Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Momen Masa Kecil


__ADS_3

Afriz sama sekali tak menampik anggapan bahwa Zaya merupakan tipe perempuan yang membosankan.


Jarang punya inisiatif membuka topik pembicaraan, kaku jika menyangkut hal-hal romantis, kerap merespons kontak fisik secara lamban, serta punya kebiasaan sehari-hari yang acapkali monoton.


Meski begitu, Afriz selalu suka dan tak ingin mengganggu saban kali istrinya sedang melakukan kegiatan seperti saat ini. Yaitu ketika Zaya tengah duduk bersila di depan meja kecil, menghadap kiblat, melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan suara merdu.


Aktivitas itu membuat rumah yang dulu sering dia tinggal pergi ini serasa makin terang dan terisi banyak kebaikan. Hatinya pun ikut tenang. Setidaknya, kemampuannya yang terbatas dalam membaca kitab suci telah ditambal oleh perempuan itu.


Dengan keadaan semacam itu, Afriz merasa tak pantas mendapatkan julukan laki-laki soleh sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Zaya. Sebab bila dipikir-pikir, dia tak memenuhi kriteria untuk disebut laki-laki soleh. Membaca Al-Quran saja dia payahnya minta ampun.


"Shadaqallaahul'adzim...." Zaya menutup lalu menyentuhkan kitab suci bersampul tebal dan berwarna dasar perak itu ke dahi dan hidungnya, sebagai penanda bahwa kegiatan tadarusnya telah usai. Kemudian ia mengembalikan benda di tangannya tersebut ke tempat semula, di rak buku pada susunan paling atas.


"Mas udah lama di situ?" tanya Zaya, begitu menyadari keberadaan Afriz di sekitarnya.


Afriz hanya menanggapi dengan anggukan.


Kemudian, keheningan merayap. Sampai-sampai langkah Zaya saat mendekat kepada suaminya terdengar begitu keras.


Langkah perempuan itu menjadi lebih pelan saat mendengar sesuatu. "Eh," ucapnya agak kaget sekaligus was-was. "Mas dengar itu, nggak?" tanyanya kemudian.


Walau mendengar juga, Afriz tetap tak mau berpikir aneh-aneh. "Apa?"


"Itu, ada suara dari atas."


Afriz terdiam, belum menjawab. Sebab, dia tak hanya sekali ini mendengar suara itu.


Wi pi wi pi pi wi wi wi wi.


"Itu suara burung Kedasih, bukan?" gumam Zaya dengan suara bergetar.


Bunyi burung itu seperti tepat berada di atas rumah mereka, lalu seolah hilang seiring gerakan pemiliknya yang menjauh. Pergi, setelah itu kembali lagi ke arah semula, dengan tetap mengeluarkan suara yang sama. Khas dan berulang-ulang. Terdengar menakutkan sekaligus mencekam.


Afriz mengangguk mengiyakan, sekaligus mengerti ke mana arah pembicaraan ini. "Nggak usah takut, Ya. Nggak akan ada apa-apa."


"Tapi burung Kedasih, kan ...."


"Sssst ...." Afriz menggeleng, menghentikan prasangka istrinya. "Nggak akan ada apa-apa, Yang. Kamu nggak usah percaya sama hal-hal kayak gitu. Itu cuma mitos. Mendingan kamu berdoa, semoga semuanya baik-baik saja."


Mau tak mau, Zaya tetap mengangguk juga. Memberikan sugesti bahwa yang menentukan takdir bukanlah burung Kedasih atau makhluk lainnya, tetapi pencipta makhluk-makhluk yang ia maksud.


Wi pi wi pi pi wi wi wi wi. Wi pi wi pi pi wi wi wi wi.


Untuk kesekian kalinya Zaya merinding. Sebab, dengan terdengarnya suara burung Kedasih adalah suatu pertanda buruk.


Konon katanya, burung yang tak pernah membuat sarang itu disinyalir memberitahu datangnya malapetaka, terutama kematian, di sekitaran radius terdengarnya suara.


Hal itu pun membuatnya merasa khawatir. Firasatnya mendadak tak enak. Takut kalau-kalau akan terjadi apa-apa dengan salah satu atau bahkan beberapa anggota keluarganya.


Tetapi memang tak ada alasan untuk membantah perkataan suaminya, agar ia memperbanyak doa agar semuanya baik-baik saja. Ia hanya perlu meminta perlindungan dari Sang Pemberi Hidup, bukan hanya memikirkan praduga-praduga yang membuatnya seperti manusia tak ber-Tuhan.


"Kamu pernah bilang, katanya ada yang mau kamu tunjukkan?" tanya Afriz akhirnya, berusaha mengalihkan perhatian dari suasana tidak enak barusan.


