Kehidupan Suram

Kehidupan Suram
Sandiwara pun dimulai


__ADS_3

"enggak,,,juga sih" kata rana ragu,


"tapi kan gak pernah kenalin ke kita-kita" sambung meta.


"bukannya gak mau atau apa nih yah, tapi profesi dia itu dokter kejiwaan. Aku takutnya kalian malah salah paham" ujar sintia santai,


"alasan aja lu" ejek nisa dan julo. Karena ngomong mereka berbarengan, semua otomatis mengatakan 'ccciiieee' untuk menggoda mereka. Namun nisa berbeda responnya, ada wajah marah disana. Kalo julo yah tampak biasa saja,


"kok malah aku? lagian kalian jangan salah paham, aku dan dia itu hanya teman. Toh julo itu sudah ada pasangannya, iya kan julo?! waktu ditaman hari itu" penjelasan dan minta dukungan julo dengan melihat ke arahnya sembari tersenyum.


Julo meng-iyani, nisa kaget tapi berhasil di tutupinya. Sedangkan yang lain menunjukan kekagetan mereka,


"kalo udah punya pasangan seharusnya bilang biar kita gak jodohin kamu dengan nisa" ember meta keceplosan.


"kalian,,,,tega bener sih" ucap nisa bernada marah dan sedih,


"aku udah kenyang" hanya kata itu yang diucap nisa. Dia membawa piring makan dan membersihkan di dapur kemudian kembali ke kamar dan menguncinya,


"meta,,,,kamu nih gak bisa apa gak ember" kesal rana.

__ADS_1


"sorry,,,kesal dikit tadi sama julo" balas meta sbari menatap membunuh ke arah julo,


"selesaikan masalah ini" ucap melati ke fast. Fast yang mengerti mengajak julo ke luar, entah kemana.


Dilain sisi sintia mendapat telpon dari pacar sandiwaranya, setelah menerima telpon dia keluar membuat rana dan melati kebingungan.


"mau kemana dia?" tanya rana,


"entah" balas melati sembari mengangkat ke dua bahunya, saat itu ternyata sintia masuk dengan pria yang tepat berada dibelakangnya. Rana kaget,


"ini pacarlu?" menayakan kepastian. Dengan sigap dokter yuli merangkul sintia, syukurnya tidak ada penolakan seperti saat pengobatan nerlangsung, ditelitinya sepertinya reaksinya tidak muncul dikarenakan lebih hawatir kepada kebohongannya/rasa takut akan ketahuan.


Melati juga agak hawatir tapi melihat setelah beberapa detik sintia tak merespon hanya menerima melati merasa lega,


"eehhh,,,iya! ini yuli pacarku" jawab sintia dengan nada bingung,


"sebelum membahas lebih lanjut mending kita bicara sama nisa. Btw meta mana?" kata sintia.


"udah duluan ke kamar dan kayaknya gak dibukain pintu oleh nisa" jawab rana,

__ADS_1


"kak, lu gak pulang dulu?" tanya rana ke rangga.


"belum" jawab rangga,


"yaudah nemenin temen pacar gw yah" lanjut rana.


"kak, kita pinjem sintianya dulu. Kk duduknya sama kk saya aja, nanti minumannya saya suruh sintia yang bawain nanti" ujar rana,


"ok" balas dokter yuli dengan senyum.


Mereka bertiga pun pamit dan langsung menuju kamar, sedangkan dokter yuli duduk disofa sembari ditemani rangga. Sebelum benar-benar menyusul untuk bujuk nisa, dia membuatkan teh untuk rangga, dokter yuli, fast dan julo(walau belum pulang). Membawanya dengan nampan, menaruh tehnya di meja dengan sedia makanan ringan. Setelah itu dia pun menyusul teman-temannya,


di depan pintu sudah berapa kali rayuan bergantia diberikan namun hasilnya nihil. Sintia pun ikut membujuknya dan benar saja bujukannya berhasil, sebenarnya bujukan sintia emang masuk diakal dan logis. Itu yang membuat nisa membukakan pintunya, mata nisa bengkak karena menangis.


"astaga,,,,jangan menangis terus! nanti cantikknya luntur" kata rana sembari menyentuh pelan wajah nisa, nisa kembali menangis dan otomatis rana menariknya masuk kedalam kamar dan memaksanya untuk duduk dipinggiran kasur. Diikuti oleh teman yang lain,


"maaffin kita-kita yah, kita gak tau kalo julo punya pacar" ujar meta bersalah.


"aku juga hiks gak hiks tau kalo julo hiks punya pacar tapi hiks kenapa kalian hiks mengatur tanpa hiks mencari tau dulu hiks, gwnya hiks yang malu hiks" penjelasan nisa sembari terus terisak,

__ADS_1


"itu,,,,maaf deh yah! lain kali kita gak jodoh-kodohin sebelum kita telisik dulu" ucap melati. Mereka berpelukan menenangkan nisa.


BERSAMBUNG


__ADS_2