Kampung Sihir

Kampung Sihir
Rawa Pemujaan


__ADS_3

Meski masih siang hari,namun keadaan di rawa pemujaan tampak begitu gelap.


Wajar saja,tempat itu dipenuhi oleh banyak pohon kayu besar. Suara gemericik air sungai terdengar disetiap perjalanan menuju rawa.


Bobi terus menerus mengusap tengkuknya,dia merasa bulu kuduknya berdiri tegang. Sepi,hutan yang besar itu yang tak pernah ada warga yang berani mendatanginya selain Ki Dani,semua warga disana tahu bahwa tempat itu sudah dijadikan rawa tempat pemujaan oleh Ki Dani.


Bau amis menyeruak tertiup angin. Bobi menutup hidungnya,lelaki bertubuh gemuk itu tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.


Ki Dani duduk bersimpuh didepan sebuah pohon kayu yang paling besar dihutan itu.


Konon katanya,disana lah tempat iblis bersemayam.


Ki Dani sujud sebanyak tiga kali ketanah,itu dilakukan sebagai bukti kesetiaannya,dia kemudian mulai duduk dengan memberikan sesajen yang tadi dibawanya.


Sebelum memulai pemujaan,Ki Dani mengiris jari tangannya hingga darah segar mengalir.


Bobi semakin takut,tubuhnya gemetar tanpa bisa dikontrol.


Dia tidak pernah datang menemani Ki Dani melakukan ritual aneh itu,biasanya yang sering menemaninya adalah Raka.


Dan sekarang dia tidak tahu Raka ada dimana,terpaksa dia yang harus menemani Ki Dani.


Ki Dani tampak membaca mantra-mantra aneh,terdengar seperti pemanggilan setan.


Wushhh!!!


Wushhh!!!


Angin bertiup semakin kencang,menerbangkan daun-daun kering yang tersebar di atas tanah yang lembab.


"Saya Ki Dani,datang kembali menghadap. Dengan membawa sesembahan,terimalah sesembahan dari saya!" Ki Dani memberikan ayam jantan berbulu hitam yang sudah disembelih,dan diletakkan di depan pohon itu.


Bruak...!!


Ayam yang dijadikan sebagai persembahan tiba-tiba berguling ketanah.


Bobi yang berdiri dibelakang Ki Dani melotot melihat kejadian itu.


Mungkinkah sesembahannya Ki Dani tidak diterima?


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ayam ini?" Lelaki itu heran,karena tidak biasanya persembahannya di tolak.


"Kurang ajar kamu Dani,kau ingin main-main denganku? Permintaanmu begitu banyak,tapi kau hanya memberikan aku persembahan kecil itu.!" Terdengar suara yang tidak jelas dari mana asalnya. Suaranya menggema memenuhi hutan yang sunyi,burung-burung liar yang hinggap diranting-ranting kayu,beterbangan tak tentu arah.


"Lalu apa yang harus saya berikan?" Ki Dani juga terlihat marah.


"Datang lagi besok malam,dan bawakan aku bayi yang baru lahir. Berikan itu sebagai persembahan!"


 

__ADS_1


"Apa yang harus kita lakukan sekarang Ki?" Tanya Bobi ditengah perjalanan pulang.


"Tidak perlu melakukan apapun! Apa-apaan dia. Dia pikir bisa menyuruh ku seenaknya saja,dia bahkan tidak memberikan apa yang aku minta dan sekarang malah menyuruh aku memberikannya bayi sebagai persembahan. Gerutu Ki Dani.


Saat dijalan mereka berpapasan dengan Kakek Joko,Aisyah dan yang lainnya.


Ki Dani terus memperhatikan Kakek dan teman-teman Aisyah. Kakek hanya menundukkan pandangannya,sama sekali tidak balas menatap Ki Dani.


Sedangkan Rudi,cowok itu sangat penasaran. Dia bahkan terus melihat ke arah Ki Dani,hingga Andi memukulnya dari belakang.


"Ngelihatnya biasa aja kali Rud,enggak usah begitu amat." Tegur Andi.


"Gue cuma penasaran aja An,itu siapa? Kok pakaiannya kayak dukun gitu,takut ih." Sahut Rudi.


Kakek yang berjalan didepan mereka langsung menjawab. "Dia adalah Ki Dani,dia penganut ilmu hitam di kampung ini."


Merinding bulu kuduk Dara mendengarnya.


"Jadi dia Ki Dani,Lalu lelaki disampingnya itu siapa?" Tanya Dara.


