
Dara berusaha melepaskan tangannya,dan dia segera menutup jendela dengan rapat.
Angin berhenti,detik-detik menegangkan masih juga belum berlalu. Kini pintu kamar mereka di gedor-gedor dari luar.
"Siapa itu?" Dara bertanya dengan suara keras.
Tak ada sahutan,tapi masih di gedor-gedor.
Menyeramkan,mendadak tubuh Aisyah lemas,dan dia langsung pingsan.
Dara yang hanya sendirian menjadi panik,apalagi tubuh Aisyah begitu dingin,wajahnya juga pucat.
"Ya Allah,apalagi ini?"
Dara hanya bisa berdoa semoga keadaan kembali tenang.
\*\*\*\*
Aisyah membuka matanya dengan tatapan bingung,dia baru sadar lagi saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 07:30. "Sudah pagi Syah,dari semalam aku ngejagain kamu,benar-benar melelahkan." Keluh Dara.
"Perut aku sakit banget Dara." Ucap Aisyah sambil memegangi perutnya yang terasa melilit.
"Obat kamu masih ada enggak?" tanya Dara penuh perhatian.
"Sudah habis kayaknya." Jawab Aisyah lemah.
"Nih,dimakan dulu!" Dara menyodorkan nasi goreng yang di buatnya.
"Aku ke kamar mandi dulu ya!" Aisyah beringsut bangun dan pergi ke kamar mandi.
Saat membuka keran hendak mencuci mukanya di wastafel,mendadak Aisyah melihat darah mengalir keluar dari dalam keran air.
"Astaghfirullah!" dia terkejut.
Aisyah mengerjabkan matanya beberapa kali,masih sama. Beneran darah,namun saat dia hendak mematikan keran tersebut,air itu menjadi putih kembali.
"Ah,mungkin hanya halusinasi aja." Aisyah menenangkan perasaannya.
\*\*\*\*
"Abi ingin hubungan kamu dan Aisyah menjadi lebih jelas Fandi,bila perlu abi sekalian ke kota untuk datang kerumah orang tuanya,melamar dia untuk kamu." Tutur pak imam. Ustadzah Maira langsung menyetujuinya.
Fandi yang duduk di samping uminya terlihat ragu-ragu,sepertinya dia belum siap.
"Jangan dulu deh bi,Fandi belum siap." Ucap Fandi. Mereka sekeluarga sibuk memikirkan masalah perjodohan anaknya,tidak sadar bahwa bahaya besar sedang mengincar mereka.
Tidak,bukan mereka. Tapi Aisyah,sasarannya saat ini adalah Aisyah,Dewi sedang menyuruh ustadz Reza untuk mengganggu gadis itu dengan mengirim jin pengganggu.
__ADS_1
Hari-hari Aisyah akan menjadi tidak tenang. Dan tentu saja hal ini akan membuat Dewi sangat bahagia.
\*\*\*
Sore hari saat Aisyah sedang menyapu di halaman depan,ada seorang nenek yang datang dan membawa satu kantong jeruk segar.
Nenek itu membuka pintu pagar rumah Aisyah,yang kebetulan tidak di kunci. "Permisi cu." Ucap si nenek dengan sopannya.
Aisyah langsung meresponnya,menatap sang nenek dari atas sampe bawah. Dia tidak sedikit pun menaruh rasa curiga.
"Ya,ada apa nek?"
"Nenek mau ke kampung kemuning,tapi katanya masih jauh. Boleh enggak kalau nenek istirahat disini?" tanya nenek itu.
Kini Aisyah mulai merasa aneh, "Kenapa tiba-tiba ada nenek-nenek datang kerumah aku,dan minta istirahat juga. Duh,gimana ya? Aku jawab apa sama nenek ini?" Aisyah kebingungan.
"Mana Dara sudah pergi sama bibi lagi." Batin Aisyah.
"Boleh,ya?" nenek itu meminta persetujuan dari Aisyah sebagai pemilik rumah.
Sejenak terdiam,Aisyah masih berpikir antara ya dan tidak. Tapi,karena dia terlalu baik hati,akhirnya memberikan izin untuk nenek itu istirahat di rumahnya.
Aisyah mempersilahkan nenek itu untuk duduk di atas kursi yang ada di teras.
Melihat si nenek yang sudah bermandikan keringat,membuat Aisyah merasa kasihan. Dia segera masuk ke dalam dan mengambilkan air beserta makanan buat si nenek.
