
Sayup-sayup telinga Zaya dapat mendengar suara di sekitarnya, meski matanya masih terpejam. Kesadarannya mulai terkumpul sedikit demi sedikit, walau kepalanya masih terasa berat.
Bau menyengat seketika menyambut hidungnya yang bekerja dua kali lebih keras dari biasanya. Punggung atasnya terasa sangat pegal. Area perut rasanya tak nyaman. Sementara itu, telapak tangan kirinya serasa nyeri hebat.
Kini kedua mata perempuan itu mulai terbuka, kemudian mengerjap beberapa saat untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk melalui jendela di samping kiri. Walau sedikit berkunang-kunang, ia dapat melihat langit-langit ruangan asing yang saat ini ia tempati.
Setelah itu pandangannya beralih ke depan sana, ke tempat terpajangnya sebuah televisi LED berukuran 32 inci. Lantas ia menoleh ke kiri, dan seketika terkejut saat mendapati selang infus yang dipasangkan pada punggung tangan kirinya.
Tak lama, ia lantas mengarahkan tangan kanannya ke area perut. Memastikan bahwa bayinya tidak apa-apa, dan ia dapat merasakan detak jantung anaknya yang masih amat kecil itu.
"Selamat siang, Bu. Saya periksa dulu keadaan Ibu, ya." Mungkin karena sibuk dengan pikirannya sendiri, Zaya sampai tak menyadari kedatangan serta keberadaan petugas di sekitarnya.
"Saya kenapa?"
"Ibu kelelahan dan mengalami dehidrasi," jawab petugas perempuan yang mengenakan seragam itu seraya memeriksa tekanan darah Zaya.
"Bayi saya tidak apa-apa, kan?"
"Beruntung, bayi ibu tidak apa-apa. Tapi kalau Ibu sering kelelahan dan kurang minum lagi, itu bisa mengancam kesehatan bayi Ibu. Lain kali, tolong diperhatikan lagi, ya." Perempuan berseragam putih bersih itu tersenyum saat memungkasi kegiatannya.
Zaya tersenyum dan mengiyakan apa saja yang diinstruksikan oleh perempuan itu. "Terima kasih."
Sempat bergumam mempertanyakan keberadaannya sekarang, Zaya mencoba mengingat-ingat peristiwa sebelum ia bisa sampai di tempat ini.
__ADS_1
Kemarin Zaya pulang dari Desa Karang Kidul dengan menumpang sebuah bus, lalu sesampainya di terminal, perjalanan dilanjutkan dengan mengendarai angkutan kota. Hanya butuh waktu kurang lebih dua puluh menit untuk sampai di lingkungan tempat tinggalnya bersama Afriz.
Kemudian Zaya memejamkan mata saat teringat apa yang dilihatnya kemarin di kediamannya, yakni ketika Afriz sedang memeluk Vita, masih pula ditambahi dengan kesediaan Vita untuk dijadikan sebagai istri kedua Afriz.
Lalu seingatnya, ia menghindari kejaran Afriz, menuju terminal dan mencari makanan di sekitar sana. Setelah itu ia teringat Nida dan segera ke tempat tinggal baru keluarga kecil Nida.
Akan tetapi, setibanya di kediaman adik iparnya itu ia justru diusir dengan pernyataan yang berkali-kali lipat jauh lebih menyakitkan ketimbang caci maki dari Bu Lincah.
"Oh, dan satu lagi: nggak usah kebanyakan tingkah. Kamu tuh harusnya sadar diri, kalau di rumah abangku, kamu dan anakmu itu cuma numpang."
Seperginya ia dari tempat tinggal Nida, ia sempat berziarah ke makam Pak Hidup. Ia mencurahkan hati secara habis-habisan di samping pusara sang ayah mertua, sekaligus memberi isyarat untuk pamit dari kehidupan Afriz. Walau teramat berat, ia memang harus melakukan ini.
Entah ia akan tinggal di mana, yang jelas tak akan menumpang lagi di rumah rancangan suaminya dengan Vita.