" Itu Bobi,orang suruhannya Ki Dani."


 . ****


"Mbak,apa benar Ki Dani tak bisa dikalahkan?"


Aisyah mulai bertanya.


"Lalu kenapa tidak ada orang yang mengatakan keberatan dengan perbuatan Ki Dani dikampung ini?"


"Dia sudah seperti ketua dikampung ini Syah,semua orang harus tunduk dan patuh terhadap peraturan yang dia buat." Jelas Mbak Ningsih.


Dara yang tengah memotong sayuran hanya mendengarkan saja obrolan Aisyah dan Mbak Ningsih.


"Apa yang harus kita lakukan untuk membuat orang kampung ini kembali kejalan yang benar ya?" Aisyah memutar keras otaknya,dia mencoba mencari jalan keluarnya.


"Kamu sedang mikirin apa Syah?" Dara yang sedang sibuk dengan kegiatannya mulai bertanya.


Prang!!!


Sebuah gelas yang diletakkan di atas meja dapur,tiba-tiba jatuh dan hancur berkeping-keping.


Membuat mereka bertiga tersentak kaget.


Mata Aisyah tak berkedip sama sekali. Dara juga begitu,Mbak Ningsih mulai merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Apa ini pertanda buruk?"


"Bukan,ini ulah makhluk halus." Jawab Aisyah dengan tenang. Mungkinkah dia bisa melihat makhluk halus itu?

__ADS_1


Dara langsung menggeser kursinya dan duduk lebih dekat dengan Mbak Ningsih.


Pandangan Mbak Ningsih tertuju pada gelas yang pecah tadi.


Dia tidak meragukan omongan Aisyah,mana mungkin gelas yang diletakkan ditengah-tengah meja bisa jatuh sendiri,kalau bukan ada yang menjatuhkan.


"Kamu bisa melihat makhluk itu Syah?" Mbak Ningsih menatap Aisyah tajam.


Aisyah tidak langsung memberi jawaban,mereka masih menunggu jawaban darinya.


"Aku bisa merasakannya."


Aisyah berbohong,dia tidak mengatakan yang sebenarnya,dia tidak mau mereka ketakutan jika tahu kalau Aisyah bisa melihat makhluk halus itu.


Dia sepertinya hanya memperlihatkan dirinya kepada Aisyah saja.


Makhluk itu berbadan besar,tinggi,matanya berwarna merah,dengan rambutnya yang panjang. Dia berdiri tepat dibelakang Dara,dan terus menatap Aisyah,mencoba menakut-nakuti Aisyah. Tapi Aisyah tidak peduli,dia hanya melihatnya sekilas.


Gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya,dan Mbak Ningsih membersihkan gelas yang tadi pecah.


Tanpa diberitahu pun,Dara sudah bisa memastikan kalau Aisyah sebenarnya bisa melihat makhluk itu.


Banyak misteri yang belum terpecahkan dikampung yang sekarang mereka tinggali.


Dan keanehan-keanehan yang terjadi membuat Aisyah semakin penasaran. Dan dia sudah bertekad untuk mencaritahu sendiri.


Tentang patung kecil dirumah Bi Sumi,yang seolah-olah menyimpan banyak misteri.Dan siapa sebenarnya Ki Dani,apa benar dia tidak bisa dikalahkan? sehebat itukah ilmu sihirnya? Semua masih menjadi tanda tanya.


****


Aisyah duduk termenung di tepi ranjang. Dara yang saat itu masih mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil menatapnya heran.


"Termenung aja Syah,ada yang lagi kamu pikirkan ya?" Tanya Dara.


Aisyah menggeleng pelan,dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Aisyah,kapan ya kita bisa keluar dari kampung ini? Pasti teman-teman lagi pada nyariin kita." Ucap Dara.


"Aku juga ingin cepat-cepat keluar dari sini Dar,tapi melihat warga kampung ini yang semakin bobrok aku merasa ingin membantu mereka kembali kejalan yang benar."


"Aku tidak yakin kita bisa melakukannya,kau tahu semua itu tergantung pada diri mereka masing-masing. Mungkin imannya sudah lemah,hingga mereka bisa dengan begitu mudah percaya kepada selain Allah."Tutur Dara.


Aisyah lagi-lagi terdiam,dia sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Aaaaa!!!"


Terdengar suara jeritan dari kamar mandi.


Aisyah dan Dara saling pandang,mereka ikutan kaget.

__ADS_1


Itu suaranya Mbak Ningsih,apa yang terjadi dengan wanita itu?


__ADS_2