Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Ada yang Luput


__ADS_3

Setelah selesai buang air kecil, Zaya belum tidur lagi lantaran tiba-tiba merasa lapar. Sedangkan camilan yang tadi sore dibelinya sudah tandas, meski dikonsumsi secara berkala.


Sekarang Zaya bingung hendak makan apa lagi. Pikirnya, di dekat-dekat sini mana ada warung yang masih buka maupun pedagang keliling pada dini hari begini.


Akhirnya Zaya mengendap-endap menuju dapur untuk mencari apa saja yang sekiranya bisa ia makan. Pelan-pelan dibukanya tutup penanak nasi di meja untuk mengetahui isinya.


"Masih ada sisa, sih. Bikin nasi goreng aja kali, ya," gumamnya kemudian.


Tanpa membuang banyak waktu, Zaya langsung meracik bumbu yang ada.


Gerakan-gerakannya pelan sekali, tak ingin menimbulkan suara.


Namun, pada akhirnya kehati-hatian yang Zaya terapkan sedari tadi itu berakhir sia-sia. Suara minyak mendidih yang beradu dengan irisan bawang merah dan putih beserta cabai rawit yang telah dituangkan, ternyata membuat suasana dapur jadi berisik. Sodet yang Zaya pegang pun makin menambah keramaian di area ini.


"Ibu kira siapa, kok malam-malam begini ada yang masak. Ternyata kamu, Ya?" Bu Darmi mendekati putrinya yang masih sibuk menumis bumbu secara hati-hati. "Kamu lapar?"


"Hehehe, iya," sahut Zaya cengengesan. "Ibu terganggu karena berisik, ya?"


"Bukan karena itu. Tadi Ibu kira kompornya tidak menyala, karena sudah lama tak digunakan meski gasnya masih ada. Kali saja kamu butuh bantuan untuk bikin api di tungku."


"Hehe. Untung kompornya nyala, jadi Ibu nggak perlu repot-repot nyalain tungku," sahut Zaya sambil menumis. "Tapi maaf, jadi ganggu tidur orang serumah." Bau tumisan bumbu membuatnya berkali-kali ingin bersin tetapi selalu tanggung.


"Tidak apa-apa. Namanya sedang hamil muda ya memang sering begitu. Kalau tidak mual, nafsu makan pasti nambah," kata Bu Darmi sebelum membawa kubis ke tempat cucian, kemudian kembali lagi ke dapur dan memotongnya untuk ikut ditumis. "Perbanyak sayurnya saja, jangan nasinya."


Suara potongan kubis berair yang bertemu minyak, lagi-lagi menimbulkan suara nyaring dan bau yang lebih tajam.


"Hasyin!" Kali ini Zaya berhasil bersin.


Lalu kepalanya sedikit mendongak, menunggu saat yang tepat untuk melepaskan desakan di hidungnya lagi. "Hasyin!" dan berulang hingga tiga kali.


...***...


"Ini, ada titipan dari suami kamu." Bu Darmi menyerahkan tas tangan dari kertas kepada Zaya. Kemudian dielusnya puncak kepala anak bungsunya itu sebelum beliau kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur.


Sebetulnya, dalam keluarga Zaya memang tak pernah ada romantisme semacam ucapan atau kado ketika salah satu anggotanya berulang tahun.


Sebenarnya Zaya pun tak berharap banyak terhadap Afriz agar laki-laki itu mengingat momen pertambahan usianya.

__ADS_1


Akan tetapi, hadiah yang diberikan oleh suaminya itu menjadi bukti bahwa laki-laki itu masih peduli padanya. Tak pelak, terciptalah rasa haru atas perhatian sekecil ini.


Apa pun kado yang diberikan oleh Afriz, Zaya tetap bersemangat ketika merogoh isi tas di tangannya.


Beberapa saat kemudian, dari dalam sana, ia memperoleh kotak perhiasan berisi kalung perak. Dan setelah diamati, ternyata bandul kalung itu merupakan inisial nama panggilannya dan Afriz. Z dan A. Garis bawah pada huruf Z tersebut menyatu dengan garis tengah pada huruf A. Desainnya sangat sederhana, namun manis sekali.


Dengan gerakan buru-buru, kini Zaya mencari benda lain yang sekiranya ada di tas yang saat ini ia pegang. Benar, ada surat di sana. Tanpa ba-bi-bu, langsung dibacanya tulisan di dalamnya.


^^Maaf, belum bisa memberi kado yang sesuai keinginan kamu. Tapi semoga di pertambahan usiamu ini, kamu tetap bersedia jadi istri terbaik untuk Mas dan ibu yang tak kalah baik untuk anak-anak kita nanti ^^


Salam sayang,


Suamimu yang Sedang Belajar Segala Hal


Tak berlebihan rasanya jika keharuan itu seketika mengundang air mata bahagia yang perlahan membasahi wajah Zaya. Kejengkelan terhadap Afriz pun sirna. Yang ada, sekarang ia malah rindu dan ingin segera memeluk suaminya seerat mungkin.


Sesaat setelah sadar dari rasa harunya yang mendadak datang, Zaya teringat sesuatu. Ponselnya sudah tidak disentuhnya sejak kemarin ia mengirimkan pesan terakhir.


Maka sekarang ia lekas mencari benda tersebut untuk menghubungi suaminya.


Pada akhirnya Zaya hanya harus menggigit kecil bibir bawahnya. Ia sedikit panik lantaran harus menerima kenyataan bahwa telepon genggamnya tak ada di tempat yang semestinya.


...***...


