Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Terciduk Balikan


__ADS_3

Seusai mengirimkan pesan terakhirnya untuk Vita, Zaya tersenyum lega.


Ia memang punya harapan kalau Afriz telah meletakkannya di hati.


Buktinya adalah bayi di rahimnya ini, kalau boleh ia mengklaim atas hal tersebut.


[Mas udah mau pulang belum?]


[Aku pengin makan bakwan malang. Beliin sekalian ya mas]


Pesannya kini bertanda centang satu. Terkirim, tetapi belum diterima oleh suaminya.


"Nanti juga bakalan dibaca," gumamnya. Meyakinkan diri di tengah rasa kecewa kareka tak kunjung memperoleh tanggapan.


Sambil menunggu suaminya pulang dengan membawakan bakwan malang pesanannya, Zaya membuka akun Instagram.


Rasanya sudah lama sekali ia tak melihat-lihat sajian pada aplikasi yang dianggap tempat pamer itu.


Terakhir ia membuka mungkin sebelum Pak Hidup meninggal, lantaran ia sering mengunggah foto-foto kegiatan berkebun bersama sang mertua.


Postingan seseorang yang menandai akun milik Afriz menjadi tampilan teratas beranda akun Instagram Zaya.


Baru tiga menit yang lalu, berarti foto tersebut diunggah malam ini, dan tentunya belum lama.


Sementara perhatiannya sudah tertuju ke kutipan yang menyertai gambar.


Tercyduq. Tinggal nunggu undangan nih kalo kalian berdua udah balikan say


"Balikan?" bisik Zaya pada dirinya sendiri, tanpa tahu siapa yang berada di sebuah restoran bersama suaminya dalam foto yang saat ini tengah ia amati.


Rasa keingintahuan secara refleks membawa jemarinya menelusuri sebuah akun lain yang ditandai.


Lalu dirinya menemukan sosok Vita dalam setiap foto, yang menjadi bukti nyata bahwa yang dimaksud "balikan" adalah suaminya dengan wanita itu.


"Mas Afriz sama Mbak Vita pernah pacaran?"


Tanpa membuang lebih banyak waktu, Zaya kembali ke postingan semula untuk membaca komentar-komentar yang masuk, yang kebanyakan adalah doa agar Vita dan Afriz lekas menjalin hubungan seperti dulu lagi.


[Semoga balikan beneran]


[Dari dulu kalian ini pasangan yang bikin iri banget emang]


[Buruan diresmiin]


[Loh, bukannya dah punya suami n anak ya ta? Masih sweet aja]


[Lah si Afriz juga dah nikah. Gimana kalian ini?]


[Yg terbaik aja deh buat kalian. Abaikan mulut2 nyinyir yg suka ngurusin hidup orang lain, ta. Lagian kamu gak pernah minta makan dari mereka. Pokoknya seratus persen aku dukung kalo kalian beneran balikan]


[Jodoh mah emang gak bakalan ke mana]


[Baru juga ketok palu. Dah ada gandengan lagi ta?]

__ADS_1


@vita_0143 Rame bener. Hahaha.


[Ni janda baru malah ketawa, mentang2 diajak makan malam romantis bareng mantan terindah.]


[Emang harusnya gini, kan? Kan kamu yang nemenin dia sewaktu masih awal rintis usaha. Gak lucu banget sih kalo yang nikmatin justru orang lain yg cuma kebagian enaknya doang]


Sekali lagi, Zaya mengamati foto yang terpampang di layar.


Ada desakan panas pada mata dan dada, ketika melihat apa yang tersaji di depan matanya kini.


Saat ia mengidam bakwan malang yang harganya tak seberapa, suaminya tengah makan romantis berdua bersama mantan pacar yang kini berstatus sebagai janda.


Terlebih, telepon genggam Afriz tak aktif. Seolah memberitahunya bahwa laki-laki itu sedang tidak ingin diganggu.


Padahal belum ada sebulan Afriz membujuknya agar mau memeriksakan kandungan.


