
"Ibu Natasha.. " ucap pangeran Jonathan yang kini dengan tatapan serius.
"Aku akan membawa Lily kembali ke dunia vampir, tapi aku tidak mau ada orang yang tahu tentang hal ini ibu. Aku akan bawa Lily kembali ke kastil Orion. " keputusan pangeran Jonathan direspon dengan tatapan lega sang ibu mertua yang menyetujui hal yang sama.
"Kamu bisa bawa Lily kemanapun yang kamu mau putraku, tetapi saat ini ijinkan aku mentransfusi darahku untuk kekasihmu. Darahku murni dan akan sangat membantu memulihkan energi Lily yang terkuras karena serapan janin di dalam rahimnya. " perkataan Natasha Romanov kembali membuat pangeran Jonathan memicingkan mata.
"Semudah itukah ibu memberikan darah murni yang langka pada seorang wanita manusia biasa ?" lagi lagi pangeran Jonathan heran dengan sikap ibu mertuanya.
"Jonathan putraku, listen.. aku bukan mahkluk yang terikat dengan bangsa manapun. Aku bebas menentukan hal apa yang ingin aku lakukan tanpa harus meminta persetujuan klan manapun termasuk klan Romanov sekalipun. Nah sekarang, jangan menunda waktu lagi kamu hubungi asistenmu Mouhan untuk menjemput kita. Sembari menunggu kedatangan Mouhan aku akan memberikan darahku pada kekasihmu. " Natasha Romanov kemudian duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajah Lily.
Heii cantik.. ada sesuatu yang harus aku pastikan dari dirimu.. batin Natasha Romanov dengan senyum tipis yang tersungging di wajahnya.
__ADS_1
"Alma, kamu bantu ibu Natasha. Siapkan apa saja yang dibutuhkan untuk membantunya. Aku akan keluar sebentar untuk menghubungi Mouhan. " perintah singkat pangeran Jonathan yang direspon dengan anggukan hormat nenek Alma.
Kemudian pangeran Jonathan pergi keluar dari kamar Lily untuk melakukan panggilan telpon dengan sang asisten kepercayaan, asisten Mouhan.
Sementara menunggu asisten Mouhan yang akan tiba dengan helikopter nya dalam waktu kurang dari satu jam , pangeran Jonathan kembali masuk ke dalam kamar Lily. Disana pangeran Jonathan mengawasi bagaimana saat ibu mertua mentransfusi darahnya ke tubuh Lily.
Pangeran Jonathan jadi teringat saat pertama bertemu Lily yang bekerja sebagai terapis darah untuk tubuhnya yang sekarat.
Tess... sebulir air mata lolos begitu saja, pangeran Jonathan tidak sanggup membayangkan jika dirinya harus berpisah dengan Lily, bahkan babak baru di lembar kehidupannya saja hanya akan berlanjut jika itu bersama Lily sang kekasih.
My Lily.. aku hanya memiliki dua pilihan, satu.. hidup abadi bersama kamu dan anak anak kita nanti atau opsi kedua, jika kamu mati maka aku juga akan mati. Tidak akan ada gunanya aku hidup abadi tanpa kamu kekasihku.. pikiran pangeran Jonathan benar benar kalut bercampur pilu saat ini.
__ADS_1
Pangeran Jonathan melihat bagaimana selang yang tertancap pada lengan ibu mertua mengisi kantong darah sampai penuh, darah murni yang sangat segar dan masih hangat.
Sekantong darah tersebut lalu di gantungkan pada salah satu tiang didekat ranjang untuk kemudian Ibu Natasha menancapkan jarum selang di pergelangan tangan Lily.
Secara perlahan namun pasti darah mulai mengalir melewati selang transfusi berpindah masuk kedalam tubuh Lily yang seolah merespon dengan sangat baik.
Keajaiban terjadi saat darah di dalam kantong mulai habis. Tubuh Lily kembali segar dan kesadaran Lily mulai pulih. Meski masih belum sepenuhnya sadar tapi Lily mulai menunjukkan reaksi kehidupan lewat gerakan kecil.
"Kini Lily sudah membaik, dia hanya seperti seorang wanita yang sedang tertidur. Hanya tinggal menunggu waktu kapan dia membuka mata dan aku harap saat itu terjadi Lily kekasihmu akan bisa menerima semua kejadian ini.. " ibu mertua duduk disebelah pangeran Jonathan lalu mengusap punggung seakan memberi kekuatan untuk tetap tegar.
"Thanks ibu... " ucap pangeran Jonathan lirih.
__ADS_1