
Zaya membantu Nida membereskan sisa-sisa salat magrib berjamaah yang baru saja selesai mereka tunaikan di ruangan yang tak terlalu lebar ini.
Setelah itu ia menerima kopiah yang telah dilepas dan diserahkan oleh Pak Hidup, lalu menyimpannya pada posisi yang bisa dijangkau oleh mertua laki-lakinya.
Kini Zaya menetap, memandang Pak Hidup. Ia harap, kesehatan pria paruh baya di hadapannya ini lekas pulih.
Dirinya benar-benar rindu hendak berkebun sambil membicarakan banyak hal lagi seperti sediakala. Sebab selama ini Pak Hidup selalu bisa membuat Zaya merasa pulang ke kampungnya sana.
Sentilan di dahi, menyadarkan Zaya dari lamunan. Perempuan itu menemukan sang suami sebagai terdakwa utama.
Kebiasaan yang sudah ia hafal selain panggilan "Zayang" dari laki-laki itu. Perlakuan yang sama sekali tak ada manis-manisnya.
"Cari makan, yuk," ajak Afriz, masih tak manis.
Zaya cemberut. "Nggak mau. Kalau makan, nanti aku tambah mual-mual."
"Tapi kamu perlu makan. Kalau nggak makan, nanti kamu sakit," debat Afriz tak mau kalah. "Kalau makan yang anget-anget, seger, dan agak pedes, kamu nggak akan mual. Mas jamin," bujuknya, mengiming-imingi jenis makanan yang dia yakini tak akan Zaya tolak.
"Makan apa?"
"Apa saja. Pokoknya kamu makan sambil Mas peluk."
"Alus!" sindir Nida, yang kontan saja membuat Pak Hidup terkekeh. "Zaya doang nih, yang diajak makan?" lanjutnya, masih terdengar menyindir.
Tanpa menghiraukan sindiran adiknya, Afriz terus membujuk Zaya agar mau keluar dari ruangan ini untuk makan. Sebab, sudah kewajiban baginya untuk menjaga istrinya.
Melalui kegiatan makan berdua yang belakangan jarang mereka lakukan, Afriz ingin berbicara dari hati ke hati setelah apa yang terjadi sebelumnya.
Setidaknya, masalah itu harus sudah selesai agar tak ada kerenggangan di antara mereka. Supaya dia tak canggung dan kerap salah tingkah lagi kala berhadapan dengan sang istri.
Afriz menoleh, menatap Pak Heri dan Nida secara bergantian. "Pak Her, titip Faiz sebentar, ya. Kamu juga, Dek. Kalau rewel, diajak jalan-jalan saja," ucapnya. Agenda untuk bicara berdua dengan Zaya memang tak boleh diganggu oleh siapa pun.
"Siap!" sahut Pak Heri, yang diikuti senyum setuju oleh Nida.
Mendengar kesediaan Pak Heri, Afriz mengangguk. Lalu perhatiannya tertuju pada Zaya yang baru saja selesai mengenakan jaket. "Ayo, berangkat."
Tangan kanannya terulur, hendak menggandeng telapak tangan istrinya itu. Tetapi dirinya tak kunjung mendapatkan respons.
"Perlu digendong?" tanya Afriz kepada sang istri. Raut wajahnya serius, tanda bahwa tawarannya tidak main-main.
"Emangnya aku Faiz, yang perlu digendong?"
__ADS_1
"Ya makanya ayo," tanggap Afriz seraya menarik lembut tangan Zaya agar segera melangkah. Karena seperti biasa, istrinya itu selalu lambat memberi tanggapan. Maka perlu sedikit paksaan.
"Saya lihat-lihat, mereka itu seperti masih pacaran saja. Mesraaa terus," komentar Pak Heri, begitu sepasang suami-istri itu sudah pamit kemudian hilang ditelan jarak.
"Padahal mereka korban perjodohan, loh, Pak," timpal Nida.
Sementara di sisi lain, Afriz dan Zaya masih bernegosiasi di parkiran. Afriz sebetulnya sudah naik motor dan memakai helm. Telah siap menghidupkan mesin pula, seandainya Zaya tak menambah drama.
"Apa ini nggak ngerepotin Pak Heri sama Kak Nida, kalau ninggalin Faiz?"
Raut wajah Afriz tampak tak suka dengan pemikiran berlebihan semacam itu.
Tidakkah Zaya berpikir, bahwa baik ikut ataupun tidak, Faiz pasti tetap akan merepotkan siapa saja yang bersamanya?
Lagi pun, rasanya tak lucu saja bila Faiz harus mendengar pembicaraan orang dewasa yang akan terjadi nanti. "Bilang, kalau nggak mau makan berdua," ujarnya.
"Bukan gitu. Tapi kalau nanti Faiz nangis, gimana?"
Terdengar helaan napas kasar dari hidung Afriz. "Coba dari tadi kamu jalannya cepet, terus buruan naik, kan kita bisa sudah selesai makan. Ini kita di sini, ribut-ribut nggak jelas gini, yang ada cuma buang-buang waktu untuk hal nggak perlu. Buruan naik, makanya. Ini, helm dipakai."
Merasa tak perlu mendebat, Zaya pun menurut.