Belum ada sebulan laki-laki itu menyatakan kesediaan untuk menjadi suami siaga, sebagaimana peran para suami yang menanti kedatangan buah hati.


Bahkan belum genap sehari semalam suaminya mewanti-wanti agar ia menjaga calon bayi mereka dengan baik, selama pria itu tak sedang berada di rumah.


"Nggak boleh suuzon. Udah mantan. Mas Afriz nggak bakalan aneh-aneh," yakin Zaya pada dirinya sendiri.


Tetapi masih saja, kosakata "balikan" dan dukungan-dukungan dari para teman Vita seolah menyangkal pemikiran positif barusan.


Siapa yang tahu pula, kalau selama ini mereka memang benar menjalin hubungan di belakangnya. Bersikap seolah tak terjadi apa-apa, padahal tanpa Zaya tahu, bisa saja keduanya sedang bermain api.


[Wujudkan ini ta. Aku kayak yg lain dukung kamu seratus persen. Abaikan mereka yg nyinyir. Krna yg namanya cinta emang perlu perjuangan]


Lagi-lagi, rasa penasaran membawa jemari Zaya mengikuti sebuah pranala yang ia temukan di komentar yang baru saja masuk, dan mungkin bisa menjadi wujud penegasan atas dugaannya.


Pasangan itu tampak saling mencintai satu sama lain. Sekaligus menyakitinya.


Di antara kumpulan foto tersebut, ia pun menemukan pranala lain di caption, yang ia duga akan mempertegas semua potongan adegan yang baru saja dilihatnya pada tampilan-tampilan foto.


Dan apa yang ia temukan, sungguh di luar dugaan.


Melalui sebuah channel YouTube yang sepertinya dibuat khusus oleh sepasang kekasih itu, ia melihat semuanya dengan jelas.


"Selamat hari jadi yang pertama untuk hubungan kita, Sayang. Love you, Beib," kata Vita kepada Afriz, di dalam video.


Lalu tanpa pikir panjang Afriz pun menjawab, "Love you too."


Kemudian Zaya pun terkesiap, saat perempuan berwajah Indonesia tetapi berambut pirang itu mengecup bibir laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya itu.


Napasnya tersekat. Matanya kian memanas. Dadanya bergejolak.


Zaya dapat mendengar secara jelas bagaimana kalimat-kalimat cinta dan sayang melimpah ruah dari bibir sepasang kekasih itu.


Padahal satu kali saja, ia tak pernah mendengar Afriz mengucapkan kalimat serupa untuknya, bahkan selama hampir sembilan bulan usia pernikahan mereka.


Perempuan itu pun bisa menyaksikan secara detail adegan-adegan keduanya kala memadu kasih. Ciuman dan pelukan kasih sayang, terwujud tanpa beban. Saling tatap, tersenyum, saling cubit, kejar-kejaran, dan berakhir dengan ucapan cinta. Lagi. Untuk hitungan yang entah keberapa kalinya.


"Kamu mau nggak, nikah sama aku? Menjadi ibu dari anak-anakku, menjadi keriput bersamaku, melihat cucu-cucu kita berlarian ke sana kemari dan tertawa bersama di usia senja kita?"

__ADS_1


Sejauh itu. Hubungan keduanya sudah selangkah lagi menuju ke pelaminan.


Lamaran yang begitu romantis, tak terlupakan, dilakukan oleh orang yang dicintai.


Tak heran jika wanita berkulit putih bersih yang ada di layar itu sontak membekap mulutnya sendiri, memperlihatkan kuteks berwarna indranila pada kuku-kuku jemari tangannya, kemudian mengangguk malu-malu saat menyatakan kesediaan menjadi pendamping pemuda yang menawarkan masa depan untuknya.


Sementara itu, Zaya membekap mulutnya sendiri untuk meredam isakan yang mulai lolos dari bibirnya.


Sebab, ia secara tak sadar membanding-bandingkan keadaannya dengan wanita yang ada di dalam layar.


Zaya ingat, bagaimana lamaran Afriz kepadanya disampaikan oleh Pak Hidup, kemudian diterima oleh ayahnya pada sepuluh hari menjelang ijab kabul.


