Kehidupan Suram

Kehidupan Suram
Kenyataan seperti mimpi


__ADS_3

"ma! mawar! feri! kaka pulang" ujar melati yang sudah masuk kedalam rumah membuka sepatu meletakan dalam rak sepatu dan berjalan menuju ruang tv, betapa terkejut melati karena semua sudah berkumpul di rumah. Bahkan sang ayah yang biasanya bekerja pulang lebih awal, semua duduk dengan tenang. Menambah keanehan disana, yang lebih membuat melati tak percaya adalah adanya beberapa orang yang berada di sana juga.


"melati, sini nak! biar ayah kenalin teman semasa kecil dan seperjuangan ayah" ujar sang ayah kepada melati, melati menuju ke ayah dan ikut duduk disamping ayahnya.


"ini siapa?" bisik melati ke mawar dan feri,


"gak tau kak, kita aja loh kaget lagi asik nonton tiba-tiba papa pulang bawa orang banyak banget, mana seram lagi" balas mawar bisik ke melati.


Sedangkan feri mengangguk meng-iyani perkataan kakaknya mawar,


"yah! apa ayah punya utang?" tanya melati tiba-tiba.


"eeehhhh??" ucap ibu dan ayah berbarengan,


"kok eeehhh sih!? serius yah, apa ayah punya utang sampai dikejar oleh rentenir?" gelisah melati. Ayah dan ibu yang mendengar hanya tertawa, begitupun dengan beberapa tamu.


"enggak anakku, bapak ini adalah teman main ayahmu dan beberapa orang itu adalah ajudannya" penjelasan sang ayah,


"ooohhh" yang mengatakan bukan saja melati melainkan 2 adiknya pun ikut mengatakan hal itu.


"wah, melati yah! ini om harun, sudah besar yah kamu" ujar bapak yang seumuran ayah yang bernama harun,


"iya om harun" balas melati.


"sebenarnya saya kesini mau bersama istri dan juga anak saya, namun mereka lagi sibuk di sana. Sehingga belum sempat hadir kesini" ujar om harun dengan senyuman menawan, walau usia tidak muda namun ketampanan dan sisi menawannya lebih menonjol.


"enggak apa-apa kok, lagian kalo kak rahmanya masih sibuk biarin saja. Namanya juga istri pak andi dan sekaligus ibu muda dengan karir yang luar biasa, memang sangat sulit mengatur jadwal" basa-basi sang ibu,


"tapi nanti istri saya bakal kesini juga sekalian dengan anak saya, ruf! kapan ibu akan kesini?" kata om harun.


"besok, kemungkinan sampai kesini jam 5 sore pak" balas salah satu ajudan om harun bernama ruf,


"aduh,,,gak usah repot-repot kalo memang masih belum punya waktu, lain hari juga kan bisa" oceh ibu melati.

__ADS_1


"benar yang dikatakan istri saya, jangan paksakan istri kamu datang kesini kalo lagi sibuknya. Masih ada lain hari untuk kita membicarakan hal ini" ungkap ayah melati,


"memang apa yang ingin dibahas?" tanya mawar nimbrung.


"anak kecil gak perlu tau urusan orang dewasa" bentak pelan ibu, mawar kesal dan hanya menanggapi dengan membuang muka ke arah melati,


"dasar anak ini" racau sang ibu.


"gpp, gini mawar, kk kamu mau om jodohin dengan anak om" tutur om harun,


"APAAAAAA" bukan hanya melati yang syok dan berteriak seperti itu namun kedua adiknya pun sama terkejutnya.


Sedangkan sang ibu, ayah, om harun dan beberapa ajudan tertawa dengan porsi masing-masing.


"maaf om, bisa saya pinjam ayah dan ibu saya sebentar?" pinta melati,


"silahkan"jawab om harun mempeesilahkan. Melati menarik ibu dan ayahnya ikut kebelakang, menjauh dari tamu.


"apaan maksudnya ini bu? ayah? kalian perlu mejelaskan semuanya padaku" emosi tertahan oleh melati,


"kamu kan udah dengar, kamu mau dijodohin" balas ibu.


"kok tiba-tiba kayak gini, belum minta persetujuanku juga" geram melati,


"sudahlah terima saja, lagian dia teman ayah dan dari keluarga kaya" racau ayah.


"astaga! emang kaya prioritas utama gitu, kan ayah dan ibu yang sering ngajarin cinta bukan dilihat dari materi tapi hati dan komitmen dari keduanya, gimana sih?! tiba-tiba berubah lagi" kesal melati,


"pokoknya aku gak mau" lanjut melati dengan suara keceplosan agak meninggi.


"ssshhhuuuttt,,,,kalo om harun dengar kan gak enak" kata ibu menengahi,


"bodo amat, pokoknya aku gak mau" resah melati.

__ADS_1


"iya,,iya makanya tenang dulu, biar ayah juga bisa mikir gimana mau nolak tapi dengan cara halus" ujar ayah,


"awasloh yah, kalo ada beneran perjodohan ini. Aku pergi saja dari rumah,,biar ayah jodohin saja dia dengan mawar" celoteh melati.


"anak ini,,,"bentak ayah,


"lagian melati gimana mau jodohin adek kamu mawar, kalo usianya saja masih 7 tahun, dan adik kamu feri usianya baru menginjak 6 tahun" sambung ibu.


"ehem,,," suara dari om harun,


"tuh kita sudah harus kesana" jawab ayah sembari menarik melati dan ibu untuk kembali ke tempat dimana om harun berada. Semuanya termasuk melati, ayah dan ibu sudah duduk di posisi semula.


"begini, harun! kan anak saya masih sekolah apa sebaiknya ditunda dulu saja. Biarkan dia selesai sekolah baru kita omongkan lagi" ungkap ayah melati,


"hhhaaa,,,, baiklah jika itu mau kamu garra, tapi kita selnggarakan acara pertunangan dahulu. Biar gampang dan ada simbolisnya" jawab harun.


"mel, hanya sampai sini ayah bisa bantu kamu" bisik sang ayah ke melati,


"baiklah" balas melati dengan bisik juga.


"baik harun aku setuju, namun semua pertunangan dari mulai persiapan akan diatur oleh istri saya" balas ayah melati,


"setuju, nanti akan dibantu oleh istri saya juga" kata om harun.


"kalo begitu saya permisi" lanjut om harun dan bangun dari duduknya, diikuti oleh melati dan keluarga.


"gak mau nginap?" tanya basa-basi ayah melati,


"lain kali saja, sekalian bawa istri saya. Baru kita bicarakan lagi" balas om harun. Tamunya pergi dengan diantar oleh melati sekeluarga,


"setelah ini, aku akan minta penjelasan dari ibu dan juga ayah" ucap pelan melati.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2