
Sudah lama rasanya Zaya tak melihat studio foto yang menjadi tempat pertama ia bertemu dengan Afriz. Keadaan tempat itu tak banyak berubah, bahkan masih sama persis.
Posisinya masih berada di antara kedai sepatu di sebelah kiri, toko pakaian di sisi kanan, serta di seberangnya ada toko mebel dan toko obat serta alat pertanian dan peternakan.
Zaya memandang Afriz yang tengah membuka pintu besi studio foto. Laki-laki itu mendorong benda tersebut dengan santainya. Sangat berbeda dengannya dulu, yang cukup kesulitan mendorong pintu besi bercat biru itu. Karena tenaganya tak sebanding dengan para pria, walau ia mengaku kuat.
Sorot matahari yang semakin terang, membawa Zaya masuk studio mendahului Afriz yang melangkah di belakangnya. Ia mengamati tatanan yang tak berbeda jauh dengan keadaan saat dirinya masih bekerja di tempat ini. Hanya sedikit lebih berantakan saja. Lantainya pun seperti jarang dibersihkan, tampak dari lapisan debu yang begitu jelas.
Afriz menyalakan penerang ruangan untuk menambah cahaya. "Agak berantakan. Maklum, sejak kamu keluar dari sini, jarang Mas rapikan," kata Afriz, memberi jawaban tanpa harus ditanyai.
"Pantesan," sahut Zaya. Setelahnya, ia meletakkan tas yang dibawanya, ke meja yang dulu sering ia tempati. "Eh, bukannya Mas pernah bilang kalau punya pegawai baru?" tanyanya, tak mengerti mengapa ia dan Afriz bisa lupa akan satu fakta barusan.
"Oh, itu?" Afriz tertawa sejenak, mengerti di mana kesalahannya. Sebab, istrinya memang belum tahu kalau studio foto miliknya bukan hanya ini. "Itu di studio yang lain, Yang. Kalau ini, hanya Mas yang jaga."
"Emangnya Mas punya studio foto lain?" tanya Zaya makin heran.
Merasa tak ada yang perlu disembunyikan, Afriz pun mengangguk. "Ada satu lagi, tapi jauh. Ada yang cuma tempat sewa kamera dan perlengkapannya. Kalau cetak foto, biasanya di sini. Makanya kadang kalau dapat jumlah cetakan yang lumayan banyak, Mas mesti pulang telat."
Kini Zaya jadi mengerti, mengapa sejauh ini uang bulanannya tak sedikit, makanya ia bisa menabung. Bahkan menurutnya, Afriz tinggal mengeruk sejumlah uang sebagaimana ia mengeruk dedaunan di jalan. Karena suaminya punya beberapa usaha yang menurutnya sudah sukses.
Bayangkan saja, laki-laki itu bahkan bisa mengumpulkan uang kuliah untuknya hanya dalam hitungan bulan. "Tahu gitu kan Mas bisa minta tolong aku biar bantu-bantu di sini," ucap Zaya kemudian.
Lagi-lagi, Afriz tertawa. "Kalau kamu bantu-bantu di sini, Papa jadi di rumah sendirian terus dong, Yang. Faiz juga kasihan."
"Ya kan nggak tiap hari juga, Mas. Aku bantu bersih-bersih aja, kan bisa."
"Iya, besok-besok boleh bantu."
Zaya menanggapi dengan senyum.
__ADS_1
"Kalau kamu ikut ke sini, yakin kita nggak sibuk berduaan terus, Yang?"
"Kan ada Faiz."
Sambil berjalan ke tempat kemoceng, lap, serta semprotan pembersih berada, Zaya berpura-pura tak mendengar ucapan Afriz barusan. Kemudian mulai membersihkan benda-benda yang memang perlu dibersihkan.
Sementara itu, Afriz masuk ke sebuah ruangan yang menjadi tempat khusus mesin pencetak foto. Ruang tersebut hanya dibatasi oleh dinding dan pintu yang terbuat dari kaca tebal, sehingga laki-laki itu masih dapat melihat gerak-gerik istrinya dari posisinya kini, saat tengah menghidupkan mesin cetak foto sebesar mesin fotokopi itu, sambil menata kertas-kertas foto sisa tadi malam yang berserakan.
Kini ia tersenyum melihat bagaimana Zaya berkutat dengan alat-alat kebersihan yang menjadi pegangan sehari-hari. Ditemani Faiz yang sudah memegang kemoceng, perempuan itu sama sekali tak merasa terganggu ketika beberapa kali Faiz berusaha menarik perhatian.