Ketika itu ia hanya diam. Tak berharap banyak. Tak ada yang bisa ia harapkan dari rencana pernikahan semacam itu, walau ia mau menjalaninya sepenuh hati.


Dan inilah awal kesalahannya, di mana ia melibatkan hati dalam setiap interaksi.


"Maksud anggukan kamu apa, Sayang?" tanya Afriz.


Wajah Vita yang sudah merah, terlihat semakin malu dan tambah cantik. "Iya, aku mau," katanya.


"Bisa diulang? Aku nggak dengar."


"Iya, aku mau jadi istri kamu."


Mereka saling menularkan kehangatan melalui pelukan. Tak lama setelah itu, sepasang mata Afriz menatap wajah Vita dengan pandangan lega dan memuja.


Lalu pemuda itu menyalurkan rasa kasih sayang lewat kecupan pada kening perempuan di hadapannya. Lama dan dalam.


Semuanya pun terpampang secara jelas dan begitu nyata. Bagaimana kedua manusia berlainan jenis kelamin itu tampak bahagia ketika mengobrolkan konsep pernikahan impian mereka, berapa jumlah tamu yang akan diundang ketika resepsi, tempat tujuan untuk berbulan madu, rencana keuangan ke depan, keluarga yang akan mereka bangun berdua, jumlah momongan, hingga hari tua yang akan selalu bersama, dan siapa pun yang pergi lebih dulu bersedia menunggu di pintu surga.


Bahkan desain rumah yang kini ia tinggali, adalah rancangan sang suami dengan Vita. Pantas saja waktu itu Vita merasa berkuasa di rumah ini, dan Afriz tak bersikap tegas pada perempuan itu.


Melihat semua yang tampak di depannya kini, Zaya seperti bercermin pada kaca retak dan berembun. Ia tak dapat melihat bayangannya sendiri. Siluet di dalamnya, jauh berbeda dengan keadaannya sekarang.


Sebab satu kali pun. Satu kaliii, saja. Afriz belum pernah menyatakan cinta padanya, istri sahnya sendiri.


Jangankan mendeklarasikan cinta. Saat berbicara berdua seminggu menjelang pernikahan saja, Afriz cuma berpesan kepadanya agar menerima pernikahan mereka tanpa harus merasa terpaksa.


Tak pernah ada lamaran pribadi di antara keduanya, baik sebelum maupun sesudah mereka menikah.


Padahal Zaya sungguh ingin --walau caranya jauh dari kata romantis dan rangkaian ucapannya tak seindah puisi sekalipun-- Afriz bersedia melamarnya atas nama diri sendiri.


Tetapi melihat reaksi Afriz yang tak ada cemburu-cemburunya kepada Pam, seharusnya Zaya sudah mengerti bahwa laki-laki itu tak memiliki rasa cinta untuknya. Baginya, Afriz jelas tak akan merasa kehilangan, sekalipun Pam masih berusaha mendekatinya.


Keduanya benar-benar dikendalikan oleh keadaan. Hingga detik ini, arah tujuan mereka menikah pun semakin bias. Tak tentu arah, meski sekarang dirinya tengah mengandung anak dari laki-laki itu. Dan yang menyedihkan, kini ia mencintai suaminya tersebut secara sepihak.


Kini, masa lalu itu datang. Menghantam rumah tangga mereka yang memang tak dibangun dengan landasan cinta.


Lantas, apa yang bisa ia harapkan, jika sejak awal pernikahan hingga kini ia tak pernah mendapatkan penegasan dari suaminya sendiri?


Zaya mengusap air mata yang tanpa sadar telah membasahi salah satu pipinya. Kemudian mengecek jam sembari mengelus bagian perutnya yang masih terbilang rata.


"Kita beli makan sendiri sambil jalan-jalan bareng Kak Faiz aja, ya, Dek," ajaknya kepada si jabang bayi, sembari menahan tangis susulan agar calon anaknya ini tak ikut bersedih.

__ADS_1


...***...


__ADS_2