"Nenek pasti lapar banget kan,ni Aisyah bawain nasi sama air. Di makan dulu nek!" Aisyah meletakkan sepiring nasi untuk nenek itu.
Aisyah memperhatikan cara nenek itu makan,sepertinya si nenek sangat lapar.
"Makannya sangat lahap nek,pasti lapar ya?"
"Iya,nak. Nenek sudah dua hari tidak makan," ucap nenek itu,kemudian beliau mulai menceritakan bagaimana dia bisa sampai di kampung Aisyah.
Mendengar cerita nenek itu,Aisyah jadi semakin penasaran. "Jadi nenek ini sebenarnya tinggal di mana?"
"Ya,nenek tinggal di kota dulunya" jawab nenek itu.
Aisyah terdiam. Dia menjadi curiga sama si nenek,masa iya nenek ini tinggal di kota?
"Malam ini nenek boleh enggak nginap di sini?" tanya nenek itu. Aisyah diam lagi,dia berpikir apa yang harus di jawabnya. Melihat keadaan si nenek membuat dia kasihan,tapi dia sendiri juga tidak berani menerima tamu sembarangan.
"Kalau tidak bisa,ya tidak apa-apa nak. Nenek bisa melanjutkan perjalanan lagi menuju kampung kemuning," si nenek terlihat sedih.
"Ya udah deh,malam ini nenek tidur disini aja,kebetulan aku juga cuma berdua sama temanku." Ungkap Aisyah.
Dia kemudian masuk kembali kedalam untuk meletakkan piring kotor bekas si nenek.
__ADS_1
Setelah kepergian Aisyah,nenek itu tersenyum aneh. Tidak salah lagi,memang ada sesuatu yang di rencanakannya.
Jangan-jangan nenek itu? 😱
Tidak mungkin,tidak mungkin dia orang yang disuruh oleh ustadz Reza.
Hanya berselang beberapa menit saja Aisyah kembali lagi,dan dia di buat kaget dengan kehadiran Dewi,gadis licik itu sedang berdiri di depan sawah yang ada di depan rumahnya (Aisyah) dan kebetulan juga matanya terus memandangi Aisyah dan nenek,apa maksudnya coba?
"Siapa yang gadis itu lihat? Apa dia teman kamu?" nenek itu bertanya.
"Tidak! Saya tidak mengenalnya,nek" Aisyah berbohong.
Nenek itu masih belum memalingkan tatapannya dari Dewi. Aisyah mengajak si nenek untuk masuk,dan membiarkan saja Dewi menatapnya dengan aneh.
\*\*\*
Dara baru pulang setelah shalat maghrib,dia kaget melihat ada seorang nenek-nenek di rumah. Awalnya Dara pikir itu adalah nenek Aisyah yang baru balik dari kota,ternyata bukan.
"Dara,kamu sudah pulang? Em,bibi di mana?" tanya Aisyah,saat tidak melihat Hanum ada di sana.
"Bi Hanum kan pulang ke rumahnya sendiri Syah,bibi cuma nganterin aku doang." Jawab Dara,tapi mata Dara masih tidak luput memandang nenek misterius yang sedang rebahan di atas sofa yang ada di ruang tengah.
Dara menarik Aisyah untuk menjauh dari sana,dia membisikkan sesuatu. "Siapa itu?"
"Itu Nek Lastri,beliau dari kota. Katanya sih mau cari anaknya di desa Kemuning." Jawab Aisyah,sama persis seperti yang di dengarnya dari nenek.
"Terus,kamu percaya gitu aja omongan nenek itu?" Dara tidak bisa tidak menaruh curiga terhadap nek Lastri,apalagi beliau sama sekali tidak mereka kenali,yang tiba-tiba aja datang dan minta nginap di rumah.
"Jangan berprasangka buruk dulu deh,enggak baik Dar,kita lihat aja nanti kedepannya. Nenek itu cuma nginap dua hari doang disini." Aisyah menjelaskan,supaya Dara tidak berpikir macam-macam.
Tok...
Tok...
Tok...
__ADS_1
"Sepertinya ada tamu." Ucap Aisyah.
Mereka berdua segera pergi untuk melihatnya,namun ternyata pintu sudah lebih dulu di buka sama nek Lastri. Wajah nenek terlihat begitu serius,menatap kedua remaja di depannya dengan pandangan menakutkan,lalu berkata "Kalian sedang dalam bahaya besar."