jarang shalat berjamaah di masjid,saya pikir ada sesuatu yang terjadi sama nak Tino,makanya saya kesini." Pak imam menjelaskan,dan untungnya Tino percaya.
Wajah Tino berubah tegang,sepertinya memang benar kalau lelaki itu menyembunyikan sesuatu dari mereka. Pasti ada rahasia besar di balik ini semua.
Dan tak lama setelah itu,terciumlah wangi kembang kantil,lagi-lagi kembang kantil menjadikan mereka berprasangka buruk terhadap Tino.
"Kenapa ada wangi bunga kembang kantil di sini?" tanya pak imam.
"Iya,padahal pohonnya enggak ada disini lho!" tambah Asep,dia sengaja menyudutkan Tino.
Mereka mulai memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk di jawabnya.
Tino bahkan tidak tahu alasan apa yang akan di berikannya,supaya mereka juga percaya.
"Itu bau bunga kantil yang sering saya petik di kebun,istri saya sangat menyukai wangi bunga itu,makanya saya sering memetiknya di kebun." Kata Tino,memberi alasan.
Aisyah melirik ke arah Fandi,dia menyipitkan matanya dengan maksud mengatakan ketidakpercayaan hatinya terhadap omongan Tino.
Pak imam belum memberikan respon apapun dari jawaban Tino tadi.
"Istri kamu di mana Tino? Saya ingin bertemu dengan dia,sudah lama rasanya tidak melihatnya datang ke pengajian,sudah sebulan lebih kalau enggak salah," ujar pak imam.
Wajah Tino semakin pucat saja,sekarang pak imam yang ingin bertemu dengan Maya,dia tidak bisa membuat alasan lagi.
"Apa yang harus aku jawab,mengalihkan pembicaraan pasti akan membuat mereka curiga,apalagi kalau aku bilang Maya sedang pergi ke rumah orang tuanya itu jelas tidak mungkin,sebab semua orang di sini tahu,kalau Maya hidup sebatang kara. Akh... Benar-benar membuat aku pusing." Geram Tino dalam hatinya.
"Kenapa diam aja Mas Tino,Mbak Maya kemana?" Dara bertanya,dan pertanyaannya semakin membuat Tino gelisah.
"Kalian berdua baik-baik saja kan?" pak imam memastikan.
__ADS_1
"Hubungan kami baik-baik saja pak," jawab Tino seraya mengangguk.
Suasana semakin terasa panas,mereka terus menerka-nerka bahwa telah terjadi sesuatu sama Maya.
Tino juga tidak kunjung menjawab pertanyaan pak imam tentang di mana keberadaan istrinya sekarang.
"Tino!"
"Tino!" panggil pak imam dengan suara sedikit keras,karena lelaki itu sudah beberapa kali termenung,entah apa yang di pikirkannya.
"Iya pak,ada apa?" dia bertanya seperti orang linglung.
"Istri kamu di mana sekarang,saya ingin bertemu dengan dia."
"Di-dia... Istri saya,di-dia...
"Mas Tino kalau bicara yang jelas dong!" potong Asep gusar.
"Kenapa Mas Tino sangat sulit untuk mengatakan di mana Mbak Maya,apa benar istrinya itu sudah meninggal?" batin Aisyah.
Mereka masih menunggu jawaban dari Tino,dan saat Tino hendak menjawab pertanyaan mereka,tiba-tiba dari kamar yang berada di lantai dua terdengar teriakan seorang perempuan.
"Aaaaa...."
"Tidak... Tidak.."
Dengan refleks mereka semua menatap Tino dengan pandangan tajam dan menusuk,meminta penjelasan dari lelaki itu apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Itu kan suara Maya,apa yang terjadi sama dia?" pak imam mulai curiga,dan beliau meminta Tino untuk menjelaskan semuanya.
"Apa yang sudah kamu lakukan sama Maya!" tanya pak imam dengan suara keras.
"Sa-saya mengurungnya di kamar pak." Tino menjawab jujur. Dia sedang tidak beralasan,apa yang di katakannya saat ini memang benar.
"Bohong!" Dara tidak percaya dengan jawabannya.
"Mas Tino pasti sudah membunuh Mbak Maya,dan yang sekarang bersama Mas Tino adalah iblis." Timpal Asep,dia juga sama seperti Dara,tidak percaya dengan omongannya Tino.
"Kenapa kalian menuduh saya yang bukan-bukan? Mana mungkin saya membunuh istri saya sendiri,kalian pikir saya gila apa?" Tino marah,tuduhan Asep membuatnya emosi.
Suasana semakin menegangkan,pak imam kemudian angkat bicara,beliau berusaha membuat suasana kembali tenang,beliau memberi Tino kesempatan untuk memberi penjelasan tentang semua keanehan yang terjadi.
__ADS_1
\*\*\*\*