Begitu selesai dengan kegiatannya, Afriz mendekati Faiz. "Sini, anak pinter." Dengan sekali gerakan, Faiz sudah ada di gendongan Afriz. "Nanti kamu ikut Papa beli rujak buat mama, mau?"
"Kita bisa berhenti dulu, nggak?"
"Mau ngapain?"
Afriz menoleh sebentar, lalu kembali fokus ke kemudi. "Nanti saja. Di dekat studio juga ada tukang rujak. Nanti Mas belikan."
Perhatian Zaya seketika terpusat pada suaminya yang tampak serius menatap jalan. "Yang di sana, rujaknya rujak ulek juga apa bukan, Mas?"
"Nggak tahu."
Zaya menatap sebal suaminya, begitu mendengar jawaban yang sama sekali tak melegakannya itu. "Kalau ternyata bukan rujak ulek kayak yang itu?" tanyanya lagi, menunjuk gerobak tukang rujak yang sudah terlewati.
"Nanti biar diulek sama tukang rujaknya. Atau ...." Afriz terdiam sesaat, seraya menahan senyum. "... biar Mas kunyah, terus Mas suapin ke kamu dari mulut ke mulut."
Dapat dia lihat, kengerian tak bisa disembunyikan dari wajah Zaya. Mungkin tak bisa membayangkan cetusan rujak ulek versi Afriz itu.
Pukul 10 pagi, Afriz benar-benar mengajak Faiz membeli rujak. Balita di gendongannya itu girang bukan main saat diajak menyeberang jalan, melihat-lihat kendaraan berlalu lalang atau sesekali berjejer rapi saat lampu merah, serta berpapasan dengan banyak orang.
__ADS_1
Tetapi Afriz tak menyangka jika salah satu orang yang akan berpapasan dengannya adalah Pak Kuswin, mertua laki-lakinya.
"Kita ketemu di sini, Le," ucap Pak Kuswin amat semringah, begitu mengenali orang yang baru saja menyapa dan menyalaminya. "Coba tadi Bapak parkirnya tidak di pojok sana," tunjuknya ke belakang. "Mungkin kita tidak bakalan ketemu, Le."
Pandangan Afriz tertuju ke arah yang ditunjuk oleh laki-laki berkemeja biru motif kotak-kotak besar di depannya. Benar-benar jauh. "Bapak sendirian saja?" tanya Afriz berusaha memulai pembicaraan, menginterupsi kegiatan Pak Kuswin yang tengah bersapa ria dengan Faiz.
"Iya, e, Le. Bapak dimintai tolong tetangga untuk beli obat gatal-gatal hewan ternak. Kebetulan di dekat-dekat sana tidak ada yang lumayan bagus. Kurang tokcer, pokoknya. Terus Bapak ingat di sekitar sini sepertinya ada toko obat dan alat pertanian yang komplet, cuma Bapak lupa nama toko dan letak persisnya di mana."
"Oh, tinggal lurus saja, Pak. Palingan pat sampai lima kios lagi dari sini. Nama tokonya, Sumber Tani."
Pak Kuswin mengangguk-angguk paham. "Wah, memang enak ya, punya mantu pinter seperti kamu ini, Le. Ditanyai itu jawabnya thas-thes. Singkat, padat, lugas, dan jelas."
"Ah, Bapak ini bisa saja. Ini kebetulan saya hafal sekitaran sini karena memang ke sini setiap hari, Pak."
"Oh, kamu kerja di sekitar sini, Le? Terus ini, Faiz ikut kamu kerja?"
Afriz tersenyum. "Iya, Pak. Sesekali, biar tidak bosan di rumah terus," jawabnya. "Kalau Bapak berkenan, Bapak mampir saja ke situ. Ada Zaya di sana," tunjuknya ke sebuah bangunan yang terapit toko-toko besar lainnya.
"Oh, iya. Coba nanti kalau sempat, Bapak mampir sebentar, ya, Le."
"Silakan. Saya tunggu."
Sepeninggal Pak Kuswin untuk melanjutkan perjalanan, Afriz menyengir.
Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Tidak Pak Kuswin tidak Zaya, dua-duanya tak terlalu paham tentang latar belakangnya, dan sudah pasti tak begitu paham hitung-hitungan kisaran kekayaannya.
Fakta yang baru Afriz tahu setelah hampir tujuh bulan dia menjadi bagian dari keluarga itu.
...***...
__ADS_1