
Dua tahun telah berlalu,Aisyah sudah lulus dari sekolahnya,dia sudah bisa melupakan semuanya,dan sekarang dia juga sudah tidak tinggal lagi di kota. Aisyah sudah pindah ke rumah neneknya yang berada di kampung.
"Nek,hari ini udaranya segar banget,Aisyah pengen keluar boleh enggak?" tanya Aisyah.
Neneknya tidak menjawab,wanita tua itu terus fokus dengan kegiatannya yang tengah sibuk menyulam sarung tangan.
"Nek..." panggil Aisyah sekali lagi
"Jangan keluar sendiri Syah,nanti kalau bibi mu datang ke sini baru kamu bisa keluar." Jawab neneknya.
"Memangnya kenapa sih nek?" Aisyah semakin penasaran dengan sikap neneknya yang tidak pernah mengizinkannya untuk keluar,meski hanya sebentar saja,dia juga bosan di rumah terus. Apalagi bunda sama ayahnya sedang pergi ke Singapore untuk urusan bisnis,dan sekarang Aisyah hanya tinggal berdua dengan neneknya di rumah.
"Jangan banyak bertanya,dan jangan membantah!" ucap nenek,selalu saja kata-kata itu yang keluar dari mulut neneknya,kalau Aisyah minta izin keluar sebentar meski hanya sekedar menghirup udara segar atau mencari teman baru.
"Assalamualaikum...
Dari luar terdengar suara seseorang memberi salam.
"Wa'alaikumsalam..." Aisyah dan neneknya menjawab kompak. Aisyah tersenyum dan berkata "Itu pasti bibi." Desis Aisyah seraya beranjak dari duduknya dan pergi membuka pintu.
Benar saja seperti dugaannya,ternyata yang datang adalah Bi Hanum adik kedua Ibundanya.
"Silahkan masuk Bi!" ucap Aisyah,sembari membuka pintu lebih lebar untuk bibinya.
"Sepi banget ni rumah? Yang lain pada kemana?" tanya Bi Hanum.
"Bunda sama ayah sedang pergi ke Singapore untuk beberapa hari. Bi,Aisyah bosan di sini terus kita pergi jalan-jalan keluar yuk!" ajak Aisyah. Dia mengikuti langkah bibinya yang berjalan menuju dapur.
"Bentar lagi aja Syah,kita sarapan dulu!" kata bibinya,tangannya menenteng rantang susun yang entah apa isinya. Hanum kemudian membuka rantang susun yang tadi di bawanya dan meletakkannya di atas meja satu persatu.
"Pagi-pagi gini bibi buat sarapan apa?" tanya Aisyah mencoba melihat menu makanan yang di bawa bibinya.
"Dari baunya sudah pasti itu semur jengkol sama sambel terasi." Ucap neneknya yang sudah ikut duduk di kursi meja makan untuk sarapan bersama.
__ADS_1
"Owh..." Aisyah manggut-manggut.
"Kamu anak kota pasti tidak biasa sarapan seperti ini,kalau kamu tidak suka ambil saja roti di dapur,ada selainya juga." Tambah Nek Ijah.
"Aisyah memang enggak biasa sarapan kayak gini,tapi Aisyah tetep suka kok,nenek tidak perlu repot-repot."
Hanum kemudian mulai menyibukkan diri dengan memasukkan nasi ke piring ibunya dan keponakannya,tidak lupa juga dia meletakkan lauk pauknya sekalian,semur jengkol,ikan asin,dan sambel terasi.
Makanan khas orang kampung,meski sangat sederhana tapi tetep enak.
Aisyah makan dengan begitu lahapnya,dia cukup menikmati masakan si bibi.
"Lahap banget makannya enak,ya?" Hanum bertanya.
"Enak banget!" jawabnya bersemangat.
"Kalau enak tambah lagi dong nasinya!" suruh Nek Ijah.
Aisyah menggeleng "Tidak ah nek,takut gendut," jawab Aisyah terkekeh.
Aisyah langsung meneguk habis airnya,tak tersisa sedikitpun. Tingkahnya membuat Hanum heran,dia kemudian berkata "Minumnya cepat banget Syah,kenapa buru-buru gitu?"