"Mau ke mana kita?" Afriz bertanya sambil menunggu Zaya memakai helm. Nada dan intonasinya seperti Boots saat bertanya kepada Dora.
"Tapi Mas nggak bawa ransel, terus nggak punya poni. Punyanya jambul," cengir Afriz. Melalui spion, dirinya mendapati Zaya yang telah bersiap untuk duduk miring. "Duduknya nggak usah miring," tegurnya galak.
Beruntung, kali ini Zaya mengenakan bawahan kulot. Jadi, ia tak kesulitan naik motor bebek di depannya.
Ia betul-betul berboncengan dengan Afriz untuk yang pertama kalinya, tanpa ada Faiz seperti seminggu sebelum mereka menikah dulu. Bahkan tangannya memeluk pinggang Afriz sebagai pegangan.
Walau begitu canggung dan terasa konyol, memang beginilah seharusnya posisi mereka. Kondisi yang tentu dianggap romantis oleh siapa saja yang melihat, tetapi menggelikan bagi Zaya sebagai pelaku utama.
"Sudah?"
Zaya begitu saja mengangguk. "Udah."
"Sana, turun."
"Hiiih!" Mau tak mau, Zaya mencubit lawan bicaranya yang menyebalkan itu. Sekenanya, namun sudah menerbitkan tawa laki-laki di depannya.
Setelahnya, dapat ia rasakan bahwa motor melesat keluar gedung parkir.
__ADS_1
Kerlap-kerlip lampu dari berbagai sumber, mengiringi perjalanan 'kencan' sepasang suami-istri itu. Laju motor tak begitu cepat, sehingga Zaya bisa leluasa memandang deretan gedung di pinggir jalan yang mereka lalui. "Kita mau makan di mana, Mas?"
Tetapi Afriz tak langsung menjawab. Laki-laki itu tampak berpikir sebentar, mempertimbangkan beberapa opsi terbaik. "Di sekitaran alun-alun, mau?"
"Boleh."
Kemudian Zaya merapatkan tubuh ke arah suaminya, mempertipis celah di antara mereka. Otomatis, pegangannya semakin erat.
Lalu pandangannya bertemu dengan arah tatap Afriz yang sama-sama tertuju ke spion pada waktu yang sama. "Kenapa senyum-senyum?" tanya Zaya.
"Nggak apa-apa." Kini fokus penglihatan Afriz beralih ke depan, fokus ke jalan. Meski sesekali tetap melirik-lirik spion di sisi kanan depan, mengecek ekspresi Zaya dari sana. "Dingin, ya?"
"He-eh." Zaya mengangguk, lantas menumpukan dagu ke bahu suaminya. Mencari kehangatan, walau dirinya harus mengabaikan senyum berulang dari pria di depannya yang bisa ia lihat dari kaca spion.
Tetapi pada saat bersamaan, pandangannya pun memergoki sesuatu di belakang mereka. "Aku kayak pernah lihat orang itu deh, Mas," lapornya, setelah beberapa kali ia memastikan bahwa tak ada yang salah dengan penglihatannya.
Mungkin karena alun-alun sudah dekat, makanya reaksi Afriz begitu santai. Laki-laki itu tetap melajukan kendaraan dengan kecepatan stabil hingga tiba di tempat tujuan. Sama sekali tak terpengaruh aduan dari sang istri.
Bahkan seusai memarkirkan motor di salah satu sisi alun-alun, Afriz masih bersikap tenang. Ia melepaskan jaket dengan gerakan kalem. "Apa?" tanyanya, begitu mendapati Zaya menunjuk ke sebuah arah.
"Dia Mbak Vita, bukan?"
Afriz membenarkan bahwa perempuan yang dimaksud oleh Zaya adalah Vita. "Kenapa tanya gitu?"
"Ya nggak apa-apa, sih. Cuma, sewaktu ke rumah, dia juga sama laki-laki yang itu. Mereka pacaran, ya? Apa malah suami istri?"
"Setahuku Vita memang punya anak dan bersuami. Jadi, mungkin dia itu suaminya."
Afriz sendiri pun tak tahu siapa dan bagaimana rupa suami Vita, karena belum pernah bertemu.
Lagi pula, hal ini perlu disyukuri kalau hubungan Vita dengan suaminya kembali membaik. Memang sudah seharusnya begitu.
"Mungkin. Habisnya, aku mergokin mereka berduaan mulu."
"Itu kan urusan mereka, nggak ada hubungannya dengan kita. Makanya, biar nggak kalah sama mereka, kita perlu gandengan juga."
Afriz memasang tangan untuk Zaya gandeng. Namun, respons yang didapatkan memaksanya menahan senyum kala gerakan perempuan di sebelahnya itu mendadak canggung ketika hendak menautkan tangan sebelum melanjutkan perjalanan.
Entah hitungan keberapa kekonyolan ini terjadi selama keduanya menjadi suami istri.
Demi Tuhan, usia pernikahan mereka sudah hampir menginjak usia tujuh bulan. Bahkan Afriz sudah hafal setiap bagian tubuh pribadi Zaya yang sudah ia jamah berkali-kali.
__ADS_1
Tetapi mengapa terasa seperti baru menikah selama tujuh hari begini?
...***...