
"Ini indah sekali Nathan.. " netra Lily terkesima akan sebuah benda yang kini berada di telapak tangan Nathan.
Sepasang cincin bermata merah dengan ukiran klasik berwarna putih, cincin yang sengaja pangeran Jonathan pesan dari seorang kawan nan jauh di sana.
"Aku sengaja menyiapkan ini, sebenarnya sejak beberapa waktu yang lalu dan berniat memberikan padamu di hari yang spesial malam purnama ini. Tapi tidak aku sangka ini justru akan jadi barang kenang kenangan untuk perpisahan kita.. " Nathan tersenyum menahan getir, ingin sekali matanya menangis tapi dia tahan.
"Malam ini aku hanya ingin membuat momen indah kita berdua, jadi tidak boleh ada air mata oke.. " ucap Nathan yang juga melihat netra Lily berembun.
"Nathan.. " ucap Lily lirih saat Nathan memakaikan cincin di jemari manisnya.
Perasaan Lily membuncah, dia benar benar terharu dan sengaja memeluk Nathan, kekasih vampir nya yang tampan.
__ADS_1
Setelah gantian Lily memasangkan cincin di jemari Nathan, keduanya duduk di dekat perapian. Sebuah kursi panjang terbuat dari kayu kuno.
Lily menyamankan diri dalam pelukan Nathan, netranya memandang api yang menari nari di dalam perapian, tarian panas yang membakar habis setiap kayu hingga nanti melebur menjadi abu.
"Nathan.. ceritakan tentang dirimu, bagaimana masa kecilmu sebagai putra vampir ras murni.. " tanya Lily pelan sambil menautkan kedua tangan mereka.
"Masa laluku sama seperti anak pada umumnya, hanya saja aku hidup di lingkungan istana dengan segala kemewahan dan aturan di dalam nya. Apa kamu tahu jika aku berhenti bertambah usia saat menginjak 28 tahun ? setelah usia 28 tahun tubuhku menjadi abadi bahkan saat ini usiaku sudah 200 tahun baby.. " ucap Nathan apa adanya.
"Nathan... bagaimana nanti jika aku semakin tua dan tidak bisa bertemu denganmu lagi ?padahal suatu saat aku sangat ingin bisa bertemu lagi denganmu.. " Lily membayangkan hal hal indah yang bisa mereka lakukan seandainya bisa bersama lebih lama.
"Takdir sedang bermain main dengan kita ya honey.. apa dayaku yang hanya sebutir debu tak berarti ini. Seandainya aku memiliki derajat yang sama denganmu pasti aku tidak akan menyerah secepat ini. Kita bisa lari menjauh dari semuanya dengan tangan yang tetap bertautan seperti ini. Seandainya... " sendu sangat terasa saat ini dimana Air mata itu lolos begitu saja.
__ADS_1
Tautan tangan keduanya semakin erat dan erat..
Ketulusan yang dia rasakan dari seorang pangeran Vampir, bagaimana rasanya dicintai dan belajar mencintai . Sebuah pengalaman hidup yang baru sekali Lily rasakan, sangat berkesan dan terlalu indah untuk di lupakan.
"Heii.. apa ini.. sudah kubilang jangan ada air mata malam ini baby.. " Nathan menangkup wajah Lily lalu dengan gerakan halus mengusap setiap air mata yang membasahi wajah kekasihnya.
Melalui kecupan lembut Nathan menghapus air mata kekasihnya. Lily memejamkan mata sambil terisak pelan, ingin sekali dia berhenti menangis tapi setiap bibir Nathan menyentuh permukaan wajahnya air mata terus saja mengalir.
Hiks.. hiks.. Lily masih sesegukan saat Nathan mengecup bibir ranumnya. Air mata yang kurang ajar membasahi sampai bibir wanitanya.
"Jangan hentikan Nathan... " ucap Lily sangat lirih dan pelan saat Nathan hendak menarik dirinya.
__ADS_1
Dengan gerakan inisiatif Lily menahan Tubuh Nathan untuk tetap seperti ini, dan dengan kedua netra saling bertumpu Lily menyentuh bibir Nathan yang baru saja mengusap air matanya.
Sentuhan jemari Lily di wajah Nathan membuat sesuatu dalam diri Nathan bergejolak, Nathan sampai memejamkan mata saat jemari lentik itu mengukir bibirnya, lalu..