
Tak pernah sedikit pun terbayang dalam benak Zaya kalau jalan hidupnya akan seperti ini. Memiliki perasaan sayang tanpa restu dari orang tuanya, lalu menjadi pengasuh bagi Faiz, menjadi bulan-bulanan di tempat lahirnya, dan terpaksa bekerja untuk memberikan hidup yang layak bagi Faiz. Kemudian, sekarang ia menjadi istri sah seorang Afrizal Cipta Prasaja sekaligus menantu perempuan Pak Hidup.
Semestinya, saat ini ia tengah menata masa depan. Mengumpulkan bekal dan pengalaman untuk ikut membangun desanya kelak, entah kapan waktunya. Sekaligus mewujudkan salah satu cita-cita besarnya untuk melihat generasi setelahnya menjadi masa-masa emas yang mencetak orang-orang penting bagi kemajuan bangsa, atau paling tidak, kemajuan bagi dusun mereka.
Sungguh, sebenarnya ia masih ingin memberikan kebanggaan kepada bapak dan ibunya di kampung sana, entah bagaimana bentuknya.
Ia pun ingin merasakan sendiri bagaimana menjadi perempuan seusianya yang masih menimba ilmu di luaran sana. Merasakan kewalahan membawa buku, mengumpati dosen yang memberinya banyak tugas di tengah sedikitnya waktu, juga mendiskusikan progres skripsi bersama mahasiswa lain ketika menempuh semester akhir. Ia sungguh ingin menjadi bagian dari semua kegiatan tersebut, bukan hanya bisa menyaksikan mereka saja.
Zaya segera mengusap air matanya saat menyadari ada ketukan dari arah pintu depan yang disertai ucapan salam. Lalu ia bergegas untuk menyambut kepulangan suaminya, masih dalam keadaan mata sembab.
"Wa'alaikumsalam. Mas udah pulang?" tanyanya dengan suara serak, sebelum mencium punggung tangan suaminya secara takzim.
Afriz hanya menanggapi dengan senyum. Telapak tangan kirinya yang terbebas, ia angkat untuk mengusap puncak kepala istrinya.
Sementara itu, kini Zaya tak berani terang-terangan menatap suaminya. Jujur saja, ia merasa bersalah karena selama beberapa hari belakangan ia sempat tak mensyukuri garis takdir yang telah mengikatnya dengan laki-laki di depannya ini.
"Kamu kenapa?" tanya Afriz yang telah menyadari perubahan sikap Zaya semenjak beberapa hari ini.
Zaya membalas pertanyaan tersebut melalui gelengan dan senyum yang ia paksakan. "Nggak apa-apa."
Kedua mata Afriz menyipit curiga. "Kok suara kamu kayak habis nangis?"
Saat ini Zaya menggigit bibir bawahnya. "Aku ... a-aku dari tadi nguap terus-terusan, makanya sampai kayak gini," bohongnya.
Lagi-lagi Afriz tersenyum. Diusapnya puncak kepala Zaya untuk kedua kalinya. "Lain kali, kalau sudah ngantuk, tidur duluan saja nggak apa-apa. Nggak usah nunggu sampai Mas pulang. Apalagi ini memang sudah terlalu malam."
Zaya hanya mengangguk.
__ADS_1
"Ya sudah, sana tidur dulu. Mas mau cuci kaki dan muka, sama mau lihat Faiz sebentar."
Zaya mengangguk, lalu mendahului Afriz untuk masuk kamar.
Afriz bukannya tak menyadari penyebab perubahan sikap Zaya akhir-akhir ini. Dia tahu itu. Karena bukan sekali dua kali istrinya seperti ini.
Beberapa waktu lalu, dirinya pernah mendapati Zaya menatap beberapa mahasiswi yang berangkat ke kampus melalui jalan di depan rumah mereka dengan sorot ingin ikut. Tak jarang dia pun memergoki perempuan itu sembunyi-sembunyi membaca buku miliknya dan mempelajarinya ketika malam hari saat perempuan itu mengira bahwa dia sudah terlelap, padahal sebetulnya belum.
Kini Afriz masuk kamar dan mengunci pintu, selepas dia menengok Faiz yang sudah tertidur pulas.
Kemudian mendekati dan menaiki ranjang, lalu menarik selimut dan hendak berbaring di sebelah Zaya yang sepertinya sudah berpindah ke alam mimpi. Tetapi dia tetap bertahan pada posisinya.
Dipandangnya punggung Zaya. Kemudian mengelus rambut hitam panjang istrinya tersebut, sambil tersenyum. "Mas ingin, membiayai kuliah kamu supaya kamu bisa seperti perempuan-perempuan seusiamu. Tapi jujur, untuk sekarang ini Mas belum mampu. Mas nggak bisa janji sekarang. Sabar, ya. Nanti, kalau Mas punya rezeki lebih, insyaAllah kamu pasti bisa kuliah lagi."
Dalam keheningan malam ini, pada baringnya di bawah suasana kamar nan remang ini, air mata Zaya menetes kian deras. Rasa bersalah karena kekufurannya beberapa hari belakangan, seolah mendapatkan ganjarannya melalui bisikan dari suaminya barusan.
Zaya membalik posisinya, begitu elusan pada kepalanya sudah terurai. Ia mendapati Afriz hendak tidur memunggunginya. Dan sebelum laki-laki itu sempat merebahkan tubuh, ia sudah terlebih dahulu bangkit untuk memeluk sosok itu dari belakang. "Maaf, Mas," bisiknya, tertahan oleh isakan. Pelukannya mengerat, sementara tubuh yang kini ia peluk justru menegang.
