
Jam dinding yang Afriz pandang menunjukkan pukul sembilan lebih lima puluh lima menit. Suasana rumahnya amat sepi. Keheningan menguasai keadaan di sekitarnya. Pun tak ada Zaya di kamar mereka.
Derit pintu yang dibuka, menyadarkan Afriz dari lamunan. Tetapi itu berasal dari ruangan lain. Seolah mengundang laki-laki itu untuk mendekat ke sumber suara.
Dan benar, tampak Zaya tengah membopong Faiz. Istrinya itu baru keluar dari kamar sebelah.
Begitu tatapan keduanya berserobok, Zaya begitu saja memalingkan muka. Pura-pura tak melihat siapa yang datang. Ia menyembunyikan rasa sedih dan keadaan matanya yang sembab.
Lalu perempuan itu menuju kamar mandi, meninggalkan Afriz yang hendak mengucap sepatah ataupun dua patah kata.
Cukup lama Afriz menunggu Zaya kembali ke hadapan. Sampai tiba waktunya perempuan itu muncul lagi, mengajak Faiz mengobrol.
"Udah pipis, sekarang waktunya Faiz bobok."
Afriz dapat melihat senyum dari istrinya, yang tentu hanya ditujukan untuk Faiz.
Namun begitu menyadari keberadaannya, sikap perempuan itu berubah dingin. Hanya melewati Afriz yang tengah berdiri. Melengos. Tak mau menyapa sama sekali. Tersenyum pun tidak.
Afriz kira, Zaya hanya mengambek. Ternyata perempuan itu benar-benar marah.
Afriz tersenyum getir.
Tidak cukupkah hukuman dari ayahnya yang kini tak bisa berkomunikasi dengannya, sampai-sampai Zaya melakukan hal serupa kepadanya?
Tetapi pemuda itu masih diam, kendati kedua matanya memancarkan sorot terluka karena diabaikan begitu saja.
__ADS_1
Tetap menunggu Zaya keluar dari kamar di depannya, lalu berbicara dengannya, selama apa pun ia menanti kedatangan istrinya. Walau hasilnya nihil.
Kesabaran Afriz pun luntur, saat dia mendapati Faiz sudah tidur tetapi Zaya tak segera beranjak. Ia mendekat, menuju kasur busa di lantai yang berjarak sepembawaan kaki. Menarik lengan kiri Zaya agar keluar dari ruangan ini.
"Mas, lepas!" sentak Zaya.
"Nggak!" Afriz mengeratkan genggamannya pada lengan kecil itu. Tetap menarik istrinya menuju kamar mereka, walau Zaya terus-terusan meronta, meminta dilepaskan. Namun ia sudah tak peduli.
"Lepasin!" Kali ini genggaman Afriz terlepas, dan Zaya menjauh dari gapaian laki-laki itu.
Napas keduanya tersengal. Zaya bahkan sudah hampir menangis lagi, meneruskan apa yang tadi belum selesai. Kini ia tak bisa menyembunyikan kesedihan yang tengah dirasakannya itu dari suaminya.
Sementara dada Afriz tampak naik turun, menekan kuat-kuat emosi agar tak meledak saat itu juga. Tetapi sikap Zaya kepadanya sudah sangat keterlaluan.
"Mas nggak nyangka, ternyata kamu sekekanakan ini. Mas kira kamu bisa jadi tempat bersandar. Tapi, lihat! Mas pulang bukannya kamu sambut, tapi kamu malah melengos, pura-pura nggak lihat!"
Napas Zaya tersekat, dan sontak terkesiap saat mendengar suara bantingan pintu di depannya.
Matanya terpejam, berusaha melupakan tatapan dan ucapan Afriz yang sama sekali berada di luar dugaannya. Tanpa bisa dicegah, air matanya mengalir begitu saja.
Kepalanya terasa berat. Kedua lututnya lemas, tak sanggup menopang bobot badan. Dan akhirnya ia terduduk, memeluk lutut. Menyembunyikan kesedihan dan kekhawatirannya yang makin menjadi.
"Mas nggak nyangka, ternyata kamu sekekanakan ini. Mas kira kamu bisa jadi tempat bersandar. Tapi, lihat! Mas pulang bukannya kamu sambut, tapi kamu malah melengos, pura-pura nggak lihat! Ternyata ...."
Dirinya masih ingat bagaimana tatapan terluka, lelah, dan cemas telah bersatu padu dalam mata Afriz. Sama sekali tak menyangka jika usahanya untuk tak membuat suaminya khawatir, justru menjadi pertengkaran.
__ADS_1
"... mau Mas pulang dalam keadaan capek, bingung, sakit, ataupun sekalian mati, kamu mana peduli!"
"Maaf, Mas," bisiknya di tengah isakan.
Semestinya, tadi ia tak usah keras kepala dengan cara memaksa Afriz agar mengizinkannya menjenguk Pak Hidup. Seharusnya ia tak membantah ucapan suaminya. Ia cukup berdoa untuk mertuanya dari rumah, seperti yang sudah-sudah. Lagi pula, larangan Afriz juga demi kebaikan mereka.
Tetapi kuasa emosi telah membutakan semuanya, sampai-sampai ia tak bisa mengerti jika pikiran suaminya tengah bercabang.
Zaya mengangkat kepala. Lalu mengatur napas, mengendalikan detak jantungnya yang semula tak beraturan.
Helaan napasnya terdengar begitu berat dan dalam, guna membuang segala hal negatif yang sempat menguasai jiwa.
Pandangannya lebih terang, pikirannya lebih tenang, dan hatinya lebih lapang.
Diliriknya pintu yang tadi dibanting oleh sang suami. Kemudian ia mendekati benda tersebut; menyentuh dan menurunkan gagang pintu yang ternyata tak dikunci. Lantas ia mendorong benda di depannya itu, pelan.
Di dalam sana, Afriz tertidur di ranjang dengan posisi kepala yang sembarang, tubuh telentang, dan begitu kacau.
Setahap demi setahap, Zaya memangkas jarak. Lantas menyesuaikan duduknya dengan posisi kepala Afriz.
Dipandangnya wajah suaminya ini dari dekat. Tampak sedemikian lelah dan amat gusar. Terkadang mulut itu bergumam tak jelas. Begitu resah. Tak nampak raut kedamaian sama sekali. Ketenangan dan kejailan yang biasanya ditunjukkan, bahkan lenyap tanpa sisa.
Zaya mengangkat tangan kirinya, memberanikan diri menggenggam telapak tangan yang terkepal dalam tidur itu. Sementara tangan kanannya, mengelus wajah lelah di depannya.
"Maaf, Mas, kalau aku udah keterlaluan," bisiknya, mengulang kalimat maafnya. Sebelum ikut tertidur dengan kepala menimpa tubuh kuat lawan bicaranya.
__ADS_1
...***...