"Aku mau keluar bi,aku tunggu di luar ya? Kalau bibi sudah selesai makan kita langsung jalan," ucap Aisyah tanpa menolehkan pandangannya kebelakang,dia terus melangkahkan kakinya menuju teras depan.
Melihat sikap cucunya Bu Nani hanya bisa menghela nafas berat,ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Ikuti saja kemauan keponakan kesayangan kamu itu Han,tapi ingat! jangan sekali-kali kamu melewati rumah Pak Jaki," Nek Ijah mengingatkan,sorot matanya menampakkan rasa khawatir.
Hanum mengangguk mengerti, "Menurut Hanum sebaiknya Aisyah di kasih tahu aja bu,soal perselisihan antara keluarga kita dengan Pak Jaki." Ujar Hanum memberi saran.
"Enggak bisa!"
"Lho,kenapa memangnya? Aisyah kan sudah dewasa bu,kalau nanti terjadi sesuatu dia sudah tahu penyebabnya" Hanum masih berusaha membujuk ibunya.
"Han,ini bukan masalah sepele,kalau Aisyah tahu sudah pasti dia tidak mau tinggal bersama ibu lagi,sedangkan kamu sendiri tahu kalau ibu sangat sayang sama dia dan ibu enggak mau dia kembali lagi ke kota!" tegas Nek Ijah.
__ADS_1
"Terserah ibu lah,Hanum hanya memberi saran aja. Kalau Aisyah tahu dari ibunya,itu pasti akan membuat dia sangat kecewa." Pungkas Hanum.
\*\*\*\*
Aisyah terus berjalan sembari bersenandung kecil,mulutnya tak henti-hentinya berdecak kagum melihat pemandangan indah di kampung neneknya,terakhir kali dia datang kesana adalah saat umurnya baru 7 tahun,dan sekarang dia sudah berusia 19 tahun 5 bulan,bisa di bayangkan berapa lama dia tidak datang menjenguk neneknya di kampung.
Kalau neneknya rindu,pasti nenek yang akan pergi ke kota untuk melihatnya. Dia sendiri juga merasa aneh dengan sikap kedua orang tuanya yang tak pernah mengizinkannya untuk pergi ke rumah neneknya,padahal dia hanya meminta saat liburan sekolah saja.
"Bi,itu sawah milik siapa?" tanya Aisyah ketika mereka melewati area persawahan warga.
Hanum menoleh melihat ke arah yang ditunjuk Aisyah. "Itu sawah milik Pak Rinto,dan yang di sebelahnya lagi milik Bu Kasmi," Aisyah mengangkat sebelah alisnya lalu berkata "Apa di sini juga ada yang seperti itu,bi?"
"Yang seperti itu bagaimana?" Hanum tidak mengerti dengan pertanyaan Aisyah.
"Mungkin aku harus bertemu dengan Ustadz Yusuf," Makin membuat bibinya bingung,omongan Aisyah tambah tidak nyambung menurut Hanum.
"Bibi males ngeladeni omongan kamu Syah,dari tadi bicara kamu enggak jelas."
"Aisyah mau ke rumah bibi aja,biar sekalian Aisyah cerita disana." Ucap Aisyah.
Mereka kemudian berjalan masuk ke lorong kecil tempat di mana rumah Hanum berada.
Jalan menuju rumah Hanum tampak sepi,tidak terlalu banyak rumah. Mendadak Aisyah merasakan aura dingin membaluti tubuhnya. "Mungkinkah makhluk itu mengikuti aku?" batinnya.
Ternyata kejadian dua tahun lalu membuat Aisyah bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata,padahal dia sudah berobat pada Ustadz Yusuf,tapi sekarang kenapa dia bisa melihat makhluk itu lagi?
Dia mengerti sekarang,kenapa neneknya tidak mengizinkannya untuk keluar dari rumah,mungkin itu alasannya.
"Ini darah yang sama,aku menemukannya."
DEG!
Bulu kuduk Aisyah berdiri,bergetar seluruh tubuhnya,suara itu kembali terdengar.
Setelah dua tahun berlalu Aisyah baru mendengarnya lagi. Dan kali ini dia yakin ini adalah makhluk yang tadi di lihatnya,tapi kenapa sekarang Aisyah hanya bisa mendengar suaranya saja?
__ADS_1
Dia ingin cepat-cepat sampai di rumah bibinya,dan menceritakan apa yang di alaminya kepada Hanum.