"Eh, sebentar." Zaya langsung saja meninggalkan Afriz, tak jadi duduk di sebelah laki-laki itu.


Sementara itu, Afriz menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan tingkah Zaya.


Tak sampai tiga menit, Zaya sudah kembali ke hadapan Afriz, dengan tangan membawa album foto keluarga Afriz. Setelah itu ia duduk senyaman mungkin untuk menyampaikan sesuatu. "Kapan hari, Faiz bawa-bawa ini. Nah, terus aku nemu sesuatu," tunjuk Zaya pada sehalaman kertas bergambar lawas di tangannya.

__ADS_1


"Apa?"


"Lihat aja." Zaya menyodorkan album foto itu kepada suaminya yang tengah duduk di sebelahnya. Tubuhnya makin dekat dengan lawan bicaranya. "Mas ingat, nggak?"


"Oh, ini?" Afriz tersenyum geli. "Tadinya lupa, tapi sekarang ingat."


"Beneran?" Perhatian Zaya terpusat pada Afriz. Ia berekspektasi bahwa informasi yang akan ia dapat dari suaminya ini amat menarik. "Ceritain tentang waktu itu dong, Mas."


Afriz tampak berpikir sejenak, mengingat-ingat. "Waktu itu dua gigi depan kamu ompong, dan tiap ditanya kenapa ompong, kamu selalu bilang mamam yap yang artinya gigi kamu dimakan rayap. Umur segitu kamu juga masih ingusan dan ngencesan."


Zaya berdecak. Ia tak habis pikir kenapa yang diingat oleh suaminya malah hal-hal memalukan semacam itu. "Masa yang diinget itu?"


"Terus mestinya yang mana?"


"Ya apa kek, yang lain. Waktu itu aku nakal atau gimana gitu."


"Enggak, kamu nggak nakal. Kecilnya kamu juga manis kayak gini." Walau mulutnya berbicara begitu, Afriz hampir terbahak. Rasanya sangat menyenangkan mengingat-ingat makhluk kecil bernama Ihzaya Nurina yang saat itu masih berumur tiga tahun. "Tapi kamu mau tahu beneran apa enggak?"


Zaya mengangguk. "Iya. Aku penasaran banget."


Kini Afriz menahan senyumnya. "Mas ingat, dulu itu, setiap kali selesai mandi, kamu suka lari-lari karena nggak mau pakai baju dan celana. Mana lagi kalau pakai handuk, handuknya sering kamu lepas biar bisa bebas goyang-goyang nggak jelas."


Itu sih lebih parah daripada yang pertama tadi!


"Nggak mungkin. Aku nggak pernah kayak gitu!" elak Zaya, yang sayangnya sama sekali tak berguna.


Afriz terkekeh. "Kamu mana ingat? Waktu itu, umur kamu kan baru 3 tahunan kalau nggak salah. Kalau Mas kan 11 tahun, jadi sudah ingat jelas."


"Jadi, Mas suka cari kesempatan nontonin aku yang lagi ...."


Kedua mata Zaya melebar. "Mas!" rajuknya.


"Ya terus apa, kalau bukan telanjang? Kamu kan memang nggak pakai baju dan celana," cengir Afriz. "Tapi tuduhan kamu soal Mas sengaja nontonin kamu yang lagi telanjang itu nggak bener. Mas cuma lihat pas diajak Mama ke rumah kamu. Itu pun nggak sengaja."


"Yakin, nggak sengaja?"


"Yakin." Tetapi Afriz jadi ingat sesuatu. "Eh, tapi kamu maunya pakai baju dan celana kalau Mas yang memakaikan. Kalau Mas nolak, kamu nangis dan nggak mau berpakaian."


Zaya masih belum terima. Ia yakin, dirinya tak mungkin bertingkah sememalukan itu. "Alah, palingan Mas aja tuh yang ngarang cerita."


"Enggak. Buat apa ngarang, kalau faktanya lebih seru?" Afriz makin susah menahan tawanya. Direngkuhnya tubuh Zaya ke dalam pelukan.


Lalu pemuda itu tertawa terbahak-bahak, membayangkan Zaya kecil yang dulu suka sekali jalan-jalan atau lari-larian di dalam rumah tanpa baju, juga tanpa tahu malu.


Zaya mencubit lengan suaminya. "Nggak usah ketawa!"


"Habisnya kamu lucu, sih." Afriz menghabiskan sisa-sisa tawanya. "Setelah tahu ceritanya, sekarang mau goyang-goyang sambil telanjang kayak dulu lagi nggak, Yang? Mumpung sudah malam, dan kita lagi di kamar, nih. Kalau mau, Mas ikhlas banget nontonnya," bisiknya menggoda. Tubuhnya bahkan sudah mengunci gerakan Zaya. "Cuma, nggak ada jaminan kalau Mas nggak bakalan ngurung kamu di sini semalaman."


