
"dok,,,gimana kabar?" tanya sopan melati,
"baik dong" jawab dokter pria yuli dengan semangat. Sintia hanya mendengus dan memalingkan wajahnya,
"hey, cantik gimana kabarnya? sudah siap?" sapa dokter yuli.
"haha, lucu dok ini. Saya pastinya sehat kalo gak sehat gak mungkin datang" jawab ketus sintia,
"seperti biasa,,,ketus tapi dokter jadi makin semangat" balas dokter yuli dengan mesem. Dokter perempuan dwi mengikut pelan dokter pria yuli,
"yul, udah jangan ganggu entar waktu pengobatan dilempar meja kayak kemarin baru tau rasa" ujar dokter dwi.
"hehhee,,,maaf maaf jangan lempar meja lagi yah" kata dokter yuli sambil melihat sintia,
"dokter dwi ayo kita mulai, tinggalkan saja dokter yuli" ucap dengan nada ketus setiap menyebut nama dokter yuli.
__ADS_1
Sedangkan dokter yuli dan melati hanya membuang nafas pasrah,
"gak ada perkembangan kayaknya" kata melati.
"jangan patah semangat, ayo semangat dia pasti sembuh, kan selalu ada temannya disisinya" ucap semangat dokter yuli, mereka berempat ke ruangan yang berseblahan. Ruang pertama sintia dan dokter yuli masuk bersama dan disisi satunya melati dan dokter dwi masuk, dalam ruangan dokter dwi dan melati melihat ke arah kaca tembus pandang ke tempat ruangan sintia dan dokter yuli sedang berada.
Di lain tempat dokter yuli dan sintia duduk berhadapan, sintia sangat tidak nyaman dan benci dengan dokter yuli. Bukan karena yuli adalah dokter tapi yuli adalah seorang pria. Ya sintia mempunyai penyakit kelainan yaitu benci anak laki-laki/pria, dari pengobatan dulu didapati bahwa itu bermula karena ayahnya senang menyiksa dirinya dan juga ibunya. Yang paling sedihnya iyalah, pernah suatu waktu ayahnya menyiksa ibunya sampai terluka bersimbah darah didepan sintia. Jikalau mungkin itu melati mungkin dia gak akan tahan dan akan gila tapi sintia tidak gila dia hanya mengalami kerusakan mental yaitu tidak nyaman atau bahkan benci dengan lawan jenisnya, sintia mempunyai kecenderungan suka sesama. Melati mengetahui pertama kali saat berjumpa dan itu yang menjadikan melati semangat menjadi temannya untuk menyembuhkannya,
skip time
"hai" kata dokter yuli yang dengan sengaja memegang dan menarik pelan tangan sintia, merasa terganggu dan gak nyaman sintia melepaskan genggaman dengan cara membuang tangan dokter yuli dengan kasar. Sedangkan dokter yuli hanya bernafas pasrah,
"coba kamu yang mulai pegang tangan dokter" lanjutnya sembari mengulurkan tangannya,
"pelan-pelan saja jangan terburu-buru" dengan sabar dokter yuli menunggu. Dalam hati sintia dirinya ingin sembuh, sebenarnya sejak berteman denga melati dkk. Dia merasa sudah mulai jenuh dan capek begini terus, itu semua berkat melati yang terus mendukungnya.
__ADS_1
Disisi lain melati mengawasi dengan muka cemas dan berusaha tenang, berusaha untuk percaya bahwa sintia pasti bisa. sintia menoleh ke sisi kaca hitam yang di belakangnya melati sedang mengawasi, melati tau walaupun sintia tak dapat melihatnya tapi sintia pasti bisa merasakan dukungan dari melati. Makanya itu dia senyum ke arah sintia dan benar saja setelah itu dia mencoba memegang tangan dokter yuli, semburat senyum teepancar dari wajah dokter yuli. Bahkan bukan hanya dokter yuli tapi dokter dwi dan melati senyum senang, walau beberapa detik kemudian sintia melepaskan tangan dokter yuli dengan muka siap-siap mengamuk. Tapi tetap dicobanya untuk menahan,
"aku ngelakuin ini hanya karena ingin sembuh" ujar judes sintia. Dokter yuli bangun dari kursi dan mendekat pada sintia, dia mengelus kepala sintia,
"bagus" ucapnya dengan senyum tulus. Namun hal yang ditakuti terjadi, seperti orang kesurupan sintia mengambil tangan dokter yuli dan memplintirmya.
"jangan menyentuhku. Bedebah" kesalnya, dengan sigap melati dan dokter dwi keluar ruangan dan masuk keruangan yang ada dokter yuli dan sintia didalam. Berusaha menenangkan sintia,
"a, tenang yah" ujar dokter dwi menenangkan sintia.
"gimana bisa tenang, orang dengan harga rendah ini sedang melecehkanku" ujar sarkatis sintia, walaupun plintiran ini membuat doter yuli kesakitan dengan sigap dia membalikkan posisi. Dia berhasil lepas dari plintiran sintia, tanpa pikir panjang memeluk sintia dan tentu saja membuat sintia semakin diluar kendali. Untuk menghentikan kegilaan yang dibuat sintia dengan sigap dokter dwi menyuntikkan obat bius yang syukurnya langsung berkerja, membuat sintia kehilangan kesadaran.
"maaf yah dok" ucap tak enak hati dari melati,
"gpp" balas dokter yuli dengan senyum sambil menahan sintia dalam pelukan agar fak jatuh ke tanah.
__ADS_1
"ayo kita bawa dia" kata dokter dwi, dokter yuli meng-iyani dengan menggendong ala tuan putri si sintia dan menuju keruangan yang ada kasurnya agar sintia dapat di tidurkan disana.
BERSAMBUNG