
Nathan menatap jengah ke arah Alice yang bersikap seperti wanita murahan. Semua gerakan e ro tis yang Alice lakukan sama sekali tidak membuat Nathan tertarik.
Terpancing gairah sedikitpun tidak..
Saat Alice semakin hanyut dalam permainannya sendiri diatas sofa, Nathan memilih untuk pergi lewat jendela.
Tentu saja dengan gerakan secepat angin, ringan dan tanpa ketahuan. Nathan bergerak cepat dalam mode vampir menjauh dari rumah hendak menuju ke suatu tempat.
Saat ini sudah hampir menjelang tengah malam, dan seperti kebiasaan Nathan sejak beberapa hari yang lalu jika saat tengah malam dia akan pergi mengunjungi sang kekasih.
Ya.. meski tidak bertemu langsung namun setidaknya Nathan bisa memandang belahan jiwanya melalui salah satu pohon besar di tengah Hutan, belahan jiwanya yang sedang berada di dalam kamar.
Setiap lewat tengah malam Lily baru akan bersiap untuk tidur, setelah sebelumnya membersihkan diri dan berganti baju tidur Lily akan sejenak menikmati udara malam lewat jendela kamarnya.
Pintu jendela kamar sengaja dibuka lebar, lalu Lily menopang tubuhnya sambil menikmati suasana. "Udara malam yang sejuk terasa lebih menentramkan.. " gumam Lily pelan.
Entahlah perasaan Lily ingin melakukan hal itu, dan ternyata di saat seperti itu adalah momen dimana Nathan juga tengah bertengger di salah satu pohon besar di tengah hutan dekat mansion Lily.
__ADS_1
Ibarat pemuja rahasia yang selalu mengagumi diam diam, Nathan menatap kearah Lily, menikmati wajah cantik belahan jiwanya dengan sangat jelas karena vampir memang memiliki netra dengan kemampuan sorot pandang yang sangat tajam.
Baby.. batin Nathan memanggil sang kekasih sambil tersenyum sendu dalam heningnya malam.
Semilir angin seakan menyapa Lily yang merasa seperti ada yang memanggil dirinya dan tanpa sengaja Lily menatap jauh kearah hutan.
Hanya ada kegelapan malam dan pepohonan di hutan tapi kenapa rasanya ada yang memperhatikan aku dari sana.. batin Lily penasaran dengan apa yang dia rasakan namun juga tidak berani berpikir macam macam.
"Ayo Lily.. jangan berpikir hal yang tidak tidak. Tidak ada apapum diluar sana oke.. " lirih Lily bermonolog sendiri mencoba untuk tetap berpikir positif.
Menatap ke arah langit langit kamarnya sambil berdoa dalam hati, Nathan.. i miss you honey , semoga semesta kelak mempertemukan kita lagi, Aamiin.
Secara perlahan Lily memejamkan kedua matanya, lelap dalam buaian alam bawah sadar, Lily tidak terusik sedikitpun saat Nathan tiba tiba berdiri di dekat ranjang nya.
Sengaja Nathan menunggu Lily terlelap agar bisa masuk dan menunggui sang kekasihnya tidur sampai menjelang pagi baru Nathan akan pergi.
"Aku juga merindukan kamu baby.. " ucap Nathan lirih tepat ditelinga Lily.
__ADS_1
Nathan bersimpuh di tepi ranjang, lututnya menempel di lantai agar netra Nathan bisa pas menikmati memandang wajah sang kekasih di hadapannya yang tampak semakin cantik dari hari ke hari.
Tangan dingin Nathan merapikan surai rambut yang menutupi wajah Lily dari samping, rambut hitam panjang nan halus itu kini terselip di belakang telinga.
Kemudian Nathan mengelus pelan pipi Lily, sangat pelan dan lembut. Setiap menatap sang kekasih perasaan Nathan semakin bertumbuh besar dan besar, rasa cinta itu tidak berkurang justru semakin bertambah kuat dari hari ke hari.
Tidak terasa saat ini sudah lewat dini hari, dan Nathan masih tidak merubah posisinya yang kini masih tetap terjaga menatap wajah sang kekasih yang masih terlelap.
Nathan bisa saja muncul di hadapan Lily secara nyata namun itu bukanlah bagian dari perjanjian dengan kedua orang tuanya.
Ya.. satu lagi perjanjian tercipta agar Nathan bersedia menikah dengan Alice kala itu.
Ayah Claude bersedia mengikuti syarat yang diajukan Nathan namun beliau tidak ingin Lily mengetahui keberadaan Nathan.
Jadilah Nathan bersikap seperti seorang pemuja rahasia yang mengagumi kekasihnya sendiri, belahan jiwanya Lily..
Rasanya aku ingin menghentikan waktu agar bisa bersamamu selamanya baby.. my Lily.. my love..
__ADS_1