Entah bagaimana awal mulanya, kabar kedekatan Zaya dan Pam begitu kencang diberitakan.


Dari cas-cis-cus yang terdengar, sepasang muda-mudi itu sempat terlihat berpegangan tangan. Padahal semua orang sudah tahu status dari masing-masing pihak: Zaya sudah bersuami, sedangkan Pam masih sendiri.


Maka tak mengherankan kalau desas-desus mengenai perselingkuhan keduanya makin ramai dibicarakan, walau banyak yang tak menyangka.


"Lagi pula dia itu aneh. Sudah bagus ada yang mau bertanggung jawab, tapi masih bertingkah terus. Sewaktu dijemput suaminya, mentang-mentang tidak bawa mobil, dia tidak mau. Padahal, sekalipun suaminya sedang berada di titik terbawah dalam hidup, harusnya dia tetap menemani suaminya. Bukan malah begini. Lalu, sekarang dia mencoba mendekati Mas Pam? Benar-benar tidak tahu malu."


Kabar tersebut masih pula ditambah dengan fakta bahwa muka Faiz ternyata mirip dengan Pam, meski sekilas.


Hal tersebut jelas menimbulkan banyak tanya yang menjurus pada kecurigaan. Bisa jadi, orang yang menghamili Zaya sekitar dua tahunan yang lalu adalah anak dari mantan kepala desa mereka itu.


Apalagi kalau dipikir-pikir, siapa perempuan di desa ini yang bisa mengelak dari kuatnya pesona seorang Anggada Pambuko? Sekelas Zaya, sudah pasti langsung bertekuk lutut di depan pemuda itu, sampai rela menyerahkan segalanya.

__ADS_1


Tetapi yang membuat banyak warga tak habis pikir ialah, apa yang dimiliki Zaya sampai bisa membuat Pam goyah iman untuk menodai gadis itu hingga mereka punya anak?


"Memang tidak masuk akal babar blas. Lha wong jika dibandingkan dengan anak saya, jelas-jelas lebih cantik anak saya ke mana-mana. Tapi satu kali pun, Mas Pam tidak pernah melirik anak saya. Coba dipikir pakai akal sehat, ya tidak akan ketemu. Sudah pasti, Zaya itu pakai pelet. Kalau tidak, mana mau Mas Pam dengannya."


Akan tetapi, kabar yang sudah tersebar luas tersebut tak sampai di telinga Pam. Entah laki-laki itu yang tak begitu mengikuti atau karena terlalu cuek, yang jelas ia tetap beraktivitas seperti biasa.


Lelaki itu masih mengurus pertumbuhan dan hasil panen cabai di sebagian ladang, masih pula menunaikan tugasnya sebagai karyawan di toko besi Lancar Jaya secara beriringan.


Bahkan kalau saja salah satu kawannya tak menyinggung hal ini, mungkin Pam tak akan pernah tahu berita menghebohkan tentang dirinya.


"Aku mau tanya. Tapi janji, kamu jangan tersinggung. Aku hanya ingin memastikan." Toto memandang Pam dengan sorot ingin tahu. "Apa benar yang dikatakan oleh orang-orang, kalau kamu dengan Zaya ada hubungan?" lanjutnya, bertanya curiga.


Beberapa detik lamanya, Pam hanya memandang salah satu temannya ini. Keningnya terlipat. Heran. Tetapi tak lama kemudian ia bisa menguasai diri dan ekspresinya. Sebab, tak ada gunanya ia berbohong. Dulu hubungannya dan Zaya memang begitu dekat. "Benar. Tapi itu dulu."


"Edan," desah Toto tak menyangka. "Jadi, selama ini kalian ...." Ia sampai tak kuasa melanjutkan ucapannya.


Dirinya betul-betul belum percaya akan fakta yang baru saja ditemukan, bahwa ternyata hubungan Pam dengan Zaya sudah sejauh itu.


Maka rasanya tak mengagetkan kalau dugaan para warga terhadap dua penduduk beda dusun itu cepat menyebar luas.


Pam seketika mengangguk membenarkan. "Bahkan seandainya dia sudah siap menikah, waktu itu aku siap melamar dia."


"Kapan?"


"Sekitar dua sampai tiga tahunan yang lalu."


"Benar-benar." Toto menggeleng-geleng, tanda tak menyangka. "Kamu ini sadar atau tidak, kalau di sini, kamu ini seorang selebriti?"


"Maksudmu?" tanya Pam, benar-benar tak mengerti.


"Segala hal yang menyangkut dirimu, pasti diikuti perkembangannya oleh para warga. Kamu ini, ibaratnya hanya kentut, kabarnya pasti menyebar ke mana-mana. Tapi kedekatanmu dengan Zaya ini ternyata terlalu rapat, sampai-sampai tidak ada warga desa yang tahu hubungan kalian," jelas Toto. "Bahkan sampai kalian punya anak dari hasil hubungan itu, kami sampai tidak tahu," imbuhnya di dalam hati. "Tapi, sekarang?" Bagi Toto, semua ini seperti bom waktu.


"Nyatanya, sejak awal Jamal tahu hubunganku dengan Zaya," bantah Pam ringan, seringan kapas yang jatuh dari pohon randu.


Ada yang luput dari cara pandang Pam terhadap masalah ini. Memang Zaya adalah masa lalunya. Pun tak ada beban moral yang harus ia tanggung dengan menceritakan hubungannya bersama Zaya pada masa silam. Baginya, itu suatu hal biasa.


Dia tak tahu saja bahwa isi pikirannya berbeda dengan benak para warga desanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2