Mendengar pertanyaan dari suaminya itu, Zaya menggeleng. Jujur saja, dalam dua minggu terakhir ini ia memang sulit tidur nyenyak. Ada banyak hal yang dipikirkannya, dan tentu saja harus ia sesali saat ini. "Maaf," bisiknya sekali lagi.
Tak ada ucapan lain yang pantas ia utarakan untuk menghapus rasa kufurnya akhir-akhir ini. Harusnya ia mengerti posisinya kini. Afriz sudah mau menampungnya bersama Faiz saja, semestinya ia sudah merasa beruntung.
Tak ada pemberian yang perlu ia dustakan. Laki-laki itu sudah memberikannya kehidupan yang layak, bahkan jauh lebih layak ketimbang saat ia hidup bersama ayah dan ibunya dulu.
Semestinya ia tak usah terlalu berharap lebih banyak, sampai-sampai suaminya ini mesti memeras otak dan tenaga untuk memenuhi semua keinginannya. Selain itu, pria yang genap berusia 29 tahun pada pertengahan bulan lalu ini begitu sabar menghadapi sikapnya yang kadang-kadang masih kekanakan.
Afriz menggenggam telapak tangan Zaya untuk menguraikan pelukan yang dia dapatkan. Lalu melonggarkan jarak, agar dia bisa memutar posisi tubuh untuk bisa berhadapan dengan istrinya.
__ADS_1
Begitu berhadapan dengan suaminya, Zaya kembali memeluk laki-laki itu. Kali ini lebih erat dari semula. "Maaf, Mas. Aku nggak ada maksud nuntut Mas biar nurutin semua keinginan aku. Aku ...." Ucapannya terpotong oleh isakannya yang makin menjadi-jadi.
Afriz tak segera menanggapi perkataan Zaya. Lelaki itu justru mengelus puncak kepala perempuan itu, lalu mengecupnya sekilas.
Kemudian dia mengelus punggung dan bahu istrinya, berulang-ulang. Menularkan ketenangan yang bisa dia berikan. Tak mau terburu-buru memberikan pernyataan yang bisa saja malah menimbulkan pertengkaran.
Tak kunjung mendengar apa pun dari mulut suaminya, Zaya mendongak. Namun, kali ini isakannya telah reda. Napasnya teratur. Sekarang ia merasa jauh lebih tenang.
Kedua matanya menatap Afriz lekat, dan mendapati senyum dari laki-laki itu. "Maaf," lirihnya, mengulangi kata itu untuk kesekian kalinya pada malam ini. "Maaf, Mas. Aku nggak ada maksud nuntut Mas Afriz biar nurutin semua keinginan aku. Aku rasa, cuma akunya aja yang nggak pernah bersyukur atas apa yang selama ini aku dapat," lanjutnya.
"Hei." Afriz masih tersenyum, menangkup wajah Zaya menggunakan kedua telapak tangan. Ditatapnya perempuan itu. "Wajar, Sayang. Apa yang kamu ingini itu wajar. Lagi pula, Mas memang punya keinginan membiayai kuliah kamu. Entah kapan waktunya, yang jelas ini Mas lagi usaha."
Kepala Zaya menggeleng pelan, lagi-lagi air matanya masih menetes. "Tapi nggak seharusnya aku diemin Mas selama berhari-hari, bahkan selama hampir seminggu ini. Harusnya aku nggak kekanakan kayak gini."
Wajah Afriz mendekat, hingga membuat perempuan di depannya harus menahan napas. Dia menempelkan dahinya dengan kening istrinya itu. "Mas menganggap diamnya kamu bukan karena lagi mogok bicara, tapi lagi minta kesempatan biar bisa kangen sama Mas."
"Mas ...." Zaya menelan ludah, menatap kedua mata lawan bicaranya dengan mata berkaca-kaca. Lalu memberanikan diri untuk memiringkan kepala, setelah itu mengecup singkat pipi kanan laki-laki di depannya sebagai tanda terima kasih.
Walau hanya sekilas, ciuman pada pipinya berhasil membuat tubuh Afriz menegang. Matanya mengerjap cepat. Sebab, selama lima bulan pernikahan mereka, baru inilah kali pertama Zaya berinisiatif memulai kemesraan mereka.
"Mas ... ma-mau 'itu', nggak?" tanya Zaya ragu, menawarkan diri untuk disentuh oleh suaminya.
Namun, Afriz lagi-lagi hanya tersenyum. "Mas sebenernya nggak mau nolak tawaran kamu. Tapi Mas capek banget, Sayang. Mas yakin kamu juga capek. Jadi, itunya besok Subuh saja, ya," ucapnya. Dapat dia lihat kalau perempuan di hadapannya ini mengangguk mengerti, juga menghela napas lega entah untuk alasan apa. "Jadi, malam ini kita bacanya doa sebelum tidur. Doa jima'-nya disimpan dulu untuk besok pagi," sambungnya sambil mengedipkan mata kiri.
Walau sempat merasa risi akibat kegenitan lawan bicaranya, Zaya tak menolak mengikuti saat Afriz memimpin doa sebelum tidur. "Selamat tidur, Mas," ucapnya setelah selesai berdoa, dengan tubuh yang masih menghadap ke arah suaminya yang kini sudah berada di bawah selimut yang sama.
"Selamat tidur juga, Ihzaya Nurina," balas Afriz. "Prasaja," tambahnya cepat, seraya terkekeh geli.
__ADS_1
Malu karena mendengar nama belakangnya ditambahi secara semena-mena, Zaya langsung membalik posisi tubuh hingga memunggungi suaminya. Namun, keputusan tersebut diartikan lain oleh Afriz. Laki-laki itu justru merapat, kemudian memeluk istrinya dari belakang.
...***...