Meski harus berkeliling jauh hingga kelelahan, pada hampir pukul sepuluh malam ia tiba juga di rumah Una. Ia lalu beristirahat di sana hingga pagi menjelang.
Agak siangan, perutnya tiba-tiba kram. Kemudian rasanya ada cairan yang keluar melalui saluran dari area paling pribadinya, dan setelah diperiksa ada noda darah di ****** ***** yang ia kenakan.
Diiringi oleh pandangan yang makin berkunang-kunang, ia masih tetap bertahan. Akan tetapi, tak butuh waktu lama bagi tubuhnya untuk tumbang di tempat. Dan di sinilah pamungkasnya.
Beberapa detik Zaya menormalkan napas dan detak jantungnya. "Nggak boleh nangis, Ya," bisiknya pada diri sendiri, menahan isakan dan air mata yang hampir lolos dari masing-masing sumbernya.
"Sejak awal, seharusnya kamu udah tahu dan sadar semua konsekuensi yang akan kamu terima. Kalau emang pada akhirnya kamu harus berjuang sendiri, nggak apa-apa. Tapi tolong, jangan nangis cuma karena laki-laki." Walau berkata begitu, tanpa sadar pipinya mulai basah. Namun, cepat-cepat ia mengusapnya. Menghilangkan jejak kejatuhannya yang sempurna.
__ADS_1
Suara tangisan Faiz dari luar ruangan, seketika saja mengalihkan perhatian Zaya. Perempuan itu mengarahkan pandangan ke asal suara, mencari keberadaan balita laki-laki itu. Untuk beberapa saat hatinya jadi tak menentu. Namun ketika Una masuk membawa Faiz masuk ke ruangan ini, kelegaan terpancar dari wajahnya yang masih pucat.
"Kak, Faiz biar tidur sama aku aja," ucap Zaya saat melihat Una sibuk menenangkan Faiz di sekitarnya. Ia menepuk-nepuk sisa ruang di sebelahnya, yang sayangnya terlalu sempit lantaran hanya muat untuk satu orang.
"Kayaknya nggak muat, Ya," tolak Una, seraya menepuk-nepuk pantat Faiz yang masih menangis. "Udah, biar dia sama aku dulu."
Tetapi Faiz menoleh seraya menunjuk ke arah ranjang yang Zaya tempati. "Mamaaa!" teriaknya histeris.
Sementara itu, tubuh Una menegang. Rasanya seperti ada benda keras yang menghunjam dada ketika anak kandungnya justru menangis saat ia gendong, kemudian memanggil 'mama' untuk orang lain.
Akan tetapi, memang beginilah konsekuensi yang harus dia terima lantaran tak ada di samping putranya yang tengah butuh sosok seorang ibu.
Meski berat hati, Una menuruti keinginan anaknya yang sudah meronta-ronta dalam gendongan. Ia menyerahkan balita itu kepada Zaya secara hati-hati, memperhatikan keadaan Zaya yang masih berurusan dengan selang infus.
Sementara itu, Zaya sudah duduk di ranjang, siap menerima Faiz yang merentangkan kedua tangan, hendak mendekat dan memeluknya.
Akan tetapi, Una hanya mendudukkan Faiz di depan Zaya agar balita itu tak bersinggungan langsung dengan tangan Zaya. Ia membiarkan Faiz mendekat sendiri, dan langsung direspons cepat oleh rangkakan anak itu.
"Bubuk," ucap Faiz serak, seraya menempelkan kepalanya di bantal. Selain itu, ia memberi isyarat agar Zaya mau memeluknya.
"Faiz dari tadi nangis karena ngantuk?" Zaya tertawa, kemudian menyesuaikan diri untuk memeluk Faiz tanpa harus berbaring, agar balita itu segera terlelap.
Una masih berdiri kaku di depan ranjang besi itu. Ia tak mengerti perasaannya kini, ketika melihat pemandangan di hadapannya, di mana Faiz tak butuh waktu lama untuk tidur nyenyak setelah lengan dan kepalanya memperoleh elusan berulang dari Zaya.
__ADS_1
...***...