Kampung Sihir

Kampung Sihir
Bayang


__ADS_3

"Kamu tidak perlu khawatir Loli,dia tidak akan berani meminta ganti rugi," ucap Reza tajam.


"Kenapa mas bisa seyakin itu?" tanya Loli heran.


"Dewi,gadis itu sudah menjadi murid ku,jadi apapun yang aku suruh dia tidak bisa membantahnya,meskipun aku sudah gagal melakukan apa yang dia suruh,dia juga tidak akan berani meminta ganti rugi," jelas Reza.


"Malam ini persiapkan segala keperluan yang kita butuhkan untuk pemujaan besok malam,meski sudah gagal mencelakai Aisyah,tapi aku tidak akan berhenti disini. Malam ini aku akan terus mengganggunya,membuat dia tidak nyaman." Reza tersenyum jahat,matanya berkilat terkena cahaya lampu,menampakkan betapa menakutkannya ekspresi lelaki itu.


Dia kembali masuk dalam ruang pemujaan,kini ide baru mulai muncul di otaknya.


\*\*\*\*



Aisyah menyiapkan makan malam untuk nek Lastri,dia dan Dara tampak sangat kompak. Tak ada lagi kecurigaan terhadap nenek itu.



Di meja makan mereka bahkan bercerita banyak mengenai masalah Reza,lelaki yang menyamar menjadi ustadz di kampung mereka.


"Mati...."


"Mati..."


Aisyah menghentikan makannya,menatap Dara dan nenek yang masih makan dengan lahapnya.


"Kelihatannya mereka tidak mendengar suara tadi," Aisyah membatin.


"Kau... Akan MATI!!!" Begitu melengking,membuat Aisyah reflek melempar garpu kesamping. Garpu itupun jatuh ke lantai membuat nek Lastri dan Dara terkejut.


"Ada apa Syah,kok kamu banting garpu begitu?" Dara heran.


"Owh,tadi ada nyamuk gigit aku,membuat garpu itu enggak sengaja kebanting." Ucap Aisyah beralasan.


Nek Lastri tidak merespon sama sekali,tapi jelas terlihat kalau wanita tua itu kurang percaya sama kata-kata Aisyah.


"Mereka tidak bisa melihat aku,tidak akan bisa mendengar suara ku,hanya kamu... hanya kamu yang bisa mendengarnya" lagi-lagi Aisyah dibuat gemetar dengan suara menakutkan itu.


Bisikan demi bisikan terus terdengar di telinganya.



"Kau takut kan?" suara tanpa wujud itu bertanya.



"Pergi dari sini!" Aisyah berucap dalam hati.



Saat keadaan tubuhnya sedang tidak suci,dia memang sangat mudah diganggu makhluk halus itu,dan hal ini menjadi keuntungan bagi Reza,kalau mengadukan apa yang sedang terjadi kepadanya sekarang sama nek Lastri dan Dara,hal itu jelas tidak mungkin. Sebab,hanya dia yang bisa mendengarnya sendiri,iblis itu memang ingin mengganggunya.



Setelah selesai makan,Dara pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu,dan shalat isya bersama si nenek.



Aisyah di tinggalkan seorang diri. Sepeninggal mereka gorden jendela dapur berhembus kencang di tiup angin,jendela terbuka sedikit,menampakkan suasana malam yang begitu mengerikan di luar.



Di sana,di belakang rumah tampak sesosok kuntilanak sedang berdiri mematung menatap Aisyah yang saat itu sudah berdiri di depan jendela hendak menutupnya.



Makhluk itu melayang,kakinya tidak menyentuh tanah,wajah makhluk itu sangat pucat,dia menatap Aisyah dengan dingin.



"Yura!" desis Aisyah,tangannya bergetar dan kakinya juga kaku.



Sosok itu kembali terbang,dia menghilang.

__ADS_1


"Apa aku tidak salah lihat?" monolog Aisyah,setelah menutup jendela kembali,dia meletakkan kedua tangan di dada,berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Hayo,ngapain kamu disini?" pertanyaan Dara mengejutkan Aisyah.


Sambil menoleh kebelakang dia bertanya sama Dara, "Apa kamu merasakan ada yang aneh malam ini?"



"Engga ada,aku mah malah ngeliat kelakuan kamu yang aneh," Jawabnya jujur.



"Ya udah Syah,aku ke kamar dulu ya. Ingat loh,jangan duduk sendiri,kamu kan lagi dalam keadaan tidak aman. Bagaimana kalau makhluk itu kembali lagi." Dara berlalu pergi sambil tersenyum,dia menakut-nakuti Aisyah.