Ujung-ujungnya, Zaya yang menyesal karena pembicaraan perihal foto lawas yang ia buka justru menjadi jalan menuju pikiran kotor dan tindakan mesum suaminya.


...***...


Mata Zaya terpejam, tapi perempuan itu tak bisa benar-benar tidur.


Berulang kali ia mengubah-ubah posisi. Miring ke kiri, kanan, telentang, sampai tengkurap. Menarik dan menurunkan selimut, meremas alas tidur, bergantian memeluk Afriz dan guling. Tetapi ia tak kunjung bisa menyusul suaminya yang sudah tidur pulas.


Mas," panggilnya, berharap sang suami akan berbalik ke arahnya dalam keadaan sadar. "Aku nggak bisa tidur," lapornya.

__ADS_1


Sekarang tangannya berani mengganggu tidur laki-laki di sebelahnya ini. "Maaas," panggilnya merengek.


"Hm?"


Akhirnya Zaya duduk, kemudian merebut guling yang ada di bawah kuasa Afriz. "Maaas," rengeknya lagi.


Kali ini usahanya membuahkan hasil. Laki-laki yang sedari tadi ia panggil, kini mengucek kedua mata. "Kenapa?" tanya Afriz. Suaranya serak.


"Dari tadi aku nggak bisa tidur."


Afriz pun bangkit, lalu menghidupkan lampu tidur di meja. "Kenapa?"


"Perasaanku nggak enak."


"Nggak enaknya kenapa?"


"Nggak tahu. Tiba-tiba nggak enak aja."


Mendengar jawaban yang membingungkan barusan, Afriz menguap. "Ngantuk, Yang," katanya sambil bersiap berbaring lagi untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu.


"Jangan tidur lagi," tahan Zaya. "Temenin."


Setelah beberapa detik tak bereaksi, Afriz akhirnya bangkit sembari tangannya membersihkan sudut-sudut mata.


"Kita kan hidup bareng udah hampir tujuh bulan, Mas. Setelah apa yang kita lewati sejauh ini ... sebenernya gimana perasaan Mas ke aku?" Entah mengapa, pertanyaan itu melintas begitu saja di benak Zaya, dan langsung ia lisankan.


Afriz menggenggam tangan Zaya, berusaha menyalurkan kehangatan pada lawan bicaranya. Berusaha memberi jawaban terbaik bagi mereka berdua. "Mas siap melindungi kamu dan mempertahankan pernikahan kita."


Merasa tak puas dengan jawaban yang baru saja ia dapatkan, Zaya menggeleng. Bukan. Bukan itu yang ingin ia dengar.


Ia hanya butuh kepastian atas arah hubungan mereka. Sebelum langkah keduanya semakin jauh.


Sebelum perasaannya benar-benar mendesaknya untuk memutuskan siap memiliki momongan, yang kian hari peluangnya makin besar.


"Mas ... cinta nggak sama aku?" tanya Zaya, mempertegas maksudnya.


Tubuh Afriz membeku. Ludahnya mendadak serat. Amat jelas kalau dia belum siap memberikan jawaban untuk satu pertanyaan itu. Bibirnya hanya bergerak-gerak gelisah, seolah mengatakan sesuatu tetapi khawatir dapat didengar oleh lawan bicaranya.


Ya, harapan itu membumbung kian tinggi di benak Zaya. Meskipun pernikahan mereka merupakan hasil campur tangan orang tua dari masing-masing pihak, ia harap, Afriz mempertahankan rumah tangga mereka hingga kini bukan karena intervensi dari luar diri pria itu.


Karena keduanya tak bisa memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Bunyi nada dering dan getaran ponsel milik Afriz memutus kontak dan menimbulkan reaksi tak seragam dari sepasang suami istri itu.


Afriz menghela napas lega, sementara Zaya mendesah kecewa. Namun bunyi tersebut hanya dibiarkan sampai berhenti sendiri.


Afriz mengambil telepon genggam pintarnya, saat mendengar dering yang kedua. Lalu dia membaca nama yang tertera pada layar. "Nida yang telepon. Mas angkat dulu, ya," izinnya.


Melihat raut cemas suaminya yang tengah berinteraksi, Zaya jadi ikut khawatir. Tetapi ia tetap menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.


"Ada apa, Mas?" tanya Zaya, saat ia melihat suaminya buru-buru hendak keluar kamar.


"Papa nggak sadarkan diri."


Zaya terkesiap. "Ya Allah."


Bersambung ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2