
Meta menatap keluar jendela, dia selalu memikirkan. Biasanya jatuh emang sakit tapi jatuh cinta apa juga harus sesakit ini? salahkah ia jatuh? seandainya bisa diatur dia akan memilih untuk jatuh ditempat lain namun apa daya tali merah takdirlah yang menentukan segalanya. Entah benar apa tidak adanya tali merah takdir, meta sendiri pun tidak tau.
Ingin rasanya ia lari, namun apa daya semakin ia lari maka semakin tali itu membelenggunya dan semakin membuatnya terikat. Masalah silih berganti, dimulai dari usahanya untuk mendapatkan hati kedua orang tuanya hingga mengejar cintanya? hahhh,,,alasan klise mengejar. Padahal dia yang memanfaatkan keadaan, tidak ingin seperti ini.
Apa salahnya sedikit egois? Apa salahnya bila mengejar? Entahlah! jawaban seperti apa yang ingin meta cari. Yang sekarang ingin dia perbaiki saja dia pun masih bingung, entah ujian ini dia sanggup apa enggak untuk melewatinya. Bolehnya dia memilih jalur singkat yaitu bunuh diri?
Lamunan meta terhenti mana kala sintia menepuk pelan pundaknya,
"tidak apa! kamu boleh menangis untuk mengeluarkannya. Aku dan yang lain pasti menemani" ucap teduh sintia. Sebagai teman atau sahabat, bahkan lebih kental dari darah. Karena disana ada tanda kasih sayang, meta melihat ke arah teman-temannya termasuk melati. Melati walau jauh namun tetap senyum kepadanya,
'TUHAN!!! Dosakah aku? Salahkah aku jika mennyakitinya?' dalam pikiran meta yang melihat ke arah melati. Walaupun berteman entah kenapa begitu susah untuk dekat, seperti ada tembok tinggi yang tak terlihat dia antara meta dan melati.
"aku baik-baik saja" balas meta mencoba kuat,
__ADS_1
"aku lapar? ayo kita makan" seru meta dengan tenaga yang tidak meluap seperti sebelumnya. Dengan senyum meta memberikan tanda isyarat, dibalas dengan teman-temannya tanpa terkecuali.
Hari ini cerah kelabu, begitulah istilah untuk keadaan mereka. Walau ada senda gurau namun entah mengapa terasa sangat garing, tak sama seperti sebelumnya.
Hari berganti, sudah lewat 2 minggu setelah kejadian. Yang entah mengapa meta memilih untuk mejauhi semuanya termasuk fast dan kedua orang tuanya, dia sudah tidak serumah dengan ayah dan ibunya. Dia mulai kerja part time setiap harinya dan dirinya sudah lenyap ditelan hujan waktu itu,
"met, yuk jalan" tanya nisa semangat.
"yaelah,,," kecewa rana,
"maaf say! kerjaan itu gak bisa aku tinggalin. Gajinya lumayan, tapi lain hari pasti jadi" meta menyemangati temn-temannya yang kecewa. Dia membereskan buku ke dalam tas dengan buru-buru,
"duluan say! lovvv you all" kata meta yang langsung meninggalkan melati, rana,nisa dan sintia.
__ADS_1
"haaaahhhh,,,gak enak kalo gak ada meta" rengek nisa,
"iya" sama halnya rana.
"sudahlah!lagian kalian semua kan tau?! semenjak dia keluar dari rumah, dia membiayai kehidupannya sendiri! harusnya kita mendukungnya" ujar sintia,
"setuju dengan omonganmu sin! nah makanya itu ayo kita berbelanja bahan masakan dan berkumpul di kost2san si meta, kita party disana" ucap melati.
"setuju" seru nisa,
"kalo gitu sampai ketemu di kost2san si meta" balas rana. Mereka berpisah, masing-masing menyiapkan bahan masakan. Sebelumnya mereka sudah mengatur barang yang akan mereka bawa, jadi gak bakal double.
BERSAMBUNG
__ADS_1