Bayang wajah Yura terus muncul di benaknya,membuat dia sangat terganggu.



"Tolong aku!" suara rintihan terdengar di dalam kulkas.



Kulkas terletak tepat di samping Aisyah. Gadis itu tidak memperdulikannya,dia cuek aja karena tahu bahwa itu adalah suara makhluk yang sedang mengganggunya.



Aisyah pergi dari dapur,berniat masuk ke kamar dan tidur. Namun tiba-tiba ujung jelbabnya di tarik begitu kuat,hampir saja lepas dari kepalanya.



"Astaghfirullah... Ada apa ini? Tolong jangan ganggu aku! Jangan bermain-main seperti ini,kalau memang berani keluar dan tampakkan wujud kamu!" Aisyah mulai kesal karena di ganggu terus.



"Hihihi..." makhluk itu tertawa cekikikan,suasana kembali tenang. Tenang tapi membuat merinding,di luar juga terdengar suara anjing melolong. Dan lagi-lagi angin berhembus kencang,mungkin kali ini memang benar-benar angin,bukan karena gangguan makhluk halus itu.



"Kamu belum tidur,nak?" nenek itu bertanya tanpa menoleh ke arah Aisyah,tampak nek Lastri sedang memegang Al-Qur'an di tangannya.


"Maaf nek kalau Aisyah mengganggu." Ucap Aisyah sopan.



"Ada sesuatu yang ingin aku katakan sama nenek." Sambungnya lagi,sambil beralih mengambil posisi duduk di samping wanita tua itu.



"Tentang apa? Katakanlah!" suruh nenek. Seraya bangun dan meletakkan Al-Qur'an di atas rak.



"Aku terus mendengar suara-suara...



"Mati..." nenek langsung menyambung omongan Aisyah.



"Nenek tahu?"



"Nenek juga mendengarnya,kamu jangan takut terhadap suara tanpa wujud itu Aisyah,makhluk itu kiriman Reza,tujuannya memang untuk mengganggu kamu,"



"Aisyah tahu nek,tapi yang membuat aku heran adalah kuntilanak yang aku lihat tadi wajahnya seperti Yura,dia mirip Yura." Ungkap Aisyah.



"Siapa Yura?"

__ADS_1



"Salah satu warga kampung ini,yang pernah berobat sama lelaki yang mengaku sebagai ustadz itu,"



"Kenapa kamu bisa melihat dia dalam sosok kuntilanak,apa jangan-jangan...?"



"Jangan-jangan apa nek?" Aisyah tampak khawatir.



"Reza sudah menjadikan dia sebagai tumbal pertama"



Separah itukah kelompok pemuja setan? "Nek,haruskah besok aku pergi ke air terjun tujuh kembang?" Aisyah meminta pendapat.



"Kamu memang harus pergi untuk mengambil boneka itu Aisyah,dan gagalkan rencana dia untuk memberikan tumbal selanjutnya,kalau ke tujuh anak muridnya sudah mati,maka semua akan terlambat."



"Lalu bagaimana caranya agar aku tahu apakah Yura benar-benar di jadikan tumbal oleh lelaki itu?"



"Kalau benar dia sudah meninggal,maka besok kamu juga akan mendengar berita kematiannya dari warga kampung," ucap nek Lastri.



Sudah sedari tadi jantung Aisyah berdetak kencang,dia terus melihat bayang-bayang putih lewat di depan matanya. Tentang hal itu dia tidak ingin mengatakannya pada nenek.



"Ah,benarkah Yura sudah di jadikan tumbal oleh ustadz Reza?" Aisyah terus bertanya-tanya.



"Jangan terlalu memikirkan hal itu Aisyah,yang harus kamu pikirkan adalah cara menghentikan pemujaan besok malam,kalau tidak maka akan semakin banyak yang menjadi korbannya.



"Aku mengkhawatirkan keadaan Yura nek,dia baik tidak seperti Dewi." Lirih Aisyah.



"Aisyah..."



"Aisyah!!!" Dara memanggilnya dengan suara keras.



Raut wajah Dara tampak begitu gelisah,dia membawa hp di tangannya dan menyerahkan hp itu kepada Aisyah.



"Kamu kenapa panik begitu,dan untuk apa hp ini?" tanya Aisyah bingung.



"Cepat baca pesan dari Fandi!"



Aisyah langsung membuka pesan dari Fandi dan membacanya.



Isi pesan dari Fandi membuat Aisyah hampir pingsan. Ternyata benar,Yura sudah meninggal.

__ADS_1


__ADS_2